Sabtu, Maret 6, 2021

Matinya Demokrasi

Mas Bahtiar Effendy: Penasihat Politik Kami

Saya memanggil dia Mas: Mas Bahtiar. Karena dia memang lebih tua dari saya, dan sebagai orang Jawa saya diajarkan dari kecil untuk tidak njangkar:...

Dekonstruksi Syahrur, Pemikir Paling Dibenci Ulama Konservatif (1)

Muhammad Syahrur adalah sosok kontroversial yang pernah hidup di dunia ini. Pemikirannya tidak hanya mendapatkan kritik dari kaum konservatif, tetapi juga dari kelompok liberal...

Mengkafirkan Pahlawan, Menistakan Indonesia

Saya melihat tahun 2016 yang baru lewat adalah masa-masa yang tidak menyenangkan bagi para pahlawan nasional kita. Masih membekas dalam ingatan, bagaimana pada Mei 2016,...

Intelektual dan Tangan-Tangan Tak Kelihatan

Peretasan akun media sosial ahli epidemologi Pandu Riono beberapa waktu lalu adalah salah satu saja dari kejadian setelah beberapa peretasan yang dilakukan kepada mereka...
Endang Tirtana
Endang Tirtana
Si Anak Kampung yang merantau di Jakarta dan Alumni Pesantren Kulliyatul Muballigien Muhammadiyah Padangpanjang

Pertemuan antara Prabowo dan Surya Paloh kemarin menyampaikan pesan bahwa mereka akan mendorong dilakukannya amandemen UU 1945 secara menyeluruh. Begitulah, kian lebar terbuka kotak pandora politik kita.

Sebelum pertemuan itu, rekonsiliasi antara PDIP dan Gerindra yang semula saling berhadapan dalam Pilpres, sepertinya akan mengarah pada dominasi di parlemen. Keduanya adalah pemenang pertama dan kedua dalam perolehan suara pemilu legislatif.

Sejak jauh-jauh hari PDIP telah menggulirkan usulan untuk menghidupkan kembali GBHN dan mengembalikan wewenang kepada MPR untuk menetapkan GBHN. Usulan itu diamini ketua umum Golkar, Bambang Soesatyo, yang kini telah terpilih sebagai ketua MPR.

Amandemen terbatas soal GBHN menurut hemat penulis adalah sebuah kudeta merangkak terhadap capaian demokrasi sejak reformasi. Memulihkan kembali kedudukan MPR untuk menetapkan GBHN akan membawa pada konsekuensi bahwa presiden menjadi mandataris MPR.

Hal ini akan menimbulkan kontradiksi karena presiden kini telah dipilih secara langsung oleh rakyat. Elite politik lama yang telah merosot popularitasnya ingin merebut kembali kendali atas pemilu. Ujungnya adalah mengembalikan kewenangan memilih presiden kepada MPR.

Empat partai politik utama (PDIP, Gerindra, Golkar, dan Nasdem) paling gencar menyuarakan perlunya amandemen. Sebelumnya Nasdem juga menyinggung lagi wacana perubahan masa jabatan presiden, mengaitkan dengan kesinambungan pembangunan sebagaimana diasumsikan dengan adanya GBHN.

Untuk mengamankan proses amandemen, seluruh partai politik mendapat jatah kursi sebagai wakil ketua MPR. Sebelumnya pimpinan MPR hanya terdiri dari lima kursi, mewakili unsur DPR dan DPD. Melalui revisi UU MD3, kursi pimpinan ditambah menjadi sepuluh untuk mengakomodasi semua partai.

Ketika awal bergulir usulan amandemen, Jokowi telah menegaskan untuk menolak adanya amandemen. Jokowi yang merupakan produk pemilihan langsung dan desentralisasi mewanti-wanti agar demokrasi tidak dikuasai oleh elite politik, tetapi benar-benar berada di tangan kedaulatan rakyat.

Saya meyakini bahwa langkah terang amandemen membenarkan tuduhan gerakan mahasiswa bahwa reformasi telah dikorupsi. Dalam serangkaian aksi demonstrasi pada akhir September lalu, mahasiswa menyerukan perlawanan terhadap oligarki yang menjadi sumber masalah lahirnya RUU bermasalah.

Partai-partai politik yang duduk di Senayan tidak saja bertanggung jawab terhadap kericuhan selama demontrasi mahasiswa. Kini parpol-parpol akan mendorong lebih jauh untuk membunuh demokrasi yang diperjuangkan mahasiswa pada 1998 dan kembali dibela oleh generasi baru gerakan mahasiswa.

Desakan mahasiswa dan elemen masyarakat sipil seputar Perpu KPK membayangi pula agenda pelantikan presiden pada 20 Oktober mendatang. Penulis telah menyuarakan agar tuntutan dimajukan menjadi penolakan terhadap amandemen yang hanya akan menguntungkan kekuatan oligarki parpol.

Menyelamatkan demokrasi dari tangan elite oligarki adalah agenda mendesak saat ini. Negara demokrasi terbesar ketiga di dunia ini berada dalam ancaman bahaya. Sudah saatnya kekuatan lama mundur untuk memberikan jalan bagi angkatan baru, anak-anak muda menatap cerahnya Indonesia!

Kolom terkait

Indonesia dan Rezim Hukum Represif

Kala Horang Kayah Kongkow di Parlemen Kita

Rindu GBHN, Kebiri Nasional

Menjadikan RI Negara Polisi

Surat Penting untuk Pak Jokowi tentang Kematian KPK

Endang Tirtana
Endang Tirtana
Si Anak Kampung yang merantau di Jakarta dan Alumni Pesantren Kulliyatul Muballigien Muhammadiyah Padangpanjang
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.