Sabtu, Februari 27, 2021

Manuver Zig-Zag Ahok dan Erdogan

Surat Al-Maidah Itu Ayat-Ayat Polemik

Surat al-Maidah menjadi begitu populer dalam beberapa hari terakhir. Selain dikutip karena mengandung ayat yang sering dipahami sebagai larangan memilih pemimpin non-Muslim, surat al-Maidah...

Pemecatan Julen Lopetegui dan Rutinitas Real Madrid

Real Madrid memecat Julen Lopetegui. Ah, tak adakah berita yang lebih menarik dari itu? Sepanjang sejarahnya, Real Madrid menunjuk dan memecat pelatihnya segampang mereka...

Menunggu Kedewasaan Pemerintah Tentang 65

Kita semua tentu tak asing dengan dongeng dari J. M. Barrie. Kira-kira plot paling terkenal dari kisah itu, yang sudah dialih-wahanakan ke beragam bentuk...

Selamat Datang, Daerah Istimewa Madura!

Madura, katanya, mau dijadikan provinsi. Isu ini santer berembus beberapa saat yang lalu. Spanduk-spanduk bertuliskan “Selamat Datang di Provinsi Madura” telah terpasang di beberapa...
Avatar
Arli Aditya Parikesit
Pengajar di STAI Al-Hikmah, Jakarta. Meraih PhD bidang bioinformatika dari Universitas Leipzig, Jerman.

ahok-pejaten
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama berpidato saat Halal Bihalal di Markas Teman Ahok, Pejaten, Jakarta, Rabu (27/7). ANTARA FOTO/Reno Esnir.

Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok akan mencalonkan diri kembali merebut kursi DKI 1 melalu jalur partai politik. Ahok mengklaim sudah tiga partai politik yang mendukung pencalonannya: Hati Nurani Rakyat, Golongan Karya, dan Nasional Demokrat. Dukungan ketiga partai tersebut sudah mencapai 24 kursi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, berarti sudah di atas batas minimal yang ditentukan Komisi Pemilihan Umum Daerah, yaitu 22 kursi.

Dukungan ketiga partai tersebut membuat Ahok “pede” dengan tidak terlalu mengharapkan dukungan partai lain. Di saat yang sama muncul gerakan #BalikinKTPgue di media sosial yang dilatarbelakangi oleh ketidakpuasan sebagian kalangan yang menilai Ahok inkonsisten ihwal pencalonan dirinya lewat jalur perseorangan (independen).

Ahok dinilai “mengkhianati” pemilik KTP yang disetorkan ke Teman Ahok. Adapun soal “pengkhianatan” dan “inkonsistensi” ini pada akhirnya menjadi pertanyaan besar setelah diverifikasi secara rasional.

Kita bisa lihat dengan jelas sebenarnya pengumpulan 1 juta KTP melalui Teman Ahok adalah salah satu strategi dan secara politik taktis tidak “bertabrakan” dengan kepentingan partai politik. Teman Ahok sudah dengan sangat taktis menunda menyerahkan verifikasi KTP kepada KPUD tentu saja dengan pertimbangan sangat matang.

Gerakan Teman Ahok sejatinya adalah bagian dari manuver zig-zag Ahok yang memang sulit diduga oleh mereka yang awam dengan dunia politik. Keputusan Ahok untuk mencalonkan diri melalu partai bukan berarti menegasikan peran Teman Ahok, sebab gebrakan mereka sudah menunjukkan bahwa Ahok adalah calon yang memang bisa “dijual”.

Tanpa gerakan pengumpulan KTP Teman Ahok, bukan tidak mungkin partai politik tidak akan terlalu tertarik mencalonkan Ahok. Teman Ahok sudah berfungsi dengan baik sebagai kendaraan politik Ahok untuk dicalonkan ke partai politik. Hal ini tentu saja dilakukan karena syarat verifikasi faktual KTP melalui KPUD memang terlalu memberatkan. Tak ada yang salah secara hukum dengan strategi politik seperti ini.

Berdasarkan verifikasi alamat IP berbagai pihak di media sosial terkait gerakan #BalikinKTPgue, ternyata akun media sosial yang memperjuangkan tagar tersebut banyak yang berasal dari luar Jakarta. Hal ini menimbulkan tanda tanya, karena seharusnya ini menjadi urusan internal warga Jakarta sendiri. Jika ada pihak Teman Ahok yang terkesan kritis terhadap partai politik, pernyataan mereka tidak bisa jadi pegangan karena tidak memiliki kekuatan hukum.

