Banner Uhamka
Rabu, September 30, 2020
Banner Uhamka

Ketika Birahi Kebencian FPI Meledak

Edutainment Bukan Infotainment

Ada apa dengan tayangan televisi kita hari ini? Pertanyaan ini sebenarnya nampak biasa saja, sebab hampir sebagian besar masyarakat kita memiliki televisi. Namun, akan...

Olimpiade, Media, dan Komersialisasi Olahraga

Media massa dan olahraga adalah dua institusi sosial yang memiliki hubungan simbiosis mutualisme. Event olahraga paling bergengsi seperti Olimpiade 2016 yang saat ini tengah...

Milenial dan Fenomena Akun Seken Berjejak Negatif

Bahasan soal hoax, berita, akun, dan situs palsu memang menjemukan. Pengguna internet Indonesia tampaknya sangat lambat belajar mendeteksi berita palsu yang disebarkan akun dan...

Menolak Tunduk: Karikatur Tempo, Persekusi FPI

Pada 26 Februari 2018, majalah Tempo memuat sebuah karikatur yang dipasang dalam sampul depan. Karikatur itu berisi dua orang, laki-laki dan perempuan yang sedang...
anwar kur
Alumnus STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta

Massa Front Pembela Islam (FPI) yang tumpah menyesaki kantor Tempo di kawasan Palmerah, Jakarta Barat, pada Jum’at (16/3) lalu semakin menunjukkan bahwa dirinya merupakan pengamal instrumen demokrasi yang baik, meski sumbangsihnya hanya sebatas taraf demo an sich.

Disukai atau tidak disukai, diterima atau tidak diterima, benar atau salah, FPI senyatanya telah mewarnai instrumen demokrasi kita dewasa ini. Buktinya, secara kasat mata Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab (HRS) akhir 2016 hingga awal 2017 lalu mampu memobilisasi masa yang tidak sedikit jumlahnya untuk turun ke jalan menuntut keadilan versi mereka.

Tak hanya itu, FPI bahkan gegap gempita membuka 2018 lalu dengan membentuk Aliansi Tolak Kezaliman Facebook. Aliansi yang berujung pada aksi turun jalan itu merupakan bentuk protesnya, lantaran segenap akun mereka, termasuk milik HRS, kena blokir oleh pihak Facebook.

Dari sejumlah potret di atas, FPI bahkan tak jarang membumbui aksinya itu dengan label agama. Lihat saja betapa mudah sekali kita temukan narasi bertajuk bela Islam, bela ulama, dan lain sebagainya dalam setiap aksi yang digelar FPI. Maka, unjuk rasa tersebut dibayangkan adalah misi suci karena telah membela agama dan surga adalah jaminannya.

Termasuk dalam hal ini aksi massa di kantor Tempo itu yang, konon, ditengarai oleh keberatan FPI atas cover majalah Tempo edisi 26 Februari 2018 lantaran memuat karikatur seorang pria bersorban dengan perempuan di hadapannya.

Bahkan, sebagaimana dikutip laman detik.com (16/3/2018), Humas Persaudaran Alumni 212 yang juga anggota FPI, Novel Bamukmin, menyatakan bahwa Tempo dipastikan telah menghina ulama. Sebab, menurut Novel, karikatur tersebut menggambarkan seorang ulama berpakaian gamis, bersorban, dan tengah duduk di hadapannya seorang perempuan yang dianggap menggunakan pakaian tidak sopan.

“Makanya kami menuntut Tempo minta maaf kepada umat Islam dan ulama,” pinta Novel.

Pada titik ini, saya kira, sikap FPI dan pernyataan Novel tersebut mengindikasikan dua ketidakjelasan. Pertama, di satu pihak, FPI merupakan ormas yang sejauh ini gemar berunjuk rasa, bahkan tak segan melibatkan massa, untuk mengkritik pihak yang menurut mereka telah menyudutkan kepentingan “umat Islam”. Di lain pihak, FPI sendiri justru menunjukkan dirinya sebagai ormas yang antikritik.

Terbukti mereka kebakaran jenggot dengan ada dan beredarnya karikatur Tempo yang secara tidak sadar justru mengiyakan bahwa pria berjubah itu adalah pimpinannya, HRS, yang tak kunjung pulang. Padahal, belum tentu demikian.

Kedua, indikator ulama dibayangkan terletak pada yang berjubah dan berimamah. Padahal, belum tentu juga demikian. Toh, paman kanjeng Nabi Muhammad, Abu Lahab, dalam sekuel film Omar pun juga digambarkan berjubah.

