in ,

DEEPWATER: Komitmen Dangkal dan Kisah Horor di Teluk Meksiko


deepwater

Ketika mengetahui bahwa kisah bencana tumpahan minyak di Teluk Meksiko sedang difilmkan pada akhir 2014, saya harap-harap cemas menunggu hasilnya. Deepwater Horizon, begitu judul filmnya, merupakan nama dari anjungan minyak itu. Pertanyaan pertama yang paling berkecamuk adalah sudut pandang yang mana yang akan dipergunakan oleh para sineas yang membesutnya.

Sebagai orang yang pernah bekerja di British Petroleum (BP) dan terus mengurusi aspek lingkungan (dan sosial) industri ekstraktif hingga sekarang, saya benar-benar ingin tahu.

Karena punya segudang referensi ilmiah tentang kejadian mengerikan yang terjadi mulai pukul 9:45 malam tanggal 20 April 2010 itu, saya membayangkan bahwa film itu bisa dibuat dari beragam sudut pandang.

Bisa saja film ini melihat dari siapa yang sesungguhnya bersalah menurut regulasi akuntabilitas (Mills dan Koliba, 2015), upaya mempertahankan reputasi yang ternoda dengan beragam tindakan perbaikan (Smithson dan Venette, 2013), pemberian kompensasi atas kerusakan lingkungan dan kerugian masyarakat (Harlow dan Harlow, 2013), relatif longgarnya kebijakan publik soal operasi minyak di laut dalam (Kurtz, 2013), apa yang dilakukan di masa depan untuk memastikan masyarakat dan lingkungan terlindungi (Konopka, 2013), masalah hubungan dalam tata kelola perusahaan yang menyebabkan bencana itu (Neill dan Morris, 2012), atau penanganan krisis, termasuk komunikasinya (Diers dan Donohue, 2012).

Jadilah penyakit terlalu banyak membaca menghinggapi benak ini. Saya membayangkan akan melihat sebuah film drama semidokumenter dari salah satu atau lebih sudut pandang itu. Tetapi, ketika akhirnya film itu tayang dan saya menontonnya, lalu mendapati bahwa tema-tema berat itu bukanlah yang dipilih, saya sama sekali tidak keberaratan. Ini adalah film yang baik, walau saya tahu akan mengundang cukup banyak pihak untuk bakal berkomentar sebaliknya.

Peter Berg, sutradara film ini, punya reputasi yang belum bisa disejajarkan dengan para sutradara idola saya. Very Bad Things (1998) dan The Rundown (2003) adalah film komedi yang biasa saja. Saya belum menonton Friday Night Lights (2004) yang merupakan film olahraga yang banyak dipuji.

The Kingdom (2007) adalah film laga terorisme yang lumayan menegangkan, sementara Hancock (2008) yang menggabungkan genre superhero dan komedi sangat saya sukai. Tahun 2012 ada dua filmnya yang diputar, Battleship dan Lone Survivor. Keduanya ditaburi para bintang, namun nasibnya sangat berbeda. Menurut ingatan saya, Battleship adalah film bergenre alien yang sangat biasa, dan terlampau ‘Hollywood’. Sementara, Lone Survivor adalah film perang yang apik.

Mark Wahlberg sendiri, bintang utama di Deepwater Horizon adalah juga bintang utama di Lone Survivor. Jadi, ini adalah kerjasama kedua Berg dan Wahlberg, dan sudah ada dua lagi ke depan yang dipastikan. Dia bukan aktor yang terus-menerus menuai pujian. Perannya di dua film komedi Ted (2012) dan Ted 2 (2015) bisa dibilang garing.

Di tengah-tengah para bintang yang bersinar terang di The Fighter (2010), dia tampak menjadi biasa. Tapi, saya sangat menyukai aktingnya di The Perfect Storm (2000) dan Planet of The Apes (2001), Rock Star (2001), I Love Huckabees (2004), dan tentu saja Lone Survivor. Puncak aktingnya mungkin ada di Boogie Nights (1997) ketika dia memperoleh Satellite Award untuk aktor terbaik, serta di The Departed (2006), di mana para juri Oscar memberinya nominasi peran pembantu terbaik di film besutan Martin Scorsese itu.

