Banner Uhamka
Sabtu, September 19, 2020
Banner Uhamka

Koalisi Sujud Sukur

Mendampingi Keluarga, Melawan Patriarki

Akhir-akhir ini pemberitaan di Tanah Air dipenuhi oleh kasus-kasus pemerkosaan. Pemerkosaan massal terhadap YY di Bengkulu, misalnya, telah membuka mata kita bahwa diskriminasi gender...

ISIS dan Intervensi Militer AS di Suriah

Di saat operasi pembebasan kota Mosul baru berusia tiga minggu di Irak, tiba-tiba Amerika Serikat (AS) memberi lampu hijau dan mendukung Pasukan Demokratik Suriah...

Politisasi Dana Desa

Oktober ini pemerintah akan mencairkan dana desa tahap akhir sebesar Rp 4,2 triliun. Tentu pencairan ini menjadi kabar baik bagi desa di tengah-tengah kondisi...

Membela Ahok, untuk (Si)Apa?

Ratusan ribu massa hadir pada aksi protes 411 dan 212 di Jakarta. Mereka menuntut Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dihukum atas dugaan tindakan penodaan...
Setyo A. Saputro
Pekerja media di sebuah portal berita di Jakarta. Bisa dihubungi melalui alamat surel: setyoasaputro@gmail.com.

Beberapa kawan mengkhawatirkan klaim kemenangan Prabowo Subianto di Pilpres 2019. Nyaris tiap hari belakangan, dia sujud syukur di berbagai kesempatan. Kawan-kawan saya khawatir, apa yang dilakukan Prabowo ini akan memecah belah rakyat, memicu kericuhan, dan sebagainya dan sebagainya.

Tenang saja, Indonesia akan baik-baik saja. Kejadian semacam ini, bukan yang pertama kali terjadi. Klaim kemenangan, teriakan takbir, sujud syukur, ancaman pengerahan massa, dan lain sebagainya, itu sudah pernah terjadi lima tahun lalu. Semua itu tak lebih dari lagu lama. Nada, syair, dan kuncinya begitu-begitu saja. C – G – F – Am – C – G – F – Am. Diulang-ulang terus sampai mampus.

Alurnya itu sama persis: Hasil hitung cepat lembaga survei mengumumkan keunggulan Jokowi, sementara Prabowo mengklaim kemenangan berdasar perhitungan internal, lalu mereka tak henti meneriakkan isu tentang kecurangan, dan sebagainya dan sebagainya.

Tujuannya apa? Agar pendukung mereka tak patah semangat dan terus memiliki daya juang. Jika sudah begitu, kelak ketika KPU mengumumkan kemenangan Jokowi secara resmi, tim Prabowo akan memiliki kekuatan dan dukungan untuk menuntut ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Lalu, seperti yang terjadi lima tahun silam, mereka akan mati-matian memperlihatkan bukti di meja persidangan. Mungkin, mereka akan kembali sesumbar akan membawa puluhan truk barang bukti dan menghadirkan saksi-saksi. Namun, seperti yang sudah pernah terjadi, MK tetap akan memutuskan bahwa kemenangan ada di kubu Jokowi.

Kenapa, bisa begitu? Ya, bisa. Sistem hitung cepat itu sains, bukan sesuatu yang main-main. Bukan asal sebut angka sembarangan, seperti orang pasang taruhan. Itulah kenapa ada jurusan Ilmu Statistika di universitas-universitas.

Selisih perolehan suara antara Jokowi dan Prabowo menurut hitung cepat itu sekitar 8℅ hingga 10℅. Jika dikonversi menjadi angka, mungkin sekitar 12 juta hingga 15 juta suara. Jika diasumsikan satu TPS memiliki kuota 300 surat suara, maka selisih perolehan suara Jokowi dan Prabowo itu adalah 40 ribu hingga 50 ribu TPS.

Artinya, jika ditemukan kecurangan di 1.000 TPS (atau bahkan 20.000 TPS sekalipun), dan semua warga di TPS-TPS itu semua memilih Prabowo, tetap Jokowi yang akan menang. Selisihnya itu terlalu banyak, Jenderal.

Sekali lagi, tak usah khawatir soal perang saudara dan semacamnya. Kita nikmati saja drama ini. Kita cuma perlu mengkhawatirkan masa depan para pendukung Prabowo. Bayangkan, yang tak henti diteriakkan #2019GantiPresiden, yang terjadi malah #2019GantiWakilPresiden. Sementara presidennya tak jadi ganti.

Jika 2014 lalu, mereka masih yakin junjungannya menang di 2019, kali ini mereka tak bisa begitu lagi. Kecil kemungkinan, Prabowo akan maju di 2024. Sang Jenderal sudah terlalu renta. Lalu, setelah Prabowo kalah, siapa lagi yang akan mereka sembah? Entahlah. Fadli Zon, mungkin?

Saat ini, kita juga harus sedikit memberi perhatian terhadap kesehatan Sandiaga Uno. Mungkin, orang-orang terdekatnya bisa memberi saran, ada baiknya jika Sandi berkonsultasi dengan Hatta Rajasa.

Karena, di muka bumi ini, cuma Hatta yang tahu persis, bagaimana rasanya berada di posisi Sandi. Rasanya pasti berat, lho. Semacam hidup segan, mati tak mau.

Sampai titik ini, kalian jadi tahu kan, kenapa orangtua kita dulu sering memberi nasihat, “Hati-hati kalau memilih teman.”

Setyo A. Saputro
Pekerja media di sebuah portal berita di Jakarta. Bisa dihubungi melalui alamat surel: setyoasaputro@gmail.com.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Madilog Sekali Lagi

Gerakan modernisasi dan perkembangan teknologi terjadi begitu cepatnya saat ini, memunculkan berbagai dampak, baik positif maupun yang negatif, mulai dari dampak yang terlihat maupun...

Harmonisasi Agama, Negara dan Dakwah (I)

Agama (Islam) mengakui eksistensi ‘kabilah’, kaum, suku dan bangsa untuk saling mengenal dan bekerjasama demi kemanusiaan dan peradaban (surah al-Hujurat 9:13). Islam menekankan pentingnya semangat/cinta...

Solusi Bersama untuk PJJ

Gebrakan dari Mas Manteri Nadiem Makarim di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam memerdekan pendidikan di Indonesia patut diacungkan jempol. Berbagai konsep pendidikan seperti...

Kita Lengah Karena Syariatisasi Ternyata Masih Berjalan

Kebijakan Bupati Gowa yang akan memecat ASN (Aparatus Sipil Negara) yang bekerja di lingkungannya yang buta aksara al-Qur’an membuat kita sadar jika syariatisasi di...

Sepak Bola, Cara Gus Dur Menyederhanakan Politik

Tahun 1998 adalah masa pertama penulis mulai gemar menonton sepak bola. Kala itu, bersamaan dengan momentum Piala Dunia (World Cup) di Prancis. Ketika opening...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.