Senin, Maret 1, 2021

Makar dan Senyum Presiden

Anies Baswedan dan Imajinasi Persatuan tanpa Kebhinekaan

Pernyataan calon gubernur DKI Anies Baswedan dalam pidato kebangsaan di Jakarta pada Senin (3/4) lalu sangat menarik. Pernyataannya yang mengatakan "tak usah perjuangkan kebhinekaan...

Khalifah Ketujuh Umayyah: Sulaiman yang Narsis

Sulaiman bin Abdul Malik berusia sekitar 40 tahun ketika akhirnya berhasil menggantikan kakaknya, al-Walid, sebagai Khalifah ketujuh dari Dinasti Umayyah. Al-Walid dan Sulaiman sebelumnya...

Nabi Menuntun Kita Ber-Isra’ Mi’raj

Isra’ Mi’raj merupakan perjalanan menapaki realitas demi realitas hingga mencapai realitas tertinggi: Realitas Ilahi. Perjalanan itu dimulai secara horisontal dengan menapaki berbagai realitas keduniawian...

Kartini dan Politik (Partai) Wanita!

Salah satu bolong besar dalam pergerakan dan perjuangan politik perempuan, terutama dalam alam politik demokrasi liberal, barangkali adalah tidak adanya partai politik perempuan. Secara...
Avatar
Dandhy Dwi Laksono
Jurnalis, penulis, dan Pendiri Watchdoc, perusahaan film dokumenter. Pada 2015, selama 365 hari, bersama "Ucok" Suparta Arz, Dandhy bersepeda motor mengelilingi Indonesia di bawah bendera Ekspedisi Indonesia Biru.

Aktivis yang juga tersangka kasus dugaan makar, Rachmawati Soekarnoputri (kedua kiri) bersama Kuasa Hukumnya, Yusril Ihza Mahendra (kiri) memberikan keterangan kepada wartawan terkait kasus dugaan makar di Jakarta, Rabu (7/12). Rachmawati dengan tegas membantah tuduhan makar yang disangkakan padanya terkait aksi bela Islam jilid III pada 2 Desember 2016. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/ama/16
Aktivis yang juga tersangka kasus dugaan makar, Rachmawati Soekarnoputri (kanan), bersama kuasa hukumnya, Yusril Ihza Mahendra (kiri), memberikan keterangan kepada wartawan terkait kasus dugaan makar di Jakarta, Rabu (7/12). Rachmawati dengan tegas membantah tuduhan makar yang disangkakan padanya terkait aksi bela Islam jilid III pada 2 Desember 2016. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/ama/16

Apa yang kami takutkan dilakukan Prabowo, dan jadi alasan kami memilih Jokowi, ternyata dilakukan Presiden Joko Widodo saat ini.

Pagi ini sedih membaca berita ada penangkapan lain dini hari ini melanjutkan 10 orang sebelumnya. Hatta Taliwang, seorang orang tua lainnya, dijadikan tersangka dan ditahan.

Hanya di era berhawa fasis, kata radikal yang sebenarnya bagus telah mengalami pembusukan. Sementara kata-kata disiplin dan tertib menjadi segar dan mulia

Riwayat tindakan fasistik dan standar ganda penegakan hukum terlihat begitu merisaukan. Orang yang berencana mengajak masyarakat mendatangi parlemen, dianggap makar dan ditangkapi, sementara mereka yang membubarkan ibadah di Bandung diajak berunding oleh polisi dan pemerintah daerah.

Kita memang perlu awas dan jangan pernah meremehkan tindakan fasis kecil-kecilan seperti pembubaran acara-acara diskusi, bedah buku atau nobar-nobar film. Sebab, bila berhasil, mereka akan mencoba membubarkan yang lebih besar: ibadah, lalu negara.

Yang pernah mengalami gelapnya Orde Baru semestinya takut hal ini: Presidennya senyam-senyum ramah, polisinya nangkepin orang dini hari dengan dalih yang dituturkan media sebagai tindakan mengamankan.

Diamankan itu terasa mirip Orde Baru banget ya. Kalau sebenarnya belum jelas apa kejahatannya, apalagi makar atau bukan, kenapa diciduk duluan.

Mau diamankan agar tidak memprovokasi? Ya, sebaiknya jangan segera dibilang dugaan makar. Itu tuduhan serius dan perlu pembuktian. Mending bilang saja mau dimintai keterangan dan dipanggil menjadi saksi. Bukan diciduk dan digeledah serentak.

