Sabtu, Maret 6, 2021

Margin Ketakutan dalam Pemilu

Hari Santri: Pelecehan Seksual dan Wajah Layu Santri

Dengan terbata, lelaki yunior saya ini menceritakan penggalan kisahnya menjadi korban pelecehan seksual ketika mondok. Untuk ukuran dia yang terbilang jago berkelahi, saya tidak...

Magnitude Politik 212 dan Warning Tito Karnavian

Setelah sukses menggerakkan demonstrasi "Bela Islam II", 4 November 2016 yang kemudian populer dengan gerakan "411", Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI)...

Profesor Bahtiar adalah Api dalam Sekam

Saya mengenal dua tokoh Muhammadiyah dengan baik, bahkan boleh dikatakan cukup dekat. Pertama, Andi Mapetahang Fatwa atau yang lebih populer dengan nama AM Fatwa,...

Bisnis dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan: Lawan atau Kawan?

Jurnal terkemuka Sustainable Development telah mengeluarkan sebuah artikel early view. Judulnya, The Private Sector and the SDGs: The Need to Move Business as Usual....
Avatar
Andi Saiful Haq
Direktur Eksekutif Institute for Transformation Studies (INTRANS), Jakarta.

Ketakutan adalah hal yang azali. Sudah sejak lama pendekatan ketakutan jauh lebih efektif untuk menertibkan manusia. Perang, penaklukan, ancaman adalah metode kontrol yang lazim digunakan sampai kemudian pendekatan hak asasi manusia dan demokrasi datang menggantikan.

Ketakutan membuat manusia bisa melampaui batas kemampuan biologisnya, contoh sederhana dalam berlari dan melompat. Ketika dikejar seekor anjing, manusia bisa berlari lebih kencang dan melompati pagar yang lebih tinggi dibandingkan dalam keadaan normal. Bahkan harapan butuh alasan yang jauh lebih kuat untuk mengalahkan ketakutan.

Ketakutan inilah yang menjelaskan kemenangan Trump di Amerika, Brexit di Inggris, Bolsonaro di Brasil dan Anies Baswedan di Pilkada Jakarta. Hampir semua lembaga polling yang dipublikasikan seminggu sebelum hari pemungutan suara meleset melampaui margin of error.

Bagaimana Margin Ketakutan Bekerja

Metode riset kuantitatif sudah sejak lama menjadi ukuran kecenderungan perilaku dan pilihan pemilih dalam sebuah kontestasi elektoral. Tidak 100 persen tepat, karena itu selalu terdapat margin of error 1-5 persen tergantung jumlah sampel. Namun sekali lagi, riset ini hanya berlaku dalam keadaan pemilih yang tidak terkurung dalam kondisi ketakutan.

Kondisi perang atau suasana intimidatif membuat pemilih menjadi diam atau cenderung manipulatif. Itu pun oleh survey kuantitatof masih mungkin diukur melalui indikator tingkat stabilitas pilihan, swing voters, undecided voters, atau kemungkinan tidak memilih.

Dalam kasus Pilkada Jakarta, suasana mencekam, berita bohong (hoax), fitnah dan kebencian hanyalah prakondisi dari ledakan ketakutan yang sebenarnya. Ledakan sebenarnya terjadi kurang dari 36 jam menjelang hari pemungutan suara. Ada dua momentum krusial yang akhirnya mengurung pendukung Ahok memutuskan untuk tidak ke TPS menggunakan hak suara mereka.

Singapura adalah tempat dimana kejadian pertama diledakkan. Sebuah berita video tentang seorang etnis Tionghoa memaki Tuan Guru Bajang dengan sebutan “Tikko” disebarkan begitu massif melalui media mainstream dan media sosial. Hingga hari ini tidak seorang pun yang mampu melakukan verifikasi tentang kebenaran berita tersebut. Bagi etnis dan agama minoritas, ini menjadi gelombang ketakutan yang luar biasa. Drama ini menjadi semakin sempurna setelah di pagi hari sebelum pemungutan suara muncul sebuah berita video tentang seorang laki-laki yang mengamuk dan mengancam pendukung Ahok-Djarot yang menghuni salah satu apartemen di Jakarta untuk tidak ke TPS. Dua kejadian terpisah ini menjadi titik krusial yang menggulung undecided dan swing voters berpindah ke pasangan Anies-Sandi, serta sebagian pendukung Ahok-Djarot urung menggunakan hak suara dan memilih tinggal di rumah atau terbang ke luar Jakarta.

Margin Kebohongan dalam Pilpres 2019

Jokowi tentu bukan Ahok, apalagi setelah ada Kyai Maruf Amin sebagai Cawapres. Begitu juga seluruh lembaga survei merilis margin kemenangan Jokowi-Maruf hampir mencapai 8-15 persen di atas Prabowo-Sandi. Namun masih terdapat Mariin of error sekitar 2,5 -3,5  persen dalam setiap survei, dan jumlah undecided dan swing voters sekitar 14-18 persen.

Jika bergerak dengan asumsi pengalaman Pilkada Jakarta, di mana 36 jam terakhir sebelum pemungutan suara terjadi gelombang ketakutan, maka kemungkinan berubahnya peta perolehan suara akan menjadi malapetaka elektoral bagi Jokowi. Prediksi perolehan suara Jokowi akan tegerus oleh marrin of error negatif, minus 2,5-3,5 persen, ditambah undecided voters dan swing voters 14-18 serta pemilih Jokowi yang batal menggunakan hak suaranya, akan membalik angka perolehan suara dimana pasangan Prabowo – Sandi unggul.

Melawan Margin Ketakutan

Langkah antisipasi yang harus dilakukan pertama adalah tim riset pasangan Jokowi-Maruf harus bekerja sangat keras untuk mengukur kecenderungan pemilih dengan memasukkan simulasi jika gelombang ketakutan tercipta di 36 jam sebelum pemungutan suara. Berikutnya, tim kampanye darat dan media harus bekerja menciptakan kepercayaan diri pemilih Jokowi agar solid dan berani dalam segala kondisi termasuk situasi yang sangat mencekam sekalipun.

Demi terciptanya Pemilu yang bersih dan berkualitas, lembaga penyelenggara Pemilu dan Aparat keamanan harus bisa menjamin situasi aman dan nyaman menjelang pelaksanaan pemungutan suara. Isu Komunisme, SARA dan intimidasi jangan dibiarkan berlarut-larut. Aparat keamanan harus tegas agar setiap warga negara bisa menggunakan hak pilih dalam situasi aman terkendali. Begitu juga dengan insan media agar tidak mudah memberitakan kejadian-kejadian yang malah menyebarkan ketakutan pada publik. Jika semua itu bisa dijaga maka yang tersisa tidak lebih hanya keributan di media sosial tanpa pernah mampu merusak kualitas Pemilu 2019 yang akan datang.

Avatar
Andi Saiful Haq
Direktur Eksekutif Institute for Transformation Studies (INTRANS), Jakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.