OUR NETWORK

Kita Masih Indonesia (Bagian 2)

Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla (keempat kiri) dan Menkopolhukam Wiranto (keenam kiri) berjalan menuju Lapangan Silang Monumen Nasional (Monas) untuk mengikuti shalat Jumat bersama di Jakarta, Jumat (2/12). Presiden mengapresiasi ulama dan seluruh peserta Doa Bersama yang berlangsung dengan tertib dan lancar. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/ama/16
Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla (keempat kiri) dan Menkopolhukam Wiranto (keenam kiri) berjalan menuju Lapangan Silang Monumen Nasional (Monas) untuk mengikuti shalat Jumat bersama di Jakarta, Jumat (2/12). ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/ama/16

Jokowi dan Sun Tzu: Win the War not the Battle

Bagi Jokowi, “Sang Joki” adalah lawan tanding yang  cukup menggairahkan. Dan Jokowi sangat menikmati pertarungan ini. Dia memahami prinsip menyerang dan bertahan yang ditulis Sun Tzu dalam The Art of War: “Seorang jenderal yang sangat ahli dalam menyerang membuat lawannya tidak tahu bagaimana harus bertahan. Seorang jenderal yang sangat ahli dalam bertahan membuat lawannya tidak tahu bagaimana harus menyerang.”

Sang Joki tentu masih terperangah dengan apa yang baru disaksikannya. Bisa saja, jika mau, detik itu Jokowi menghabisi Sang Joki. Tapi itu tidak dilakukan Jokowi; dirinya memberi waktu bagi Sang Joki untuk bertobat, bahkan waktu untuk berpikir akan memutuskan terus bertempur atau menyatakan takluk.

Jokowi lebih sempurna menjalankan strategi tempur ketimbang Sang Joki. Unsur surprise yang dipadukan dengan deception dan psywar. Di tengah hujan, Monas disulap menjadi mimpi buruk bagi si Joki, persis seperti Stalingrad menjadi mimpi buruk bagi Hitler.                                                                                                                                            Payung biru di tangan Jokowi laksana bendera yang ditancapkan Tentara Merah di atas kubah Reichstag. Payung biru tersebut telah ditancapkan langsung di jantung Sang Joki. Makna simbolik payung tersebut bisa jadi lebih jauh dari yang kita pikirkan. Harusnya Sang Joki mampu membaca tanda-tanda tersebut.

Festival Terompet

Jika perang Bharatayudha berlangsung hari ini, lalu semua orang diwajibkan untuk bergabung dalam korps militer, tanpa menimbang lama, saya memilih mendaftarkan diri ke korps musik. Kalau boleh peniup terompet tanda dimulai dan berakhirnya sebuah pertempuran. Mengapa? Risiko paling jauh dari kematian adalah menjadi peniup terompet. Untuk menjadi peniup terompet yang baik, tiupan Anda harus kuat sehingga suara yang keluar menjadi nyaring.

Aliansi-aliansi kepentingan untuk memenangkan “piala ter ter ter” menjelma menjadi sebuah perang asimetris yang sporadis. Definisi-definisi konvensional Sun Tzu dan Clausewitz tentang peperangan nyaris tidak berguna: batas teritorial, zona tempur, infantri, artileri, garis pertahanan, center of gravity sama sekali tidak berlaku. Perang terompet adalah jenis perang baru yang lahir dari hasrat “cari aman agar kemudian tidak dihinakan sebagai disertir yang lari dari medan pertempuran”.

Saya dan kita tentu mendukung Jokowi bukan karena alasan moral. Jikapun ada itu adalah posisi moral kita pada konstitusi. Selama Jokowi masih berada di garis itu, maka dukungan itu akan selalu ada. Kecele itu biasa. Ketika  Aksi 212 tidak sesuai dengan bacaan, saya sempat menduga Jokowi telah menggadaikan nalar konstitusinya dengan membangun persekutuan politik dengan Rizieq Sihab. Namun tidak ada satu pun fakta yang menunjukkan bahwa Jokowi telah melepaskan garis konstitusi.

