OUR NETWORK

Mas Bahtiar Effendy: Penasihat Politik Kami

Saya tercekat. Saya menangis di kejauhan, di Beirut! Selamat jalan, Mas. Semoga khusnu al-khatimah. Amien.

Saya memanggil dia Mas: Mas Bahtiar. Karena dia memang lebih tua dari saya, dan sebagai orang Jawa saya diajarkan dari kecil untuk tidak njangkar: menyapa orang yang lebih tua dengan menyebut nama saja secara langsung, melainkan harus pakai kata sapaan Pak, Bu, Mas, Mbak, atau yang semacamnya.

Sementara Mas Din Syamsuddin biasa memanggilnya dengan “yar” begitu saja. Bagaimana dia bisa memanggilnya “yar”, bukankah namanya Bahtiar Effendy? Kalau “ar” saja masih masuk akal: suku kata terakhir dari kata Bahtiar. Dari mana itu diperoleh huruf “y”? Saya tidak tahu pasti. Saya hanya bisa menduga-duga saja: mungkin sekali huruf “y” itu dia dapatkan dari kedekatan persahabatan antara mereka berdua sebagaimana Mas Bahtiar menyapa Mas Din dengan “Din” begitu saja. Di telinga orang Jawa dari desa seperti saya sungguh terasa kurang sopan. Keduanya memang dekat, sangat dekat. Bahkan lebih dekat dari yang orang kebanyakan pernah duga!

Mungkin kedekatan mereka berdua sejak mereka kuliah di Fakultas Ushuluddin IAIN Jakarta. Apalagi konon keduanya satu jurusan pula: Ilmu Perbandingan Agama. Jadi keduanya itu sarjana Ilmu Perbandingan Agama sama seperti saya. Hanya saja beliau berdua sarjana ilmu Perbandingan Agama IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, saya sarjana Ilmu Perbandingan Agama IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Tentu IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, berbeda dengan IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, sebagaimana berbedanya antara Syarif Hidayatullah dan Sunan Kalijaga, dan sangat berbedanya Jakarta dan Yogyakarta. Tolong pembaca tidak usah memperpanjang persoalan ini, apalagi bertanya-tanya untuk apa “agama kok dibanding-bandingkan?”.

Agama adalah agama, untuk diamalkan, bukannya dibanding-bandingkan. Bagi Anda ya baiknya begitu saja. Yang penting dalam tulisan ini saya mencari persamaan-persamaan di antara keduanya dan, kalau mungkin, persamaan di antara kita semua. Tidak ada gunanya mencari perbedaan di antara kita: membuang-buang waktu dan tenaga. Sama seperti tidak ada gunanya mencari-cari perbedaan antara Islam dan Pancasila: mendingan mencari persamaan-persamaanya dan kesejajaran-kesejajarannya saja.

Masih ada banyak lagi persamaan keduanya: sama-sama lulusan pesantren modern: Mas Din dari Pondok Pesantren Moderen Gontor, Mas Bahtiar dari Pondok Moderen Pabelan. (Tolong jangan juga ditanyakan apanya yang moderen!). Keduanya kebetulan juga sama-sama pintar bahasa Arab dan Inggris: Mas Din saking pintarnya kedua bahasa asing itu sambil kuliah sempat bekerja di sebuah Kedutaan asing di Jakarta beberapa tahun, dan Mas Bahtiar waktu di Pesantren Pabelan malah pernah mendapatkan beasiswa program American Field Service (AFS) di Columbia Falls High School, Montana, Amerika Serikat, selama setahun (1976-1977).

Keduanya, selepas dari IAIN, kemudian sama-sama belajar ke Amerika Serikat: Mas Din ke University of California Los Angeles (UCLA), Mas Bahtiar ke Ohio University, Athen, Ohio, Amerika Serikat. Keduanya juga berhasil meraih Ph.D. Namanya sekolah S-3 ya lulusannya Doktor (Ph.D)-lah, masak doktorandus lagi! Hehehe

Disertasi doktor keduanya juga nyaris sama: tentang hubungan Islam dan Negara/politik. Saya pernah meledek keduanya: “Halah, judul Islam dan Negara seperti itu sudah diubek-ubek dan diobok-obok oleh banyak sekali sarjana. Nggak ada yang istimewa!”. Mas Bahtiar biasanya menjawab dengan entheng: “Tapi punya saya lain, dong!” Ya, disertasi Mas Bahtiar memang lain dari pada yang lain: sangat istimewa. Saya rasa dia benar: istimewa, bukan hanya ketebalannya, melainkan juga isinya. Disertasi tentang hubungan Islam dan negara yang ditulisnya adalah disertasi doktor paling baik yang pernah saya baca.

