Minggu, Maret 7, 2021

Latar Keluarga Miskin Bukan Batas untuk Bergerak

Peluang Tumbuhnya Ideologi Anti Rezim di Muhammadiyah

Muhammadiyah di awal berdiri adalah organisasi koperatif bukan non-koperatif. Pikiran anti rezim bukan tradisi, karena tidak bersanad. Demikian para sejarawan semisal Taufik Abdullah, Ahmad...

Mengapa Musisi Rentan Depresi hingga Bunuh Diri?

Setelah meninggalnya musisi kondang DJ Avicii di Oman pada 20 April silam, saya memikirkan ulang ihwal musikus, depresi, dan meninggalnya mereka karena bunuh diri....

Memahami Sengketa Iran dan Arab Saudi

Tahun Baru 2016 ditandai dengan memanasnya hubungan dua negara antara Kerajaan Arab Saudi dan Republik Islam Iran. Pertama, apakah ini konflik Sunni dan Syiah?...

Sandiaga Uno dan Baperisme

Geliat pemanasan Pemilihan Kepala Daerah Jakarta nampaknya segera berakhir. Suasana emosional perlahan menggelinding ke arah rasional. Yang baper-baper (bawa-bawa perasaan) tersingkir, dengan Ahmad Dhani...
Avatar
Joana Zettira
Pegiat Literasi dan Duta Museum DI Yogyakarta

Kiswanti, perempuan paruh baya, yang lahir 4 Desember 1963 di Yogyakarta, terbesit mendirikan perpustakaan gratis pada tahun 1974. Ia tidak bisa meminjam buku karena tidak mampu untuk membayar sebagai anggota perpustakaan. Ia menempa diri agar bisa membeli buku dengan bekerja sebagai penjual jamu dan asisten rumah tangga.

Berawal dari masa kecil yang tumbuh dari keluarga yang serba terbatas, pada tahun 1980, ia memulai keterpanggilannya untuk mengoleksi buku meskipun keluarga tidak dapat menyekolahkannya. Dirinya terbentuk dari beragam peristiwa yang serba prihatin, tetapi tidak menyerah untuk berkembang dan berdaya.

Pada tahun 1987, ia hijrah ke Jakarta dan bekerja serabutan. Pada tahun 1993, ia pindah ke Parung, Bogor. Di sana ia melihat banyak anak tidak sekolah, terutama anak perempuan. Kenyataan tersebut mengingatkan masa kecilnya yang serba kekurangan untuk mendapatkan pendidikan. Buku-buku yang dimilikinya kemudian dibaca oleh anak-anak sekitar di tempat tinggal barunya itu. Dari sanalah, Bude Kiswanti—sapaan akrabnya—membangun anak-anak yang tumbuh di lingkungannya.

Sampai pada tahun 2006, ia tidak lelah mengenalkan buku kepada anak-anak sebagai kebutuhan. Semakin banyak yang meminta buku baru, Kiswanti selain merasa tertantang juga mencari solusi.

Banyak dinamika selama perjalanan bagaimana membangun anak-anak di sebuah wilayah oleh seorang Bude.

Kiswanti di Lebak Wangi

Pandemi, nyatanya tak mengusik ketahanan pangan sebagian orang. Di Lebak Wangi, Parung, Bogor misalkan, masyarakat tetap pada kondisi aman. Ketahanan pangan terjaga bukan karena mayoritas masyarakat berdompet tebal, namun kesadaran kolektif yang dibangun sejak tahun 1980. Kiswanti, sosok di balik kesadaran akan kemandirian ekonomi masyarakat Lebak Wangi.

Sebagai pemateri ke-19 dalam gelaran World Book Day, Kiswanti membagi kiatnya membangun ketahanan ini. Bermula dari mimpi mendirikan perpustakaan gratis, ia menyulap rumahnya menjadi taman bacaan. Kemudian diberi nama Taman Bacaan Warung Baca Lebak Wangi (TBM Warabal). Kiswanti memfokuskan kegiatan TBM-nya pada salah satu dari enam literasi dasar, yakni literasi finansial. “Saya fokusnya pada penguatan ekonomi. Bagaimana ekonomi ini terselamatkan agar kesehatan terjaga, pendidikan terjaga, dan hubungan bersosial masih terjaga,” katanya.

