Minggu, Februari 28, 2021

Kongres PAN, Pemilu 2024, dan Era Teknopolitik

UU ITE, Hak untuk Dilupakan, dan Hak Publik atas Informasi

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) hasil perubahan telah resmi berlaku kemarin (28 November 2016). Di dalam perubahannya, salah...

Charlie Hebdo, Emmanuel Macron, dan Kartun Nabi Muhammad

Majalah satir Charlie Hebdo (CH) yang berkantor di Paris kembali membuat panas dunia. CH merilis kartun Nabi Muhammad untuk edisi awal September 2020. Padahal...

Siapa yang Sah Mewakili Teknokrat? [Catatan untuk Goenawan Mohamad]

Pada 25 September 1971, ketika majalah Tempo baru terbit pada tahun pertama, dan usia rezim Soeharto masih seumur jagung, jurnalis dan sastrawan muda Goenawan...

Parkir Syariah van Depok dan Agamaisasi Layanan Publik

Kebijakan Pemerintah Kota Depok yang memisahkan tempat parkir laki-laki dan perempuan mengundang kontroversi. Menurut Kepala Dinas Perhubungan Kota Depok Dadang Wahana, keberadaan tempat parkir...
Ali Rif'an
Direktur Eksekutif Arus Survei Indonesia

Usai PDI Perjuangan dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menggelar musyawarah akbar Agustus 2019 lalu, kini giliran Partai Amanat Nasional (PAN) akan mengadakan kongres partai pada 2020 mendatang. Kendati akan berlangsung tahun depan, kasak-kusuk siapa nahkoda baru partai berlambang matahari tersebut mulai hangat diperbincangkan.

Dalam beberapa waktu terakhir, setidaknya muncul tiga nama yang diisukan menjadi bursa ketua umum PAN. Mereka adalah mantan calon wakil presiden 2019, Sandiaga Uno; Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan; dan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn.) Gatot Nurmantyo.

Dalam konteks politik elektoral, munculnya nama-nama baru yang cukup populer sebagai penantang Zulkifli Hasan tentu dapat dipahami, kendati masih tetap harus diuji bagaimana reliabilitasnya. Sebab, mengutip Diamond dan Gunther (2001), tipologi partai politik di Indonesia kebanyakan berkategori electoralist. Artinya, partai selalu punya tujuan ingin menang dalam pemilu.

Ada tiga subtipe dalam partai electoralist. Pertama, tipe catchall (sapu jagat), yakni partai yang berusaha mendapatkan suara pemilih melalui daya tarik isu yang luas dan beragam. Kedua, tipe programmatic, yakni partai yang berupaya merengkuh suara melalui penyampaian daya tarik program atau ideologi. Ketiga, tipe personalistis, yaitu partai yang merengkuh suara pemilih dengan menonjolkan kharisma pribadi pemimpin partai (Mujani, Liddle, dan Ambardi, 2019: 40).

Artinya, posisi ketua umum punya magnet tersendiri untuk mendongkrak perolehan suara partai.  Pasalnya, dalam perilaku pemilih kita, figure ID jauh lebih kuat ketimbang party ID. Untuk menaikkan suara partai, dibutuhkan figur yang kuat. Apalagi kalau figur tersebut sekaligus bisa manjadi calon presiden ataupun calon wakil presiden, maka bisa mendatangkan efek ekor jas (coat-tail effect) di kontestasi 2024 mendatang.

Itulah yang menjelaskan mengapa misalnya PDI Perjuangan menetapkan kembali Megawati Soekarnoputri ketua umum partai dan PKB memilih kembali A. Muhaimin Iskandar sebagai nahkoda partai. Hal itu karena ketokohan dua figur tersebut—baik Megawati maupun Gus AMI (sapaan terbaru A Muhaimin Iskandar)—dinilai mampu membawa partai meraih sukses besar.

Ketokohan Megawati dinilai telah sukses membawa partai berlambang banteng menjadi satu-satunya partai pasca-reformasi yang menang dua kali berturut-turut dalam pemilu. Sedangkan ketokohan Gus AMI—dengan strategi mendeklarasikan diri sebaga bakal cawapres 2019—berhasil membawa PKB jadi pemenang nomor empat (9,69%) pada Pemilu 2019 dan berhasil mendapatkan 58 kursi, sebuah perolehan kursi terbanyak dalam sejarah berdirinya PKB.

Meski begitu, di tengah gelombang penetrasi teknologi digital (new media) yang begitu dahsyat, tantangan partai politik dalam menghadapi kontestasi elektoral 2024 mendatang tidaklah ringan. Tidak cukup hanya mengandalkan kharisma dan ketokohan (figur) ketua umum. Parpol perlu punya strategi baru yang adaptif-responsif dalam menghadapi tantangan zaman. Apalagi parpol saat ini dihadapkan pada era teknopolitik (technopolitic).

