OUR NETWORK

May Day is A Holiday

Ribuan buruh melakukan long march menuju Istana Merdeka ketika melakukan aksi unjuk rasa melintasi Kawasan Medan Merdeka, Jakarta, Selasa (1/9). ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

 

Aksi demo buruh memento kenaikan upas minimum di Jakarta./ Reuters/Bea Wiharta.
Aksi demo buruh memento kenaikan upas minimum di Jakarta./ Reuters/Bea Wiharta.

Semua binatang sederajat, namun beberapa binatang lebih sederajat

George Orwell (1945-Animal Farm)

Das Kapital, mungkin saja adalah kitab pertama yang setiap baitnya berisi ayat-ayat sakral bagi kaum buruh. Begitu pula perjuangan sosok Marx yang tak punya batas antar imajinasi soliternya dengan perjuangan kolektif yang diyakini sebagai seorang Sosialis, dan keturunan Yahudi secara bersamaan.

Marx menenggelamkan dirinya ditengah baju yang bau oli pabrik, dalam ruangan sempit penuh dengan asap rokok, atau duduk berjam-jam mengetik manuskrip perubahan di atas kursi yang tua renta. Bersama keyakinannya bahwa dunia menuju keadilan dengan merubah relasi modal dan produksi, di sanalah bersemayam satu cita-cita besar buruh Internasional melebur untuk kesejahteraan dan keadilan sosial. Propagandanya, memisahkan entitas buruh dengan segala sesuatu yang memiliki kaitan dengan ‘kapital’. Antagonisme antara kaum pekerja dan pemodal semacam ikhtiar perjuangan yang harus diucapkan sering-sering agar mempertebal iman proletariat.

Namun seperti banyak pemikir lainya, Marx juga bukan tanpa kekurangan atau kealpaan dalam merekonstruksi ide masa depan tentang keadilan manusia. Marx sebagai seorang filsuf, tak akan bergeser dari papan nama teratas bagi orang yang membela rakyat marginal. Menjadi Marxist atau (coba-coba) belajar Marxisme juga bukan berarti membaca Das Kapital dengan kacamata kuda, atau memuja heroisme tokoh-tokoh Marxist yang berharap dunia berubah dengan senjata.

Merayakan May Day tidak pernah lepas dari ajaran pokok Marxisme, sebagian besar massa aksi menjeritkan jargon-jargon secara histeris tanpa pernah membaca keterangan lanjutan. Satu-dua pemimpin serikat di atas mobil komando dan terus memberi semangat massa aksi. Jika anda percaya demokrasi, persoalan demonstrasi adalah penting. Kita meyakini ‘demonstrasi’ adalah ekstrakulikuler dalam kurikulum politik yang kredit poinnya begitu tinggi.

Untuk kali ini, Menteri Ketenagakerjaan RI, M. Hanif Dhakiri memperdaya kita, atau entah karena waktu Hari Buruh (May Day) yang bertepatan dengan hari libur (Minggu). Tapi yang pasti, belakangan muncul tagline #MayDayIsAHoliday. Banyak pimpinan serikat yang gusar dengan kampanye itu, suka atau tidak tagline itu mengandung unsur kebenaran dalam diksi dan konteks.

Menaker M. Hanif Dhakiri memprovokasi kita agar bersahabat dengan May Day itu sendiri, itu bukan berarti ada tendensi melemahkan gerakan buruh sebagai sebuah aktivitas demokrasi. Dan publik Indonesia sebenarnya sudah menerima aksi-aksi hari buruh Internasional sebagai satu peristiwa tahunan, tanpa memiliki pretensi negatif terhadap aksi-aksi massa itu. Mengajak publik lebih luas untuk bergembira dalam merayakan Hari Buruh Internasional adalah satu kenakalan kritis seorang Menteri Ketenagakerjaan.

Kurang lebih tiga tahun lalu, saya mendarat di sebuah kota yang punya sejarah panjang dengan gerakan buruh Eropa, Vienna. Sialnya, waktu tiba saya selisih 4 hari dari perayaan Hari Buruh Internasional di kota itu. Saat itu saya membayangkan, menyanyikan Internationale (lagu kebesaran kaum buruh dunia) dengan Bahasa Indonesia di tengah kerumun massa.

Seorang kawan berdarah Bavaria meledek, “das nicht Proletariat mehr!”, Protelariat sudah tidak ada lagi. Protelariat yang didefinisikan Marx itu, sudah memiliki imun kemiskinan yang diproteksi dengan jaring pengaman sosial negara. Negara tidak lagi dipandang sebagai sebuah antagonisme kaum buruh yang harus ditaklukkan, sebagaimana juga melihat kaum pengusaha sebagai perseteruan abadi.

