OUR NETWORK

Mati Ketawa Cara Mukidi

Mukidi jadi nama yang sangat populer pekan ini di kalangan netizen Indonesia. Sosok itu ramai dibahas di jejaring WhatsApp (WA), BlackBerry Messenger (BBM), menular ke Facebook, Twitter, dan media sosial lain.

Meme Mukidi hadir dalam bentuk narasi lucu singkat maupun foto. Semua mengisahkan soal kekonyolan dan kepolosan seorang Mukidi. Sosok Mukidi sendiri fiktif, yang dibayangkan sebagai pria usia 25-30-an, polos, apa adanya, ndeso. Namun netizen seolah berusaha keras mewujudkan Mukidi dalam figur senyata mungkin, hingga muncul rekaan silsilah Mukidi.

mukidiYang tidak tahu pun menjadi tahu gegara nama itu berseliweran di media sosial. “Siapa sih Mukidi?” Akan disamber dengan jawaban, “Googling aja.” Dan setelah itu si penanya langsung mendapat jawabannya, lalu ikut menyebarkan viral Mukidi.

Kesuksesan viral Mukidi yang ciptaan Soetantyo Moechlas, seorang produc manager asal Banyumas. Dia ciptakan tokoh itu sebagai selingan humor saat melakukan presentasi. Siapa nyana Mukidi justru jadi viral ke seantero Indonesia. Humornya pun berkembang pesat sesuai kreativitas netizen. Ya, Mukidi sudah jadi domain publik, siapa pun bebas menciptakan candaan sesuai suasana dengan membawa nama Mukidi. Tak ada hak paten yang dilanggar.

Humor Mukidi bagaikan oase di tengah padang pasir. Kita sudah jenuh dengan aneka pesan broadcast di WA, BBM, dan Telegram yang isinya karut marut politik atau kasus kriminal.  Belum lagi aneka kata-kata bijak kutipan motivator yang menggurui. Netizen pun muak dengan obrolan seputar pilkada, perseteruan haters dan lovers, atau bisingnya pemberitaan korupsi. Tetiba muncul Mukidi dengan segala kesederhanaannya. Membuat kita terhenyak, seolah mewakili kepolosan diri setiap manusia Indonesia.

Humor atau candaan punya sejarah panjang dalam hidup manusia, bahkan sudah jadi bagian dari budaya. “Hati yang gembira adalah obat yang manjur. Tapi semangat yang patah membuatmu sakit,” demikian termaktub di Amsal Injil. Dari situ dapat dibayangkan betapa humor sudah diakui sebagai obat ampuh bagi jiwa yang “sakit”.

“Humor is the best medicine”, kata bule-bule sejak zaman bahuela. Para tabib kuno Yunani meresepkan agar pasien-pasiennya menonton panggung lawak sebagai bagian dari proses pengobatan. Para raja-raja sejak lama mempekerjakan badut atau pencerita lucu demi menghiburnya secara privat.

Di abad ke-14, ahli bedah Prancis, Hendi de Modeville, memakai terapi humor untuk memulihkan pasien pasca bedah.

Kebutuhan akan humor juga hadir di kalangan bangsa Arab. Pernah dengar nama Abu Nawas? Bernama lengkap Abu-Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami, Abu Nawas hidup tahun 756-814. Beda dengan Mukidi, sosok ini sungguh nyata. Hanya budaya modern kerap mengiranya sebagai sosok fiktif, sebab Abu Nawas kerap hadir di buku kumpulan humor atau komik.

Pujangga Arab ini memang dikenal kocak, pernah muncul beberapa kali di kisah “Seribu Satu Malam”. Di Indonesia, Abu Nawas sempat populer di era 1980 hingga 1990-an melalui kisah-kisah lucunya di buku, majalah, surat kabar, dan kartun. Walau mengandung nilai filosofis, kisah Abu Nawa disampaikan secara santai dan menghibur.

Profesi pelawak, komedian, tak pernah lekang sepanjang masa. Buku kumpulan humor, komik, animasi lucu, selalu disuka. Bedanya, di era media sosial, semua menyebar secepat kilat melalui aneka platform-nya. Banyak dari kita yang sudah tak punya waktu untuk mencari-cari buku humor, sehingga kehadiran pesan broadcast berisi candaan Mukidi sangat membantu.

Penikmat humor juga leluasa melakukan inovasi dengan desain grafis simpel. Ada kepuasan tersendiri ketika sukses menyebarkan canda Mukidi di jejaring sosial, membuat netizen lain terhibur. Seolah mereka terbahak bersama-sama.

Zhanna Dolgopolova menulis Mati Ketawa Cara Rusia pada 1986, di era kejayaan Uni Soviet. Buku itu merupakan kumpulan canda bagaimana orang Rusia menertawakan dirinya sendiri. Sarkas atas pemerintahan yang diktator, satir mengenai pergaulan yang rasis.

Pembaca diajak merasakan penderitaan warga Uni Soviet di bawah pemerintahan tangan besi namun dalam humor pengocok perut. Muncul tokoh-tokoh bernama “pasaran” Rusia seperti Ivanovich, Ibrahimovich, dan sejenisnya, demi mewakili warga Uni Soviet yang majemuk. Semua saling menertawakan satu sama lain.

Bagaimana dengan Indonesia masa kini? Di tengah bombardir isu politik, korupsi tak ada habisnya, keresahan SARA, hadirlah Mukidi. Dan kita langsung menyayanginya, menganggapnya sebagai teman baik, sahabat, saudara. Tanpa beban menertawakannya seolah menertawai diri sendiri, lalu membuat inovasi candaan baru dengan Mukidi sebagai basisnya.

Mukidi adalah kerinduan kita atas pribadi yang apa adanya, polos, sederhana. Kerinduan kita untuk menjadi individu yang sangat Indonesia, bebas dari status sosial, ekonomi, dan kepentingan politik. Mari kita nikmati bersama, mati ketawa cara Mukidi. Selama tertawa itu belum dilarang.

Founder & CEO PoliTwika.Com

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…