Minggu, Oktober 25, 2020

#RIPIntan Bukan Pengalihan Isu!

Haruskah Aktivisme Mengikuti Zaman?

Berada di tengah situasi sulit karena pandemi ini, mungkin kita semua merasakan bahwa banyak hal yang perlu kita hadapi dan benahi bersama-sama. Tentu dengan...

Dua Jurus Kungfu Ahok, Satu Tujuan

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, Pangkostrad Letjen TNI Edy Rahmayadi (kedua kiri), Pangdam Jaya Mayjen TNI Teddy Lhaksmana (kiri), Danjen Kopassus Mayjen TNI...

Menagih Janji Gubernur Ganjar

Mana bukti menjadikan Jawa Tengah "Ijo Royo-royo" dan "Ora Ngapusi”? Perempuan-perempuan di Desa Tegaldowo dan Desa Timbrangan, Rembang, sudah 447 hari lebih bertahan di tenda...

Apakah Semua Umat Hindu Musyrikun dalam Pandangan Muslim? [Bag. 1]

Pada Oktober dan November ini, umat Hindu di seluruh dunia—yang jumlahnya lebih dari 1 miliar saat ini—merayakan Diwali, hari kemenangan cahaya kebenaran atas kegelapan,...
Avatar
Sayyed Fadel
Juragan buku, suka ngopi di KedaiSastra.com

“Mungkinkan ini pengalihan isu penistaan agama?” Pertanyaan itu awalnya saya dapatkan dari tweet @felixsiauw, seleb-tweet yang kian populer sebagai “ustadz” bagi sebagian kalangan Muslim, khususnya kalangan muda. Membacanya, saya begitu miris. Semiris saat saya beberapa bulan lalu membaca status Facebook novelis muda Tere Liye yang sempat viral tentang penafiannya atas jasa pahlawan-pahlawan kita di luar kalangan religius: sosialis, aktivis HAM, komunis, dan liberal.

Anggota Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) memegang kertas bergambar korban bom Gereja Oikumene, Samarinda, ketika melakukan aksi mengecam aksi teror, di Medan, Sumatera Utara, Selasa (15/11). Mereka menyerukan seluruh lapisan msyarakat agar bersama menjaga keutuhan NKRI. ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi/pd/16
Anggota Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) memegang kertas bergambar korban bom Gereja Oikumene, Samarinda, ketika melakukan aksi mengecam aksi teror, di Medan, Sumatera Utara, Selasa (15/11) [ANTARA FOTO/ Irsan Mulyadi]
Tentu, yang utama, saya miris akan konten tweet itu seperti akan menjadi fokus kolom ini. Namun, yang juga tak kalah miris adalah karena itu ditulis oleh seorang public figure yang begitu digandrungi anak muda bangsa ini. Seorang yang sangat berpengaruh. Bukunya dicetak ribuan eksemplar. Twitter-nya diikuti oleh lebih 1,8 juta followers. Tweet-nya di-like, retweet, dan (mungkin saja) diamini begitu banyak generasi muda kita.

Dari sana, saya seolah melihat suramnya masa depan negeri ini di tangan generasi muda semacam itu.

Setelah saya telusuri, ternyata tuduhan—atau minimal kecurigaan—bahwa tragedi memilukan bom molotov Oikumene itu bagian dari pengalihan isu penistaan agama sungguh viral dan serius. Viral karena begitu mudah saya temukan lemparan tuduhan tak bertanggung jawab itu di media sosial.

Serius karena seorang bernama Harits Abu Ulya yang disebut dalam pemberitaan Republika sebagai pengamat terorisme yang juga Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) pun—sebagaimana pemberitaan itu—sepakat dengan tuduhan itu.

Mari kita mencoba berpikir jernih dan rasional. Pertama, kasus penistaan agama yang menimpa Ahok telah masuk ke proses hukum, bahkan kini ia sudah menjadi tersangka. Prosesnya juga cepat dan transparan. Sebagian kita yang tersinggung dengan ucapannya bisa mengawal proses hukum itu seradikal mungkin, seradikal ketersinggungan sebagian kita pada ucapan Ahok itu.

Artinya, kasus tersebut telah berada pada duduk perkaranya. Tak ada yang bisa menghentikan atau mempermainkan proses hukum itu selama sebagian kita terus mengawalnya dengan ketat, sekencang teriakan sebagian kita di “Aksi Damai 4/11”. Maka, mustahil pengalihan isu bisa mempengaruhinya.

Saya percaya bahwa Habib Rizieq dan kawan-kawan sangat mampu mengawal proses hukum tersebut, betapapun opini berusaha atau bahkan telah teralihkan kemana pun.

Kedua, Harits Abu Ulya mendasarkan pendapatnya dengan argumentasi bahwa aksi teroris Oikumene tergolong low quality, tapi high effect opinion yang ditudingnya lantaran follow up dan blow up opini sesuai dengan kepentingan politik yang menungganginya.

Menjawab itu, menurut saya, high effect opinion atas aksi teror itu memang bukan karena low quality, melainkan high effect aksi teror tersebut: terbunuhnya seorang balita dan korban beberapa anak kecil. Jika kita jujur, semua hati pasti tersayat-sayat atasnya. Karena itu, semua bersimpati dan menumpahkan opini emosionalnya di media sosial. Sehingga, trending topic-nya juga adalah #RIPIntan, bukan yang lain.

Seorang anak adalah anugerah terbesar bagi setiap manusia. Masyarakat selalu begitu marah melihat kasus bayi yang dibuang oleh ibunya, tanpa ada rekayasa opini apa pun. Jika kita membaca kisah para nabi, khususnya Ibrahim dan Ya’qub, kita akan begitu mudah menghayati ini.

