OUR NETWORK

Bersama Al Gore Menjadi Pawang Perubahan Iklim

Al-Gore [Sumber: indaily.com.au]
“It is wrong to pollute this Earth
and destroy the climate balance.
It is right to give hope to the future generation.”
Al Gore – An Inconvenient Sequel: Truth to Power, h. 294

Mengikuti Sepak Terjang Al Gore

Menonton An Inconvenient Sequel: Truth to Power, film dokumenter terbaru tentang perjuangan Al Gore yang mengarusutamakan pengelolaan perubahan iklim, adalah sebuah peristiwa sangat personal buat saya. Dan itu dimulai dari waktu yang jauh di masa lalu. Saya membaca Earth in Balance ketika kuliah di IPB, mungkin di tahun 1993, setahun setelah buku itu terbit. Sejak halaman-halaman awal buku itu saya merasa bahwa Al Gore adalah politisi yang paling artikulatif. Dialah Winston Churchill modern.

Beberapa buku lagi dia hasilkan, dan semuanya makin mengokohkan pendirian saya. Tetapi, buat kebanyakan orang yang tak memiliki akses atas buku-bukunya, peristiwa paling penting yang memungkinkan mereka mengenal Gore adalah filmnya di tahun 2006, An Inconvenient Truth.

Film itu diganjar Oscar, dan Gore sendiri kemudian diganjar Nobel Perdamaian. Bukunya sendiri mendapatkan Grammy untuk versi audionya. Gore adalah satu-satunya orang yang pernah memenangkan ketiganya. Itu merupakan testamen tentang betapa dahsyatnya film dan buku itu.

Saya masih ingat mengantre di toko buku Borders di Singapura untuk mendapatkan dvd film tersebut di hari pertama peluncurannya. Begitu kembali ke tanah air, saya langsung menontonnya. Tak bisa sekadar menontonnya sekali dan sendirian, saya menontonnya berulang kali, mengajak rekan-rekan menonton, dan meminjamkan dvd itu entah ke berapa orang. Saya setuju sekali dengan pernyataan Roger Ebert ketika meresensi film itu: setiap orang berhutang waktu untuk menontonnya.

Film itu memang menghadirkan seluruh detail yang diperlukan untuk memahami perubahan iklim dan dampaknya. Dengan cara yang paling efektif yang bisa dibayangkan orang. Kita tak pernah melihat presentasi powerpoint bisa sedemikian menariknya. Kita juga belum pernah melihat materi edukasi bisa membuat seluruh detail bisa dipahami dan hampir mustahil dilupakan. Artikulasi Gore di situ tak bisa ditandingi, dan sulit dicari cacatnya.

Tapi, bagaimanapun, film itu adalah tentang masalah. Kita dibuat takut oleh beragam dampak perubahan iklim yang pasti terjadi, bila kita tak melakukan apa pun. Menjelang akhir filmnya sendiri, Gore memberikan beragam resep untuk menghindari dampak menakutkan itu, tetapi tak pelak perasaan gentar masih mendominasi.

Tiga tahun kemudian, melalui buku Our Choice, Gore memberikan jauh lebih banyak harapan bagi umat manusia. Di buku itu, pilihan-pilihan teknologi, ekonomi, dan kebijakan dijabarkan dengan sangat efektif, sehingga kita “tinggal” mengambilnya. Buku itu bukan saja menimbulkan optimisme luar biasa, melainkan juga menyediakan toolbox untuk siapa pun yang mau menyumbangkan dirinya untuk gerakan memperbaiki apa yang kerap disebut sebagai bukti kegagalan pasar terbesar sepanjang sejarah manusia itu.

Saya kemudian mendengar bahwa Gore memberikan pelatihan untuk bisa menguasai materi yang dia presentasikan lewat An Inconvenient Truth itu. Sebagai orang yang mulai memahami isu perubahan iklim, terutama sejak menjadi LEAD fellow dalam energi dan perubahan iklim di tahun 2008, ada beberapa peristiwa di mana saya merasa perlu untuk bergabung sebagai peserta pelatihan itu. Namun, di antara berbagai peristiwa, tak ada yang sekuat Taifun Haiyan yang merangsek Filipina di penghujung 2013.

Saya menulis sebuah kolom di Koran Tempo tentang taifun itu dan kaitannya dengan perubahan iklim. Karya-karya Kerry Emanuel, profesor ilmu atmosfer di Massachusetts Institute of Technology (MIT), sangat membantu saya melihat kaitan antara perubahan iklim dengan meningkatnya daya rusak badai di seluruh dunia. Dan, secara kebetulan, beberapa minggu setelah taifun itu, saya mendapat kesempatan mengunjungi pinggiran Tacloban, yang masih sangat porak poranda. Saya mendengarkan cerita-cerita langsung dari mereka yang terkena dampaknya, juga dari mereka yang bekerja membangun kembali kota itu.

