OUR NETWORK

Jejak Pers Belanda: Mengingat Bataviaasch Nieuwsblad (2)

Peran sejarah pers Belanda dan benang merahnya terhadap gerakan nasionalisme Indonesia merupakan sebuah subjek yang cenderung diabaikan dan perlu dikaji lebih lanjut oleh sejarawan-sejarawan Indonesia, terutama dibandingkan ramainya penelitian peran pers kelompok nasionalis maupun Cina peranakan.

Setidaknya sampai tahun 1850, pemerintah kolonial menggengam kontrol total terhadap pers di Hindia Belanda. Namun, kemenangan kelompok Liberal di parlemen Belanda pada 1848 memungkinkan munculnya inisiatif perbaikan kesejahteraan koloni di tahun-tahun setelahnya, khususnya di bidang kebebasan pers.

Kabar tersebut merupakan angin segar bagi golongan Indo-Belanda (orang-orang Belanda yang lahir di Hindia) yang posisinya saat itu dilematis: mereka dianggap lebih rendah secara politik, sosial, dan ekonomi oleh orang-orang Belanda totok, dan bagi kelompok pribumi, mereka tetap saja dianggap orang asing, meski lahir di tanah air yang sama. Lantas, koran-koran berbahasa Belanda independen tersebut muncul sebagai corong suara orang-orang Indo-Belanda.

Beberapa di antaranya adalah Bataviaasch Handelsblad (Batavia) yang kemudian berubah menjadi Java-Bode. Ada pula De Oostpost (Surabaya), De Locomotief (Semarang), Padangsch Handelsblad (Padang), dan Makassaarsch Handels- en Advertentieblad (Makassar). Koran-koran tersebut tidak hanya menampilkan iklan dan informasi-informasi pemerintah semata, namun mulai membuat artikel-artikel yang membawa kepentingan kelompok Indo-Belanda, dan bahkan ada kalanya mengkritik pemerintah.

Dalam situasi tersebutlah muncul Paul Adriaan Daum, salah seorang jurnalis dan penulis terbesar Hindia Belanda yang mungkin terlupakan dalam historiografi Indonesia. Daum tiba di Semarang dari Eropa pada 1878. Di sana ia bekerja untuk De Locomotief  dan Het Indische Vaderland. Daum begitu kritis, sampai-sampai ia dijatuhi hukuman penjara setelah melaporkan ketidakbecusan pemerintah kolonial dalam menangani krisis agrikultur Semarang tahun 1884.

Pada 1885, ia pindah ke Batavia dan mendirikan Bataviaasch Nieuwsblad.

Gaya jurnalistik Daum yang berani, realistis, dan kritis dalam melaporkan masalah-masalah kehidupan Hindia dituangkan dalam Bataviaasch Nieuwsblad yang dipimpinnya. Koran tersebut lantas menjadi populer bagi pembaca berbahasa Belanda di Batavia karena harganya murah, dan kehadiran novel-novel berseri yang Daum tulis sendiri. Determinasi, progresif, dan oposisi terhadap pemerintah kolonial menjadi ciri khas Bataviaasch Nieuwsblad, dan setidaknya pada 1900 koran tersebut sudah menjadi langganan ribuan penduduk Batavia.

Bataviaasch Nieuwsblad terus eksis sebagai koran berbahasa Belanda terbesar selama 72 tahun sampai ia tutup cetak di masa Indonesia merdeka, tahun 1957. Eksistensinya adalah perkembangan yang tidak hanya penting di ranah jurnalistik, namun juga sosial-politik, dalam sejarah pers Indonesia.

Setidaknya ada dua alasan yang menguatkan argumen tersebut. Pertama, eksistensi Bataviaasch Nieuwsblad menunjukkan bahwa kemelaratan yang merupakan dampak kolonialisme bukan merupakan masalah eksklusif kelompok pribumi semata, namun juga golongan Indo-Belanda. Hal inilah yang melahirkan gaya jurnalisme kritis Bataviaasch Nieuwsblad, bahkan setelah Daum meninggal pada 1898.

Misalnya, jurnalis J.F. Scheltema yang menulis laporan tentang kebijakan opium Hindia Belanda pada 1902. Ia menyerang pemerintah kolonial yang dikatakannya meraup untung dari panen dan penjualan opium, padahal barang haram tersebut buruk bagi kesehatan orang-orang yang mengonsumsinya.