Dinamika politik bisa berubah dalam hitungan detik, selama belum ada kesepakatan hukum. Sesuatu yang sangat menggelikan jika pernyataan dari media dianggap sebagai garis perjuangan politik yang permanen. Media adalah corong propaganda partai dan kepentingan politik, bukan diseminasi dari keputusan hukum dari lembaga negara. Sah-sah saja jika media memuat manuver politik yang berubah dalam hitungan detik.

Pihak yang menolak strategi propaganda seperti itu berarti tidak pernah belajar jurnalistik. Sikap yang bijaksana adalah mampu memisahkan strategi propaganda dengan ketetapan hukum, namun tetap mempertimbangkan korelasi di antara keduanya. Jika disatukan, yang muncul hanyalah emosi tak terkendali.

Jika ingin mengetahui kebenarannya, tunggulah verifikasi dari KPUD mengenai pencalonan resmi Ahok karena hal tersebut sudah berlandaskan hukum. Apabila ke depan ada statemen di media yang bertentangan dengan keputusan KPUD, barulah itu dapat disebut “salah secara moral”.

Jika dicermati seksama, manever zig-zag ala Ahok bukan sesuatu yang unik. Kita tentu tidak lupa dengan peristiwa kudeta gagal di Turki, 16 Juli 2016, yang akhirnya membuat kekuasaan Presiden Recep Tayyip Erdogan semakin kuat. Segera setelah kudeta digagalkan, Erdogan bergerak untuk normalisasi hubungan dengan Israel. Erdogan selama ini menggunakan manuver zig-zag juga, terutama dalam berhubungan dengan Israel dan Barat.

Jika manuver Erdogan yang bermitra dengan Israel disebut sebagai “strategi” untuk memperjuangkan ideologi dan kepentingan kelompok Islamis, maka yang dilakukan Ahok sebenarnya sama saja. Yakni  bermitra dengan partai politik sebagai “strategi” untuk memperjuangkan program-programnya.

Dalam berpolitik tidak perlu “bawa perasaan” atau baper, dengan menuduh bahwa manuver lawan politik adalah salah secara moral. Selama tak ada pelanggaran hukum dan tidak ada pelanggaran moral yang dilakukan. Kembalikan apa yang disebut “asas kepatutan” dan moral kepada peraturan perundang-undangan kita yang disepakati bersama. Bukan kepada indikator subyektif yang disepakati oleh pihak tertentu saja.

Sama dengan Erdogan yang tetap Islamis walau bekerja sama dengan Israel, Ahok pun secara hakiki tetap independen, meski bekerja sama dengan Golkar, Hanura, dan Nasdem. Erdogan dan Ahok sudah menunjukkan bahwa politik adalah adu rasio secara komprehensif dan holistik, bukan adu emosi secara brutal maupun sporadis.

Kedua tokoh itu mampu berpikir strategis atau jangka panjang untuk memperjuangkan kepentingan konstituennya. Hanya saja sangat disayangkan seringkali pengikut mereka terlalu emosional dalam menyerang lawan politiknya dan kurang menggunakan rasio dalam melemparkan kritik. Ini tentu saja pekerjaan rumah (PR) besar bagi Erdogan dan Ahok untuk mendidik konstituennya.

Kendati Ahok adalah kandidat gubernur yang popularitas dan elektabilitasnya paling tinggi sampai hari ini menurut beberapa hasil lembaga survei, bukan berarti Ahok bisa “santai” menghadapi Pilkada DKI Jakarta. Berdasarkan media monitoring, akun-akun yang sangat anti-Ahok bertebaran di media sosial. Mereka tentu akan melakukan serangan tanpa henti untuk menjatuhkan Ahok.

Memang, Teman Ahok dan pendukung Ahok di partai tentu punya strategi propaganda untuk menghadapi smear campaign tersebut. Namun, kita tak bisa lupa bahwa sebagian kebencian terhadap Ahok juga muncul karena kesalahpahaman terhadap pernyataan-pernyataan Ahok di media maupun di berbagai forum yang terkesan kontroversial. Dalam konteks ini Ahok memang harus memperbaik pencitraan dirinya.

Menjadi vokal dan outspoken tentu sangat baik, terutama dalam menghadapi kejahatan dan kebobrokan moral. Namun, untuk mendulang dukungan politik dari berbagai etnis, agama, dan ras di Jakarta, strategi yang lebih simpatik tentu diperlukan. Secara pribadi, saya melihat penampilan dan pencitraan Ahok sudah jauh lebih simpatik dibanding sewaktu dia pertama kali menjabat sebagai wakil gubernur.

Akankah gaya ini bisa Ahok pertahankan hingga pemilihan gubernur Jakarta tahun depan?

Avatar
Arli Aditya Parikesit
Pengajar di STAI Al-Hikmah, Jakarta. Meraih PhD bidang bioinformatika dari Universitas Leipzig, Jerman.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.