Kamis, Maret 4, 2021

Kisruh Kongres PAN, Krisis Etika Politik

Sains dan Nalar Instrumental: Tanggapan terhadap GM, Pertanyaan untuk Hamid Basyaib

Dalam tulisan sebelumnya di laman Geotimes (13 Juni 2020), “Sains, Saintis, dan Vaksin Korona”, kami fokus menyoroti polemik antara Goenawan Mohamad (GM) dan AS Laksana...

Meneguhkan Netralitas Pemuda Muhammadiyah di Pilpres 2019

Di tengah sengitnya persaingan di Pemilihan Presiden (Pilpres) kali ini yang telah menciptakan kegaduhan dan friksi-friksi dalam masyarakat, Pemuda Muhammadiyah tetap konsisten menjalankan fungsinya...

Jokowi, Asap, dan Kerusakan Lingkungan

Setiap kemarau tiba, negeri ini selalu ribut soal pembakaran lahan, bahkan negeri tetangga juga ikut riuh. Setelah api berhasil dipadamkan atau padam sendiri di...

Pasca Pentersangkaan Ahok

Sebelumnya, saya perlu menegaskan terlebih dahulu posisi saya dalam tulisan ini. Saya tidak sedang mewakili pendukung Ahok. Begitu juga saya tidak sedang menjadi juru...
Avatar
Neni Nur Hayati
Direktur Eksekutif Democracy anad Electoral Empowerment Partnership, Aktivis Nasyiatul Aisyiyah

Kongres V Partai Amanat Nasional baru saja selesai. Namun, kongres yang digelar pada tanggal 10–12 Februari 2020 di Kendari, Sulawesi Tenggara, sempat diwarnai kericuhan. Suasana persidangan menjadi saksi luka bagi perhelatan akbar partai yang lahir dari rahim reformasi ini. Aksi saling lempar kursi antar peserta kongres pun mengakibatkan 4 orang peserta terluka.

Potret ini tentu sangat memprihatinkan kita bersama. Alih–alih dapat menunjukkan kedewasaan demokrasi, yang terjadi justru menodai demokrasi itu sendiri. Padahal, perbedaan pilihan menjadi hal yang wajar, tanpa harus berkelahi untuk memperebutkan posisi dalam partai. Layaknya sebuah kompetisi dalam pemilihan, menang dan kalah adalah sebuah keniscayaan. Para kandidat beserta para pendukungnya harus sudah siap menerima apapun hasilnya.

Sejak awal ditetapkan sebagai calon ketua umum partai, mestinya para kandidat sudah memiliki jiwa patriotisme yang tinggi dan kedewasaan dalam bersikap. Mengikrarkan  siap menang dan siap kalah. Jiwa patriotisme ini pun tak hanya berlaku bagi calon ketua umum tapi juga seluruh tim pendukung. Meski tetap pada kenyataannya hal itu akan sangat sulit direalisasikan.

Namun, kita semua harus sadar bahwa partai politik adalah pilar utama demokrasi. Sukses tidaknya demokrasi suatu bangsa, salah satunya ditentukan oleh kualitas partai politik. Clinton Rossiter, seorang ilmuwan politik pernah mengatakan “tidak ada demokrasi tanpa politik, dan tidak ada politik tanpa partai”. Eksistensi partai politik menjadi ruh yang memberikan nyawa demokrasi.

Kasus kericuhan tersebut harus menjadi pengalaman yang sangat berharga untuk partai politik lainnya. Bagaimanapun, etika politik berbangsa dan bernegara ini harus tetap dijunjung tinggi. Mengendalikan hawa nafsu untuk kepentingan khalayak akan jauh lebih bermaslahat.

Sejatinya, politik bukan hanya soal berebut kekuasaan. Ada yang jauh lebih penting dari itu, yakni menjaga dan merawat iklim politik agar tetap sejuk. Polemik dan konflik di internal partai politik karena berebut kekuasaan, hanya akan menghabiskan energi, tenaga waktu dan pikiran yang terbuang sia–sia. Pada akhirnya, justru yang menjadi kewajiban partai politik itu sendiri menjadi tidak tertunaikan.

Salah satu hal yang bisa dijadikan ikhtiar untuk menjaga iklim politik yang tenang adalah dengan tetap menjaga soliditas. Hal ini seharusnya menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar lagi. Mempererat dan menjungjung tinggi tali persaudaraan menjadi kebutuhan suatu bangsa agar tetap kokoh. Karena ke depan kita akan bersama–sama menghadapi persoalan bangsa yang terbilang cukup kompleks.

