Sabtu, Maret 6, 2021

Mbah Maimoen Zubair

Sedikit Pengalaman Menjadi Caleg Kere

"Tujuan politik adalah melantangkan suara kaum marjinal. Supaya terdengar di telinga penguasa dan membangunkannya dari tidur nyenyak di istana megahnya lalu bekerja untuk rakyat". Saya...

Konservatisme Agama di Indonesia: Fenomena Religio-Sosial, Kultural, dan Politik (2)

Ricklefs dalam trilogi bukunya yang sangat monumental (Mystic Synthesis in Java; Polarizing Javanese Society dan Islamisation and Its Opponents in Java) tentang enam abad Islamisasi di...

Survei Dan Peluang Para Kontestan

Warga negara Indonesia tengah menunggu tanggal 17 April 2019. Tanggal yang menentukan nasib petahana dan penantangnya dalam Pilpres, Jokowi dan Prabowo. Survei masih menempatkan...

Anomali Dukungan terhadap Basuki?

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menjelaskan proyek jembatan layang simpang susun Semanggi dalam acara groundbreaking di Jakarta, Jumat (8/4). ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay Dalam...
Avatar
Rumail Abbas
GusDurian Jepara, Peneliti budaya pesisiran di Yayasan Rumah Kartini, tinggal di: @Stakof

“Lho, yang layak disebut Guru Bangsa itu Lik Mus. Saya tidak pantas disebut seperti itu,” demikian jawab Mbah Moen–panggilan takzim untuk KH. Maimoen bin Zubair bin Dahlan.

Sayid Abbas bin Alawy Al-Makky pernah berujar tentang sosok pengasuh Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, itu. Ia berkata, “Jika kau ingin melihat ahli surga yang ada di zaman ini, maka lihatlah Kiai Maimoen.”

“Paklik saya yang paling ngecap di hati saya ini, meski lebih muda dari saya, tapi rambutnya sudah putih merata. Itu tanda (beliau adalah) ahli berpikir. Kepala saya, meski umur saya lebih tua dari beliau, separuh rambutnya hitam, separuhnya lagi putih. Artinya saya ini tidak begitu ahli berpikir.”

Saya ingat betul bagaimana Mbah Moen menyampaikan kalimat di atas, kata demi kata, dengan bahasa krama alus, sebagai bentuk kesopanan karena berbicara tentang pakliknya.

Ngomong-ngomong, Lik Mus yang disebut Mbah Moen tadi, tidak lain adalah KH. Mustofa Bisri, Rembang. Lantas, apa yang kemudian membuat Mbah Moen mengeluarkan komentarnya terkait sebutan Guru Bangsa?

Awalnya, saya memohon kepada Mbah Moen untuk berkenan didokumentasikan dalam bentuk video: “Kami mengharap pesan damai dari Mbah, sebagai Guru Bangsa, agar kita sebagai warga Indonesia tidak saling bertikai demi pemilu.”

Dengan beberapa kalimat berkelit yang saya ajukan, akhirnya Mbah Moen pun berkenan. Pesan tersebut kami sebarkan di media sosial. Dan saya yakin sekali, pemilu yang digelar di Jawa Tengah 2018 silam menjadi tidak sepanas pemilu di ibu kota, oleh sebab, sedikit banyaknya, ada berkah dari Mbah Moen.

Rampung hajat di Sarang, saya bertolak ke Leteh, kediaman Gus Mus. Karena beliau sudah istirahat, saya menyeberang ke kediaman Gus Yahya Cholil Staquf. Ditemani Gus Rizal, menantu Gus Mus, saya pun berbincang-bincang hingga lewat tengah malam.

“Kamu tahu anugerah terbaik dari Allah yang diberikan untuk Indonesia, bahkan dunia?” sergap Gus Yahya.
“Kandungan minyak, gas, dan pegunungan emas?”
“Bukan.”
“Lantas?”
“Mbah Maimoen Zubair!”

Saya terdiam, menunggu penjelasan.

“Mbah Moen itu sealim-alimnya orang nusantara, bahkan dunia!”

Saya haqqul yaqin Mbah Moen sayang Indonesia, dengan segenap warga yang berada di sana. Untuk hal kecil saja beliau begitu memperhatikan, bagaimana dengan perkara besar seperti segenap tumpah darah Indonesia?

Kenang saya yang pernah nyantri kepada beliau di Al-Anwar, kami dilarang memakai peci berwarna putih. Dulu, ketika bertemu santrinya yang memakai peci putih, beliau mengajukan “gugatan”:

“Apa kamu sudah haji, Cung?”
“Belum.”

Mbah Moen seketika marah, dan sejak itu mengharamkan pemakaian peci putih untuk seluruh santrinya.

“Orang-orang kampung pergi ke Tanah Suci sampai menjual sapi, kerbau, kambing, dan tanah,” jelas Mbah Moen, “sementara kamu tanpa beban memakai peci putih, seperti orang yang sudah berhaji saja, padahal harganya cuma lima ribu rupiah.”

Mbah Moen tidak berkenan jika santri-santrinya melukai hati orang, bahkan dalam simbol paling murah dan sederhana seperti peci. Melukai hati itu haram. Oleh karena itu, jika sejengkal pun kakimu belum menginjak Tanah Suci tapi sudah berani memakai peci putih, maka itu adalah keharaman yang sama.

Mbah Moen selalu menjelaskan bahwa kehormatan bagi umat muslim adalah dapat menghembuskan napas terakhirnya di Tanah Suci, dan Mbah kerap meminta doa agar dipanggil Allah pada hari Selasa.

Mbah Moen menghembuskan napas terakhirnya dalam keadaan beribadah haji, pada hari Selasa, dan akan dimakamkan bersama orang-orang alim, di antara mereka adalah guru-gurunya: Sayid Alawy Al-Maliki, Sayid Muhammad Alawy Al-Maliki, dan Habib Salim Al-Syathiri.

Kolom terkait

Gus Mus, Guru Bangsa Kita

Gus Mus dan Akhlak yang Hilang dari Kita

Jangan Lihat Siapa Gus Mus, tapi Apanya!

Tentang Gus Mus, Quraish Shihab, dan Buya Syafii

Dari Gus Dur ke Gus Mus untuk Perdamaian Palestina

Avatar
Rumail Abbas
GusDurian Jepara, Peneliti budaya pesisiran di Yayasan Rumah Kartini, tinggal di: @Stakof
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.