Sikap yang sama seharusnya kita tunjukkan pada kasus Ahok. Sikap yang tertib di dalam koridor konstitusi. Sejak kapan para relawan Jokowi ikut tersinggung pada mulut Ahok? Atau apakah berbahasa halus dan lembut juga sudah menjadi nilai relawan Jokowi? Lalu apakah yang sudah pro-Ahok di Pilkada Jakarta tidak lagi boleh menjadi orang yang pro-Jokowi?

Para Penunggang Kuda di Hambalang

Titik mematikan dari rencana penunggangan aksi “Bela Islam” adalah jika Jokowi terkesan bisa ditekan oleh kekuatan massa. Maka, ke depan, setiap ada masalah massa bisa digunakan untuk memaksa presiden mengambil keputusan. Jokowi adalah ksatria yang terhormat. Sebelum menyerang balik, dia menemui Prabowo Subianto, lawan politiknya hingga hari ini. Bahkan tidak menutup kemungkinan, sebagian strategi tempur Jokowi adalah nasihat dari Prabowo Subianto.

Begitulah kedua seteru politik ini menunjukkan kehormatannya masing-masing. Sebuah lakon politik bermutu tinggi, yang kelak akan menjauhkan kita dari kemurungan dan marabahaya.

Sang Joki kini harus mengenang kepingan sejarah di Stalingrad, salah satu faktor yang menentukan kemenangan tentara merah Soviet di front Eropa Timur melawan Jerman. Pasukan Jerman terisolasi dari mata rantai logistiknya. Rusia memilih musim dingin di Stalingrad sebagai kuburan tentara Jerman.

Pemimpin pasukan Jernan dilanda demoralisasi, perintah tembak di tempat bagi mereka yang mundur dari garis depan pertempuran dijawab dengan penyerahan diri pasukannya. Terjebak di sana, maju dan mundur sama saja, akhirnya perang berakhir. Tak hanya di Rusia, tentara merah itu terus memukul mundur Jerman hingga akhirnya lebih dulu memasuki Kota Berlin dibanding Inggris dan Amerika.

Satu babak perang dunia berakhir, namun babak selanjutnya tidak menunggu lama. Ini yang membuat Churchill sangat kesal kepada Eisenhower yang dianggapnya tidak mau mendengar sarannya untuk segera merebut Berlin sebelum Stalin merebutnya lebih dulu. Terbukti kemudian, tepat pada Hari Buruh 1 Mei 1945, sepucuk bendera merah yang ditancapkan di atas gedung Reichstag Berlin, menjadi simbol penaklukan Jerman dan berakhirnya Perang Dunia II. Stalin sudah merencanakan itu dengan baik.

Setiap kemenangan membutuhkan sebuah simbol yang akan dikenang sejarah. Begitulah fungsi payung biru yang digunakan dan dipegang sendiri oleh Jokowi ketika berjalan untuk menemui umat Islam di tengah lebatnya hujan. Makna simbolik payung tersebut bisa jadi lebih jauh dari yang kita pikirkan. Seharusnya SBY mampu membaca tanda-tanda tersebut.

Kecele karena rangkaian aksi 411, 212, dan parade 412 berakhir tidak sesuai harapan. Sekali lagi, saya termasuk orang yang tidak menduga 212 akan berujung seperti itu, bahkan saya sempat berpikir Jokowi telah membangun aliansi politik dengan menggandeng Rizieq dan menangkapi beberapa orang yang tidak punya kekuatan massa.

