Sabtu, Maret 6, 2021

Bisakah Kita Memberi Maaf Pada Kezaliman?

Jokowi, DPR, dan Kemiskinan Produk Legislasi 2015

Tahun 2015 kurang dari dua bulan lagi. Banyak catatan terhadap jalannya kinerja pemerintahan hasil Pemilihan Umum 2014. Setelah banyak evaluasi terhadap satu tahun pemerintahan...

Seruan Cegah Covid-19 dari Desa

Jumlah pasien positif Covid-19 terus bertambah. Beberapa pakar modeling menyebutkan puncak penyebaran Covid-19 akan terjadi di akhir bulan April atau Mei dan akan menelan...

Mencipta Ingatan Pemilu

Ingatan pemilu, ingatan kata dan perbuatan. Sekian kata agak mampu mengisahkan dan menjelaskan pemilu, sejak 1955 sampai 2019. Kata-kata itu khas dan mengalami perbedaan...

Kapolri Baru dan Nasib Papua

Apakah Papua penting bagi Anda? Jika ya, maka kehadiran Kapolri baru perlu Anda cermati secara seksama, karena sebagian besar persoalan Papua dibebankan di pundak...
Avatar
Muhsin Labib
Pengajar filsafat Islam dan pemerhati isu-isu toleransi dan kemanusiaan.

Salah satu tradisi mulia umat Islam Indonesia dalam lebaran adalah memohon maaf. Memohon maaf adalah simbol rekonsiliasi sosial sekaligus ungkapan kerendahan hati.

Karena tak memahami epistemologi maaf dan epistemologi keadilan, banyak orang a) menetapkan pemaafan sebagai ganti keadilan, b) menganggap semua kezaliman sebagai dosa sosial semata, c) menganggap kezaliman sebagai dosa partikular semata, d) menganggap korbannya hanya yang terlihat saja, e)menganggap pelakunya hanya berurusan dengan korban, f) menganggap pelaku yang dimaafkan bebas dari tanggungjawab hukum.

Kezaliman adalah sesuatu yang universal meski tindakannya merupakan sesuatu yang partikular dan personal, begitu pula pelaku dan korbannya,

Pemberian maaf kepada pelaku kezaliman tak niscaya membebaskannya dari beban hukum positif dan hukum agama dan tak berarti hukum dan nilai menjadi hak eksklusif pihak yang terzalimi.

Sebuah tindakan zalim (yang mungkin terlihat partikular, karena pelakunya dan korbannya satu orang), sangat mungkin menimbulkan efek universal dan sosial.

Korban yang sekilas terlihat personal atau terbatas bisa sangat banyak bila kezalimannya mengena banyak orang atau sekelompok orang dengan identitas etnis atau keyakinan khas yang berbeda dengan kebanyak.

Memaafkan penzalim tak niscaya menghapus kezaliman dan mengaburkan posisi bersalah. Tindakan kezaliman yang telah dikakukan takkan bisa dianggap tak terjadi betapapun pelakunya telah meminta maaf dan dimaafkan oleh yang terzalimi.

Bila orang yang terzalimi secara hukum, politik, sosial, dan lainnya memaafkan (apalagi meminta maaf kepada) pelaku kezalman , maka itu dapat ditafsirkan sebagai bagian dari “voor”.

Selain merupakan dosa horisontal, kezaliman terhadap sesama manusia, apapun keyakinan dan etnisnya, merupakan kezaliman vertikal. Penzalim berurusan dengan Tuhan yang mewanti-wanti manusia tidak mengganggu sesamanya.

Yang paling mungkin dilakukan oleh orang yang dilemahkan “secara nasional’ adalah menyempurnakan pengorbanan dan legowo dalam level tertinggi agar suara-suara kebenaran dan keadilan tetap mengiang dalam relung jiwa manusia-manusia yang mengutamakan nilai keadilan atas apapun dan siapapun termasuk individu yang terzalimi.

Sikap legawa orang yang dizalimi dan diabaikan kadang merupakam pukulan psikologis, ajakan penyadaran dan isyarat perlawanan.

Kita sangat rajin memproduksi kesalahan, adalah manusia biasa. Kesalahan adalah kemestian. Justru aneh bila tak melakukan kesalahan. Agama dihadirkan sebagai tutorial untuk memperbaiki kesalahan.

Di antara orang-orang yang hemat kebaikan dan boros keburukan ada orang-orang yang mau memaafkan kesalahan orang lain karena sadar bahwa mereka bisa melakukan kesalahan yang sama atau seperti itu atau bahkan lebih berat dari itu, meski tak dipersoalkan.

Kita dianjurkan meminta maaf atas perbuatan yang mungkin melukai hati orang lain, meski mungkin kita tidak merasa bersalah karena meminta maaf selalu lebih mulia dari memaafkan. Permohonan maaf dari seseorang yang dianggap menempati posisi lebih tinggi secara sosial adalah perbuatan yang sangat mulia.

Kita dianjurkan meminta maaf, bukan mendapatkan maaf. Kita juga dianjurkan memberikan maaf, bukan menanti orang meminta maaf.

Meminta maaf kepada orang-orang terdekat yang sangat mungkin dizalimi, terutama istri, suami, anak, orangtua, dan pembantu adalah adalah objek prioritas.

Sayangnya, sekarang pengucapan permohonan maaf saat lebaran mulai kehilangan esensinya yang serius dan sakral sehingga terkesan klise atau basa basi apalagi pengucapannjya customized “mohon maaf lahir dan batin.” Mestinya bentuk kata dan diksi yang diucapkan merupakan pilihan sendiri sebagai ekspresi cetusan hati.

Mohon maaf atas semua kesalahan terutama bila tak berkenan atas tulisan sederhana ini.

Avatar
Muhsin Labib
Pengajar filsafat Islam dan pemerhati isu-isu toleransi dan kemanusiaan.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.