Adalagi persamaan yang lainnya lagi: keduanya tokoh Muhammadiyah (malah keduanya menjadi Ketua Umum dan Ketua PP Muhammadiyah) yang sama-sama lahir dari keluarga Nahdliyyin, atau NU. Bahkan pada sejatinya dan aslinya keduanya itu NU. Orang tua mereka berdua bukan sekadar keluarga NU biasa, melainkan tokoh NU. Mas Din putranya Pak Kyai Syamsuddin Abdullah, Sekretaris PC NU Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat; Mas Bahtiar putra Pak Kyai Umar bin Adnan, seorang Imam masjid besar, dan Bendahara NU Kota Palagan Ambarawa, kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Bedanya adalah Pak Syamsuddin Abdullah, Ayahanda Mas Din, mengikuti putranya menjadi Muhammadiyah (Dalam Muktamar Ke-43 Muhammadiyah di Aceh saya dan Mas Bahtiar diajak menemuinya di penginapan peserta muktamar. Rupanya, Pak Syamsuddin Abdullah sudah menjadi peserta muktamar), dan Pak Umar bin Adnan, Ayahanda Mas Bahtiar, tetap istiqamah di NU.

Meski menjadi Muhammadiyah kami bertiga tidak pernah mempunyai rasa tidak suka, apalagi anti-NU. Mas Bahtiar pernah bercerita: suatu ketika di tahun 1994-an pulang ke Ambarawa, dia dan keluarga besarnya berbincang hangat di rumah di ruang keluarga. Tiba-tiba  di layar pesawat Televisi di depan mereka muncul Pak Amien Rais sedang diwawancara. Sontak Pak Umar nyeletuk ke putra kebanggaannya yang belum lama pulang dari Amerika itu: “Tuh, ketuamu!” Mas Bahtiar cerita sambil ketawa nyengir!

***

Keduanya juga pulang ke Indonesia tidak selang berapa lama. Beberapa lama berselang kemudian saya baru menjadi orang ketiga di antara keduanya. Tentu, dan itu pasti, hubungan segitiga kami bertiga bukanlah hubungan intelektual. Apalah dan siapalah saya ini secara akademis sampai berhubungan intelektual dengan mereka berdua. Mereka Ph.D lulusan UCLA dan Ohio, sementara saya ngga begitu jelas sekolahnya: baik hulu maupun hilir-nya. Jadi mungkin mirip hubungan cinta segitiga.

Kalau Mas Din menyebut Mas Bahtiar sebagai Guru Intelektual-nya, dan Mas Bahtiar menganggap Mas Din sebagai Guru Spiritual-nya, mungkin saya menganggap keduanya “Penasehat Politik” saya. Walaupun, terus terang saja, sebagai penasehat politik, saya tidak ingat pasti nasihat mana yang bernas dan mana yang tidak. Yang pasti, meskipun banyak yang tidak akurat, nasehat mereka lebih banyak benarnya dari pada salahnya…hehehe. Maaf ini agak bercanda saja.

Sumpah, Mas Din lah yang mendorong dan mengampanyekan saya untuk menjadi Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah (1993-1998). Saya sendiri sebetulnya merasa tidak mempunyai cukup bakat kepemimpinan. Apalagi waktu itu saya sebagai dosen Undip Semarang sedang bertugas belajar di Program Doktor Ilmu Antropologi di Universitas Indonesia, di samping ketua (nonaktif) Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jawa Tengah (1989-1993). Tapi karena desakan beliau saya terpaksa bersedia maju sebagai calon ketua umum pada Muktamar Bandung (1993).

Bahkan, mugkin, untuk keperluan strategis tersebut saya diangkat dan dinaikkan pangkat oleh Mas Din menjadi salah satu Ketua PP Pemuda Muhammadiyah hasil reshuffle satu setengah tahun menjelang Muktamar Pemuda Muhammadiyah Ke-7 tahun 1993 di Bandung.