Gambaran tersebut sama sekali bukan untuk menyatakan atau mengklaim bahwa jubah itu tidak boleh dipakai. Bukan seperti itu. Memang, ada umat yang benar-benar nyaman mengenakan jubah saat sembahyang atau untuk ritual peribadatan lain. Namun, tidak sedikit juga ada yang lebih nyaman dengan dress code selaras budaya dan tradisi di mana Islam itu berdomisili. Sarung dan kopiah di kalangan santri, misalnya. Menjadi soal kemudian jika seseorang berjubah untuk gagah-gagahan.

Dalam analogi budayawan Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun dikatakan, kalau gula itu manis, akan tetapi segala yang manis itu belum tentu gula. Artinya, meski ajaran Islam turun di Arab, namun segala yang berbau Arab belum tentu Islam.

Dan saya kira, seorang perempuan dalam karikatur cover majalah Tempo yang dipersoalkan itu tarafnya masih terhitung wajar, jika dilihat dari sudut pandang budaya kita yang lebih dominan hamparan sawah, ladang, dan genangan air, bukan padang pasir.

Toh, kita juga tidak benar-benar tahu apakah perempuan itu muslimah atau bukan. Kalaupun muslimah, apakah lantas kita berhak menghakimi perempuan itu karena kongkow dengan pria berjubah?

Lepas dari segala motif dan kepentingan FPI, dalam hal ini saya kira tepat sekali cuitan Goenawan Mohamad dalam akun twitter @gm_gm beberapa waktu lalu yang menyatakan, aksi massa yang terlalu sering mengatasnamakan “umat Islam” membuat tak jelas siapa sebenarnya “umat Islam”.

Ya, tentang klaim-klaim implisit mayoritarianisme umat Islam di Indonesia, dan karena itu merasa berhak menguasai negeri ini untuk memaksa siapa pun mengikuti pemahaman keislaman mereka dan menegasikan eksistensi kelompok lain, sama sekali tidak bisa diterima, baik secara teologis maupun politis. Sebab, pemahaman apa pun yang berbeda, apalagi bertentangan dengan pemahaman mereka, dengan mudah akan dituding sebagai anti-Islam, musuh Islam, penista agama, dan birahi kebencian yang meledak-ledak atas nama agama lainnya. 

Pada saat yang sama, dengan dalih membela Islam atau bahkan Tuhan yang hari ini semakin gencar didengungkan, mereka justru berusaha keras menolak budaya dan tradisi yang—dalam bahasa KH Abdurrahman Wahid (2009)—disebut telah menjadi bagian integral kehidupan bangsa Indonesia dan ingin diganti dengan budaya dan tradisi asing dari Timur Tengah.

Pada gilirannya, menurut Gus Dur, dalih atas nama Islam itu senyawa dengan senjata politik untuk mendiskreditkan dan menyerang siapa pun yang pandangan politik dan keagamaannya berbeda dari mereka. Sebab, jargon memperjuangakan Islam sebenarnya adalah memperjuangkan suatu agenda politik tertentu dengan menjadikan Islam sebagai senjata atau kemasan.

Karena itulah, setiap ide dan perbuatan semestinya disikapi dengan penilaian dan/atau disimpulkan berdasarkan sudut pandang yang berbeda, sehingga menstimulasi pendapat yang beraneka ragam pula. Demikian halnya keanekaragaman atau heterogenitas pendapat adalah berkah yang musti disyukuri, bukan malah dipertajam untuk saling mencaci.

Saya kira, tidak sadar atau mengabaikan prinsip tersebut sama saja menciderai filsafat adiluhung Islam yang merupakan rahmatan lil ‘alamin. Kasih untuk semesta. Bukan politik devide et impera.

Kolom terkait:

Karikatur TEMPO, FPI, dan Fanatisme Buta

Menolak Tunduk: Karikatur Tempo, Persekusi FPI

Kaleidoskop 2017: Tahun Keprihatinan Beragama

Menjaga Kewarasan di Era Pasca Kebenaran

Hoaks Baik bagi Demokrasi? Tunggu Dulu!

Sejarah Perbedaan Pendapat dalam Islam

anwar kur
Alumnus STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

The Social Dilemma, Algoritma Media Sosial Manipulasi Pengguna

Di masa pandemi virus corona, kita sangat bergantung pada perangkat-perangkat lunak agar kita tetap bisa berhubungan dengan teman, keluarga dan rekan kerja yang tidak...

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.