Senin, Januari 25, 2021

Komentar Bebal Denny Siregar Soal Papua

Impunitas di Tengah Pandemi

Presiden Joko Widodo telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Penanganan Pandemi Corona Virus Disease...

Ancaman Global ISIS di Indonesia

Terorisme Beirut-Paris adalah bagian pementasan panjang Islamic State (IS) yang diakhiri dua babak kontras: satu dilakukan pada pengungsi Palestina dan Syiah di Beirut (12/11),...

Negara dan Etika yang Terabaikan

Manusia (rakyat) membutuhkan negara, dan negara membutuhkan rakyat. Antara keduanya terdapat jalinan yang diatur dengan etika tertentu sehingga terjalin hubungan simbiosis mutualistis. Sayangnya dalam...

Politik Panggung Gaya Anies Baswedan

Anies Baswedan merupakan perwujudan nyata dari apa yang dibayangkan atau disebut sebagai politik. Ya, Anies adalah politik itu sendiri.  Demikian kira-kira penyederhanaan tentang fenomena...
Avatar
Muhamad Heychael
Dosen Kajian Media Universitas Multimedia Nusantara

Saya termasuk orang yang menyesalkan keputusan pemerintah mematikan akses internet di Papua.  Saya tidak sendiri, ribuan orang ingin internet dinyalakan lagi di Papua. Meski begitu, selain didasari oleh alasan yang sama dengan kebanyakan orang, hak warga atas informasi, saya punya alasan lain yang agak khusus.

Kala situasi konflik semacam ini, saya ingin mendengar perspektif Orang Asli Papua (OAP) mengenai apa yang terjadi di sana. Sialnya, ini sulit dilakukan ketika internet dibredel. Sebaliknya, di saat bersamaan kita kesulitan mendapatkan informasi mengenai Papua dari orang yang berada di sana, kita disuguhi bualan orang-orang seperti Denny Siregar lewat artikelnya di Geotimes ini (Kalau boleh usul, jangan dibuka, nanti Geotimes kesenangan menuai klik dari artikel “aduhai”).

Di sana ia mengingau soal operasi intelejen asing di Papua. Informasi langsung dari mereka yang mengalami konflik absen, sementara ruang publik malah dibuat keruh oleh disinformasi macam yang ditulis Denny. Sudah jatuh tertimpa tangga, bagaimana tidak tambah sebal sama Kominfo? Untung Pak Rudi sudah memulihkan internet di sana.

Di antara banyak bualannya soal Papua, dalam tulisan tersebut, Denny menyuguhkan kita lagu lama aransemen baru. Ia menyoroti “kadal gurun” yang dinilainya tengah memanfaatkan konflik di Papua sebagai alat menyerang Jokowi. Bicara provokator di tiap konflik atau demonstrasi bukan hal baru, tindakan semacam ini adalah respons pertama pada setiap demonstrasi atau konflik, yang baru dari Denny hanya subjeknya: Papua. Basi memang, tapi siapa bilang barang basi tidak laku? Tanya penjual yoghurt kalau tidak percaya.

Jujur saja, saya bosan mendengar bualan Deny Siregar soal peristiwa politik di negeri ini yang ujung-ujungnya dikaitkan dengan pilpres. Layaknya kaset kusut, pesannya selalu sama, setiap kekacauan, konflik, pertikaian poltik, dibuat atau dimanfaatkan oleh musuh politik Jokowi guna menjatuhkan “rezim yang sangat baik ini”.

Jikalah pemerintah adalah penyanyi, maka Denny adalah pengeras suaranya. Artikelnya mengenai Papua adalah satu saja contohnya. Silakan googling atau, kalau Anda kurang kerjaan, lakukan analisis isi atas apa-apa yang disampaikan Denny dan bandingkan dengan apa yang disampaikan oleh juru bicara pemerintah.

Saya yakin, jika Denny main tinder dan ketemu dengan Wiranto dijamin match. Bedanya, mereka yang ada dalam struktur pemerintahan akan berhati-hati dalam bicara, ciri pesannya normatif, sementara orang seperti Denny bisa berbual seenak perut. Namun bila Anda perhatikan dengan seksama, poin-poin yang disampaikan sama, nyaris tak ada isi.

Terkait operasi intelejen asing di Papua, lihat apa yang dikatakan oleh Wiranto atau Tito Karnavian. Sama, bukan? Narasi utamanya adalah ada “pihak” yang merancang konflik di Papua. Saya tidak tahu apa yang ada dalam kepala Denny, apakah ia berpikir bahwa konflik itu bekerja seperti rubik yang bisa disusun seenaknya selama kita ahli. 

Jika demikian adanya, saya putus asa. Sepertinya tak ada cara lain, kecuali Denny berhenti sejenak menulis dan mulai membaca. Bahkan saya punya usul bacaan yang mungkin bisa membantunya. Mas Denny coba deh baca soal social conflict theory, itu pun kalau dia bisa membaca dengan benar.