Dikisahkan dalam al-Qur’an, bagaimana Ibrahim begitu besar keinginannya pada seorang anak dan begitu terpukul ketika anak bernama Ismail itu “diminta kembali” oleh Tuhan melalui mimpi untuk di-qurban-kan. Begitu pula Ya’qub yang hingga memutih matanya lantaran terus menangisi kehilangan anaknya yang bernama Yusuf.

Jika Anda seorang ayah atau ibu, Anda (mungkin) lebih mudah lagi memahami dan merasakan apa yang saya maksudkan. Bayangkan, seorang anak yang merupakan dambaan setiap pasangan suami-istri, dikandung oleh ibunya sembilan bulan dengan penuh kasih sayang, ayahnya banting tulang untuk calon anak itu dan ia akan diraniai syahid jika mati dalam keadaan mencari rezeki untuk ibu dan anak yang dikandungnya.

Begitu pula ibunya mempertaruhkan nyawa saat melahirkannya dan akan syahid jika wafat saat melahirkan, bahkan setiap tarikan nafas ibunya saat melahirkan diganjar pahala tak terhingga. Dirawat anak itu dengan penuh pengorbanan. Dan, BOMMM! Semua itu musnah dengan satu lemparan bom molotov seorang teroris. Betapa menyayat hati tragedi itu?!

Juga, sempatkah kita membayangkan, bagaimana jika sebenarnya masa depan anak itu akan menjadi pribadi yang begitu bermanfaat bagi umat manusia?

Lagi pula, bukankah sudah sering kita saksikan pembunuhan atau teror terhadap anak kecil melahirkan high effect? Saya bisa sebutkan nama Angeline di Indonesia dan Aylan Kurdi di luar negeri.

Ketiga, secara logika, isu yang hendak digunakan untuk mengalihkan isu seharusnya lebih dahsyat muatannya dari yang dialihkan. Sebab, betapapun opini pengalihan dibentuk, jika muatannya tak lebih dahsyat, tentu publik takkan (mudah) teralihkan. Namun, jika kita mengerdilkan tragedi Intan lantaran itu, lalu bagaimana logikanya ia bisa mengalihkan isu tuduhan penistaan agama oleh Ahok yang begitu dahsyat dengan demonstrasi yang konon terbesar dalam sejarah Indonesia itu?

Keempat, masih mengacu ke poin ketiga, jika harus saling curiga dan tuduh, justru lebih rasional mencurigai dan menuduh bahwa teror itu sengaja dilakukan saat kita sedang fokus dan heboh pada isu penistaan agama agar tragedi dan kematian memprihatinkan itu tak mendapat perhatian. Sebagaimana tuduhan bahwa pasal-pasal atau kebijakan-kebijakan ganjil sengaja “diketok palu” atau ditandatangani saat publik heboh pada suatu kasus besar.

Kelima, jika harus mengaitkan isu penistaan agama dan teror Oikumene, justru teror itu akan semakin menyudutkan posisi Ahok dengan logika yang telah banyak disampaikan oleh publik di media sosial, yakni “makanya jangan biarkan penista agama bebas agar kebencian pada non-Muslim, khususnya Kristen, tak makin menjadi-jadi hingga umat Islam main hakim sendiri dengan teror seperti tragedi Oikumene.” Ini jauh lebih masuk akal karena terorisme akan mendapat legitimasi.

Sudahlah! Hentikan semua tuduhan keji dan tak logis itu. Satu nyawa manusia sangat berarti di mata Tuhan, betapapun ia dilakukan dengan aksi pembunuhan yang low quality. Karenanya, kata Tuhan dalam surat al-Maidah ayat 32, “… siapa membunuh seorang manusia, bukan karena (membunuh) orang lain atau membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan ia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan ia telah memelihara kehidupan manusia seluruhnya …”

Demi perdamaian dan kemanusiaan, kita harus memberikan perhatian tersendiri pada setiap aksi pembunuhan, terlebih terorisme atas nama agama. Apalagi, seperti kata Kiai Said Aqil Siradj, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU), ia juga berarti penistaan terhadap al-Qur’an, yakni al-Maidah ayat 32. Terlebih, korbannya adalah anak kecil dan objeknya adalah rumah ibadah, di mana dalam perang sekalipun, Islam menjamin keduanya.

Avatar
Sayyed Fadel
Juragan buku, suka ngopi di KedaiSastra.com
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Sastra, Dildo dan Evolusi Manusia

Paling tidak, berdasarkan catatan tertulis, kita tau bahwa sastra, sejak 4000 tahun lalu telah ada dalam sejarah umat manusia. Hari ini, catatan yang ditulis...

Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia

Di dalam buku Huntington yang 600-an halaman yang berjudul Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia mengatakan bahwasanya masa depan politik dunia akan...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Refleksi Bulan Bahasa: Apa Kabar Perpres 63/2019?

Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, 92 tahun silam terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya...

Berlindung di Balik Topeng Kaca, Public Figure juga Manusia

Ketika Candil lewat Grup Band Seurieus, salah satu Band Rock Kenamaan tahun 2000-an awal ini menyuarakan pendapatnya lewat lagu Rocker juga Manusia, saya seratus...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Memperkuat Peran Politik Masyarakat

Salah satu kegagalan konsolidasi demokrasi elektoral adalah tidak terwujudnya pemilih yang cerdas dalam membuat keputusan di hari pemilihan. Menghasilkan pemilih cerdas dalam pemilu tentu...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...

Refleksi Bulan Bahasa: Apa Kabar Perpres 63/2019?

Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, 92 tahun silam terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.