OUR NETWORK

Kritik untuk Faldo Maldini

Faldo hanya manjunjuang padi hampo—badan panek hasil tak ado.

Di koran Haluan edisi 18 September 2019 terpampang iklan Faldo Maldini dengan latar belakang logo Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Saya mendapatkan informasi bahwa iklan politik itu bagian dari rencananya untuk ikut bertarung di Pemilihan Gubernur Sumatra Barat. Faldo mungkin sedang cek ombak saja. Atau mungkin telah lebih dari itu.

Kemunculan Faldo Maldini dengan logo PSI cukup mengejutkan—walaupun itu tidak aneh dalam politik kita yang penuh kutu loncat bertopeng peduli rakyat. Dalam silang-sengkarut pertarungan juru bicara masing-masing partai dalam Pemilihan Presiden lalu, Faldo memang kerapkali tampil sangat lantang, percaya diri, dan, seperti tak dapat dihindarkan, terlanjur pongah.

Faldo mewakili partai besar PAN. Salah satu seterunya adalah PSI. Melawan PSI, ia tampil sebagai sosok anak muda dari partai yang sudah berkarat. Pertarungan itu jadi tampak seakan-akan pertarungan sesama anak muda. Tapi, sebenarnya tidak.

Faldo memang berusia muda, tapi pandangan-pandangan yang ia wakili dalam kontestasi politik di Pilpres kemarin hanya pandangan kadaluarsa kaum tua. Apa yang disampaikan Faldo, termasuk kepongahannya, tak ada bedanya dengan cara berpikir tukang pelintir terbaik yang dipunyai partai sekutunya—mulai dari Andre Rosiade hingga Fahri Hamzah, dari Fadli Zon hingga Mardani Ali dan seterusnya.

Puncaknya dapat dilihat ketika kampanye akbar Prabowo-Sandi di Padang, Faldo tampil sebagai provokator yang dengan bangga dan pongah melontarkan seru-seruan cacat logika, bahkan bias agama dan ras.

Bukankah wajar saja Faldo bicara sesuai kehendak sekutunya? Tentu saja. Sebagai bagian dari partai besar di suatu kubu, tentu disiplin partai ataupun etika persekutuan menghendaki agar Faldo melakukan serangan yang  menguntungkan bagi kelompok.

Tapi, masalahnya, sebagai anak muda yang sebenarnya ia bisa melakukan lebih banyak, perannya di PAN hanya sebagai “tukang sorak” belaka. Lebih parahnya, yang disorakkan Faldo dalam kampanye di Pilpres toh bukan barang bagus, hanya gaya kampanye lama dari partainya dan partai sekutunya. Seperti sebuah ungkapan Minangkabau, dek sorak rang panggaleh, kain buruak tajua maha, Faldo menyia-nyiakan citra anak muda pada dirinya hanya untuk “menjual kain buruk” itu, dengan harapan dapat melaju ke DPR RI.

Toh, hasilnya kita tahu: tukang sorak kita ini gagal menaikkan dagu ke Senayan. Lagi-lagi, seperti ungkapan Minangkabau, Faldo hanya manjunjuang padi hampo—badan panek hasil tak ado. Dengan kata lain, citra anak muda Faldo itu tak berguna apa-apa di PAN atau kubunya waktu itu selain hanya sebagai alat saja.

Kalau boleh disebut sebagai “kesalahan”, maka kesalahan terbesar Faldo adalah memulai karir politiknya dengan ambisi yang terlalu instan: bergabung di PAN dan begitu cepat menjadi Wasekjen. Hanya jadi tukang sorak di partai besar, tak akan menjamin untuk cepat-cepat jadi anggota DPR.

Kalau memang Faldo memang pindah ke PSI, barangkali lebih baik. Toh dalam beberapa kali debat dengan PSI, Faldo tak sekali duakali secara tak sadar nyaman dengan gaya komunikasi PSI. Ia kadang tampak merasa jiwanya ada di PSI, hanya saja posisi di PAN membuatnya harus kembali memakai topengnya. Semestinya ia sudah sadar sejak awal, masuk di partai besar dan hanya menjadi “tukang sorak” saja, sekalipun dengan jabatan Wasekjen, tentu tidak akan memuaskan baginya sebagai anak muda yang “ingin mencoba banyak hal”.

Namun begitu, saya kira, PSI juga tetap harus menjaga kekritisannya. Rekam-jejak Faldo Maldini dengan segala pernyataan “berbahaya”nya dalam kampanye, jangan dipandang sebagai “manuver politik saja”. Jangan sampai atas nama manuver politik, kita malah membenarkan tindakan-tindakan yang justru harus kita lawan. Bagaimanapun juga, Faldo tidak sekali duakali membenarkan tindakan bias agama dan ras dari kubu lamanya. PSI harus kritis melihat Faldo. Jangan hanya mengandalkan citra “public figure” saja.

Kini, kalau memang benar, Faldo kabarnya akan bertarung di Pilgub Sumatra Barat dengan dukungan PSI. Itu ide yang bagus bila Sumatra Barat yang kacau itu dipimpin anak muda. Tapi, untuk Faldo, saya hanya berharap agar ia lebih banyak menahan diri daripada mengikuti ambisi purbanya tersebut.

Tentu, tak ada yang salah bila ia ingin berkarir di politik, hanya saja sebaiknya ia lebih banyak “berkeringat bersama rakyat” terlebih dahulu dalam pengertian harfiah dan bukan dalam pengertian ala para politikus dari partai lama atau partai baru, yang kedekatannya bersama rakyat hanya mengandalkan program acara partai—yang memang jelas-jelas bisa mendatangkan banyak orang. Faldo sebaiknya menjadi “pisang yang masak di batang dan bukan pisang yang masak karena diperam”. Jangan terlalu nyaman jadi “public figure”, Bro!

Keringat rakyat yang harus dirasakan Faldo adalah bukanlah dari rakyat yang didatangkan karena acara, tapi rakyat dalam kesehariannya, tanpa “dalam rangka” baik itu kunjungan, blusukan, atau semacamnya.

Sebagai anak muda dalam dunia politik, Faldo lebih baik memperbanyak bersikap rendah hati untuk tidak tahu apa-apa tentang rakyat dan kemudian memilih bergelimang bersama rakyat, daripada begitu percaya diri akan mewakili rakyat di parlemen atau menjadi pemimpin rakyat di sebuah provinsi seperti Sumatra Barat.

Kita butuh SUMangaik BARu, tapi jangan yang SUMBARang kanai. Kalau memang Faldo akhirnya di PSI, ia harus berani mengoreksi dirinya semasa jadi tukang sorak dulu: Jangan lagi kampanye gaya SUMBAR (Serangan Untuk Musuh Bias Agama dan Ras).

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…