Ketika hati ini sudah sedemikian kuatnya tertambat untuk ikut menyebarluaskan ilmu pengetahuan tentang perubahan iklim lewat pelatihan Climate Reality Leadership yang diampu langsung oleh Gore, saya mendapati bahwa lamaran pesertanya selalu penuh. Saya kemudian mendapatkan kesempatan sela yang sangat langka, yaitu bertemu langsung dengan John Sterman, sang profesor MIT dan pencipta Climate Interactive. Sebuah fellowship membuat saya belajar tentang ekonomi hijau di MIT, dan salah satu kurikulum yang harus saya ikuti adalah kelas negosiasi perubahan iklim, lengkap dengan simulasinya.

Akses atas data dari seluruh dunia yang dipergunakan di dalam kelasnya membuat saya tersadar bahwa negara-negara di dunia ini wajib membuat keputusan untuk memotong emisinya jauh lebih dalam daripada yang ketika itu—September 2014—telah ditunjukkan. Simulasi juga menunjukkan bahwa negosiasi perubahan iklim itu sangat pelik, dengan pertimbangan masing-masing negara yang valid di mata pemerintahannya. Masalahnya, kalau setiap negara hanya memikirkan kepentingannya sendiri, maka dunia cenderung akan menuju kenaikan 3,7 derajat Celsius, bukan 2 derajat yang merupakan batas aman.

Ketika Kesepakatan Paris akhirnya dicapai di pengujung 2015, disusul dengan masuknya Intended Nationally Determined Contributions (INDC) lalu menjadi Nationally Determined Contributions (NDC), saya tak kaget dengan hasil perhitungannya. Walaupun trajektorinya bukan menuju 3,7 derajat Celsius, tapi jelas masih jauh dari 2 derajat juga. Itu semua teramalkan dari pengalaman saya di kelas Sterman. Lantaran tak ada negara yang mau memotong emisinya dengan cukup ambisius, apalagi melakukannya secara kolektif, ambang aman itu masih jauh dari jangkauan.

Artikulasi, Fokus, dan Energi

Akhirnya, pada Maret 2016 saya bisa menghadiri pelatihan Gore itu, di Manila. Tentu, ingatan akan Taifun Haiyan menjadi menguat, lantaran menjadi topik yang sangat kuat ditampilkan di situ. Sang Walikota Tacloban Alred Romualdez dan senator Loren Legarda adalah bintang pada pelatihan itu. Mereka berdua menjadi saksi paling meyakinkan bahwa apa yang dinyatakan Gore satu dekade sebelumnya adalah benar, dan bahwa dunia—terutama negara-negara yang paling rentan—perlu bersiap diri untuk menghadapi konsekuensi perubahan iklim, selain melakukan mitigasi yang jauh lebih serius.

Kalau lewat buku dan filmnya saya menyadari betapa Gore memiliki kekuatan artikulatif yang luar biasa, menyaksikannya secara langsung membuat saya terkesan pada energinya yang tak pernah surut. Ada banyak pembicara dan fasilitator lain dalam pelatihan itu, tapi Gore sendiri tampil sekitar separuh waktu.

Dia memberikan presentasi versi panjang, standar dan ringkas; selain menjadi moderator dan pembicara dalam panel. Perhatiannya selalu optimal. Tak ada kelelahan atau keengganan di wajahnya sama sekali.

Kesan itulah yang saya tangkap kembali ketika saya menonton tayangan perdana An Inconvenient Sequel. Seluruh rentetan peristiwa yang saya ceritakan di atas hadir kembali di layar dan di benak saya. Kita dibuat tahu bahwa India yang pada awalnya ngotot untuk tidak mempedulikan Kesepakatan Paris ternyata dalam bilangan hari bisa berubah, di antaranya lantaran lobi Gore yang gigih. Bukan saja kepada India, namun juga kepada pemerintahan AS, para pebisnis terkait energi terbarukan, sekretaris ekskutif UNFCCC Christiana Figueres, dan sang ekonom terpenting dalam perubahan iklim, Nicholas Stern.

Buat orang-orang tertentu, mungkin bagian yang menunjukkan bagaimana Gore menjadi mak comblang berbagai kepentingan itu bersifat satu sisi atau bahkan pemujaan yang berlebihan. Tapi, buat saya, sebetulnya itu menunjukkan betapa kompleksitas penyelesaian masalah perubahan iklim itu memang harus diselesaikan lewat beragam cara dan campur tangan banyak pihak.