Mungkin ada tujuan taktis dan strategis di sana agar saya memiliki pengalaman nasional, setidaknya dinaikkan menjadi tokoh nasional, bukan tokoh dengan reputasi lokal: Jawa Tengah. Mungkin! Saya tidak tahu pasti. Mas Din saya rasa piawai dalam soal-soal begituan. Akhirnya, inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, saya terpilih menjadi Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah menggantikan dirinya. Sumpah! Rasanya kecut hati saya menjadi ketua umum sebuah organisasi kepemudaan sebesar ini!

Pada saat di ujung menjabat Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah itulah saya diminta oleh Mas Din menjadi calon anggota legislatif (Caleg) DPR RI dari Golkar dari daerah pemilihan Jawa Tengah dalam Pemilu 1997. Mas Din sendiri sebagai Ketua Bidang Litbanglesha DPP Golkar (1993-1998) tidak bersedia menjadi caleg DPR RI dan hanya mau menjadi anggota MPR RI saja.

Mas Bahtiar akhirnya juga menjadi anggota MPR RI atas usaha Mas Din bersama-sama dengan Mas Anwar Abas. Walhasil, saya, Mas Din dan Mas Bahtiar –ini banyak yang tidak tahu– pernah bersama-sama menjadi anggota MPR RI Fraksi Karya Pembangunan periode 1997-1999. Tapi mereka hanya aktif di MPR pada Sidang Umum MPR 1998 saja sebagai anggota Badan Pekerja (BP) MPR. Sementara saya di DPR dan terus aktif, bahkan maju lagi sebagai Caleg Golkar dalam Pemilu 1999, pemilihan umum pertama di era reformasi. Pada Pemilu 1999 itu suara Golkar jatuh dan perolehan kursinya di DPR/MPR RI mengalami penurunan secara drastis. Tetapi, tidak tahu bagaimana, saya masih katut juga terpilih lagi menjadi anggota DPR RI hasil Pemilu 1999 itu.

Merasa kurang cocok lagi dengan dunia politik kepartaian, Mas Din dan Mas Bahtiar mengundurkan diri dari politik, dan mengajak saya untuk mengundurkan diri dari politik dan kembali aktif di gerakan Muhammadiyah saja. “Kita mundur saja dari politik dan mengurus Muhammadiyah yang rasanya lebih sesuai dengan passion Anda di gerakan dakwah dan kemasyarakatan. Apalagi sekarang orang Muhammadiyah yang menekuni politik sudah mulai banyak”, demikian ajak mereka lengkap dengan alasan-alasannya.

Saya menjawab entheng saja sambil lalu ajakan mereka berdua: “Bagaimana sih, dulu mengajak ke politik dan Golkar, dan saya ikuti, sekarang mengajak keluar. Tidak mau ah, lagi enak-enaknya di Golkar kok diajak keluar!”. Mereka tertawa nyengir dengan jawaban saya tersebut. Fatalnya, jawaban saya yang sambil lalu tersebut sering benar diceritakan Mas Din dan Mas Bahtiar di mana-mana, bahkan dalam kesempatan pidato di depan orang banyak! Pastilah jamaah ketawa ngakak dengan cerita itu!

Akhirnya Mas Din benar-benar meninggalkan politik kepartaian dan kemudian terpilih sebagai Wakil Ketua PP Muhammadiyah dalam Muktamar Ke-44 Tahun 2000 di Jakarta. Pada muktamar itu pula Buya Ahmad Syafi’i Maarif dipilih menjadi Ketua PP Muhammadiyah dan Pak Haedar Nashir menjabat Sekretaris PP Muhammadiyah. Dan saya menjadi anggota PP Tambahan. Ternyata kami bersama-sama di PP Muhammadiyah lagi karena saya diangkat sebagai Wakil Sekretaris PP Muhammadiyah dan Mas Bahtiar kalau tidak salah di Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP).

Tentang posisi saya memang agak menyalahi kelaziman organisasi karena melanggar tradisi di Muhammadiyah yang sejak dulu konsisten melarang pimpinan persyarikatan merangkap dengan pimpinan partai politik. Pasalnya, di samping menjadi Wakil Sekretaris PP Muhammadiyah saya merangkap sebagai pengurus DPP Partai Golkar di bawah Ketua Umum Bang Akbar Tandjung. Memang itu hanya menyalahi tradisi saja! Dan namanya tradisi, meski tidak selalu salah, kan memang kadang perlu ditinggalkan.

