OUR NETWORK

Kisah Aming dan Bunda Dorce yang Tak Terungkap

aming-dan-evelynBerita pernikahan Aming dan Evelyn terasa “seksi” karena dua hal. Pertama, Aming dikenal sebagai artis yang sedikit feminim. Kedua, istri Aming terlihat seperti laki-laki. Ya, sekali lagi untuk beberapa orang, hal ini tak menjadi permasalahan, tapi untuk beberapa orang dengan pemahaman mamawawa-nya (laki-laki-adalah-laki-laki-dan-perempuan-adalah-perempuan), pernikahan itu dianggap tidak sah.

Oh, ya, masyarakat menduga-duga bahwa Aming adalah seorang homoseksual juga, mengingat peristiwa beberapa waktu lalu ketika ia mengikuti Pride Parade di kota New York.

Siapa Sebenarnya Bunda Dorce dan Aming?
Saya dan beberapa orang akan mengatakan bahwa mereka adalah sama-sama penghibur dari Indonesia. Tetapi lain Aming, lain Dorce Gamalama. Jika ada yang melontarkan pertanyaan di atas, maka tak jarang satu dua menyebutnya sebagai “transeksual” atau bahkan Anda akan menemukan dalam berbagai istilah kasar yang kerap digunakan dalam keseharian.

Masyarakat membuat konsepsi yang salah mengenai siapa-sebenarnya-mereka, bahwa seseorang yang terlahir dengan penis akan menjadi seorang laki-laki, mengerjakan tugas laki-laki, berdandan seperti laki-laki, dan mencintai perempuan. Begitu juga sebaliknya yang terjadi terhadap perempuan.

Saya tidak akan berbicara panjang lebar dari tatanan sosial bagaimana asumsi mamawawa ini tidak masuk akal, tetapi dari fakta ilmiah yang ada. Sesungguhnya persoalan seks ini sudah lama diperdebatkan, dari persoalan bagaimana perempuan dan laki-laki dapat setara; bagaimana perempuan mampu melakukan pekerjaan laki-laki, lalu hadir ke level selanjutnya yang mana membuat Anda semakin ruwet untuk memikirkannya.

Banyak dari kita meyakini dengan kemampuan terbatas kita bahwa manusia hanya terlahir dari dua jenis dan dua jenis itu akan melekat selamanya, seumur hidup mereka.

Mari kita lihat, seks juga dipengaruhi oleh hormon. Hormon yang mempengaruhi seks melalui perkembangan, mulai dari konsepsi hingga kematangan seksual karakteristik-karakteristik anatomis-fisiologis, dan kematangan seksual dewasa. Dari jenis kelamin (testis untuk laki-laki dan ovarium untuk perempuan), identitas seksual, dan identitas seksual kerap diyakini dependen satu sama lain adalah asumsi yang paling umum.

Kemudian asumsi mamawawa dikuatkan dengan pemikiran bahwa yang menciptakan perempuan adalah “hormon perempuan” atau estrogen, yang mana hormon ini dapat berada pada diri seorang laki-laki, dan yang menciptakan laki-laki adalah hormon laki-lakinya atau testoteron. Saya juga sudah pernah menulisnya di LGBT Tidak Pernah Memilih (GeoTimes, 23 Februari 2016).

Sayangnya, bagi otak kita yang sederhana ini, kemampuan kita dianggap hanya cocok untuk mengkonsumsi gosip daripada membaca buku dan mencari tahu lebih dalam, sehingga kita hanya mampu mendefinisikan Aming dan pasangannya dengan kemampuan terbatas itu pula. Kemampuan masyarakat yang terlalu sederhana ini dapat kita lihat juga dengan pengertian seks yang mereka dapatkan. Tak jarang juga kita menemukan orang dewasa yang masih merasa tabu untuk membicarakan seks dan bagaimana proses pembuahan dapat terjadi.

Bagi saya, untuk memahami siapa Aming dan Bunda Dorce sebenarnya adalah dengan mengetahui fungsi testis dan ovarium, bagaimana sperma dan ovum bertemu, bagaimana kopulasi dari keduanya dapat terjadi fertilisasi/pembuahan yang membentuk zigot, apa itu kromosom seks dan berpengaruh dalam pembentukan kelamin, hingga hormon-hormon yang terlibat dalam perkembangan dan perilaku seksual.

Jika kita tak mampu, terlalu takut, maka kita akan selalu sesederhana itu untuk berpikir, sebagaimana sesederhana kita melihat minimnya edukasi seks, seperti ketakutan kita untuk menyebut dan memberikan pengertian alat kelamin penis dan vagina, menjelaskan terjadinya pembuahan, aktivitas seksual, masturbasi, dan lainnya yang kerap dihubungkan dengan “kesalahan” atau bahkan gangguan jiwa.

Tak lama kita mengutuk istri Aming, Evelyn, yang sempat melakukan perubahan pada dirinya, dari perempuan menjadi laki-laki. Lalu kita melupakan bagaimana Bunda Dorce kemudian dapat diterima oleh ibu-ibu, anak muda, dan masyarakat lainnya.

Kisah Aming dan Bunda Dorce yang tak terungkap adalah ketika mereka dihakimi karena kenyamanannya dengan “kulit” mereka sendiri, lalu dipaksa untuk menerima “kulit orang lain”, yang mana kita tahu bahwa hanya pembunuh serial psikopat yang nyaman dengan kulit orang lain.

Terkait:

Belajar Gender dan Orientasi Seksual dari Pernikahan Aming

Aming-Kevin dan Problem Multiplisitas Identitas

LGBT Tidak Pernah Memilih

Anzi Matta
Hobi menulis dan menggambar

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…