Gore tidak mengambil kredit sendirian. Kata-katanya jelas menunjukkan dia memberi kredit kepada mereka yang terlibat dalam seluruh upaya membuat India ikut dalam Kesepakatan Paris.

Di sisi lain, Gore juga mau menunjukkan isu yang jauh lebih “kecil”. Salah satu kota di Texas, Georgetown, telah menunjukkan kepemimpinan yang ganjil dalam perubahan iklim. Mereka bertekad dan mampu mewujudkan diri menjadi kota yang seluruh kebutuhan energinya dipenuhi dengan energi terbarukan. Yang ganjil di situ adalah bahwa itu adalah kota yang dipenuhi penganut aliran politik konservatif, termasuk walikotanya.

Namun, sang walikota yang berlatar akuntan publik, Dale Ross, punya argumentasi bahwa tugas kota adalah menyediakan energi yang murah sekaligus menjamin lingkungan yang sehat, yang menjamin biaya kesehatan yang rendah. Dan jawabannya adalah di energi matahari dan angin, bukan di energi fosil.

Teladan untuk Menyampaikan Kebenaran

Gore memang berkonsentrasi di persoalan energi ini. Perusahaan yang menjadi pahlawan dalam film ini adalah SolarCity, sementara Georgetown adalah kota idamannya. Saya sendiri merasa bahwa pesan yang mau disampaikan itu adalah penyederhanaan berlebihan untuk memecahkan seluruh permasalahan perubahan iklim. Melihat dari Indonesia, transisi ke energi terbarukan memang sangat penting, namun masalah terkait perubahan dan pemanfaatan lahan juga sangat genting.

Ini yang membuat film ini serasa memiliki potongan informasi yang hilang. Before the Flood, film dokumenter perubahan iklim yang tayang tahun lalu, tampak lebih komprehensif dalam menyajikan kompleksitas masalah dan rekomendasi penyelesaiannya.

Sebagai orang yang bekerja membujuk, memfasilitasi, dan memaksa perusahaan berubah untuk jadi lebih memperhatikan pengelolaan aspek sosial dan lingkungan, saya punya harapan agar Gore bisa memberikan lebih banyak jurus menghadapi perusahaan. Tapi, di luar soal energi terbarukan itu, saya tak mendapati informasi yang memadai. Mungkin memang bukan tujuan Gore ketika membuat film dan buku mutakhirnya ini, tetapi saya tetap merasa kehilangan.

Pesan paling kuatnya sendiri bahwa kita semua harus memperjuangkan keselamatan Bumi dan seisinya dengan menyatakan kebenaran ilmu pengetahuan kepada para penguasa—dicerminkan oleh subjudul Truth to Power—sangat efektif terasa.

Rekaman Donald Trump yang bicara ngawur soal perubahan iklim (dan seluruh hal lain) sepanjang masa kampanye hingga setelah terpilih, adegan Gore mendatangi Trump Plaza, dan komentar-komentarnya sangat efektif memberikan pesan itu. Dan dia mengajak seluruh penonton memikirkan bagaimana kengawuran kebijakan publik bisa diminimalkan dengan ilmu pengetahuan yang kokoh.

Pada halaman 224 buku berjudul sama dengan filmnya, Gore mengingatkan kita semua bahwa upaya menyingkirkan ilmu pengetahuan dari kebijakan publik adalah buah dari ajaran industri rokok. Ini juga yang dibuktikan secara tak terbantahkan dalam Merchants of Doubt—yang versi bukunya terbit 2010 dan film dokumenternya pada 2014.

Ini membuat saya tersadar bahwa kita di Indonesia menghadapi gangguan atas kebijakan publik yang jauh lebih dahsyat. Artinya, kita di sini punya tugas lebih berat dalam berkata-kata benar berdasarkan pengetahuan kepada penguasa.

Dan, Gore, lewat film dan buku terbarunya ini, memberikan teladan buat kita semua untuk menjadi pawang perubahan iklim lewat penyampaian kebenaran kepada para penguasa, dan seluruh tindakan lain yang diperlukan.

Baca juga:

Kopenhagen, Paris, Jakarta: Dari COP21 Menuju Tindakan Nyata di Level Nasional

Leonardo DiCaprio: Perubahan Iklim Itu Nyata

Hari Bumi dalam Kesadaran Antroposene

Jalal
Reader on Corporate Governance and Political Ecology Thamrin School of Climate Change and Sustainability, Jakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…