Dan saya laju terus di Golkar sampai tahun 2014, bahkan sampai tahun 2019 sampai saat saya harus berangkat ke Beirut sebagai Duta Besar. Tidak terasa saya di DPR sampai empat periode melalui empat kali pemilihan umum. Walhasil, saya menjadi anggota DPR RI hampir duapuluh tahun! Bahkan pada periode 2009-2014 saya dipercaya menjadi Wakil Ketua MPR RI mendampingi Pak Taufik Kiemas sampai beliau wafat dan digantikan oleh Pak Sidharto Danusubroto.

Agak aneh juga saya bisa menjadi Wakil ketua MPR dari Fraksi Partai Golkar waktu itu karena saya dalam kepengurusan DPP Partai Golkar hanya menjabat sebagai anggota Departemen Pemenangan Pemilu alias kerocok saja. Dan lagi waktu itu, berbeda dengan tradisi kepemimpinan Golkar sekarang, pada era kepemimpinan Bang Akbar Tandjung dan Pak Jusuf Kalla waktu itu untuk menjadi calon pimpinan DPR dan MPR dari Partai Golkar diputuskan melalui proses voting di dalam Rapat Pleno lengkap DPP. Tidak main tunjuk saja seperti belakangan ini.

Hal itu perlu saya ceritakan oleh karena selama saya menjadi wakil ketua MPR (2009-2014) itulah, Mas Bahtiar secara informal berkenan menjadi koordinator Staf Khusus saya sebagai wakil Ketua MPR RI bersama Mas Andar Nubowo (sekarang sedang studi doktor ilmu politik di Ecole Normale Superieure de Lyon, Perancis), Mas Ahmad Fuad fanani (sekarang sedang menyelesaikan studi doktor Politik Internasional di The Australian National University, Canbera, setelah sebelumnya kuliah master di Flinders, Adelaide, Australia dan program Ph.D di The University of Toronto, Canada), Mas Ahmad Imam Mujaddid Rais (seorang Master Hubungan Internasional dari The University of Melbourne), Mas Ali Nur Zaman (Universite Aix en Provence, Marseille, Perancis), Mas Gunawan Hidayat (aktivis Partai Golkar), dan beberapa staf khusus lainnya.

Jadi kalau selama menjadi wakil Ketua MPR tersebut pidato-pidato dan pernyataan-pernyataan saya sering agak bagus dan banyak dikutip media maka pada sejatinya itu semua berkat pikiran Mas Bahtiar dan beberapa staf khusus yang hebat tersebut di atas yang nota bene selama ini tampil sebagai penulis-penulis yang prolifik dan calon-calon doktor.

***

Menjelang berakhir tugas sebagai Wakil Ketua MPR (2014) sungguh saya sudah merasa jenuh di DPR. Juga ragu-ragu dan bimbang untuk maju lagi. Dalam suasana keraguan seperti itu, Mas Bahtiar memberikan nasihat kepada saya: “Anda jangan berhenti lah dari politik! Prospek politik Anda itu bagus, jangan disia-siakan! Maju lagi sebagai Caleg!”. Mas Dawam Rahardjo, yang terus berkomunikasi dengan saya karena dulu sama-sama di PP Muhammadiyah (2000-2005) dan mengurus Bank Syariah Bukopin sebagai komisaris sampai menjelang sakit dan wafatnya, juga mendesak saya untuk tetap maju sebagai Caleg.

Mas Dawam khusus menelpon saya tentang hal itu dan dengan serius malah mengatakan “Muhammadiyah sudah banyak yang mengurus, orang Muhammadiyah di politik justru yang sangat kurang. Apalagi Anda sudah punya investasi politik yang lumayan besar dan panjang di dalamnya!” Dan ketika saya mengatakan saya sudah tidak punya semangat untuk berkampanye di lapangan, Mas Bahtiar malah menambahkan pengalamannya menjadi pengamat politik dan pemilu di Amerika ketika studi di sana: “Tokoh seperti Anda ini, seperti para senator di Amerika, tidak perlu terlalu banyak berkampanye”!

