Rabu, Maret 3, 2021

Mengapa Masyarakat (Masih) Suka Berita Politik?

Skandal Facebook dan Perlindungan Data Pribadi

Data pribadi 50 juta orang pengguna Facebook yang diduga dicuri oleh lembaga konsultan asal Inggris, Cambridge Analityca, menjadi skandal dunia digital paling parah terkait...

Milenial dan Fenomena Akun Seken Berjejak Negatif

Bahasan soal hoax, berita, akun, dan situs palsu memang menjemukan. Pengguna internet Indonesia tampaknya sangat lambat belajar mendeteksi berita palsu yang disebarkan akun dan...

Robohnya Mata Najwa

Di Indonesia banyak tontonan bagus, tapi lebih banyak tontonan yang tidak bagus. Sayang sekali, program "Mata Najwa" harus undur diri. Entahlah, dipaksa mundur teratur...

Karikatur TEMPO, FPI, dan Fanatisme Buta

Karikatur yang dimuat di majalah Tempo edisi 26 Februari 2018 ternyata berbuntut panjang. Karikatur tersebut dianggap Front Pembela Islam (FPI) telah melecehkan pimpinan tertinggi...
Abdul Hair
Peneliti di Lingkar Studi Media dan Kebudayaan (Lisan). Alumnus Magister Kajian Budaya dan Media UGM, Yogyakarta.

Kita pasti sering mendengar ucapan orang-orang yang tidak peduli dengan politik. Dalam artian mereka bersikap masa bodoh terhadap dinamika politik yang, dalam pandangan mereka, begitu kotor dan korup. Politisi dan partai politik dianggap akan melakukan apa saja untuk meraih tujuannya. Akibatnya, selama bertahun-tahun, DPR selalu menempati peringkat teratas sebagai lembaga negara yang dipersepsikan masyarakat sebagai lembaga paling korup.

Hal-hal yang telah saya sebutkan di atas adalah contoh dari menurunnya tingkat kepercayaan publik pada institusi politik. Tapi jika kita menengok berita di media massa arus utama, berita politik tetap yang paling mendominasi.

Berita politik hadir tidak hanya karena adanya agenda ekonomi politik pemilik media yang menginginkan untuk menghadirkannya. Tapi juga karena adanya permintaan masyarakat atas konten berita yang demikian.

Dengan asumsi seperti ini, maka bisa kita temui suatu hal yang nampak saling bertolak belakang. Di satu sisi, masyarakat sudah muak dengan politik, khususnya politik praktis. Tapi di sisi yang lain, masyarakat tetap menyukai informasi dan berita seputar politik.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa masyarakat tetap menyukai berita politik di saat kepercayaan mereka pada institusi politik justru menurun? Ada tiga jawaban yang akan saya tawarkan di sini.

Politik Identitas dan Kegemaran atas Kompetisi

Pertama, berita politik adalah sarana bagi masyarakat untuk menyatakan dan menegaskan identitasnya pada orang lain, terutama kepada mereka yang dianggap memiliki identitas dan sikap politik yang berseberangan.

Salah satu dampak paling besar dari Pemilihan Presiden 2014 adalah menguatnya politik identitas karena terpecahnya masyarakat. Secara umum, meskipun ini adalah gambaran yang amat kasar, masyarakat kita telah terbagi menjadi tiga kubu. Yakni, kubu yang membela mati-matian Presiden Jokowi; kubu yang selalu melihat apa pun yang dilakukan Presiden Jokowi sudah pasti keliru; dan kubu yang menilai secara proporsional keunggulan dan kekurangan kinerja pemerintah.

Berita-berita politik sering disebarkan masyarakat melalui akun media sosial pribadinya. Namun, berita ini bukan digunakan untuk menyebarkan informasi pada orang yang mungkin belum membacanya, melainkan untuk menyatakan dan menegaskan identitas individu yang menyebarkan berita itu, terutama individu yang berasal dari kubu pertama dan kedua.

Kubu pertama (yang kebanyakan dari golongan Islam moderat atau yang cenderung sekuler), lebih sering, meskipun tidak selalu, untuk membagikan berita yang cenderung positif dalam melihat kinerja pemerintah. Sedangkan kubu kedua (yang kebanyakan dari golongan Islam konservatif), akan lebih banyak membagikan berita yang menilai buruk kinerja pemerintah.

Kedua, pada dasarnya masyakat Indonesia menyukai hal apa pun yang berhubungan dengan kompetisi. Industri televisi, misalnya, merespons hal ini dengan menyajikan tayangan ajang pencarian bakat, yang antara kontestan satu dengan yang lain saling berkompetisi. Kita bisa melihat beberapa contoh ajang pencarian bakat yang mendapat respons meriah dari masyarakat. Seperti AFI, Indonesian Idol, Indonesia Mencari Bakat, dan D’Academy.