Dengan begitu, kaum buruh sebenarnya lambat laun juga berevolusi secara anatomi sosialnya. Merayakan May Day didampingi oleh kegembiraan, ada banyak cerita-cerita hangat disetiap bir yang mereka habiskan. Beredar rumor-rumor konyol dalam aktivitas kerja seharian, atau skandal privasi para manejer mereka. Namun begitu, bukan berarti kaum buruh Austria terlena dengan syukuran tahunan yang berlangsung dengan meriah. Tetap ada harapan, yang mereka siapkan untuk masa depan mereka.

Harapan-harapan itu bukan bergantung pada berapa upah tambahan yang mereka dapat dalam akumulasi tahunan, tapi bersatunya penghetauan dan keyakinan diri sebagai seorang pekerja. Seperti bagaiamana Antonio Gramsci melakukan pemberontakan terhadap metodologis dan hukum deterministik Marxisme. Sumbangan Gramsci, adalah memberi keyakinan kepada kaum pekerja bahwa ada satu hal yang selama ini tersingkap, yakni “pengetahuan”.

Gerakan buruh ditenggelamkan oleh para pimpinan serikat atas dasar otoritas semu kepentingan bersama. Aksi Massa buruh disusupi agenda-agenda yang sering kali tidak ada hubungnya dengan kebutuhan dasar mendesak mereka. Pimpinan serikat bukan saja membungkam proses berfikir dalam dinamika organisasi, bahkan mereka turun kejalan dengan mata hati yang tertutup. Ada banyak dosa-dosa pimpinan serikat, yang selalu mereka tambal sendiri dengan otoritas semu itu.

Tidak juga semua pimpinan serikat bertindak sepongah itu, kita mesti optimis bahwa akan lahir pimpinan-pimpinan serikat yang berjuang untuk keberdayaan kolektif. Politik kita kedepan juga harus semakin ramah dengan kepentingan isu buruh, agar gerakan buruh tak mudah terpolitisir oleh pimpinan serikat yang pragmatis. Dengan cara-cara itu, buruh secara entitas sosial yang sama pentingnya dengan isu kewarganegaraan perlahan punya harapan ekonomi lebih baik.

Menaker M. Hanif Dhakiri bukan anak raja, yang tiba-tiba di titahkan menjadi seorang Menteri tanpa pernah memeras keringat atau meneteskan air mata. Ada jalan panjang yang mendidiknya serta mengajarkanya bahwa keberpihakan adalah sebuah perjuangan. Bahwa keberpihakan adalah kepada mereka yang lemah dan tertindas.

Provokasinya, adalah salah satu upaya komunikasi terhadap kaum buruh Indonesia akan satu optimisme. Organisasi-organisasi buruh harus besar dan solid bukan saja dalam proses advokasi penuntutan hak dan upah. Tapi organisasi buruh juga harus menjadi sekolah yang mendidik soal etos kerja dan tanggung jawab. Dalam hal itu, “penghetauan” harus didistribusi kepada anggota serikat, bukan di privatisasi oleh pimpinan serikat.

May Day is A Holiday adalah harapan bukan saja bagi buruh yang melulu di definisikan pekerja-pekerja pabrik, tapi juga pekerja kerah putih. Sejatinya, pekerja kerah putih juga lekas menyadari bahwa posisinya sebagai ‘orang kantoran’ juga tak ubahnya sebagai buruh.

Serta kembali mengingatkan kita, bahwa sekuat apapun perjuangan yang kita tempuh, bangunan keluarga adalah yang fundamen dalam struktur sosial yang paling elementer. Maka berliburlah bersama keluarga para anggota serikat, bersama keluarga pimpinan serikat, sehingga mempererat internal organisasi.

Selamat Hari Buruh Internasional, merayakan bersama kegembiraan tanpa memberhentikan nalar kritis, tanpa terbuai dengan politik serikat yang sering menyuarakan isu-isu yang jauh hubunganya dengan kepentingan pekerja. Masa depan kelas pekerja, bukan saja bergantung pada isu upah.

Seharusnya keseriusan itu justru menuntut isu perbaikan penjamin jaringan sosial, dan kebutuhah pendidikan serta kesehatan untuk anak-anak pekerja. Karena kehidupan terus berjalan, jika seorang pekerja 20 tahun sudah bekerja menjadi buruh pabrik, perjuangan sebenarnya adalah bukan semata-mata soal upah.

Perjuangan riil itu ada pada peningkatan status anak-anak mereka, agar kelak kemartabatan keluarga perlahan terbangun. Di sana, satu hal yang Gramsci perjuangakan menjadi penting, “Pengetahuan”.

Kolom Terkait:

Mengapa Kelas Menengah Membenci Buruh

Aksi Buruh dan Jumlah Pengangguran

Abi Rekso Panggalih
Sekjen DPN Pergerakan-Indonesia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.