OUR NETWORK

Konvensi PSI dan Disrupsi Politik

Tiap partai tentu punya cara masing-masing, tetapi saya melihat apa yang dilakukan PSI sejauh ini mewakili semangat zaman anak-anak muda kita.

Hari ini dan besok, saya diundang menjadi panelis independen, non-partai, untuk konvensi proses nominasi calon walikota yang akan dicalonkan oleh Partai Solidaritas Indonesia (PSI), untuk pemilihan kepala daerah (Pilkada) di kota Tangerang Selatan (Tangsel) dan kota Surabaya.

Konvenis ini dimulai dari pagi hingga sore, “menguji” total 18 calon untuk Tangsel, dan besok (Minggu, 19 Januari 2019), juga dari pagi, 14 calon untuk kota Surabaya. Panelis penguji independen di antaranya ada Mba Mari Elka Pangestu, ekonom Faisal Basri, Abdillah Toha, Bibit Samad mantan komisioner KPK, sineas Ernest Prakasa yang rupanya adalah sesama lulusan Hubungan Internasioan (HI) Universitas Padjajaran (Unpad), juga ada Sulfikar Amir yang mengajar di NTU Singapura, dan juga Djayadi Hanan dan beberapa lainnya.

Terhadap metoda konvensi, saya berpandangan sejak lama bahwa ini adalah langkah kecil yang penting untuk mengirim pesan bahwa kita harus mendekatkan partai politik dengan potensi leadership dari masyarakat. Sebelum ini, PSI sudah memberi contoh baik dengan melakukan wawancara terbuka untuk penentuan caleg mereka dalam pemilu 2019 lalu.

Dulu yang memulai konvensi adalah Partai Golkar, dengan segala kekisruhannya termasuk soal uang. Dilanjutkan dengan Partai Demokrat tahun 2013 yang sedikit banyak melakukannya karena ada preseden dari Golkar itu, memperbaiki, namun juga tetap dengan berbagai kelemahannya.

Saya rasa PSI menaikkan lagi level of the game konvensi ini, karena mereka melakukannya dengan cara lebih metodis dan jauh lebih transparan.

Karena pekerjaan, tentu saya mengobservasi bagaimana partai politik dan politisi bekerja; hari ini saya melihat sesuatu yang amat menyegarkan. Para calon tadi menyampaikan gagasan yang kaya, khas anak muda yang optimis, segar dan cerdas. Mereka mengidentifikasi masalah, memformulasi solusi yang sebagian di antara mereka sudah menjalankannya dalam kapasitas masing-masing. Problem teknokratis mereka piawai memahaminya.

Saya sendiri sudah beberapa waktu ini berkeyakinan, yang harus kita dorong adalah menjadikan kepala-kepala daerah kita menjadi sumber rekrutmen kepemimpinan nasional, apalagi yang muda-muda. Buah program otonomi daerah salah satunya adalah ia bisa melahirkan kepala-kepala daerah yang baik. Hari ini belum banyak, tetapi bila kita konsisten meneruskannya, saya merasa kita berada dalam track yang benar.

Apalagi hari ini kita di Indonesia, dan juga dunia, menghadapi persoalan berjenis urban dan teknokratik: perubahan iklim, banjir, longsor, bencana alam, man-made disaster ataupun natural disaster, kesehatan, penyakit menular, pendidikan, public service delivery dan semacamnya. Kepala daerah adalah garda paling depan dalam menghadapi persoalan-persoalan teknokratik ini. Jangan lupa, soal teknokratik ini adalah soal bersama, tidak peduli apa etnis atau agama kita. Karena itu harus dihadapi bersama.

Maka hari ini menyenangkan dan membangkitkan harapan, mendengar dan melihat bagaimana para calon kandidat dalam konvensi PSI ini bicara mengenai penanganan sampah, perawatan jalan raya, pelayanan kesehatan, pendidikan, gizi, regulasi daerah, banjir, masalah lalu lintas, dan semacamnya.

Konvensi dilakukan live streaming, publik bisa mengikuti bagaimana proses berlangsung. Dan terutama, sebagai panelis independen non-partai, saya merasa ada sedikit harapan bahwa partai, seperti yang dilakukan PSI ini, mau membuka proses rekrutmen dengan pengukuran yang transparan dan berbasis meritokrasi.

Tiap partai tentu punya cara masing-masing, tetapi saya melihat apa yang dilakukan PSI sejauh ini mewakili semangat zaman anak-anak muda kita.

PSI tidak lolos threshold di tingkat nasional, tapi di daerah mereka punya kursi di DPRD. Di kota Tangsel ada 4 kursi, di kota Surabaya ada 4 kursi. Juga di DKI Jakarta. Sepanjang yang saya amati, di DPRD-DPRD ini para politisi muda PSI sudah melakukan apa yang disebut Schumpeter sebagai creative destruction, disrupsi kreatif, melawan cara politik lama yang kuno dan seringkali intimidatif.

Semoga mereka akan konsisten, dan semoga dapat mendorong partai lain melakukan rekrutmen terbuka. Kalau itu yang terjadi di antara partai-partai, yang akan untung adalah para pemilih, seperti Anda dan saya juga.

Philips J Vermonte
Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies (CSIS)

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…