Banner Uhamka
Minggu, September 20, 2020
Banner Uhamka

Kolaborasi Guru, Orang Tua, dan Siswa Melawan Corona

Membaca Jokowi dan Tantangan Kabinet Agile

Ada beberapa sosok agile (gesit dan lincah) di tubuh Kabinet Indonesia Maju di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo. Lantas, tantangan-tantangan apa yang akan mereka hadapi...

Kita Masih Indonesia (Bagian 2)

Jokowi dan Sun Tzu: Win the War not the Battle Bagi Jokowi, "Sang Joki" adalah lawan tanding yang  cukup menggairahkan. Dan Jokowi sangat menikmati pertarungan...

New Normal: Antara Pro-Kontra dan Sektor Pendidikan

Saat ini seringkali publik berdebat soal pemahaman kata-kata di ranah media sosial seperti di facebook, instagram, dan twitter dan lainnya, misalnya saat presenter menanyakan...

Impunitas di Tengah Pandemi

Presiden Joko Widodo telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Penanganan Pandemi Corona Virus Disease...
Basrowi
Dr. Dr. Basrowi, M.Pd. M.E.sy. Pemerhati Kebijakan Publik, Alumni S3 Ilmu Sosial Unair Surabaya, alumni S3 MSDM UPI YAI Jakarta, dan alumi PPs Ekonomi Syariah UIN Raden Intan Lampung

Dalam rangka mengukuhkan konektivitas antara guru, orang tua, dan siswa, maka pada era yang tidak menentu seperti saat ini, karena adanya virus Corona, maka perlu dibangun suatu suasana kolaborasi antara ketiganya sehingga proses pembelajaran dengan sisten daring diharpakan memberikan mutu proses dan hasil yang maksimal, tidak kalah bermutu dibandingkan sistem klasikal.

Ketika anak harus belajar di rumah karena untuk menghindari pertemuan dengan banyak orang, membuat iklim belajar, motivasi belajar, suasana belajar, dan persaingan belajar berubah. Anak yang pada awalnya saling bersaing, saling memotivasi, dalam suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan, kini mereka harus belajar sendiri di rumah dengan dipandu guru dari sekolah, didampingi orang tua di rumah, dan ditemani internet setiap menemui kesulitan.

Meskipun proses pendidikan di era gadget ada di ujung jari, namun, tanggung jawab pendidikan lebih banyak ada pada orang tua sebagai guru, motivator, sekaligus sebagai fasilitator terhadap berbagai kebutuhan belajar anak, mulai dari makan, minum, dan berbagai kebutuhan lainnya. Guru dari sekolah selalu memonitor perkembangan belajar anak didik. Selain itu, guru selalu memberikan tugas dan motivasi sehingga anak tidak jenuh belajar.

Dalam suasana yang seperti itu, proses pembelajaran menjadi semakin merdeka, dan anak merasa lebih leluasa dalam menentukan jam belajar, metode belajar, sumber belajar, dan partner belajar. Guru menjadi lebih kreatif dalam memberikan berbagai materi pelajaran kepada anak. Anak lebih memahami dalam mengerjakan tugas dari guru.

Begitu juga, orang tua menjadi semakin sibuk dalam memperhatikan keseriusan anak dalam belajar. Jangan samapi anak hanya bermain Handphone, sementara belajarnya dinomor sekiankan.

Peran Orang Tua Kian Berat

Pada pagi hari, orang tua biasanya membangunkan anak agar tidak kesiangan berangkat sekolah. Selanjutnya, orang tua menyiapkan baju seragam sekolah, makan, dan uang jajan.

Kini, tugas mereka harus bertambah yaitu memperhatikan keseriusan dan motivasi anak dalam belajar. Orang tua yang biasanya pukul 07.00-13.00 mengerjakan berbagai pekerjaan domistik sambil menonton televisi, kini harus menjaga suasana belajar di rumah tetap kondusif, tanpa menonton televisi.

Orang tua sebagai representasi guru, saat ini memiliki fungsi ganda dalam arti harus mampu sebagai fasilitator, tetapi juga mampu sebagai motivator bagi anak selama jam belajar di rumah. Anak tidak belajar di sekolah bukan berarti libur, tetapi harus lebih giat dalam belajar, karena tidak dibimbing oleh guru.

Kolaborasi dengan Masyarakat

Kolaborasi orang tua dan guru tidak dapat berjalan dengan baik, manakala tidak dibantu oleh masyarakat. Ketika anak kabur dari rumah hendak bermain dengan teman-temanya, maka orang tua harus menyuruh anaknya segera pulang untuk belajar.

Pada saat jam belajar, ketika masyarakat yang melihat ada anak yang bermain di luar rumah, masyarakat harus peduli dengan cara menegor dan menyuruh pulang ke rumah. Hal itu harus dilakukan dengan tujuan, untuk belajar dengan tekun, dan untuk menghindari penyebaran virus Corona.

Tempat permainan umum harus ditutup untuk sementara waktu.  Lapangan futsal harus tutup. Warnet dan game online   juga harus tutup dalam rangka mengurangi penyebaran virus tersebut. Ketika masih ada Warnet dan game online yang tetap buka, masyarakat harus ramai-ramai memprotes tempat tersebut, karena jelas-jelas hanya mementingkan bisnis mereka sesaat, tanpa memperhatikan dampak negatif yang sangat fatal dalam proses penyebaran virus.

