Selasa, Maret 2, 2021

Mati Ketawa Cara Mukidi

Notts County: Sejarah yang Jatuh

Sejarah itu akhirnya jatuh. Terlalu dalam. Riwayat yang besar, legenda yang selalu diceritakan berulang-ulang, yang bertahan selama lebih dari satu setengah abad, tak mampu...

Alam Menghidupi Kita: Surat Terbuka untuk Presiden Joko Widodo

Yang saya hormati, Presiden Joko Widodo Assalamu'alaikum Saya menulis surat ini berdasarkan Konstitusi kita, UUD 1945, Pasal 28. Biar lebih jelas, saya tuliskan saja isi pasalnya, "Kemerdekaan...

Pemenuhan Kuota Internet dan Pembelajaran Interaktif

Terobosan untuk memenuhi pengetahuan siswa terus dilakukan oleh pemerintah guna mengentaskan pendidikan utamanya pada masa pandemi. Siswa harus terus mendapatkan kesempatan belajar dengan tetap...

Berbahasa untuk Menjadi Kita, Bukan Kami

“Publik kan enggak terlibat saat proses pembuatannya, pakainya kami dong, bukan kita.”   Celotehan itu keluar dari mulut kawan saya, seorang pegawai negeri sipil (PNS), ketika...
Merry Magdalena
Founder & CEO PoliTwika.Com

Mukidi jadi nama yang sangat populer pekan ini di kalangan netizen Indonesia. Sosok itu ramai dibahas di jejaring WhatsApp (WA), BlackBerry Messenger (BBM), menular ke Facebook, Twitter, dan media sosial lain.

Meme Mukidi hadir dalam bentuk narasi lucu singkat maupun foto. Semua mengisahkan soal kekonyolan dan kepolosan seorang Mukidi. Sosok Mukidi sendiri fiktif, yang dibayangkan sebagai pria usia 25-30-an, polos, apa adanya, ndeso. Namun netizen seolah berusaha keras mewujudkan Mukidi dalam figur senyata mungkin, hingga muncul rekaan silsilah Mukidi.

mukidiYang tidak tahu pun menjadi tahu gegara nama itu berseliweran di media sosial. “Siapa sih Mukidi?” Akan disamber dengan jawaban, “Googling aja.” Dan setelah itu si penanya langsung mendapat jawabannya, lalu ikut menyebarkan viral Mukidi.

Kesuksesan viral Mukidi yang ciptaan Soetantyo Moechlas, seorang produc manager asal Banyumas. Dia ciptakan tokoh itu sebagai selingan humor saat melakukan presentasi. Siapa nyana Mukidi justru jadi viral ke seantero Indonesia. Humornya pun berkembang pesat sesuai kreativitas netizen. Ya, Mukidi sudah jadi domain publik, siapa pun bebas menciptakan candaan sesuai suasana dengan membawa nama Mukidi. Tak ada hak paten yang dilanggar.

Humor Mukidi bagaikan oase di tengah padang pasir. Kita sudah jenuh dengan aneka pesan broadcast di WA, BBM, dan Telegram yang isinya karut marut politik atau kasus kriminal.  Belum lagi aneka kata-kata bijak kutipan motivator yang menggurui. Netizen pun muak dengan obrolan seputar pilkada, perseteruan haters dan lovers, atau bisingnya pemberitaan korupsi. Tetiba muncul Mukidi dengan segala kesederhanaannya. Membuat kita terhenyak, seolah mewakili kepolosan diri setiap manusia Indonesia.

Humor atau candaan punya sejarah panjang dalam hidup manusia, bahkan sudah jadi bagian dari budaya. “Hati yang gembira adalah obat yang manjur. Tapi semangat yang patah membuatmu sakit,” demikian termaktub di Amsal Injil. Dari situ dapat dibayangkan betapa humor sudah diakui sebagai obat ampuh bagi jiwa yang “sakit”.

“Humor is the best medicine”, kata bule-bule sejak zaman bahuela. Para tabib kuno Yunani meresepkan agar pasien-pasiennya menonton panggung lawak sebagai bagian dari proses pengobatan. Para raja-raja sejak lama mempekerjakan badut atau pencerita lucu demi menghiburnya secara privat.

Di abad ke-14, ahli bedah Prancis, Hendi de Modeville, memakai terapi humor untuk memulihkan pasien pasca bedah.

Kebutuhan akan humor juga hadir di kalangan bangsa Arab. Pernah dengar nama Abu Nawas? Bernama lengkap Abu-Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami, Abu Nawas hidup tahun 756-814. Beda dengan Mukidi, sosok ini sungguh nyata. Hanya budaya modern kerap mengiranya sebagai sosok fiktif, sebab Abu Nawas kerap hadir di buku kumpulan humor atau komik.

Pujangga Arab ini memang dikenal kocak, pernah muncul beberapa kali di kisah “Seribu Satu Malam”. Di Indonesia, Abu Nawas sempat populer di era 1980 hingga 1990-an melalui kisah-kisah lucunya di buku, majalah, surat kabar, dan kartun. Walau mengandung nilai filosofis, kisah Abu Nawa disampaikan secara santai dan menghibur.

Profesi pelawak, komedian, tak pernah lekang sepanjang masa. Buku kumpulan humor, komik, animasi lucu, selalu disuka. Bedanya, di era media sosial, semua menyebar secepat kilat melalui aneka platform-nya. Banyak dari kita yang sudah tak punya waktu untuk mencari-cari buku humor, sehingga kehadiran pesan broadcast berisi candaan Mukidi sangat membantu.

Penikmat humor juga leluasa melakukan inovasi dengan desain grafis simpel. Ada kepuasan tersendiri ketika sukses menyebarkan canda Mukidi di jejaring sosial, membuat netizen lain terhibur. Seolah mereka terbahak bersama-sama.

Zhanna Dolgopolova menulis Mati Ketawa Cara Rusia pada 1986, di era kejayaan Uni Soviet. Buku itu merupakan kumpulan canda bagaimana orang Rusia menertawakan dirinya sendiri. Sarkas atas pemerintahan yang diktator, satir mengenai pergaulan yang rasis.

Pembaca diajak merasakan penderitaan warga Uni Soviet di bawah pemerintahan tangan besi namun dalam humor pengocok perut. Muncul tokoh-tokoh bernama “pasaran” Rusia seperti Ivanovich, Ibrahimovich, dan sejenisnya, demi mewakili warga Uni Soviet yang majemuk. Semua saling menertawakan satu sama lain.

Bagaimana dengan Indonesia masa kini? Di tengah bombardir isu politik, korupsi tak ada habisnya, keresahan SARA, hadirlah Mukidi. Dan kita langsung menyayanginya, menganggapnya sebagai teman baik, sahabat, saudara. Tanpa beban menertawakannya seolah menertawai diri sendiri, lalu membuat inovasi candaan baru dengan Mukidi sebagai basisnya.

Mukidi adalah kerinduan kita atas pribadi yang apa adanya, polos, sederhana. Kerinduan kita untuk menjadi individu yang sangat Indonesia, bebas dari status sosial, ekonomi, dan kepentingan politik. Mari kita nikmati bersama, mati ketawa cara Mukidi. Selama tertawa itu belum dilarang.

Merry Magdalena
Founder & CEO PoliTwika.Com
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.