OUR NETWORK

Kipas-Kipas Agama, Islam Sontoloyo?

Model yang suka mengipas-ngipasi hal-hal keagamaan demi keuntungan pribadi dan golongan beginilah, yang barangkali oleh Soekarno dulu disebut sebagai, Islam Sontoloyo!
Atribut yang jelas tersebut menunjukkan adanya jaringan Islamic State of Iran and Suriah (ISIS) yang beroperasi di daerah bekas konflik horizintal itu. ANTARA FOTO/Basri Marzuki/

Upaya untuk melenyapkan Denny Siregar sudah dimulai sejak lama. Pelaporan atas dirinya sering dilakukan. Tapi karena laporan itu prematur, tidak memenuhi dua alat bukti, ya akhirnya ditolak. Meskipun begitu, mereka terus mencari celah lain.

Denny Siregar itu pribadi yang cerdas. Saat bertemu dengan dirinya di dunia nyata dan ngobrol apa saja, terlihat dia pribadi yang menyenangkan. Humoris dan berwawasan luas. Jadi, apapun yang dia tulis di medsos itu secara umum mewakili kedirian ini. Termasuk soal status yang sedang diributkan itu.

Status tempo hari yang dia bikin di Facebook, ‘Adek2ku Calon Teroris yg Abang Sayang’, sebenarnya bermakna umum. Dia memang menyertakan foto anak-anak kecil yang kemarin ikut demo menggunakan lambang yang ditengarai sebagai bendera teroris. Karena teroris itu selain memakai bendera ISIS juga menggunakan bendera tersebut dalam aksinya.

Memang, sebagian orang menganggap bendera itu sebagai bendera Rasul karena ada lafad tauhid di sana. Tapi di zaman Nabi belum ada bendera seperti itu. Apalagi jenis tulisan (khat) yang dipakai juga belum diciptakan saat itu. Jadi, itu bukan bendera Nabi. Justru saat ini terorislah yang menggunakannya.

Tetapi foto yang dipakai di sana sudah diberi keterangan hanya sebagai ilustrasi. Denny tidak menunjuk nama atau yayasan tertentu dalam tulisannya. Isinya pun hanya nasihat.

Kemudian ada juga alasan, Denny tidak meminta izin menggunakan foto itu. Padahal dalam platform medsos, apa pun yang diunggah akan jadi milik publik. Alasan tanpa izin itu sungguh tak berdasar.

Di tengah ontran-ontran itu ada nama Pimpinan Pondok Pesantren Tahfidz Daarul Ilmi, Ustad Ahmad Ruslan Abdul Gani. Lelaki berjenggot meranggas dan berjidat hitam ini adalah pimpinan pondok pesantren tersebut. Memang bukan pesantren umum, karena ini hanya pesantren penghafalan al-Quran (tahfidz al-Quran). Dalam strata kepesantrenan, jenis pesantren ini kelasnya adalah yang paling buncit.

Artinya, seseorang tidak harus memahami semua ilmu agama untuk mendirikan pesantren jenis ini. Bahkan dalam tradisi ulama salaf, ada sebagian kyai yang melarang anaknya menjadi hafidz. Karena seorang hafidz harus menghapal setiap hari.

Oleh sebab itu, dewasa ini, umumnya hafidz jarang yang menguasai ilmu fikih secara mendalam. Ilmu alat (nahwu-sharaf) saja belepotan. Inilah yang membuat strata pesantren ini di kelas buncit tadi.

Kyai-kyai salaf mengkhusukan penghafalan Quran hanya untuk anak-anak perempuan mereka. Sementara anak-anak laki-laki mereka dicetak untuk menjadi ulama fiqih. Karena waktu untuk membaca kitab kuning dan berdiskusi menjadi lebih banyak, jika anak mereka bukan seorang hafidz.

Menghafal al-quran tentu baik. Tapi kalau sudah banyak yang melakukannya, menguasai ilmu agama jenis lain, terutama fikih, lebih diutamakan. Sebab ilmu jenis ini berperan sangat besar dalam tatanan masyarakat. Apalagi sekarang sudah zaman canggih. Teknologi telah mewakili perekaman al-Quran, selain lewat hafalan.

Kembali pada sosok yang melaporkan Denny Siregar ini. Jika melihat halaman FB pesantrennya, juga isi petuahnya di medsos, tidak jauh-jauh membicarakan sumbangan.

Pesantren yang dia bangun itu mengkhususkan diri mendidik anak yang tidak mampu. Cita-cita ini sungguh mulia. Sayangnya, ada kesan dia telah memanfaatkan anak-anak tersebut, untuk minta sumbangan tadi salah satunya.

Urusan di dapur mereka, tentu kita tak perlu campur tangan. Meskipun fakta di lapangan, banyak yang mengatsanamakan yatim dan dhuafa justru malah memanfaatkan mereka. Tapi bukti yang paling konkret khusus Ahmad Ruslan adalah ketika dia mengajak anak-anak kecil itu berdemo.

Ini adalah tindakan biadab. Prilaku eksploitasi anak ini jelas dilarang oleh hukum. Apalagi jika itu hanya demi sebuah aksi politik di Jakarta.

Ahmad Ruslan Abdul Gani telah secara terang-terangan melanggar UU tentang Perlindungan Anak. Tapi orang-orang seperti ini biasanya sulit disentuh hukum karena berlindung di balik agama. KPAI pasti tidak berani melangkah ke sana. Agama wilayah yang sangat berbahaya, mereka tentu tahu itu.

Kemudian kasus ini dikipas-kipasi. PPP menemukan momentum untuk mengangkat nama partai mereka yang cenderung nyungsep. Jawa Barat adalah kantong dari partai keagamaan. Maka Wagub Jabar, Uu Ruzhanul Ulum bersuara lantang. Orang ini memang senang cari muka. Soal kasus Rhoma yang ndangdutan saat Corona itu juga dilarang untuk dilaporkan.

Mungkin Uu menganggap, ini negara nenek moyangnya saja. Hukum hanya boleh berjalan ke pihak yang tidak dia senangi. Tapi kita harus maklum kualitas berpikir orang seperti ini. Karena jumlah mereka banyak sekali. Ngeri.

Persoalan status Denny Siregar ini memang sengaja dijadikan panggung untuk jualan agama. Sengaja dikipas-kipasi agar membesar. Tidak hanya PPP, MUI dan beberapa ormas lain juga sudah mulai menyumbang suara. Mungkin itu untuk menegaskan eksistensi mereka. Biar dianggap telah berjuang atas nama agama.

Model yang suka mengipas-ngipasi hal-hal keagamaan demi keuntungan pribadi dan golongan beginilah, yang barangkali oleh Soekarno dulu disebut sebagai, Islam Sontoloyo!

Kajitow Elkayeni
Novelis, esais

TINGGALKAN KOMENTAR

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.