Politik, yang watak dasarnya adalah perebutan kekuasaan, adalah kompetisi juga. Inilah barangkali mengapa sejak Jokowi memenangi Pilpres 2014 silam, berita-berita politik lebih sering, meski tidak selalu, diarahkan untuk kontestasi Pilpres 2019. Apalagi dengan kondisi masyarakat saat ini yang terpecah ke dalam beberapa kubu, membuat kompetisi politik semakin menarik untuk diikuti.

Sejak 2015, berita politik seputar pilkada selalu disertai dengan pemetaan dukungan untuk pemilihan pesiden mendatang. Berita politik yang dulu lebih diarahkan pada kritik atas kinerja pemerintah, kini berubah menjadi ajang “pemanasan” untuk pilpres kedepan.

Budaya Populer

Ketiga, ada kecenderungan mengaburnya batas-batas antara berita politik yang dianggap serius dengan budaya populer yang sifatnya menghibur. Maksudnya, berita politik kini kerap tersaji lebih santai dan populer, dan informasi populer tersaji secara resmi dan serius.

Kecenderungan ini terjadi bukan hanya karena media mengonstruksikannya demikian, tapi juga karena politisi senang untuk tampil lebih populer. Politisi kita sering menghadiri, bahkan ikut serta, untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang kerap digolongkan sebagai budaya populer. Seperti Presiden Jokowi yang sering membuat vlog dan mempublikasikannya di Youtube.

Fenomena ini, yakni meleburnya batas-batas antara politik yang resmi dengan budaya populer yang menghibur, sebenarnya sudah terjadi sejak jauh-jauh hari. Saat Pemilu 2004, misalnya, Wiranto dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang saat itu sedang bertarung dalam pemilihan Presiden, datang menghadiri grand final ajang pencarian bakat paling populer saat itu:.Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Wiranto dan SBY bernyanyi layaknya kontestan, dan penampilan mereka dikomentari para juri sebagaimana para juri mengomentari penampilan kontestan lainnya.

Belum lagi jika ditambah dengan SBY yang mengeluarkan lima album musik selama menjabat sebagai Presiden, serta beberapa orang menteri di pemerintahan Jokowi yang membentuk grup musik bernama Elek Yo Band. Jadi, fenomena baru dunia politik pasca-Orde Baru bukan hanya hadirnya selebritis yang secara berjamaah terjun ke dunia politik, tapi politisi yang juga beramai-ramai terjun ke ranah budaya populer.

Kombinasi antara dua hal inilah (politisi yang tampil secara populer, dan media yang menyajikan berita secara santai), telah menjadikan berita politik sebagai hiburan, ketimbang sebagai sumber informasi yang resmi dan serius.

Jennifer Lindsay (2007) dan Ariel Heryanto (2015), masing-masing pernah mengkaji kampanye Pemilu 2004 dan 2009, yang menurut mereka telah menjelma menjadi budaya populer. Bagi Lindsay, kesimpulan demikian dia dapatkan setelah mengamati secara mendalam perubahan kampanye di masa Orde Baru dan pasca-Orde Baru.

Di masa Orde Baru, kampanye pemilu tidak lebih sebagai ritual belaka. Sedangkan di masa pasca-Orde Baru, kampanye pemilu lebih menekankan pada aspek performatif ketimbang ritual. Sebab, semua rangkaian kampanye (mulai dari pengerahan massa di lapangan, pawai motor, sampai dialog di televisi) lebih ditujukan sebagai hiburan massa ketimbang sebagai suatu sarana untuk menyampaikan visi misi politik yang resmi dan serius.

Melihat kecenderungan pemberitaan politik pasca-Orde Baru, dapat disimpulkan bahwa, bukan hanya kampanye pemilu saja yang telah menjelma menjadi budaya populer. Tapi, berita politik pun telah menjelma menjadi hal yang sama.

Kolom terkait:

Umat Islam dan Peta Politik Jelang 2019

Politik Mahal 2019, Politik Murah 2045

“Pribumi” Anies, 2019, dan Politik Sentrifugal

Politik Menghibur: Debat Kandidat Pilkada Jawa Barat

Demokrasi Kambing Hitam

Abdul Hair
Peneliti di Lingkar Studi Media dan Kebudayaan (Lisan). Alumnus Magister Kajian Budaya dan Media UGM, Yogyakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

Beragama di Era Google, Mencermati Kontradiksi dan Ironi

Review Buku Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama, dari Kebenaran Mutlak Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama, 2021 Fenomena, gejala, dan ekspresi...

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

ARTIKEL TERPOPULER

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.