Wahlberg, menurut saya, selalu berhasil ketika dia memerankan orang biasa namun harus melakukan tindakan luar biasa dalam kondisi yang memaksanya. Persis seperti yang dia mainkan di film ini. Dia berperan sebagai Mike Williams, penanggung jawab peralatan di Transocean, kontraktor BP, yang menyampaikan bahwa ada banyak sekali permasalahan di peralatan yang dipergunakan di proyek konstruksi menjelang eksploitasi itu. Dia bekerja untuk pimpinan Transocean, Jimmy “Mr. Jimmy” Harrell, yang diperankan dengan sangat kuat oleh Kurt Russell.


Transocean, pada saat peristiwa mengerikan itu terjadi, baru saja menerima penghargaan keselamatan kerja yang kelima dalam lima tahun berturut. Berg melakukan penyuntingan yang sangat efektif untuk menyampaikan pesan bahwa BP adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas kejadian itu.

Mr. Jimmy dan Mike Williams menyampaikan protes keras kepada perwakilan BP yang ada di anjungan tersebut karena Slumberger, kontraktor yang mengerjakan pemasangan instalasi bawah lautnya, dibebaskan dari keharusan untuk menguji semen yang menjadi pengaman instalasi. Setelah protes disampaikan, adegan berpindah ke pesta penyambutan atas penghargaan itu. Kesan kuat bahwa Transocean sangat memperhatikan keselamatan menjadi kuat.

Kalau keputusan hukum tetap atas kejadian itu kita baca, sesungguhnya kesan itu tak tepat benar. Memang benar bahwa “profit-driven decisions” yang diambil BP merupakan kesalahan paling besar, menurut keputusan setebal 153 halaman itu. Tetapi, keputusan yang diambil BP—menurut Mr. Jimmy dalam film, pengujian semen yang tidak dilakukan membuat penghematan US$125.000 saja, dan itu sesungguhnya adalah keputusan murahan yang diambil oleh perusahaan yang ketika itu bernilai US$186 miliar—tidaklah satu-satunya pihak yang salah.

BP punya kesalahan 67% di situ, Transocean dinyatakan bersalah 30%, sementara Halliburton (di film tak ditunjukkan, namun sesungguhnya Slumberger adalah subkontraktor mereka) bersalah 3% saja. Bagaimanapun, ini menggambarkan komitmen yang dangkal dalam keamanan dan keselamatan kerja.

Keputusan berhemat seperdelapan juta dolar itulah yang di antaranya kemudian membuat BP—lantaran persentase kesalahan yang dibuat oleh pengadilan federal AS—harus membayar US$17,6 miliar di bawah Clean Water Act. Secara total, BP memperkirakan kehilangan uang untuk menyelesaikan seluruh labilitasnya sebesar US$42 miliar, sebagaimana yang disampaikan BP kepada The Guardian pada awal September 2014.

Clean Water Act sendiri menegaskan bahwa setiap barel minyak yang tumpah, dendanya bisa antara US$1.100-4.300. Sementara, minyak yang tertumpah akibat peristiwa yang berlangsung 87 hari itu, menurut perkiraan para pakar AS, adalah 4,2 juta barel, alias 666 juta liter.

Perselisihan tentang cara berhemat yang konyol itulah yang menjadi salah satu bagian terpenting dari film. Film ini tidak beranjak jauh dari hari pertama bencana, jadi pembicaraan soal konsekuensi di atas itu tidak eksis di film, namun asal mulanya masalahnya digambarkan dengan sangat baik.

Kalau Transocean punya Harrell dan Williams, BP punya Donald Vidrine, yang dimainkan secara sangat brilian oleh John Malkovich (siapa yang pernah melihat Malkovich gagal memerankan tokoh antagonis?). Mereka berdebat sangat keras soal prosedur keamanan dan keselamatan.

