Minggu, Oktober 25, 2020

Merica Membawa Kura-Kura Berjanggut Berjalan Sampai 921 Halaman

Jurnalisme Ala Bangku Kosong

“Raibnya” Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto di panggung publik akhir-akhir ini langsung direspon cepat oleh tayangan talk show Mata Najwa. Tim Mata Najwa seperti...

Bali Democracy Forum (BDF) dan Transisi Demokrasi Myanmar

Tulisan ini dimulai dari inisiasi Indonesia dalam menyelenggarakan BDF (Bali Democracy Forum) sebagai forum antar negara yang membahas tentang demokrasi. BDF digagas berdasarkan pengalaman demokrasi...

Melawan Berita Bohong

Berita bohong harus kita lawan, karena dampaknya bagi kehidupan sosial dan politik sangat destruktif, bisa mengoyak keharmonisan bangsa dan menyuburkan tradisi yang buruk di...

Membela Ahok, untuk (Si)Apa?

Ratusan ribu massa hadir pada aksi protes 411 dan 212 di Jakarta. Mereka menuntut Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dihukum atas dugaan tindakan penodaan...
Nurhady Sirimorok
Peneliti isu-isu perdesaan; Pegiat di komunitas Ininnawa, Makassar.

Dari sekian banyak kemungkinan, saya memilih mengandaikan Kura-Kura Berjanggut karya Azhari Aiyub yang mencapai 921 halaman sebagai rangkaian kereta. Dan lokomotif yang menarik gerbong-gerbong ceritanya? Tanaman komoditas merica. Lebih tepatnya perebutan monopoli perdagangan internasional merica. Bagi saya, inilah elemen paling istimewa dalam karya Azhari, saya belum pernah melihat motif semacam ini—komoditas pertanian—hadir dalam novel Indonesia.

(Catatan: saya belum sempat membaca Perempuan Pala, juga karya Azhari Aiyub, yang mungkin menghadirkan motif serupa)

Dalam Kura-Kura Berjanggut, Kesultanan Lamuri terbentuk menjadi negara, lalu mengalami pasang-surut, kemudian bangkit lagi menjadi kerajaan besar, semua karena merica. Lamuri adalah negeri merica. Maka, menguasai istana Lamuri sama dengan menguasai perdagangan merica yang tumbuh di kawasan pedalamannya, Lembah Lamuri.

Dengan merica sebagai lokomotif, Azhari leluasa menjelaskan apa yang terjadi ketika kapitalisme perdagangan komoditas internasional hadir di satu negara.

***

Porsi terbesar novel ini bercerita tentang perang antara istana Lamuri melawan kongsi dagang Ikan Pari Itam. Perseteruan negara versus korporasi internasional ini berlangsung di seputar perebutan monopoli perdagangan merica.

Untuk itu Azhari tampak membagi dua fase perseteruan negara-korporasi itu. Pada fase pertama, kongsi Ikan Pari Itam memonopoli perdagangan merica Lamuri. Mereka melakukannya dengan mereka mengatur siapa yang bisa duduk di singgasana, dan menyingkirkan para calon pesaing yang tak ramah terhadap mereka.

Sultan Maliksyah, ayah Anak Haram, naik ke singgasana karena Ikan Pari Itam merasa putra mahkota, Salmansyah, punya gagasan lain tentang perdagangan merica Lamuri. Dan ketika Sultan Awaluddinsyah, ayah dua pangeran itu, mulai melemah secara fisik “kongsi dagang Ikan Pari Itam … kembali memainkan keahlian lama mereka, menentukan jatuh-bangunnya seorang sultan di sebuah bandar.” (hl. 66)

Selama berkuasa di Lamuri, Ikan Pari Itam juga mendikte aturan dagang yang dijalankan oleh istana Lamuri agar menguntungkan mereka. “Hukum di Lamuri mengharuskan setiap biji merica dijual kepada mereka … Dan dengan hukum itu, selama puluhan tahun Ikan Pari Itam menguasai perdagangan merica dunia.” (hl. 33)

Pada fase berikutnya, Sultan Nurruddin alias Anak Haram naik takhta, juga lewat serangkaian pembantaian, termasuk pembersihan terhadap keluarga istana yang telah memenjarakannya dan orang-orang kongsi dagang Ikan Pari Itam berikut keluarga mereka. Di bawah Anak Haram, istana Lamuri berubah menjadi semacam kongsi dagang, menulis ulang aturan dagang, dan menaklukkan bandar-bandar tetangganya, terutama yang masih dikuasai kongsi dagang Ikan Pari Itam.

“Ketika aku berkuasa, aku berdiri dan mengencingi hukum yang seabad lalu ditulis oleh nenek moyang mereka. Aku mengusir mereka dari Lamuri, juga dari bandar-bandar yang belakangan aku taklukkan.” (33-34)

Sementara mereka tak dapat lagi memonopoli merica Lamuri, Ikan Pari Itam terus mencari peluang dengan pelbagai siasat, termasuk mengirim kontingen demi kontingen pembunuh bayaran sembari menanam mata-mata sampai di dalam istana Lamuri.