Apalagi Pak Ical (Aburizal Bakrie, Ketua Umum Partai Golkar), dan Pak Cicip (Cicip S. Sutardjo, tangan kanan Pak ARB di DPP Partai Golkar) setengah memaksa memerintahkan saya untuk tetap maju menjadi caleg lagi. Dengan pertimbangan untuk mempertahankan konstituen saya tetap memilih Golkar. “Nanti terserah Anda lah, mau di DPR lagi atau tidak”, demikian penegasan pak Cicip. Bahkan untuk keperluan itu saya dibantu secara finansial untuk logistik kampanye oleh kedua beliau tersebut. Mungkin mereka tahu saya tidak punya cukup dana politik untuk berkampanye. Padahal saya sudah sengaja tidak mengikuti Orientasi Fungsionaris Partai Golkar yang dilaksanakan beberapa angkatan sebagai salah satu syarat wajib terpenting untuk bisa menjadi Caleg dalam Pemilihan Umum 2014.

Akhirnya saya maju lagi sebagai caleg nomor urut satu dari Partai Golkar dalam Pemilu 2014 yang nota bene mulai brutal dengan politik uang itu. Sungguh saya jenggah di arena kampanye seperti itu. Dan akhirnya terbukti nasihat Mas Bahtiar (baca: bahwa untuk orang seperti saya itu tidak perlu terlalu banyak berkampanye) salah: saya gagal dan tidak terpilih lagi sebagai anggota DPR.

Saya awalnya menganggap entheng saja kegagalan itu karena saya sudah setengah hati juga untuk kembali ke menjadi anggota DPR. Ternyata belakangan saya baru sadar dan merasa itu salah, bahkan saya naif dengan mengira bahwa tidak terpilih sebagai anggota DPR dalam Pemilu itu adalah soal kecil saja.

Sebagai politikus ternyata gagal terpilih menjadi anggoat DPR itu hal yang sangat serius. Boleh saja seorang politikus mengundurkan diri sebagai anggota DPR terpilih, jika memang sudah tidak ada passion. Tetapi tidak terpilih dalam pemilu adalah hal yang serius bagi seorang politisi.

Meskipun banyak orang yang menghibur saya, seperti misalnya Gus Sholahudin Wahid yang mengatakan ke saya “Sampeyan itu diselamatkan Tuhan dengan tidak terpilih menjadi anggota DPR”, tetapi tetap saja reputasi saya sebagai politikus turun dengan kegagalan itu. Orang tidak peduli dengan jumlah perolehan suara saya yang tidak berkurang dibanding dengan hasil perolehan suara saya dalam Pemilu 2009 sebelumnya, tetapi yang namanya kalah adalah tetap saja kalah. Rupanya dalam politik itu jika ingin terus mengabdi sebagai politikus orang tidak boleh kalah dalam pemilu. Mundur (resign) boleh, tapi kalah tidak! Sebab, kalah artinya selesai.

Akhirnya ada hikmahnya juga: saya benar-benar ingin mundur dari politik dan kembali ikut bantu-bantu di Muhammadiyah, organisasi dan pergerakan tempat saya berkiprah sejak usia yang sangat dini, sebagai aktivis Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Dalam Muktamar Muhammadiyah 2015 saya dicalonkan oleh anggota Tanwir untuk menjadi anggota PP Muhammadiyah. Alhamdulillah saya terpilih mejadi “13 Anggota PP” meskipun dalam nomor urut perolehan suara paling bontot: terbanyak nomor 13.

Saya baru tahu belakangan juga bahwa kelolosan saya juga karena bisik-bisik Mas Din kepada beberapa wilayah dan daerah. Pak Agus Taufiqurrahman, kini Ketua PP muhammadiyah, bisik-bisik bercerita ke saya kalau di Muktamar dulu itu dia dibisikin Mas Din tentang saya. Mas Bahtiar yang sudah lama berkecimpung dengan setia di PP Muhammadiyah saja malah tidak lolos ke 13 PP. tentang hal ini dia sempat menggerutu, bukan karena jabatan di PP Muhammadiyah itu penting, melainkan kok belum juga bisa diterima di sepenuhnya di Muhammadiyah. Padahal sudah begitu lama dia terlibat dalam organisasi ini.