Laporannya begitu panas di telinga pejabat-pejabat pemerintah, bahkan Gubernur Jendral Willem Rooseboom menyebut Scheltema sebagai seorang penebar kebencian. Imbasnya, Scheltema pun dipenjara selama sebulan akibat laporannya tersebut.

Nama-nama lain yang membawa elemen oposisi Bataviaasch Nieuwsblad ke tingkat yang lebih tinggi adalah Karel Zaalberg dan Ernest Douwes Dekker. Sejak 1908, dengan Zaalberg sebagai pemimpin redaksi dan Ernest sebagai deputi, sekaligus ilustrator kartun, Bataviaasch Nieuwsblad tidak segan-segan menuntut kepemimpinan politik putra-putri Hindia sendiri di Hindia Belanda. Keduanya kemudian membawa pendirian tersebut ke ranah gerakan sosial-politik masing-masing: Ernest mendirikan Indische Partij yang radikal pada 1912 dan Zaalberg mendirikan Indo Europeesch Verbond yang moderat pada 1919.

Selain itu, ada pula nama jurnalis lain yang setelah bekerja untuk Bataviaasch Nieuwsblad kemudian menjadi nama-nama penting dalam dinamika pers Indo-Belanda, seperti Dominique Willem Berretty (pendiri kantor berita ANETA, kemudian Antara), Victor Ido (alias Hans van de Wall, kritikus seni), Edgar du Perron (sastrawan dan kritikus sastra), serta Tjalie Robinson (sastrawan Indo-Belanda terkemuka).

Kedua, Bataviaasch Nieuwsblad nyatanya populer dibaca oleh kelompok gerakan nasionalis Indonesia. Ia tercatat melaporkan pendirian organisasi nasionalis Indonesia pertama, Boedi Oetomo, dan kongres pertamanya di Yogyakarta pada 1908. Bataviaasch Nieuwsblad juga disegani, dan dihormati, kelompok nasionalis Indonesia untuk laporannya yang objektif tentang persidangan Sukarno oleh pemerintah kolonial pada 1927, serta karena laporan-laporannya yang adil, malah terkadang menjustifikasi, terhadap gerakan nasionalisme Indonesia di tahun-tahun setelahnya.

Dan pertanyaannya, apakah rasa hormat yang telah terbangun tersebut mampu menyelamatkan golongan Indo-Belanda, para pembaca setia dan golongan utama yang dibela Bataviaasch Nieuwsblad, dalam gelora kemerdekaan Indonesia yang dimotori oleh kelompok nasionalis?

Sayangnya tidak seperti itu. Orang-orang Indo-Belanda yang sengsara di masa pendudukan Jepang nyatanya cenderung tidak diberikan ruang hidup di masa Indonesia merdeka. Kelompok Indo-Belanda berangsur-angsur meninggalkan Indonesia, bermigrasi ke Belanda atau negara-negara lain pada tahun 1950-an. Hal tersebut memastikan satu hal bagi Bataviaasch Nieuwsblad: hilangnya para pembaca dan, mau tidak mau, tutup cetaknya koran tersebut. Terlebih setelah Presiden Sukarno, yang anti-Barat, menyulut permusuhan dengan kelompok Indo-Belanda, seperti dalam Peristiwa Sinterklas Hitam tahun 1957.

Dinamika pers Belanda merupakan sebuah kisah tragis, sebagaimana sepak terjang kelompok Indo-Belanda lainnya, dalam sejarah Indonesia. Peran sejarah pers Belanda dan benang merahnya terhadap gerakan nasionalisme Indonesia merupakan sebuah subjek yang cenderung diabaikan dan perlu dikaji lebih lanjut oleh sejarawan-sejarawan Indonesia, terutama dibandingkan ramainya penelitian peran pers kelompok nasionalis maupun Cina peranakan.

Dan, bagaimanakah pers Belanda memandang Indonesia yang tengah membangun kepribadian politiknya di masa-masa awal kemerdekaan? (Bersambung).

Kolom terkait:

Jejak Pers Belanda: Koran-koran Kompeni (1)

Selamat Hari Pers Nasional, Masih Adakah Idealisme Wartawan?

Pers Kita dan Jurnalisme Tanda Tanya

Koran Tumbang, Jurnalisme Bertahan

Matinya Jurnalisme

Penulis dan peneliti sejarah. Berdomisili di Bogor.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…