Rabu, Maret 3, 2021

Masih Adakah Tepo Seliro?

Awas! Ada Musang Pro Koruptor Di KPK

Tidak kurang dari 384 orang siap “bersitungkus lumus” untuk memenangkan bursa pemilihan calon pimpinan (capim) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sejauh yang dapat diamati, daftar...

Dokter Lie, Superhero Indonesia

Sosok satu ini menjadi superhero bukan karena mendapatkan kecelakaan di laboratorium, menemukan benda sakti, atau karena tersambar petir seperti lazimnya peristiwa yang menimpa superhero...

Pelantikan Joe Biden dan Pembangkangan Trump

Pelajaran Demokrasi untuk Dunia yang Terus Berubah Washington tegang menjelang pelantikan Presiden Joe Biden dan Kemala Harris, 20 Januari 2021. Kondisi ini terbentuk akibat pembangkangan...

Apa yang Kita Bicarakan Ketika Kita Bicara tentang Menjaga Alam dan Penghidupan Desa

Melihat orang-orang menyelesaikan persoalan bersama secara pribadi membuat saya kadang-kadang berpikir, mungkin justru itulah gaya khas Indonesia, bukan gotong-royong sebagaimana dipercaya banyak orang. Di kota-kota,...
Arif Nurul Imam
Analis Politik dan Direktur IndoStrategi Research and Consulting

Tepo seliro atau tenggang rasa merupakan nasehat bijak yang berasal dari kearifan lokal Jawa. Dalam khazanah budaya Jawa, tepo saliro didefinisikan sebagai sikap individu untuk mengontrol pribadinya berdasarkan kesadaran diri. Wujud tepo saliro adalah sikap menjaga hubungan baik dalam kehidupan sehari-hari tanpa melihat latar belakang atau identitasnya untuk saling menghormati dan tolong-menolong.

Meski berasal dari bahasa Jawa, namun ungkapan tepo seliro beberapa waktu lalu sempat mencuat secara massif serta menasional, terutama di media sosial pasca insiden Kauman, Yogyakarta.

Sikap tepo seliro sejatinya bukan hanya monopoli suku Jawa. Ini karena sesungguhnya menjadi sikap sebagian besar suku-suku lain, bahkan juga merupakan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Itu sebabnya, ajaran adiluhung ini mesti dirawat dan di tumbuhkembangkan di tengah kehidupan yang makin minim empati, tuna solidaritas dan maraknya superioritas dalam segala bentuk.

Menjunjung tinggi sikap tepo seliro tidak saja penting, melainkan mutlak diperlukan dalam menciptakan kehidupan yang harmoni, saling tolong menolong dan guyup-rukun, termasuk dalam dunia politik praktis. Hal tersebut lantaran tepo seliro selain berguna untuk memupuk solidaritas dan persatuan juga bermanfaat untuk mengurangi derajat polarisasi politik secara ekstrem.

Politik Nir Tepo Seliro

Di lanskap politik sikap tepo seliro sesungguhnya sangat penting dan dibutuhkan. Hal ini karena sikap tenggang rasa, tidak saja akan membangun kultur politik sehat, tapi juga berguna bagi stabilitas politik sehingga roda pembangunan bisa terus bekerja tanpa dibayang-bayangi oleh momok instabilitas politik.

Merebaknya politik  Machiavelli yang menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan merupakan salah satu pangkal mengapa para politisi cenderung mengabaikan tepo seliro. Jika semua itu demi kursi kekuasaan, apa pun juga akan dilakukan termasuk menabrak azaz tepo seliro. Akibatnya, jagat politik kita kehilangan ruh dan marwah perjuangan karena sekadar untuk mendapatkan kekuasaan dan saat yang bersamaan meminggirkan sikap adiluhung tersebut.

Sikap anti-tepo seliro dalam politik marak dalam beragam jenis yang kadang publik jarang memahami. Misalnya, melakukan  stigmatisasi pada pihak lain karena beda dukungan  politik atau beda kubu dengan label-label peyoratif, seperti tidak nasionalis, antek asing, tidak relegius, dan stigma-stigma yang mendiskreditkan lainnya. Ini sekadar contoh kecil yang sesungguhnya bentuk lain hilangnya tepo seliro dalam dunia politik belakangan ini.

Dalam Pilpres kemarin misalnya, pendukung Jokowi menuduh pendukung Prabowo sebagai pendukung yang keblinger karena Prabowo dianggap bagian Orde Baru, tidak merakyat dan memiliki sejarah kelam. Sebaliknya pendukung Prabowo, menuduh pendukung Jokowi sebagai orang yang tak relegius karena Jokowi dipersepsikan sebagai antek asing, petugas partai, dan tidak taat beragama.

Sementara yang golput ideologis di stigma pendukung Jokowi dengan tuduhan cuci tangan di tengah negara bangsa yang dalam kondisi darurat. Padahal semua itu, hanya sekadar untuk kepentingan elektoral belaka, tak lebih.

Stigma-stigma yang dibangun semacam ini sejatinya juga merupakan bentuk sikap anti tepo seliro. Dikatakan demikian karena kita tahu, pertarungan politik pada Pilpres kemarin akhirnya hanya berujung bersatunya kedua paslon dalam satu kubu pemerintah. Lantas dimana stigma-stigma tadi? Tak lebih sebagai propaganda serta alat mendiskreditkan secara politik belaka untuk kepentingan elektoral capres-cawapres yang didukung.

Beda pilihan dalam demokrasi sesuatu yang lumrah dan wajar tanpa harus bersikap mendiskreditkan secara politik yang mengabaikan aspek tepo seliro. Toleransi politik ketika berbeda dukungan atau berbeda kubu politik tentu sebuah sikap kedewasaan berpolitik. Bertepo seliro akan perbedaan pilihan politik adalah keharusan jika hendak menuju bangsa maju dan besar. Padahal jika kesadaran dan kedewasaan politik tinggi dalam menghargai pilihan orang lain merupakan pilar penting dalam membangun kualitas demokrasi.

Meski nasehat Jawa kuno, namun tepo seliro hingga kini masih relevan diperlukan dalam membangun tatanan sosial politik yang harmoni, guyup-rukun, dan saling tolong menolong. Tanpa sikap ini, kita akan terperosok dalam lubang jarum menjadi bangsa yang egois, individualis dan tak bisa menghargai yang lain.

Dalam dunia politik pun, sikap tepo seliro juga mutlak diperlukan karena dengan sikap demikian maka kualitas demokrasi juga akan kian meningkat. Perebutan kekuasaan yang mengabaikan azaz tepo seliro hanya berdampak pada disharmoni sosial, polarisasi politik ekstrem dan kerapuhan bangsa dan negara.

 

Arif Nurul Imam
Analis Politik dan Direktur IndoStrategi Research and Consulting
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.