Bakat, Minat dan Hobby Tetap Dikembangkan

Kolaborasi orang tua, guru, dan masyarakat dalam kaitannya dengan pembinaan minat, bakat dan kompetensi siswa harus tetap dilakukan. Anak yang mempunyai hobby olah raga harus tetap menjaga fisik dan stamina, agar tingkat kebugarannya prima. Meskipun tidak ada berbagai kompesisi, namun bakat, minat dan hobby siswa harus terus dikembangkan. Orang tua harus memfasilitasi program pengembangan itu meskipun terbatas pada lingkup di dalam rumah.

Anak-anak yang mempunyai bakat dan minat di bidang seni harus tetap latihan di rumah. Guru berbagai mata pelajaran dapat memberikan berbagai tugas di rumah, serta mewajibkan pembuatan youtube dalam setiap proses kegiatannya, sehingga anak menjadi lebih bersemangat dalam mengerjakan tugas, sekaligus dapat menjadi hiburan tersendiri bagi anak.

Anak yang mempunyai bakat dan minat pertanian, dapat disalurukan dengan bertanam di pot. Guru biologi dapat memberikan tugas menanam aneka sayuran di pot yang proses penanamannya hingga perawatan seluruhnya divideokan, sehingga kegiatan tersebut benar-benar dilaksanakan dengan baik oleh siswa. Yang paling penting adalah, siswa menjadi semakin terhibur.

Anak yang mempunyai hobby memasak pun harus tetap diperhatikan. Guru keterampilan dapat memberikan tugas membuat jenis makanan tertentu dengan resep yang sederhana sehingga tidak menyulitkan anak ketika harus mencari bahan baku. Tugas ini tentu akan sangat menyenangkan, karena setelah proses dan hasilnya divideokan, makanan tersebut dapat dinikmati oleh yang bersangkutan, kakak dan adiknya, serta orang tuanya. Hhmmms enak tenan.

Membuat Kerajinan Tangan

Saat anak-anak mengerjakan tugas di rumah, tentu dibutuhkan kolaborasi antara siswa dan orang tua. Anak rupanya banyak yang memanfaatkan budi baik ibu dan bapaknya. Mereka tidak segan-segan meminta orang tuanya membantu mengerjakan kerajinan tangan itu. Dalam proses pendidikan dan pelatihan, tentu orang tua tidak boleh membantu sepenuhnya, cukup diamaati, hal-hal apa saja yang tidak bisa dikerjakan anak, barulah orang tua ikut berkolaborasi.

Ketika anak tidak terlibat dalam proses pengerjaan kerajinan tangan tersebut, tentu hal itu kurang baik, karena tujuan guru memberikan tugas itu, tentu bukan memberi kesibukan kepada orang tuanya akan tetapi sengaja diberikan kepada anak agar anak menjadi lebih terampil dan suasana kebatinan anak menjadi lebih bahagia.

Dengan berkolaborasi antara guru, anak, dan orang tua dalam proses pembelajaran, diharapkan proses pembelajaran meskipun melalui daring, mutu proses dan hasil belajar tetap tinggi. Hal itu karena motivasi belajar anak dapat selalu ditingkatkan oleh guru dan orang tua. Mudah-mudahan wabah virus Corona segera mereda dan anak-anak dapat belajar sebagai mana mestinya, serta dapat bergurau dengan teman-temannya.

Semoga corona dapat mendengar jeritan anak-anak yang sudah tidak tahan lagi di rumah, dan mereka ingin sekali pergi ke sekolah. Ya Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, hentikanlah penyebaran virus corona, agar anak-anak bisa kembali ke sekolah, guru bisa mengajar sebagaimana mestinya, orang tua bisa bekerja dengan nyaman.

Pesantren, tempat mengaji, dan berbagai tempat ibadah sudah sepi, tunjukkan kekuasaanMu ya Allah. Kembalikanlah kehidupan dunia ini menjadi kehidupan yang aman, damai, dan sejahtera seperti sedia kala. Hanya Engkaulah yang dapat menyudahi penyebaran virus Corona ini. Ampunilah segala dosa dan salah kami. Aamiin.

Basrowi
Dr. Dr. Basrowi, M.Pd. M.E.sy. Pemerhati Kebijakan Publik, Alumni S3 Ilmu Sosial Unair Surabaya, alumni S3 MSDM UPI YAI Jakarta, dan alumi PPs Ekonomi Syariah UIN Raden Intan Lampung
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Religion in Academic Study; An Introduction

"Religion" in relation to ritual practice became an item in an inventory of cultural topics that could be presented either ethnographically in terms of...

Optimisme di Tengah Ketidakbersatuan ASEAN

Optimisme ASEAN yang memasuki usia 53 tahun pada 8 Agustus lalu harus dihadapkan pada kenyataan pahit dan diliputi keprihatinan. Negara-negara anggota ASEAN dipaksa atau...

Investasi dalam Bidang SDA dan Agenda Neoliberal

Hari telah menuju sore, dengan wajah yang elok Presiden Joko Widodo membacakan naskah pidatonya saat dilantik untuk kedua kalinya pada tahun 2019 lalu. Sepenggal...

PKI, Jokowi, dan Tertusuknya Syekh Jaber

Syekh Ali Jaber ditusuk AA, Ahad malam (13/9/2000) di Lampung. Siapa AA? Narasi di medsos pun gonjang-ganjing. Konon, AA adalah kader PKI. Partai yang berusaha...

Konflik Yaman dan Kesepakatan Damai Israel-UEA

Kesepakatan damai Israel-UEA (Uni Emirat Arab), disusul Bahrain dan kemungkinan negara Arab lainnya, menandai babak baru geopolitik Timur Tengah. Sejauh ini, pihak yang paling...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.