Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Kritik untuk Faldo Maldini

Belajar Gender dan Orientasi Seksual dari Pernikahan Aming

Saya ucapkan selamat menempuh hidup baru untuk aktor Aming Supriatna Sugandhi yang menikah dengan dengan Evelyn Nada Anjani yang akrab disapa Kevin. Saya sendiri...

Seniman Atau Tukang Gonjreng

Bagaimana nasib seniman di masa pandemi? Apalagi seniman jalanan seperti pengamen. Ya, pertanyaan ini sama kayak nasib para pekerja dunia hiburan pada umumnya. Suram. Pandemi...

2015, Tahun yang Melelahkan

Tahun 2015 akan segera berakhir. Kurang dari 10 hari lagi memori 2015 akan segera ditutup, dan buku putih Tahun Baru 2016 bersiap untuk dibentangkan....

Mem-“Bilal”-kan Toa

Jalaluddin Rumi, sufi Persia tersohor itu, berkisah dalam magnum opus-nya: Matsnawi. Alkisah, ada seorang muazin bersuara jelek. Saudara-saudara Muslimnya telah berulang kali menasehatinya untuk...

Di koran Haluan edisi 18 September 2019 terpampang iklan Faldo Maldini dengan latar belakang logo Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Saya mendapatkan informasi bahwa iklan politik itu bagian dari rencananya untuk ikut bertarung di Pemilihan Gubernur Sumatra Barat. Faldo mungkin sedang cek ombak saja. Atau mungkin telah lebih dari itu.

Kemunculan Faldo Maldini dengan logo PSI cukup mengejutkan—walaupun itu tidak aneh dalam politik kita yang penuh kutu loncat bertopeng peduli rakyat. Dalam silang-sengkarut pertarungan juru bicara masing-masing partai dalam Pemilihan Presiden lalu, Faldo memang kerapkali tampil sangat lantang, percaya diri, dan, seperti tak dapat dihindarkan, terlanjur pongah.

Faldo mewakili partai besar PAN. Salah satu seterunya adalah PSI. Melawan PSI, ia tampil sebagai sosok anak muda dari partai yang sudah berkarat. Pertarungan itu jadi tampak seakan-akan pertarungan sesama anak muda. Tapi, sebenarnya tidak.

Faldo memang berusia muda, tapi pandangan-pandangan yang ia wakili dalam kontestasi politik di Pilpres kemarin hanya pandangan kadaluarsa kaum tua. Apa yang disampaikan Faldo, termasuk kepongahannya, tak ada bedanya dengan cara berpikir tukang pelintir terbaik yang dipunyai partai sekutunya—mulai dari Andre Rosiade hingga Fahri Hamzah, dari Fadli Zon hingga Mardani Ali dan seterusnya.

Puncaknya dapat dilihat ketika kampanye akbar Prabowo-Sandi di Padang, Faldo tampil sebagai provokator yang dengan bangga dan pongah melontarkan seru-seruan cacat logika, bahkan bias agama dan ras.

Bukankah wajar saja Faldo bicara sesuai kehendak sekutunya? Tentu saja. Sebagai bagian dari partai besar di suatu kubu, tentu disiplin partai ataupun etika persekutuan menghendaki agar Faldo melakukan serangan yang  menguntungkan bagi kelompok.

Tapi, masalahnya, sebagai anak muda yang sebenarnya ia bisa melakukan lebih banyak, perannya di PAN hanya sebagai “tukang sorak” belaka. Lebih parahnya, yang disorakkan Faldo dalam kampanye di Pilpres toh bukan barang bagus, hanya gaya kampanye lama dari partainya dan partai sekutunya. Seperti sebuah ungkapan Minangkabau, dek sorak rang panggaleh, kain buruak tajua maha, Faldo menyia-nyiakan citra anak muda pada dirinya hanya untuk “menjual kain buruk” itu, dengan harapan dapat melaju ke DPR RI.

Toh, hasilnya kita tahu: tukang sorak kita ini gagal menaikkan dagu ke Senayan. Lagi-lagi, seperti ungkapan Minangkabau, Faldo hanya manjunjuang padi hampo—badan panek hasil tak ado. Dengan kata lain, citra anak muda Faldo itu tak berguna apa-apa di PAN atau kubunya waktu itu selain hanya sebagai alat saja.