Presiden Joko Widodo (kedua kanan) didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla (kedua kiri), Menkopolhukam Wiranto (kiri) dan Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin berdoa sebelum melaksanakan shalat Jumat di Silang Monas, Jakarta, Jumat (2/12). Presiden mengapresiasi ulama dan seluruh peserta Doa Bersama yang berlangsung dengan tertib dan lancar. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/ama/16
Presiden Joko Widodo (kedua kanan) didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla (kedua kiri), Menkopolhukam Wiranto (kiri) dan Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin berdoa sebelum melaksanakan salat Jumat di Silang Monas, Jakarta, Jumat (2/12). ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/ama/16

Terompet Keragaman

Lalu tibalah Parade Budaya 412 menjadi kambing hitam. Perlu dipahami bahwa 412 direncanakan sebelum 212 berlangsung. Dalam hitungan politik, Parade Budaya 412 harus ada dalam skenario di atas kertas. Karenanya, 412 juga disiapkan dengan baik oleh para panitianya. Ceritanya jadi berbeda; Jokowi mampu membalikkan keadaan. Aksi 212 berlangsung super damai.

Bagaimana dengan Parade Budaya 412? Sebagaimana 212 disiapkan, begitu jugalah 412 harus digelar. Bahwa panitianya adalah partai politik, bukan masalah serius. Bukankah partai politik juga bagian dari keragaman Indonesia? Hanya saja makna simboliknya menjadi berbeda.

Namun Parade Budaya 412 akan menjadi berbeda jika ternyata Aksi 212 tidak mampu dikelola Jokowi dengan baik. Mungkin saja Aksi 412 akan memiliki arti yang berbeda daripada hanya sekadar fitnah yang menyebut partai pendukung Ahok. Terompet mulai ditiup, ruang sosial kembali penuh sesak dengan hoax dan fitnah.

Siapa peniup terompet itu? Pertama, partai-partai, sejak awal kesepakatan Parade Budaya 412 diusulkan tidak menggunakan atribut parpol, namun pada hari H ternyata atribut parpol diturunkan. Ya, meski tidak ada salahnya, itu mengurangi daya pengaruh pesan yang ingin disampaikan. Kedua, tentu keretakan antara pendukung Jokowi yang pro-Ahok dengan pendukung Jokowi yang menolak Ahok.

Ketiga, kubu pro 212 moderat  yang merasa bahwa Parade Budaya 412 adalah upaya delegitimasi terhadap aksi 212. Keempat, kubu penunggang Aksi 212 yang mencoba masuk dengan isu lain. Kelima, pendukung para kandidat Pikada DKI Jakarta. Keenam, peniup-peniup terompet yang memang sedang menikmati riuh rendahnya perang terompet dan enggan kebahagiaan mereka berakhir.

Kita Masih Indonesia

Jokowi tidak sedang menukar konstitusi dengan menggandeng Rizieq Sihab. Jokowi bahkan secara tegas menyatakan “ikuti proses hukum”. Ini berlaku pada kedua pihak; Ahok sendiri dan yang menuntut Ahok dipenjarakan.

Sementara itu, pendukung Jokowi yang tidak pro-Ahok tidak perlu membuat keadaan semakin runyam dan seolah dapat mengintervensi pilihan politik Jokowi. Pendukung Ahok pun tidak perlu menunggu Jokowi memberikan satu pernyataan bahwa Presiden berpihak pada Ahok. Begitu juga umat Islam, jangan mencoba memaksa, apalagi mengintervensi, proses hukum, apa pun hasilnya kelak.

Yang pasti, beberapa hari lagi tahun 2017 berakhir. Bersiaplah meniup terompet pergantian tahun dengan kegembiraan baru, dengan kebajikan yang baru, gandrung pada keragaman. Kita masuki tahun 2017 dengan memanjatkan syukur pada Tuhan Yang Maha Esa. Kita semua masih di sini, masih berbeda, dan masih Indonesia. (Selesai)

Baca

Kita Masih Indonesia (Bagian 1)

Andi Saiful Haq
Direktur Eksekutif Institute for Transformation Studies (INTRANS), Jakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…