Vidrine bukan saja tak merasa bersalah dalam mengambil keputusan “paket hemat” itu, dia mengajukan solusi yang “masuk akal”, yaitu pengujian tekanan. Ketika pengujian pertama gagal, karena indikatornya menunjukkan tekanan jauh di atas ambang aman, dia berkilah bahwa kemungkinan pembacaannyalah yang gagal. Mengapa dalihnya bisa diterima? Lantaran tak ada lumpur yang naik. Ketika pembacaan bagian berikutnya menunjukkan tekanan nol, rasa percaya diri memuncak, menganggap eksploitasi bisa segera terwujud.

Tetapi, sebagaimana yang tercatat dalam dokumen investigasi maupun yang digambarkan dalam film itu, tafsir optimistik atas apa yang sebetulnya terjadi itu ternyata salah. Lumpur segera menyeruak naik, bahkan didahului oleh minyak. Ledakan tak terhindarkan, dan memorakporandakan seluruh anjungan. Dalam dua hari anjungan itu terbakar hebat, dan persis pada Hari Bumi tanggal 22 April 2010, anjungan itu lenyap ditelan laut dalam Teluk Meksiko.

Film ini menghabiskan sekitar satu jam untuk membangun cerita yang sebagiannya mungkin akan diangap tak penting. Cerita keluarga Williams—dengan Kate Hudson sebagai Felicia, sang istri, dan Stella Allen, sebagai Sydney, putri mereka yang cerdas—menempati porsi paling banyak, sebelum adegan berpindah ke perjalanan darat dan udara, dengan helikopter, ke anjungan.

Adegan bersama istri dan putrinya memberi pertanda tentang adanya kejadian tak mengenakkan yang bakal menimpa. Di tempat sebelum terbang, ada pembicaraan tentang warna dasi yang dianggap tabu untuk dikenakan. Demikian juga sebuah kejadian di udara. Penonton sudah diarahkan kepada kelanjutan yang tak mengenakkan.

Tentu, ketegangan terus dibangun dengan sangat efektif selama di anjungan. Tetapi, saya kira semua penonton merasa demikian, tak ada hal yang bisa menyiapkan mental kita semua dalam menyaksikan kengerian adegan-adegan kecelakaan itu sendiri. Berg adalah sutradara yang benar-benar terampil menghadirkan kengerian itu. Dan, dia juga sangat berhasil menyuguhkan kepahlawanan orang-orang biasa, yang mati-matian membantu rekan, termasuk salah seorang yang menahan crane agar tidak menimpa semua orang yang hendak meraih sekoci menuju keselamatan.

Williams sendiri punya jasa besar. Dia menyelamatkan Mr. Jimmy, membantu rekan lain yang terjebak dan terjepit kakinya, mengatur pemindahan orang ke sekoci, dan menyalakan listrik untuk memastikan bahwa ledakan tidak menjadi lebih berbahaya lagi. Terakhir, dia jugalah yang menyelamatkan rekannya, satu-satunya perempuan di anjungan itu, Andrea Fleytas—diperankan oleh bintang Latin, Gina Rodriguez—lewat tindakan yang ekstrem. Siapa pun yang mengetahui apa yang telah dilakukan Williams akan menyatakan dia adalah pahlawannya.

Saya puas menonton film ini, dan mau menganjurkan siapa pun yang tertarik dengan kinerja lingkungan industri migas dan industri ekstraktif lainnya untuk menonton. Kita bisa belajar banyak tentang kecerobohan korporasi lewat film ini. Walaupun demikian, saya tetap menginginkan sisi yang lain dari peristiwa ini juga bisa diungkap. Mungkin oleh para sineas yang lain lagi.

Kalau sebuah artikel pendek di New York Times (25/12 2010) bertajuk “Deepwater Horizon’s Final Hours” bisa menghasilkan bahan untuk film bagus ini, saya yakin buku terbaik tentang kejadian itu, Fire on the Horizon: The Untold Story of the Gulf Oil Disaster (Konrad dan Shroder, 2011) akan bisa jadi skenario yang lebih dahsyat lagi.


Written by Jalal

Jalal

Reader on Corporate Governance and Political Ecology
Thamrin School of Climate Change and Sustainability, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR