Rabu, Oktober 21, 2020

Kemunafikan Tempo dan Negara yang Abai

Ketika Birahi Kebencian FPI Meledak

Massa Front Pembela Islam (FPI) yang tumpah menyesaki kantor Tempo di kawasan Palmerah, Jakarta Barat, pada Jum'at (16/3) lalu semakin menunjukkan bahwa dirinya merupakan...

Akrobat Hoaks dan Tata Kelola Informasi Publik

Hoaks kembali mencuat ke permukaan. Hal ini terkait dengan pernyataan Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Djoko Setiadi usai dilantik oleh Presiden Joko Widodo...

Membaca Kekerasan Seksual di Media

Di tengah merebaknya isu komunisme dan pelanggaran terhadap kebebasan berekspresi yang semakin sering terjadi di Indonesia, kabar-kabar tentang kekerasan seksual yang menyedihkan hadir di...

Kaleidoskop 2017: CELUP dan Kekacauan Fungsi Media Sosial

In the beginning, there was Time… Dalam mitos orfik, ada satu periode yang disebut sebagai Tak Berwaktu (Unaging Time). Di dalamnya, tidak ada sesuatu apa...
Avatar
Maman Suratman
Mahasiswa Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Belasan hari setelah karikatur majalah Tempo edisi 26 Februari 2018 viral, gerombolan massa Front Pembela Islam (FPI) kembali melakukan tindak persekusi. Tepat di Jumat sore, 16 Maret 2018, mereka menggeruduk kantor Tempo di Jalan Palmerah Barat, Kebayoran Lama, Jakarta.

Di sana mereka memaksa pihak media itu melayangkan maaf atas tuduhan telah melecehkan pimpinan besarnya, Rizieq Shihab, melalui kartun bernuansa satire.

“Kami menuntut Tempo untuk meminta maaf. Tempo harus meminta maaf karena karikatur yang melecehkan ulama dan cucu Nabi Muhammad SAW,” teriak satu di antara ratusan perwakilan FPI dalam orasinya.

Ya, bukan hanya karena Rizieq Shihab adalah pimpinan besar mereka semata, melainkan pula karena dirinya dinilai sebagai “ulama” sekaligus “cucu nabi”. Maka, wajar belaka jika tuntutan FPI itu lalu menjelma menjadi perlawanan yang tentu senantiasa akan bernilai ibadah di sisi-Nya.

Beruntung aksi gerudukan FPI itu tidak sampai memakan korban jiwa. Kalau Tempo ada di luar negeri, misalnya, mungkin aksi itu bisa berujung parah sebagaimana pernah terjadi di kantor majalah Charlie Hebdo, Paris, Prancis, 2015 silam.

Meski demikian, aksi FPI Jum’at lalu itu tetap tidak boleh dibiarkan dan dianggap sepele. Sebab, tidak menutup kemungkinan akan ada kasus-kasus lainnya yang jauh lebih dahsyat dibanding hari ini. Apalagi sejarah sudah memperlihatkan fanatisme buta dalam beragama/berkeyakinan adalah pendorong paling ampuh untuk orang bertindak brutal.

Sebuah Pengingkaran

Tak satu pun bisa memungkiri, sosok kartun dalam majalah Tempo itu adalah jelas penggambaran untuk Rizieq Shihab. Meski tak ada pencantuman keterangan lebih detail, hanya bertandakan baju gamis dan sorban putih saja, orang pun sudah tahu bahwa sosok kartun itu adalah benar cerminan pentolan FPI, Rizieq Shihab.

Siapa lagi sosok bergamis dan bersorban putih yang dikenal jahat di negeri ini karena tidak pulang-pulang itu kalau bukan Rizieq Shihab? Dugaan kejahatan Rizieq jelas, banyak pelanggaran yang menurut hukum telah dirinya lakukan sebelum akhirnya dia pergi tinggalkan Indonesia. Ia jahat karena tidak/belum mau bertanggungjawab atas semua laku yang telah dia perbuat di depan hukum sebagaimana yang lain sebelum dirinya.