Saya kemudian berjuang (agak) keras meyakinkan anggota Pleno PP terpilih untuk menerima Mas Bahtiar sebagai anggota PP tambahan. Dan Alhamdulillah, Pleno PP Muhammadiyah, terutama Pak Haedar Nashir, meski melalui beberapa kali putaran pembahasan, menerima usulan saya tersebut sehingga anggota PP Muhammadiyah bertambah menjadi 17 orang.

Mas Bahtiar Effendy akhirnya menjadi salah seorang Ketua PP Muhammadiyah Bidang Hubungan dan Kerjasama Internasional. Dan kami bersama lagi di PP Muhammadiyah Periode 2015-2020), sementara Mas Din, karena sudah dua periode menjabat ketua umum, “naik pangkat” menjadi Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Pondok Labu, Jakarta. Tetapi meski “hanya” ketua Ranting, eselon terbawah, namun terpenting, dalam struktur organisasi Muhammadiyah, dia tetap saja bisa mengajak kami berdua ngopi di mana saja dan, herannya kami, manut saja. Dan lebih herannya lagi, seperti biasanya, kalau sudah kumpul, saling menyalahkan pendapat dan langkah politik masing-masing.

***

Rasanya kami memang “Sudah Seperti Saudara saja”. Frase “Sudah Seperti Saudara saja” adalah ungkapan dalam bahasa Indonesia untuk menunjukkan –dan sekaligus memamerkan– kedekatan. Ketika Mas Bahtiar menikahkan putri-putrinya saya selalu dipercaya oleh Mas Bahtiar dan Mbak Fardiyah mewakili keluarga sebagai “juru bicara” menerima besannya dalam acara resepsi (waimatu l-‘ursy). Sementara Mas Din memberikan sambutan atas nama keluarga. Itupun nanti isi sambutannya diledek juga sama dia! Bahkan dalam acara lamaran yang sifatnya sangat internal keluarga pun, kami selalu ikut mendampingi keluarga menerima calon besan.

Isteri kami juga berhubungan erat dan akrab dengan Mbak Fardiyah. Sampai hari ini isteri saya dan Mbak Fardiyah ternyata sering bersilaturahim dengan kongkow-kongkow bersama di rumah secara bergantian. Kesukaan mereka bertemu dan bercengkerama ini saya juga baru tahu belakangan setelah Mas Bahtiar meninggalkan dunia. Dunia ini pancen pepak tenan!

Kami bertiga memang dekat, sangat dekat. Mungkin paling lama tidak sampai dua minggu sekali kami bertiga selalu bertemu dan meriung di tempat makan, atau sekadar minum kopi sambil ngobrol ngalur-ngidul tentang berbagai hal. Ada semacam kerinduan kalau sudah beberapa waktu kami tidak bertemu. Padahal begitu bertemu biasanya saling salah-menyalahkan satu sama lain. Kalau sudah ngobrol begitu kami bisa berjam-jam lamanya.

Tidak jarang kami berpindah tempat dua kali dari restoran yang satu ke kafe yang lain untuk melanjutkan ngobrol. Mas Din lah yang selalu mengambil inisiatif dan pilihan tempat. Anehnya, kami berdua manut saja. Dan kalau ngobrol tentang apapun dan dalam tema apapun, kayaknya sedikit saja di antara kami saling membenarkan satu sama lain, apalagi di antara mereka berdua: lebih banyak saling menyalahkan dari pada membenarkan. Apalagi mendukung pendapat yang lain! Anehnya, meskipun terasa lucu, dan sedikit absurd, kami tidak pernah ketawa terbahak. Aneh bin lucu bin ajaib. 

Tahun 1995 kami bertiga hadir di Muktamar Ke-43 Muhammadiyah di Aceh. Kami bertiga menginap di Hotel Sultan satu kamar bertiga. Kami biasa minta extra bed. Dan karena merasa yang paling muda saya kebagian yang extra bed itu. Itu sering kami lakukan ketika menghadiri acara di luar kota di mana kami bertiga menjadi nara sumber suatu acara seperti diskusi, seminar atau sarasehan organisasi.

