Sabtu, Februari 27, 2021

Lagi, Mengapa ISIS Mengebom Tanah Suci? [Untuk Husni Mubarok]

Menata-nata Kekurangan Big Data

Kehadiran data besar (big data) tidak dapat dipungkiri sangat membantu peneliti, pebisnis, dan pengambil keputusan dalam melaksanakan tugasnya. Data besar kini semakin banyak tersedia....

Menuju “Nasionalisasi” Bahasa Indonesia [Which is Kita Lebih Bangga Berbahasa Asing]

Kado terindah dari sebuah penjajahan adalah bangkitnya rasa nasionalisme. Karena itu, setelah dijajah beratus-ratus tahun, para pemuda kita mengikrarkan sumpah pemuda. Sumpah itu berisi...

Takdir Pilu Perempuan Rohingya

Jumat, 1 September 2017, masyarakat Indonesia dan seluruh masyarakat Muslim lain di kawasan Asia Tenggara merayakan Hari Raya Idul Qurban. Gegap gempita dan takbir...

Khilafah Solusinya!

Belum lama ini masyarakat dibuat gaduh dengan beredarnya video secara viral di dunia maya: ada seorang mahasiswa dari organisasi Gerakan Mahasiswa Pembebasan yang berorasi...
Avatar
Iqbal Kholidi
Penulis adalah pemerhati terorisme dan politik Timur Tengah

bom-madi

Tulisan saya Mengapa ISIS Mengebom Kota Suci di Bulan Suci? ditanggapi Husni Mubarok dengan judul Masihkah Madinah Dianggap Kota Suci? [Catatan untuk Iqbal Kholidi]

Membaca tanggapan tersebut, saya senang, Husni tidak mementahkankan opini saya bahwa pelaku bom di Madinah adalah ISIS. Sebab, hingga tulisan ini saya buat, masih ada saja sebagian kalangan yang melempar tuduhan bahwa pelaku bom di Madinah adalah non-Muslim. Mereka bilang memang selama ini orang Yahudi, Kristiani, Majusi, boleh masuk ke tanah suci Madinah?

Bahkan yang lebih ngawur lagi, ada yang menuding pelakunya kaum Syiah. Para penuding berkata: “Bom di Madinah adalah aksi balasan dari kaum Syiah di Qatif karena mereka baru saja dibom.” Tudingan ini sangat ngawur, justru persepsi semacam inilah yang ingin dibangun ISIS.

Seperti ulasan saya sebelumnya, tiga bom yang terjadi di Jeddah, Qatif, dan Madinah adalah satu paket. Kaum Syiah dalam tragedi ini juga menjadi korban, kenapa malah dituduh sebagai pelakunya.

Husni menilai argumen tulisan saya terasa ada yang kurang dan tidak cukup kuat saat mengungkap peristiwa kenapa ISIS nekat mengebom tanah suci Madinah. Kemudian Husni melempar beberapa pertanyaan. Kenapa baru Ramadhan ini mereka menyerang kota suci, bukan Ramadhan sebelumnya? Jika menaklukkan Madinah dan Mekkah adalah prioritas, kenapa baru kali ini mereka mewujudkannya? Jika mau menaklukkan, kenapa serangan bom bunuh diri yang dipakai sebagai metode, bukan serangan massif?

Untuk menjawab semua itu, Husni mengutip analisis Robert Pape, yang menegaskan alasan kuat kenapa ISIS menyerang berbagai negara adalah respons terhadap serangan militer asing (termasuk di antaranya Arab Saudi) terhadap wilayah kekuasaannya di Irak dan Suriah.

Intinya ISIS terdesak, mengalami kekalahan di mana-mana, kehilangan kontrol atas beberapa wilayah yang selama ini mereka kuasai sehingga menghalalkan serangan di mana pun, tak terkecuali di Madinah.

Menanggapi pertanyaan Husni kenapa baru Ramadhan ini mereka menyerang kota suci, bukan Ramadhan sebelumnya, saya kemukakan alasan lebih detail dari sebelumnya. Awalnya, ISIS melalui juru bicaranya Al-Adnani menjelang Ramadhan telah mendorong pengikutnya meningkatkan serangan di bulan Ramadhan pada tahun ini.

Bukankah Ramadhan tahun lalu juga ada seruan serupa? Apa bedanya? Yang membedakan pada Ramadhan kali ini, melalui medianya Maktabah al-Himmah, ISIS memproduksi propaganda tak hanya berisi seruan meningkatkan serangan di bulan Ramadhan dengan slogan “Ramadhan Bulan Penaklukan” tapi juga menyertakan fakta sejarah penaklukan (peperangan) yang dilalukan pada masa kenabian yang terjadi di tanah suci, mendorong umat Islam untuk meningkatkan jihad dan mencontoh fakta sejarah itu.

Untuk itulah saya berpendapat, pidato Al-Adnani dan rilisan Maktabah al-Himmah yang jaraknya berdekatan ini sangat terkait dan mungkin sekali mengilhami pengikutnya melancarkan serangan bom di tanah suci Madinah, atau setidaknya sebuah “lampu hijau” boleh menumpahkan darah di tanah suci atas nama penaklukan.

Husni juga mempertanyakan, jika mau menaklukkan, kenapa serangan bom bunuh diri yang dipakai sebagai metode, bukan serangan massif? Perlu saya tekankan, ISIS memang kerap menggunakan bahasa yang bombastis dalam propagandanya. Kenapa bom bunuh diri, bukan serangan massif, tentu itu sangat terkait dengan sumber daya ISIS. Tak bisa dibandingkan kemampuan ISIS di Suriah dan ISIS di Arab Saudi yang masih bergerak secara underground.

Faktanya adalah ISIS memiliki ambisi prestius menguasai dua tanah suci. Sebagaimana saya paparkan sebelumnya, dalam artikel buletin ISIS yang menyebut membebaskan Madinah dan Makkah itu lebih diprioritaskan dibanding Baitul Maqdis. Sekali lagi, lebih prioritas dibanding Baitul Maqdis. Dan saya menilai bom bunuh diri ISIS di Madinah ini adalah salah satu bukti ISIS ingin menunjukkan ambisi “prioritas” itu.

Terkait argumentasi Husni Mubarok yang mengutip Robert Pape, saya sependapat. Yaitu alasan kenapa ISIS mulai menyerang negara-negara luar Irak dan Suriah dengan bom bunuh diri karena mereka kini terdesak, terpojok, dan kehilangan wilayah. Meskipun sependapat, saya menilai analisa itu sudah umum. Karenanya, saya tidak memasukkan analisis itu dalam tulisan Mengapa ISIS Mengebom Kota Suci di Bulan Suci?

Sebagai catatan, saya pernah menggunakan analisa itu pada kolom lama saya di media ini dengan judul Kenapa ISIS Menyerang Eropa? Jika berkenan, silakan baca-baca.

Terakhir, saya rasa berlebihan menganggap ISIS selama ini bersikap tidak peduli dan masa bodoh dengan persepsi umat Islam. Jika tidak peduli, untuk apa mereka tekun memproduksi propaganda bertabur ayat-ayat suci dan hadits Nabi? ISIS tidak ingin aksi-aksi yang dilakukannya mutlak bisa disalahkan, karena ada dalilnya. ISIS tak ingin kehilangan dukungan dari pengikutnya, ISIS juga ingin mendapat tempat di hati umat Islam.

 

 

Avatar
Iqbal Kholidi
Penulis adalah pemerhati terorisme dan politik Timur Tengah
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.