Era Teknopolitik

Mengutip Victor Sampredo dalam Introduction: New Trends and Challenges in Political Communication (2011), era technopolitic dapat dimaknai sebagai fenomena meleburnya antara teknologi dan politik. Di era teknopolitik, wajah politik telah berubah. Pola-pola mendekati pemilih secara konvensional seperti pengerahan massa serta pemasangan baliho dan spanduk kini mulai bergeser. Pendekatan berbasis massa bergeser menjadi berbasis personal. Kampanye akbar jadi kampanye ke rumah-rumah (door to door campaign), sementara kampanye di media massa mulai bergeser ke media sosial.

Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pengguna internet di Indonesia mencapai 143,26 juta orang dan pengguna media sosial sekitar 130 juta orang. Ini artinya, media sosial punya pengaruh penting dalam kerja-kerja politik. Apalagi, sebagai media yang punya sarana chatting dan komentar, media sosial cenderung menghadirkan interaksi yang dialogis (dua arah), sehingga mampu membentuk relasi sosial yang kuat antara politisi dan pemilih.

Sebagai contoh, untuk mendekati seorang pemilih, misalnya, partai politik saat ini perlu mengadopsi strategi baru bernama microtargeting (penargetan spesifik). Microtargeting membantu partai politik untuk fokus dan memberi perhatian pada isu-isu yang dianggap dapat mendongkrak suara. Di sini pesan dalam kampanye menyesuaikan pemilih. Setiap pemilih disediakan pesan kampanye yang berbeda-beda. Misalnya siapa yang menjadi target, isunya apa, termasuk siapa saja yang prioritas didekati dan mana saja yang harus dihindari.

Tentu pendekatan kampanye berbasis personal melalui big data ini jauh lebih efektif dan efisien ketimbang melakukan kampanye terbuka yang targetnya tidak spesifik. Selain itu, pendekatan microtargeting ini juga efektif untuk menggaet pemilih milenial. Ini penting mengingat jumlah pemilih milenial pada Pemilu 2024 diprediksi akan dominan. Jika pada Pemilu 2019 lalu jumlah pemilih milenial mencapai hampir sekitar 40%, maka di Pemilu 2024 angkanya dipastikan lebih banyak lagi.

Pemilih milenial merupakan generasi yang tak terpisahkan dari teknologi seperti ponsel pintar, tablet, laptop, dan komputer. Mayoritas mereka pengguna media sosial dan melek informasi. Data survei CSIS (2017) menyebutkan bahwa generasi milenial adalah pengguna Facebook (81,7%), WhatsApp (70,3%), dan Instagram (54,7%).

Akhirnya, kita berharap partai politik tidak melulu mengandalkan figur untuk menaikkan perolehan suara. Cara ini belum tentu efektif untuk Pemilu 2024 mendatang. Sudah saatnya partai punya kesadaran teknopolitik dengan mengubah cara dan strategi dalam mendekati pemilih. Sebab, cara-cara status quo secara pelan namun pasti makin kurang relevan. Partai politik yang tidak adaptif dengan perkembangan zaman akan segera “ketinggalan kereta”.

Bacaan terkait

Populisme Islam, Ancaman Politik Etnis, dan Manuver 2024

Akrobat Berebut Kursi: Megawati-Prabowo dan Anies-Paloh

Narasi Populisme Anies Baswedan yang Gabener

Sepak Terjang Kekuatan Oposisi Menuju 2024

Ketika Regenerasi Politik Kita Terancam Oligarki

Ali Rif'an
Direktur Eksekutif Arus Survei Indonesia
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Terlalu Jauh Menjadikan 4 Nakes Penista Agama

Kasus Pemantang Siantar sungguh membuat kita semua kaget. Empat petugas kesehatan (Nakes) digugat oleh seorang suami yang istrinya meninggal karena Covid-19. Empat petugas kesehatan...

Jurnalisme Copy-Paste

Jurnalisme copy-paste adalah pekerjaan mengumpulkan, mencari dan menulis berita dengan menggunakan teknik salin menyalin saja. Seperti ambil berita di media lain atau dapat dari...

Robert Morey dan Orientalisme yang Melapuk

Orientalisme adalah satu diskursus ketimuran, yang bercokol pada kajian-kajian Barat dalam menginterpretasikan khazanah Timur—khususnya Islam. Pada kajian ini Islam dipandangan dalam objektifikasi Barat, namun...

Generasi Muda di Antara Agama dan Budaya

Oleh: Bernadien Pramudita Tantya K, SMA Santa Ursula Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Indonesia adalah negara yang kaya akan bahasa, budaya,...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jurnalisme Copy-Paste

Jurnalisme copy-paste adalah pekerjaan mengumpulkan, mencari dan menulis berita dengan menggunakan teknik salin menyalin saja. Seperti ambil berita di media lain atau dapat dari...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.