Acara yang paling utama adalah cari tempat makan yang enak-enak. Seperti biasanya yang bertindak sebagai pentraktir adalah Mas Din. Kami tidak tahu mengapa Mas Din itu orangnya paling suka mentraktir orang. Selalu saja dia melarang yang lainnya mentraktir. Akhirnya ya sudah, kami berdua selalu pura-pura diam acuh tak acuh saja. Pura-pura tidak tahu kalau sudah tiba waktunya membayar bill tagihan. “Biarin saja, biar bokek dulu dia!”, demikian kata Mas Bahtiar biasanya.

Di Muktamar Aceh itu, Mas Din beberapa kali malah mengundang makan beberapa puluh peserta Muktamar di beberapa rumah makan di Aceh yang terkenal enak itu. Mas Din orangnya memang paling tahu rumah makan mana yang enak. Hampir di setiap kota dia tahu saja tempat makan mana yang paling enak.

Demikian juga ketika di Aceh itu. Dia undang beberapa rombongan peserta muktamar. Mungkin karena jengkel, Mas Bahtiar bilang ke saya begini: “Itu si Din itu, lama-lama nanti seluruh peserta Muktamar diundang makan sama dia! Hahaha…Berpolitiknya maxi, tapi hasilnya mini: selalu saja berada di perahu yang salah!” Hehehe…Dan Mas Din memang belum terpilih dalam Muktamar ke-43 di Aceh itu. Di kamar hotel itulah kami, terutama Mas Bahtiar dan saya, masing-masing biasa membawa laptop untuk menulis artikel. Laptop pertama saya malah yang kasih Mas Din. Meskipun bekas! Itupun juga atas perintah Mas Bahtiar: “Din, kamu kan sudah punya laptop baru, laptopmu yang lama itu kasihkan saja ke Hajri!

Mungkin pembaca tidak banyak yang tahu bahwa Mas Din itu banyak sekali menulis, tetapi bukan menulis artikel untuk media surat kabar atau kolom majalah seperti Mas Bahtiar dan saya, melainkan menulis pidato untuk beberapa pejabat tinggi negara. Mas Din memang dipercaya menjadi penulis pidato (speech writter) beberapa orang penting di Negara ini (yang tentu saja tidak baik kalau saya sebutkan namanya di sini).

Sambil diselingi ngobrol kami bisa menghasilkan tulisan untuk kemudian dikirim ke surat kabar. Kami cukup produktif menulis waktu itu. Tentu tulisan-tulisan Mas Bahtiar jauh lebih berbobot ilmiah dari pada tulisan-tulisan saya. Saya menulis secara populer dan entheng-enthengan saja. Dan tulisan saya memang sering diledek oleh mereka berdua. Tapi tidak mengapa, tulisan-tulisan saya diledek kurang berbobot, toh akhirnya dimuat juga oleh banyak surat kabar dan majalah. Itu yang lebih penting! Toh kita juga sama-sama tidak tahu apakah tulisan kita yang dimuat di media itu dibaca orang atau tidak. Itu dua hal yang kayaknya berlainan. Yang penting menulis dan menulis. Sak isone! 

Mas Bahtiar suka meledek dan menertawakan tulisan-tulisan saya di media bahwa saya suka meniru kalimat-kalimat dan diksi-diksi yang sering dia gunakan dalam tulisan-tulisannya. Malah dia bilang bahwa saya sering menggunakan kata “alih-alih”  itu meniru dia. Demikian juga dengan beberapa ungkapan seperti “negotiated settlement”, “behind the closed door”,  “interplay”, “political bickering”, “political withdrawal”, dan beberapa kata lagi itu, katanya istilah-istilah tersebut adalah istilah-istilah dia yang saya suka menirunya.

Memang dia sering sekali menggunakan frasa-frasa seperti itu dalam banyak tulisannya. Saya ketawa saja kalau dia bilang seperti itu. Bukankah frasa-frasa semacam itu bisa ditemukan dalam banyak buku dan literatur? Dan, juga, jumlah koleksi buku saya rasanya lebih banyak dari pada mereka. Saya bilang koleksi buku lho ya, bukan banyak-banyakan membaca buku! Kalau itu mungkin saya kalah. Hehehe..

Ketika melihat dan tahu bahwa tulisan-tulisan dan kolom-kolom saya sudah lumayan banyak dimuat di koran dan majalah, Mas Bahtiar Effendy menyuruh saya untuk membukukannya dengan cara mengumpulkan dan mensistematisasikannya secara tematik, lalu kemudia dibuat bab per bab.

