Jumat, Januari 15, 2021

Mas Wendo yang Saya Kenal

Hidup dengan Kenormalan Baru

Kota Wuhan sebagai sumber pandemi corona telah mulai membuka diri dari lockdown. Sejumlah negara pun mulai melonggarkan pembatasan. Italia dan Spanyol yang terdampak parah di...

Menanti Ketegasan Jokowi Mengisi Jabatan Kapolri

Masa jabatan Jenderal Polisi Badrodin Haiti sebagai Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) akan berakhir pada 24 Juli 2016 nanti. Meski lebih kurang tinggal dua...

Seratus Tahun Kebahagiaan

Tanggal 14 April lalu mestinya Eddie Jaku merayakan ulang tahun ke-100 di kotanya, Sydney, Australia. Pandemi membuatnya mengurungkan niatnya. "Tapi bukan dibatalkan, hanya ditunda,"...

Di Mana Keluarga Saat Si Anak Memperkosa?

”Seluruh desa dibutuhkan untuk membesarkan seorang anak,” kata pepatah Nigeria. Kalimat ini kemudian dikutip Hillary Clinton, menjadi judul bukunya It Takes A Village pada...
Avatar
FX Rudy Gunawan
Sarjana filsafat dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, menjadi wartawan di majalah Jakarta Jakarta dari 1992 sampai 2000. Karya-karyanya antara lain "Filsafat Seks" (Bentang, Yogyakarta), kumpulan esai "Pelacur & Politikus" (Graffiti Press, Jakarta), "Mendobrak Tabu; seks, kebudayaan, dan Kebejatan Manusia" (GalangPress, Yogyakarta), "Budiman Sudjatmiko; Menolak Tunduk" (Grasindo, Jakarta), "Wild Reality; Refleksi Atas Kelamin" (IndonesiaTera, Yogyakarta) "Mbah Maridjan; Presiden Gunung Merapi (GagasMedia, Jakarta)", dan "Premanisme Politik" (ISAI, Jakarta).

Setelah hoaks tentang meninggalnya Arswendo Atmowiloto pada sekitar minggu pertama Juli 2019, kematian itu kemudian menjadi fakta pada sebuah Jumat sore sekitar pukul 17.50 (19 Juli 2019). Saat berita duka itu mulai tersebar, banyak yang meragukan dan bertanya: hoaks atau bukan ini? Itu mungkin sebuah keunikan yang menyertai kepergian Mas Wendo, meskipun menyedihkan karena berita kematian pun kini bisa menjadi hoaks.

Mas Wendo memang sastrawan dan jurnalis yang unik. Ini fakta sepanjang hidup yang terlihat pada karya-karyanya. Sepanjang hidupnya, ia juga sangat produktif dan termasuk salah satu sastrawan yang pernah merasakan pahit-getirnya kehidupan di penjara era Orde Baru saat tabloid Monitor yang dipimpinnya menggelar sebuah survei yang hasil survei itu kemudian membawanya ke penjara. Ia harus bertanggung jawab menanggung hukuman untuk sesuatu yang merupakan pendapat publik.

Saya mengenal Mas Wendo mulai dari sebagai pengagum sampai menjadi murid sekaligus kawan yang saling mendukung dalam berkarya. Ketika Mas Wendo mendengar kabar saya mendirikan majalah Diffa pada tahun 2005, sebuah media tentang para penyandang disabilitas, ia segera menawarkan diri untuk membantu.

Tentu ini sangat membanggakan dan membahagiakan saya dan teman-teman majalah Diffa. “Ayo kalian kutampilkan di tivi,” serunya. Mas Wendo kemudian menampilkan kami, redaksi majalah Diffa, di sebuah acara talkshow TVRI bersama Slamet Rahardjo. Perhatian, bantuan, dan dukungan sastrawan dan jurnalis besar itu memicu semangat kawan-kawan Diffa dan juga para penyandang disabilitas yang mengetahuinya. Mereka merasa terhormat. Bahkan tersanjung.

Sebelum majalah Diffa, Mas Wendo juga mendukung saya dalam program advokasi bagi para petani tembakau yang saat itu resah karena khawatir undang-undang kesehatan akan menyulitkan industri rokok kretek dan kemudian berimbas pada nasib mereka. Kami mengusung tema “Indonesia Berdikari” dalam berbagai program advokasi tersebut, mulai dari kegiatan community building, rangkaian diskusi, penerbitan buku sampai pementasan monolog Roro Jonggrang yang menampilkan aktor Whani Darmawan. Selain Mas Wendo, juga ada Mohamad Sobary dalam program tersebut.

Setelah majalah Diffa akhirnya berhenti terbit pada tahun 2010, saya dan Mas Wendo kembali tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Kami tetap bertukar kabar, meski tidak terlampau sering dan sesekali ngopi untuk ngobrol santai atau bertemu tidak sengaja dalam sebuah acara.