Dalam setiap konflik memang selalu ada aktor. Sangat mungkin konflik dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan politik tertentu. Namun, konflik tidak bisa terjadi tanpa sebab yang sedikit banyak struktural. Misalnya ketimpang ekonomi, diskriminasi, kolonialisme, dan lainnya. Hanya kaum bumi datar dan orang-orang seperti Denny Siregar yang percaya bahwa konflik bisa dibuat dari kondisi nol. Lepas apakah ada pihak-pihak yang memanfaatkan konflik Papua, konfliknya sendiri nyata.

Ada rumah dibakar dan juga ada warga yang meninggal. Orang tidak turun ke jalan dengan risiko terbunuh hanya demi nasi bungkus.

Apa yang paling saya sesalkan dari artikel Denny bukan soal ketidakmampuannya mengurai atau menjelaskan konflik. Setidaknya, ketidakmampuan semacam itu tidak berbahaya. Yang berbahaya adalah paradigma yang melatarbelakangi artikelnya. Dengan mengatakan bahwa konflik Papua adalah skenario asing atau siapa pun itu, diam-diam ia tengah mengatakan bahwa OAP tidak berdaya mewakili dirinya sendiri.

Seolah OAP terlalu bodoh untuk memahami apa yang terjadi pada dirinya. Sehingga ungkapan protes atas ketidakadilan yang dirasakan oleh mereka mestilah hasil bisikan orang-orang yang tidak senang pada Jokowi atau oleh alien (asing). Di mata Denny, bangsa Papua hanyalah alat.   

Pandangan semacam ini berbahaya karena dapat melegitimasi kekerasan terhadap warga atas nama “makar”. Kita sudah melihat gejala ini kala 8 orang aktivis yang menyuarakan keadilan bagi bangsa Papua dikriminalisasi oleh polisi. Tinggal tunggu waktu kita mengatakan bahwa cara-cara kekerasan yang dilakukan aparat keamanan menangani demonstrasi di sana sebagai tindakan yang wajar dilakukan guna menghalau intelijen asing. Bukankah ini berarti kita tengah melepaskan aparat dari tanggung jawabnya untuk melindungi hak azasi warga?

Dengan mengaburkan realitas yang terjadi di Papua, Denny berpotensi menghilangkan kemampuan kita mencari solusi untuk menyelesaikan konflik. Jika masalahnya adalah intelijen asing, solusinya adalah menangkap atau menghalau operasi intelijen. Jika masalahnya ketidakadilan, solusinya adalah memikirkan cara untuk menghadirkan keadilan di Papua. Mana dari dua pilihan ini yang jadi akar masalah?

Dalam hal ini jelas saya lebih percaya LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) ketimbang kumur-kumur Deny Siregar. Riset LIPI menunjukkan akar masalahnya adalah proses integrasi yang manipulatif, marjinalisasi, dan kegagalan pembangunan.

Jadi, jelas bukan, ke mana artikel Denny membawa percakapan tentang Papua? Yang pasti bukan ke isu-isu penting yang didedahkan LIPI. Di dalam artikelnya, Denny mengatakan banyak hal, mulai dari operasi intelijen asing sampai  membingkai konflik di Papua sebagai kelanjutan pertarungan elite Jakarta pasca pilpres. Uniknya, dalam artikelnya yang ia beri judul Kenapa Kadal Gurun Senang Papua Rusuh?,  satu-satunya yang tidak ia bicarakan adalah Papua itu sendiri.

Baca juga

Tentang Papua, 02, dan Anti Asing

Apa Yang Terjadi Selama 7 Hari Internet Papua Digelapkan?

Andaikan Saya Orang Papua

Tentang Papua Jokowi Harus Belajar Pada Gus Dur

Selamat Hari Ibu, Mama-Mama Papua

Avatar
Muhamad Heychael
Dosen Kajian Media Universitas Multimedia Nusantara
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Sastra dan Jalan Lain Filsafat

Persinggungan eksistensial manusia dengan beragam realitas peradaban tidak mengherankan melahirkan berbagai pertanyaan fundamental – filosofis. Mempertanyakan, membandingkan, dan memperdebatkan beragam produk peradaban, salah satunya...

Ujian Konsistensi Penanganan Konsistensi Sengketa Hasil Pilkada

Jelang sengketa hasil pemilihan kepala daerah di Mahkamah Konstitusi kerap timbul bahasan atau persoalan klasik yang selalu terjadi. Sebagai lembaga peradilan penyelesai sengketa politik,...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Menteri Agama Memang untuk Semua Agama, Mengapa Tidak Kita Dukung?

Pernyataan Menteri Agama, Gus Yaqut, bahwa dirinya adalah “menteri agama untuk semua agama” masih menyisakan perdebatan di kalangan masyarakat. Bagi mereka yang tidak sepakat,...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.