Bagaimana tidak jahat, ada banyak pelanggaran darinya yang sudah tercatat selama ini. Itu bukan melulu soal konten pornografi saja di media sosial, yang mana Rizieq sudah jelas jadi tersangka, melainkan pula tentang pelecehannya atas Pancasila, ujaran kebencian bernuansa SARA-nya atas ajaran umat Kristiani, tudingan atas pecahan rupiah yang katanya berlogo “palu-arit”, serta plesetannya atas sampurasun jadi campur racun.

Sebagai warga negara hukum, jika Habib Rizieq tak mempertanggungjawabkan semua itu, maka tepat jika kita pinjam celoteh Cinta untuk Rangga bahwa “yang dia lakukan itu jahat”.

Tempo bisa saja membantah bahwa itu bukan tindakan pelecehan, penghinaan, atau apalah itu yang FPI nilai sebagai upaya merendahkan imam besarnya. Karena memang demikian, seperti adagium yang lumrah kita dengar, katakanlah yang benar walau pahit. Artinya, apa pun itu, kebenaran patut diterapkan, meski harus dicerca dan dibenci.

Sayang, prinsip yang sebenarnya juga merupakan nasihat Nabi Muhammad itu tak benar-benar Tempo faktualkan secara tuntas. Alih-alih mempertahankan, pihaknya terkesan seolah mencari aman.

“Massa FPI yang menggeruduk kantor kami pada Jumat lalu tersebut bermaksud memprotes kartun yang dimuat pada Majalah Tempo edisi 26 Februari 2018. Mereka menganggap kartun itu menghina pendiri FPI, Rizieq Shihab, yang pergi umrah dan belum kembali ke Tanah Air setelah ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi. Padahal gambar dan teks pada kartun itu tak langsung merujuk kepada seseorang.” ~ Pernyataan Sikap Tempo: Demo FPI dan Sikap Kami, 19 Maret 2018.

Kalimat bercetak tebal di atas itu jelas memperlihatkan bagaimana sikap Tempo yang mencari aman. Lebih tepatnya, kalimat itu mempertegas sikap kemunafikan Tempo sendiri. Ia tak mau jujur kalau kartun itu adalah benar penggambaran untuk laku Rizieq Shihab yang sampai hari ini memang tak pulang-pulang. Tempo tampak mengingkari.

Lebih nahas lagi, bukan hanya Tempo yang berlaku begitu. Para pembelanya pun kebanyakan bersikap munafik juga. Jelas-jelas mereka tahu semua hanya Rizieq Shihab-lah yang punya laku seperti itu, tak pulang-pulang mempertanggungjawabkan tindakannya di depan hukum. Lalu, mengapa harus berkilah segala? Mengapa tidak total dalam memperteguh yang haq adalah haq dan yang bathil adalah bathil?

Kita boleh mafhum mengapa Tempo harus mengambil cara aman dalam kasus ini. Keganasan FPI sudah bukan rahasia lagi. Kekuatannya pun, bisa dibilang, antihukum. Belum pernah saya dengar ada aktivis FPI yang ditindak tegas lantaran berbuat semena-mena. Negara abai jika FPI yang membuat onar. Di mana-mana nyaris tak ada ketegasan negara untuk gerombolan yang gemar membentengi dirinya dengan agama ini.

Rindu Negara

Saya rindu negara yang benar-benar mau bertindak sebagai negara. Saya rindi negara yang bukan negara perorangan atau kelompok, bukan yang tunduk dan patuh pada satu kepentingan saja, termasuk pada yang mayoritas semata, melainkan negara yang mampu mengabdikan dirinya untuk semua.

Di satu sisi, kehadiran negara memang termasuk keburukan. Sebab, eksistensinya, jika tidak dikontrol secara apik, akan menjelma bak Leviathan-nya Thomas Hobbes. Ia cenderung akan mengancam hingga mematikan kebebasan individu warga jika dibiarkan bekerja tanpa pengawasan memadai.