Lahan Produktif

Survei Badan Pusat Statistik Agustus 2019 menunjukkan, Kabupaten Bogor menduduki posisi teratas jumlah penduduk terbanyak di antara 27 kota dan kabupaten lain di Jawa Barat. Dengan kepadatan ini, jarak rumah antarpemukiman menjadi sangat rapat. Meski ruang gerak terbatas, memanfaatkan lahan adalah pilihan Kiswanti untuk menjaga ketahanan pangan.

Bukan tanaman hias yang dibudidayakan, melainkan tanaman produktif yang dapat dikonsumsi. “Jadi, saya berupaya menanam cabe, tomat, seringkali juga berbagi kepada tetangga. Sehingga, tetangga mau melakukan hal yang sama (menanam sayuran)” imbuhnya.

Untuk mengajak warga melakukan hal yang sama, jelas Kiswanti, harus dicontohkan terlebih dahulu. Pembiasaan ini telah dilakukannya sejak 2016. Ia juga menerima biji buah habis makan yang telah dikeringkan untuk disebar di kebon—lahan kosong tak terpakai. Hasilnya mengejutkan, “Tiba tiba tanpa ditanam, di kebon tumbuh alpukat, rambutan,” tambah Kiswanti.

Belanja di Warung Tetangga

Momentum pandemi dapat menguatkan solidaritas kolektif. Bekal pelatihan yang telah diberikan oleh TBM Warabal, menjadi kunci kemandirian ekonomi warga sekitar. Kemampuan menjahit, menyulam, membuat kerajinan, memasak, dan mengolah makanan bernilai jual serta tahan lama membantu masyarakat tetap survive. Terutama kemampuan memasak dan mengolah makanan untuk dijual.

Untuk memastikan tidak terjadi homogenitas produk, Kiswanti dan masyarakat membangun konsensus bersama. “Kita membeli, saling menolong, menguntungkan tetangga,” tuturnya. Yang dilakukan waga Lebak Wangi, membangkitkan kembali geliat perekonomian warung warung kecil dan kelontong.

Hal ini menjadi kabar baik, mengingat data Nielsen yang menunjukkan tahun 2017 Indonesia digempur 43.826 minimarket dengan angka pertumbuhan 3,2% dari tahun ke tahun. Tentu angka ini menjulang lebih tinggi di tahun 2020. Oleh karena itu, belanja di warung tetangga menjadi gerakan ekonomi yang juga mengeratkan pertalian sosial.

Berkelana Lewat Buku

Uniknya, keterampilan yang Kiswanti tularkan kepada warga sekitar pada mulanya tidak didapat dari kursus ke lembaga professional, “Kita belajar menjahit dari majalah. Sering ada di selipan majalah, cara bikin baju ukuran S, M, L, dan XL,”. Tak hanya itu, kemampuan mengolah aneka masakan yang hari ini menjelma catering juga bermula dari mengumpulkan potongan resep di majalah Femina.

Bagi Kiswanti, dengan membaca buku kita bisa berkelana ke lautan ilmu. Aksi sosial dan kecintaannya pada buku menghantarkannya menjadi Tokoh Wanita Inspiratif Penggerak Pembangunan pada 2009 dan menerima Anugerah Peduli Pendidikan dari Mendikbud pada 2012.

Tak sempat merasakan bangku sekolah menengah bukan sebuah halangan baginya, “Saya mengoleksi buku. Itu yang membentuk diri saya. Ilmu pengetahuan menjadi sumber kekuatan bagi saya”. Di hari buku sedunia, Kiswanti menyampaikan pesannya kepada para penulis, “Saya haturkan terima kasih kepada seluruh penulis buku. Karena dari karya bapak, ibu, kakak-kakak semua, banyak mengubah diri saya dan pola pikir saya”.

“Mari kita selalu bertemu satu sama lain dengan senyum, karena senyum adalah awal dari cinta,” kutip Josephine dari Bunda Teressa. Penanya yang aktif di Keluarga Sabang Merauke itu mengingat Bude Kiswanti penuh cinta dengan senyumnya.

Perjalanan Bude Kiswanti membangun pendidikan anak melalui buku yang berlatar belakang serba terbatas, tidak menyurutkan niatnya untuk terus memancangkan anak-anak bangsa berdaya.

Belajar dari Bude Kiswanti, mengubah hidup memang harus banyak menggali diri melalui bacaan yang dapat membuka banyak jalan.

Festival Literasi dan World Book Day 2020

 

Avatar
Joana Zettira
Pegiat Literasi dan Duta Museum DI Yogyakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.