Selain itu, setiap kali Mas Wendo muncul di acara televisi saat saya sedang tidak di rumah, biasanya, Utami, istri saya, langsung memberi tahu dan saya segera menyempatkan diri untuk menontonnya. Dalam acara-acara talkshow itu, Mas Wendo selalu tampil apa adanya dan pendapat-pendapatnya dilontarkan dengan lugas dan jernih.

Hidup memang penuh ketakterdugaan. Pada sekitar pertengahan tahun 2017 saya bertemu Mas Wendo dalam sebuah acara yang digelar para seniman Bulungan di Warung Apresiasi, Jakarta Selatan. Hadir dalam acara itu, selain Mas Wendo, ada Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn) Moeldoko, Roy Marten, dan Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid. Dalam kesempatan itu, saya ngobrol panjang dengan Mas Wendo, melepas kangen. Dan ternyata majalah Diffa masih ditanyakannya. “Opo ora iso terbit meneh?” tanyanya. Saya hanya tertawa haru.

Dan sungguh di luar dugaan, saat Mas Wendo tampil berbicara di acara itu, ia tiba-tiba menceritakan tentang saya dan majalah Diffa.

“Namanya Rudy Gunawan… Rudy, mana Rudy? Ayo berdiri…”
Saya yang sedang ngobrol agak di belakang panggung langsung kaget mendengar nama saya dipanggil dengan keras oleh teman-teman. Spontan, canggung, dan salah tingkah saya kemudian maju dan berdiri di dekat panggung.

Saya mengangguk pada para narasumber. Moeldoko yang didampingi Deputi Bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Eko Sulistyo langsung menatap saya. Eko saya lihat dan dengar langsung memberi tahu Moeldoko. “Rudy tenaga ahli di KSP juga, Pak. Kedeputian saya,” bisik Eko. Saat itu, Moeldoko tersenyum dan membalas anggukan hormat saya.

Mas Wendo berkata lagi dari atas panggung, “Ya, itu dia orang gilanya yang mau susah payah ngurus disabiltas….” Saya sungguh tak mengira, tersanjung dan merasa sangat terhormat mendapat julukan “orang gila” dari Mas Wendo. Saya benar-benar mau menangis rasanya.

Peristiwa itu menjadi tonggak yang menancap sampai jauh ke jiwa saya. Peristiwa itu menggambarkan kebesaran sekaligus kesederhanaan jiwa Mas Wendo sebagai seorang sastrawan besar yang kini telah pergi meninggalkan kita semua.

Selamat jalan, Mas Wendo. Beristirahatlah dengan damai bersama jiwa-jiwa besar lain di sisi Tuhan YME.

Jalan Tol Cipali,

19 Juli 2019, 20.33 WIB

Avatar
FX Rudy Gunawan
Sarjana filsafat dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, menjadi wartawan di majalah Jakarta Jakarta dari 1992 sampai 2000. Karya-karyanya antara lain "Filsafat Seks" (Bentang, Yogyakarta), kumpulan esai "Pelacur & Politikus" (Graffiti Press, Jakarta), "Mendobrak Tabu; seks, kebudayaan, dan Kebejatan Manusia" (GalangPress, Yogyakarta), "Budiman Sudjatmiko; Menolak Tunduk" (Grasindo, Jakarta), "Wild Reality; Refleksi Atas Kelamin" (IndonesiaTera, Yogyakarta) "Mbah Maridjan; Presiden Gunung Merapi (GagasMedia, Jakarta)", dan "Premanisme Politik" (ISAI, Jakarta).
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

Menghidupkan Kembali Pak AR Fachruddin

Buku Pak AR dan jejak-jejak bijaknya merupakan buku biografi yang ditulis oleh Haidar Musyafa. Buku ini dicetak pertama kali pada bulan April 2020 dengan...

Menata Kinerja Buzzer yang Produktif

  Buzzer selalu hadir membingkai perdebatan carut-marut di ruang media sosial atau paltform digital lainnya. Seperti di twitter, facebook, instagram, dan media lainnya. Buzzer memiliki...

Lika-Liku Ganja Medis di Indonesia

Setiap manusia berhak sehat dan setiap yang tidak sehat berhak dapat pengobatan. Alam semesta telah menyediakan segala jenis obat untuk banyaknya penyakit di dunia...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

PKI, Jokowi, dan Tertusuknya Syekh Jaber

Syekh Ali Jaber ditusuk AA, Ahad malam (13/9/2000) di Lampung. Siapa AA? Narasi di medsos pun gonjang-ganjing. Konon, AA adalah kader PKI. Partai yang berusaha...

Our World After The Pandemic: The Threat of Violent Ekstremism and Terrorism, The Political Context

Pandemic C-19: Disruptions Personal and public health with rapid spread of the pandemic globally, more than 90 millions infected and almost two million death...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.