Terdapat empat isu global yang kini sedang dihadapi yakni demografi, globalilasi, pengelolaan sumber daya alam dan perubahan iklim (Smith, 2011). Kalau di internal partai politik masih saja tidak beres, bagaimana mau menghadapi tantangan bangsa di masa yang akan datang?

Oleh karenanya, mulai saat ini stop mencari celah–celah kesalahan orang lain. Tidak ada satu pun kader partai yang sempurna. Kelemahan satu kader dapat ditutupi oleh kelebihan kader yang lain, sehingga semua saling melengkapi. Kita harus sama–sama rukun, bergandengan tangan untuk mewujud bangsa Indonesia yang lebih baik lagi. Toh, jabatan itu hanya sementara saja, tidak ada yang abadi. Tali persaudaraan yang seharusnya hakiki. Saling mendukung bukan saling menjatuhkan.

PAN Pacsa Kongres

Terpilihnya kembali Zulkifli Hasan sebagai Ketua Umum Partai Amanat Nasional Periode 2020–2025 menjadi catatan sejarah. Karena baru kali ini terdapat ketua umum yang berhasil menjabat dua kali berturut-turut. Penulis meyakini bahwa terpilihnya Zulkifli Hasan membawa angin segar dan dapat menurunkan suhu politik yang sempat memanas di internal partai berlambang matahari terbit.

Kini, sudah menjadi sebuah keharusan PAN untuk kembali ke khittahnya. Hal ini juga menjadi tantangan tersendiri untuk membuktikan bahwa PAN tetap menjadi partai reformis. Peran vital partai politik dalam kehidupan bernegara sebagai penyalur aspirasi politik, pendidikan politik, pengkaderan dan fungsi partai politik harus senantiasa digelorakan.

Sejalan dengan Undang–Undang Nomor 2 tahun 2011 juga mengamanatkan bahwa partai politik harus melakukan pembenahan pada dua hal. Pertama, membentuk sikap dan perilaku partai politik yang terpola atau sistemik sehingga terwujud budaya politik yang mendukung prinsip-prinsip dasar sistem demokrasi. Hal ini ditunjukkan dengan sikap dan perilaku partai politik yang memiliki sistem seleksi dan rekrutmen keanggotaan yang memadai serta mengembangkan sistem perkaderan dan kepemimpinan politik yang kuat.

Kedua, memaksimalkan fungsi partai politik baik fungsi terhadap negara maupun fungsi terhadap rakyat melalui pendidikan politik, perkaderan dan rekrutmen calon yang efektif untuk menghasilkan kader-kader pemimpin yang memiliki integritas dan kemampuan di bidang politik yang mumpuni.

Selain itu, persepsi publik yang hari ini cenderung negatif dalam menilai kinerja partai politik karena dianggap gagal melahirkan kader pemimpin yang berkualitas, akibat maraknya korupsi yang terjadi menjadi hal yang perlu dievaluasi. Semua dugaan – dugaan itu dapat ditepis dengan melakukan aksi nyata.

Harapannya, terlepas apakah PAN akan menjadi partai oposisi atau tidak, ketika terdapat kebijakan pemerintah yang tidak sesuai dengan kehendak rakyat, maka bersikaplah kritis seraya menyiapkan solusi atas kebijakan yang tak searah.

Terlebih, di Tahun 2020 ini akan diselenggarakan Pilkada serentak di 270 daerah. Partai berlambang matahari ini wajib berkomitmen untuk tidak menetapkan dan menerima mahar calon kepala daerah yang akan maju di pencalonan. Silahkan cari kader partai yang mumpuni dan berintegritas berasal dari domisili setempat untuk dicalonkan secara demokratis dan terbuka. Hal ini menjadi penting agar dapat menekan angka korupsi bukan membuka celah korupsi.

Semoga langkah PAN kedepan menjadi salah satu partai yang bisa menjawab harapan rakyat Indonesia dalam mewujudkan keadilan dan kesejahteraan.

Avatar
Neni Nur Hayati
Direktur Eksekutif Democracy anad Electoral Empowerment Partnership, Aktivis Nasyiatul Aisyiyah
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

ARTIKEL TERPOPULER

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.