Kalau boleh disebut sebagai “kesalahan”, maka kesalahan terbesar Faldo adalah memulai karir politiknya dengan ambisi yang terlalu instan: bergabung di PAN dan begitu cepat menjadi Wasekjen. Hanya jadi tukang sorak di partai besar, tak akan menjamin untuk cepat-cepat jadi anggota DPR.

Kalau memang Faldo memang pindah ke PSI, barangkali lebih baik. Toh dalam beberapa kali debat dengan PSI, Faldo tak sekali duakali secara tak sadar nyaman dengan gaya komunikasi PSI. Ia kadang tampak merasa jiwanya ada di PSI, hanya saja posisi di PAN membuatnya harus kembali memakai topengnya. Semestinya ia sudah sadar sejak awal, masuk di partai besar dan hanya menjadi “tukang sorak” saja, sekalipun dengan jabatan Wasekjen, tentu tidak akan memuaskan baginya sebagai anak muda yang “ingin mencoba banyak hal”.

Namun begitu, saya kira, PSI juga tetap harus menjaga kekritisannya. Rekam-jejak Faldo Maldini dengan segala pernyataan “berbahaya”nya dalam kampanye, jangan dipandang sebagai “manuver politik saja”. Jangan sampai atas nama manuver politik, kita malah membenarkan tindakan-tindakan yang justru harus kita lawan. Bagaimanapun juga, Faldo tidak sekali duakali membenarkan tindakan bias agama dan ras dari kubu lamanya. PSI harus kritis melihat Faldo. Jangan hanya mengandalkan citra “public figure” saja.

Kini, kalau memang benar, Faldo kabarnya akan bertarung di Pilgub Sumatra Barat dengan dukungan PSI. Itu ide yang bagus bila Sumatra Barat yang kacau itu dipimpin anak muda. Tapi, untuk Faldo, saya hanya berharap agar ia lebih banyak menahan diri daripada mengikuti ambisi purbanya tersebut.

Tentu, tak ada yang salah bila ia ingin berkarir di politik, hanya saja sebaiknya ia lebih banyak “berkeringat bersama rakyat” terlebih dahulu dalam pengertian harfiah dan bukan dalam pengertian ala para politikus dari partai lama atau partai baru, yang kedekatannya bersama rakyat hanya mengandalkan program acara partai—yang memang jelas-jelas bisa mendatangkan banyak orang. Faldo sebaiknya menjadi “pisang yang masak di batang dan bukan pisang yang masak karena diperam”. Jangan terlalu nyaman jadi “public figure”, Bro!

Keringat rakyat yang harus dirasakan Faldo adalah bukanlah dari rakyat yang didatangkan karena acara, tapi rakyat dalam kesehariannya, tanpa “dalam rangka” baik itu kunjungan, blusukan, atau semacamnya.

Sebagai anak muda dalam dunia politik, Faldo lebih baik memperbanyak bersikap rendah hati untuk tidak tahu apa-apa tentang rakyat dan kemudian memilih bergelimang bersama rakyat, daripada begitu percaya diri akan mewakili rakyat di parlemen atau menjadi pemimpin rakyat di sebuah provinsi seperti Sumatra Barat.

Kita butuh SUMangaik BARu, tapi jangan yang SUMBARang kanai. Kalau memang Faldo akhirnya di PSI, ia harus berani mengoreksi dirinya semasa jadi tukang sorak dulu: Jangan lagi kampanye gaya SUMBAR (Serangan Untuk Musuh Bias Agama dan Ras).

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pancasila dan Demokrasi Kita Hari Ini

Perjalanan demokrasi di Indonesia tidak selamanya sejalan dengan ideologi negara kita, Pancasila. Legitimasi Pancasila secara tegas tercermin dalam Undang-Undang Dasar 1945, dan difungsikan sebagai...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Lebih Baik Dituduh PKI daripada PKS

Ini sebenarnya pilihan yang konyol. Tetapi, ketika harus memilih antara dituduh sebagai (kader, pendukung/simpatisan) Partai Komunis Indonesia (PKI) atau Partai Keadilan Sejahtera (PKS), maka...

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.