Gaya Orde Baru selalu dekat dari batang otak kita, apalagi godaannya datang ketika musim politik tiba. Pada saat kita semua mudah baper dengan jagoan kita dan gampang menghalalkan penangkapan musuh-musuh politik yang mungkin bikin muak, tapi bukan berarti mereka boleh ditangkap sesukanya.

Pasal makar atau permufakatan jahat itu dalam praktiknya sama karetnya dengan penistaan, penghinaan, atau pencemaran. Pemakaiannya hanya soal giliran berkuasa.

Para pembela Jokowi yang senang ada penangkapan menggunakan dalih “masih mending sekarang ditangkap, nggak dilenyapkan seperti zaman Orde Baru”, sikap gampangan seperti itu, selain abai terhadap substansi, juga terbilang ahistoris.

Di belakang panggung, orang ditangkapi dan diberi dalil di era dulu dan sekarang sebagai bagian dari mengusahakan “tertib dan damai”. Bedanya, Soeharto menggunakan kalimat demi stabilitas nasional.

Penangkapan orang seperti Sri Bintang Pamungkas dan Ratna Sarumpaet saat ini dan zaman Orde Baru dulu itu sama saja. Tampak berbeda hanya karena kini giliran presiden idola kita yang berganti senyum-senyum sedang menjalankan kuasa.

Kita melihat watak kekuasaan lama hidup kembali. Menangkap orang sembarangan, mobilisasi birokrasi dan partai politik dalam pawai-pawai, penggusuran paksa dan kekerasan, pemaksaan proyek-proyek pembangunan.

Meski begitu, rezim seperti ini masih didukung sebagian orang karena ada persepsi perlunya pembangunanisme/infrastrukturisme dan ancaman seperti intoleransi. Seperti Soeharto dan “komunisme” di era gelap lalu.

Apakah Presiden Jokowi tak tahu-menahu penangkapan berdalih makar? Sudah jelas Jokowi paham dan tahu persis penangkapan.

Dari Presiden ke Kapolri itu tak ada pejabat lain. 11 orang ditangkap, yang terbaru orang tua bernama Hatta Taliwang dan sebelumnya salah satu yang ditangkap anak/adik bekas presiden, hal itu dilakukan tanpa diketahui RI-1? Come on.

Sulit dibantah. Banyak yang gagal membedakan orasi Sri-Bintang yang rasis dan pengenaan pasal makar terhadapnya. Sebab, presiden idola kita semua telah membuat kita jadi mudah permisif.

Apa persamaan rezim Soeharto dengan Jokowi? Memang tidak sama. Kalau dulu Soeharto banyak menangkap anak-anak muda, rezim sekarang menangkap orang-orang tua.

Secara pribadi mungkin kita menganggap sebagian yang ditangkap  provokatif, tapi hal itu jelas bukan makar. Itu aspirasi politik yang sah, apalagi jika rutenya ingin menuju ke parlemen menuntut Sidang Istimewa.

Sebelum kita semua baper dengan Jokowi sehingga kehilangan daya kritis, kita perlu tunjukkan kembali bagaimana rute Orde Baru bisa berkuasa selama 32 tahun tanpa jeda:

Pertama, ia singkirkan lawan-lawanmu agar kamu senang dan memberi dukungan. Kedua, setelah lawanmu tumpas, ia pun makin kuat. Ketiga, ia mulai menjalankan agendanya sendiri yang bukan agendamu. Karena sudah kuat, kamu tak dibutuhkan. Keempat, kamu mulai keberatan, dan giliran kamu yang disingkirkan.

Kekuasaan mudah tergelincir fasis jika terutama secara sukarela didukung rakyatnya untuk menangkap semua yang keras provokatif berbeda pandangan politik dan tengil serta memuakkan dalam menyampaikan aspirasinya. Tapi, ingat sikap keras, provokatif, tengil dan memuakkan bukan (selalu) makar dan halal ditangkap sesukanya.

Kolom ini ditulis bersama Hertasning Ichlas, Koordinator Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Universalia.

Avatar
Dandhy Dwi Laksono
Jurnalis, penulis, dan Pendiri Watchdoc, perusahaan film dokumenter. Pada 2015, selama 365 hari, bersama "Ucok" Suparta Arz, Dandhy bersepeda motor mengelilingi Indonesia di bawah bendera Ekspedisi Indonesia Biru.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Jurnalisme Copy-Paste

Jurnalisme copy-paste adalah pekerjaan mengumpulkan, mencari dan menulis berita dengan menggunakan teknik salin menyalin saja. Seperti ambil berita di media lain atau dapat dari...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.