Anak Haram adalah musuh Ikan Pari Itam yang paling bandel, dan karena itu menjadi penguasa yang paling banyak diceritakan di sepanjang novel ini. Ia punya banyak siasat untuk menghindar, bahkan memukul balik musuh-musuhnya—bila perlu dengan menaklukkan kerajaan lain atau menyapu bersih kawanan pengemis di seberang lautan yang ia curigai sebagai anggota Kura-Kura Berjanggut, sebuah kelompok sirkus sekaligus komplotan pembunuh bayaran yang disokong kongsi dagang Ikan Pari Itam.

Siasat balasan ini menciptakan tekanan abadi terhadap Istana Lamuri.

***

Seluruh bangsa Lamuri harus membayar mahal tekanan yang tercipta oleh perang monopoli merica.

Sang Sultan memutuskan untuk berperang, melenyapkan dan memenjarakan orang sebagian besar supaya tetap dapat menguasai perdagangan merica. ‘Orang Hamba’ dan ‘Orang Pekerja’, yang membantu Anak Haram naik takhta setelah membantai keluarga istana dan para ‘Pedagang’, segera merasakan pukulan balik dari Istana. Sultan baru mereka bersalin rupa dari seorang narapidana menjadi tiran. Apa yang tadinya tampak sebagai revolusi rakyat berubah menjadi upaya penegakan patrimonialisme.

Dan Anak Haram punya sumber daya memadai untuk melawan musuh dari luar dan dalam negerinya, hasil dari menjarah dan menindas rakyatnya dan negeri-negeri lain. Istana Lamuri menaikkan pajak, menjarah pedagang, menaklukkan kerajaan lain, persis yang dilakukan pendahulunya di bawah telunjuk Ikan Pari Itam.

Bersamaan dengan itu, istana Lamuri juga membujuk pedagang-pedagang asing baru, yang tak berhubungan dengan Ikan Pari Itam, agar datang berdagang ke Lamuri dengan menjanjikan jaminan keberlanjutan suplai merica. Untuk itu ia membasmi penyelundup dan pesaing di kawasan Selat, dan menjaga hubungan baik—warisan ibunya—dengan Orang Lembah atau Dua Puluh Tiga Kaum, para petani merica yang menghuni Lembah Lamuri.

Anak Haram melakukan semua hal yang dibutuhkan agar para pedagang asing merasa nyaman, suplai merica lancar, semua saingan mengkerut, dan rakyat takut mengacaukan stabilitas Kesultanan.

Perang monopoli merica ini juga menciptakan intrik dalam istana. Agar tetap bisa berada di singgasana dan menguasai merica, kalangan istana Lamuri harus senantiasa waspada. Mereka terus diliputi kecemasan, dan obat dari kecemasan itu ialah melenyapkan setiap hal yang dianggap sebagai penyebabnya—baik yang nyata maupun khayalan.

Ketika terjadi penikaman terhadap Sultan Nurruddin yang gagal membawa maut, misalnya, rentetan hukuman pancung digelar, semua gilda (serikat) dibubarkan lalu dilarang, dan para pekerja ditangkapi atau melarikan diri (hl. 213).

***

Perdagangan internasional merica Lamuri melecut rentetan perang penaklukan, pembantaian, pemenjaraan, penyiksaan, pengungsian, pelarian, dan pada akhirnya penderitaan bagi rakyat awam. Semua ini kemudian menghasilkan sekian banyak luka dan akhirnya dendam yang hendak dibalaskan.

Dari kepulan dendam inilah beranak-pinak banyak cerita, masing-masing individu tokoh menjadi punya urusan sendiri-sendiri yang hendak mereka selesaikan. Anak Haram, Kamaria, Si Buduk, sang narator Si Ujud, dan banyak lainnya, semua membawa pertarungan masing-masing ke dalam novel Kura-Kura Berjanggut.

Bermula dari struktur masyarakat timpang dan bengis bentukan kapitalisme perdagangan internasional, Azhari Aiyub memanen jalinan konflik individual dan kolektif yang menggerakkan alur ceritanya yang apik hingga mencapai 921 halaman. Selebihnya, penguasaan mengagumkan Azhari terhadap beraneka piranti sastrawi. Tentang ini, tentu setiap pembaca punya selera masing-masing.

Nurhady Sirimorok
Peneliti isu-isu perdesaan; Pegiat di komunitas Ininnawa, Makassar.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Sastra, Dildo dan Evolusi Manusia

Paling tidak, berdasarkan catatan tertulis, kita tau bahwa sastra, sejak 4000 tahun lalu telah ada dalam sejarah umat manusia. Hari ini, catatan yang ditulis...

Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia

Di dalam buku Huntington yang 600-an halaman yang berjudul Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia mengatakan bahwasanya masa depan politik dunia akan...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Refleksi Bulan Bahasa: Apa Kabar Perpres 63/2019?

Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, 92 tahun silam terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya...

Berlindung di Balik Topeng Kaca, Public Figure juga Manusia

Ketika Candil lewat Grup Band Seurieus, salah satu Band Rock Kenamaan tahun 2000-an awal ini menyuarakan pendapatnya lewat lagu Rocker juga Manusia, saya seratus...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Memperkuat Peran Politik Masyarakat

Salah satu kegagalan konsolidasi demokrasi elektoral adalah tidak terwujudnya pemilih yang cerdas dalam membuat keputusan di hari pemilihan. Menghasilkan pemilih cerdas dalam pemilu tentu...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...

Refleksi Bulan Bahasa: Apa Kabar Perpres 63/2019?

Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, 92 tahun silam terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.