Akan tetapi, di sisi lain, karena hasrat manusia sukar ditebak, maka kehadiran negara menjadi keniscayaan juga. Negara harus hadir di saat ada individu atau kelompok yang terancam kebebasannya. Dengan seperangkat alat yang dimilikinya seperti kepolisian dan lembaga peradilan, tentu negara sudah mampu hadir untuk sekadar memberi rasa aman kepada siapa pun tanpa kecuali.

Sungguh, saya rindu negara yang berlaku seperti anjing penjaga begitu. Dengan kepolisiannya, bukan hal mustahil jika negara mampu menciptakan rasa aman dalam kondisi apa saja. Dan dengan lembaga peradilannya, bukan hal mustahil pula jika negara mampu memaksa siapa saja untuk mempertanggungjawabkan segala tindak-tanduknya di depan hukum.

Sayang, cita ideal itu, sampai hari ini, masih sebatas angan belaka. Kita sering mengharapkan negara dan memilih para pengelolanya agar mampu menjaga kebebasan tiap individu warganya, tetapi yang didapat adalah pengabaian jika bukan penghianatan. Sering kali atas nama mayoritas, negara melulu abai menjaga kebebasan warga-warganya yang minoritas. Atas nama kepentingan umum, yang kecil-kecil kerap jadi korban.

Andai negara benar-benar berpijak pada konstitusi sebagai pedomannya, tak mungkin gerombolan FPI yang kemarin geruduk kantor Tempo itu masih bisa bebas berkeliaran. Mereka, massa FPI yang telah mencoba melanggar satu per satu bentuk kebebasan individu, bikin onar, melakukan aksi persekusi, sudah pasti negara tindak tegas. Lagi-lagi, sayang, negara hanya bisa abai.

Dan yang paling memilukan lagi adalah, sementara negara abai menindak tegas FPI, Tempo malah semakin memperparah. Mereka biarkan FPI menggeruduk kantornya; mereka tahu bahwa itu pelanggaran atas kebebasan yang sebenarnya sudah dijamin dalam hukum dan paham kalau itu tindakan yang tidak boleh diberi toleransi atas nama apa pun.

Nyatanya mereka tak mampu benar-benar total mempertahankan sendiri prinsip kebebasan itu. Di sinilah kadang saya merasa sedih.

Kolom terkait:

Karikatur TEMPO, FPI, dan Fanatisme Buta

Menolak Tunduk: Karikatur Tempo, Persekusi FPI

Ketika Birahi Kebencian FPI Meledak

Kaleidoskop 2017: Tahun Keprihatinan Beragama

Kekerasan Atas Nama Tuhan

Avatar
Maman Suratman
Mahasiswa Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Flu Indonesia

“Indonesia sedang sakit, tapi cuma flu biasa....” Di pojok gemerlapnya kota metropolitan, jauh dari bising suara knalpot kendaraan, dan bingar-bingar musik dugem, tentu ada masyarakat...

K-Pop dalam Bingkai Industri Budaya

Budaya musik Korea atau yang biasa kita sebut K-Pop selalu punya sisi menarik di setiap pembahasannya. Banyak stigma beredar di masyarakat kita yang menyebut...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Mahasiswa Dibutakan Doktrin Aktivisme Semu?

Aktivisme di satu sisi merupakan “alat” yang bisa digunakan oleh sekelompok orang untuk melakukan reformasi atau perbaikan ke arah baru dan mengganti gagasan lama...

ARTIKEL TERPOPULER

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Jangan Bully Ustazah Nani Handayani

Ya, jangan lagi mem-bully Ustazah Nani Handayani “hanya” karena dia salah menulis ayat Al-Qur’an dan tak fasih membacakannya (dalam pengajian “Syiar Kemuliaan” di MetroTV...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.