Saran dia itu saya ikuti: Maka jadilah buku antologi tulisan saya yang pertama berjudul Pasca Konversi Konvesi: Esai-Esai Politik tentang Golkar (2004). Mas Bahtiar lah yang memilihkan judul buku itu yang diambil dari salah satu judul kolom saya di majalah Gatra. Senang sekali Mas Bahtiar berkenan memberikan Kata Pengantar yang sangat bagus atas buku saya tersebut. Adalah sangat menarik bahwa kata pengantar tersebut malah lebih bagus dari bukunya sendiri. Maklum, doktor ilmu politik lulusan Amerika.

Mas Bahtiar juga, bersama saya, M. Alfan Alfian, dan Kholid Novianto, menulis  buku sangat tebal (600 halaman) tentang Golkar yang berjudul Beringin Membangun: Sejarah Politik Partai Golkar (2010). Saya sendiri hanya bertindak sebagai koordinator dari penulisan buku yang sebagian dananya dibantu oleh Bang Rully Chairul Azwar itu.

Buku yang lumayan bagus tersebut menggambarkan sejarah politik Partai Golkar dalam sejarah Indonesia sejak Orde Baru secara sangat komprehensif. Mungkin itu buku tentang Golkar terbaik yang pernah ditulis dan diterbitkan selama ini. Buku kumpulan tulisan saya yang kedua adalah Muhammadiyah dan Pergulatan Politik Islam Modernis (2005), dan buku ketiga Menunggu Roja, Menunggu Bersih: Esai-Esai Sosial Politik dan Kebudayaan (2014). Ketika saya memintanya untuk membuat Kata Pengantar lagi atas buku itu agar lebih kelihatan berbobot, Mas Bahtiar dengan malas menjawab: “Emoh, Haj, awakku lagi ra enak!”

Benar sekali, sejak operasi kelenjar getih bening yang kedua yang ada di lehernya itu kondisi kesehatan Mas Bahtiar memang terus menurun. Ceramah-ceramahnya tetap saja bernas dan berbobot, tetapi retorika dan artikulasi suaranya tidak lagi menunjang sebagai implikasi dan komplikasi dari tindakan medis operasi berat itu, serta serangkaian kemoterapi yang harus dijalaninya yang mengganggu pita suaranya.

Beberapa kali bertemu dia terlihat semakin lemah. Frekuensi periksa ke dokter dan masuk perawatan rumah sakit juga semakin sering. Dalam acara Farewell Seminar atas keberangkatan saya ke Beirut sebagai Duta Besar di CDCC dan PP Muhammadiyah dia minta ijin tidak bisa datang. Kami tidak sempat bertemu lagi secara langsung sampai saya berangkat ke Beirut.

Tiba-tiba di suatu malam di kejauhan di Beirut ini, saya mendapatkan pesan WhatsApp dari Mas Din yang mengabarkan bahwa Mas Bahtiar masuk ICU RSIJ Jakarta. “Kondisi tidak baik”, kata Mas Din. Kami bertukar saran dan pendapat bagaimana baiknya supaya Mas Bahtiar sembuh. Tentu bukan pendapat medis, melainkan spiritual. Kami terus berkomunikasi mengabarkan perkembangan kondisi kesehatannya.

Tiba-tiba sedikit lewat tengah malam di tanggal 21 November 2019, pesan WhatsApp Mas Din masuk lagi: Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Saudara, sahabat, dan guru kita Prof. Dr. Bahtiar Effendy (Ketua PP Muhammadiyah telah berpulang ke rahmatullah sekitar pukul 00 (dini hari 21 Nopember 2019) di ICU RSIJ Cempaka Putih. Mohon doa semoga Allah SWT melimpahkan atas almarhum maghfirah, rahmah, dan jannah-Nya. Informasi pada 21 Nopember 2019 dari putri almarhum, Atia Ajani. Din Syamsuddin.

Saya tercekat. Saya menangis di kejauhan, di Beirut! Selamat jalan, Mas. Semoga khusnu al-khatimah. Amien.

Hajriyanto Y. Thohari
Dubes Republik Indonesia untuk Lebanon, Ketua PP Muhammadiyah.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.