in ,

Kiat Sukses Belajar di Luar Negeri


kuliah“Bukan lembaga pendidikan yang menjadikan kamu sukses, tapi diri kamu sendiri.” Itulah kalimat yang diucapkan bapak saat saya utarakan niat kuliah di luar negeri. Mungkin ada keraguan anaknya bisa melakukan. Ketika itu saya baru kelas 5 (setingkat kelas 2 SMA) di Pesantren Tarbiyatul Mu’allimien Al-Islamiyah (TMI) Al-Amien, Prenduan, Madura.

Bapak saya seorang petani di pegunungan terpencil di Madura. Mungkin karena melihat anaknya begitu bersemangat melanjutkan sekolah ke luar negeri, dia melakukan segalanya untuk mewujudkan mimpi saya itu. Kadang “mimpi” dalam pengertian literlek. Acapkali bangun tidur saya tertegun dan kesal kenapa masih di Pondok padahal dalam mimpi saya sudah berada di Kairo, Islamabad atau Mekkah.

Ya, siapa nyana mimpi anak Madura (dari pelosok lagi!) benar-benar menjadi kenyataan. Dan sekarang bisa mengajar di salah satu universitas terbaik di Amerika. Saya akan berbagi pengalaman belajar di luar negeri. Maaf jika narasi ini bersifat personal. Namanya juga berbagi pengalaman. Iya, kan?

Tentu saja apa yang berlaku buat saya belum tentu juga berlaku buat orang lain. Tapi, saya yakin (dan saya mengatakan ini dengan sepenuh hati), kawan-kawan dan adik-adik punya bekal melebihi dari yang saya miliki.

Kenapa Luar Negeri?
Saya kira itu pertanyaan pertama yang harus Anda jawab untuk meneguhkan tekad. Apa pun latar belakang pendidikan Anda: Apakah lulusan Pesantren atau bukan. Untuk strata apa pun, S1 hingga S3, dan di negara mana pun. Jawaban atas pertanyaan itu bisa berbeda dari satu orang ke orang lain.

Saya dulu ingin kuliah di negara-negara Arab atau Pakistan karena ustadz-ustadz yang jago di Pondok adalah lulusan sana, terutama Arab Saudi. Bahasa Arab mereka mantap sekali. Saya sangat mengagumi mereka. Maklum, bahasa keseharian dan sebagian besar pelajaran di Al-Amien ialah Arab.

Baca Juga :   Meng-FPI-kan HMI, Meng-HMI-kan FPI

Sangat alamiah jika saya dan banyak teman lain ingin punya kemampuan, minimal, seperti mereka. Jago berbahasa Arab dan menguasai sumber-sumber Islam, seperti hadis dan tafsir.

Ketika itu belum ada lulusan IAIN yang mengajar di Pondok. Umumnya para ustadz adalah lulusan Pondok sendiri. Maka, bagi kami, ustadz lulusan negara Arab menjadi primadona. Mereka kelihatan begitu unggul dalam berkomunikasi dan mengajar di kelas.

Sekarang situasinya sudah berbeda. Banyak lulusan dalam negeri lebih “unggul” daripada yang dari luar. Karena itu, Anda harus punya jawaban meyakinkan kenapa mau kuliah ke luar negeri. Di Pondok Al-Amien sendiri sudah banyak sarjana IAIN dan universitas lain yang mengabdikan ilmunya. Mereka tidak kalah dari lulusan luar negeri.

Jawaban atas “Kenapa Luar Negeri?” menentukan kebulatan tekad Anda. Yang jelas, harus ada sense of urgency supaya niat, tekad, dan semangat belajar tidak cepat pudar. Ingat, belajar di luar negeri lebih sulit dari yang kita bayangkan.


Bulatkan Tekad, Kerja Keras
Jika Anda punya keinginan kuat dan tekad bulat, tak ada yang tidak mungkin. Semangat yang menggelora merupakan modal dasar yang harus selalu dipertahankan. Jika tekad sekolah ke luar negeri tidak cukup kuat, Anda akan terhempas oleh derasnya tantangan yang mengiringi perjalanan keilmuan. Begitu pun jika tidak fokus, Anda akan tergelincir.

Hanya dengan tekad yang kokoh dan fokus, aral tak jadi soal. Ketika sampai di Pakistan, uang yang saya miliki hanya tersisa US$50. Karena saya tahu persis betapa sulitnya bapak mengumpulkan sejumlah uang buat beli tiket pesawat (kalau ingat soal ini, saya hingga sekarang masih meteteskan air mata), saya berjanji dalam hati untuk tidak meminta uang selama saya kuliah. Waktu itu umur saya sekitar 18 tahun. Dan saya buktikan: Hingga selesai S1 dan S2 di Pakistan, saya tidak pernah minta kiriman uang dari rumah.

Baca Juga :   Niat Jahat dan Testimoni Haris Azhar tentang Freddy Budiman

Tekad yang kuat membuat Anda tahan banting. Saya sering tidak makan hingga 2-3 hari karena memang tak ada bahan untuk dimasak. Kalau lapar, saya hanya minum air.

Biasanya dalam situasi serba sulit kita dipaksa menjadi kreatif untuk bertahan hidup. Justru keadaan sengsara itu membawa manfaat tersendiri: saya fokus belajar. Karena tak ada makanan di hostel, saya lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan, hingga hampir semua buku yang saya inginkan terbaca. Ringkasan bacaan saya itu akhirnya diterbitkan sebagai buku berjudul Sejarah Fiqih Islam: Sebuah Pengantar (1995), yang saya tulis saat semester 3 Strata 1.

Jangan lihat saya sekarang yang mengajar di Amerika. Orang tidak tahu prosesnya yang pernuh perjuangan. Begitu juga ketika kuliah S2 dan S3 di Amerika, perlu kerja keras. Di tengah kesibukan mempersiapkan kuliah, saya menyempatkan menulis di jurnal-jurnal akademis. Saya yakin, karya-karya yang saya tulis saat masih mahasiswa itu punya andil terhadap raihan posisi sebagai akademisi di Barat.

Eksplorasi Semua Kemungkinan
Alasan saya menulis di jurnal internasional sebenarnya sederhana: nilai tambah. Saya menyadari akan sangat sulit bersaing dengan orang Barat sendiri untuk memperebutkan satu posisi akademis. Bayangkan, untuk satu peluang, yang melamar bisa ratusan kandidat lulusan kampus-kampus terbaik.

Harus ada sesuatu yang bisa diandalkan. Saya mengeksplorasi berbagai hal yang memungkinkan saya menjadi kandidat yang diperhitungkan. Artinya, Anda perlu punya daya saing tinggi. Misalnya, dengan memiliki kelebihan yang tidak dimiliki kandidat lain.

Waktu itu saya berpikir, mempublikasikan artikel jurnal menjadi salah satu strategi karena jarang lulusan PhD baru yang sudah menerbitkan karya-karyanya di jurnal.

Maka, mengeksplorasi berbagai cara menjadi kunci untuk membuka peluang selebar mungkin. Ketika hendak melanjutkan program doktoral, saya menghabiskan berjam-jam mempelajari website kampus-kampus yang saya ingin tuju, termasuk profil para profesor. Saya kontak mereka untuk sekadar memperkenalkan diri dan menyampaikan minat belajar. Persiapkan rencana riset Anda yang bersentuhan dengan minat mereka juga. Buatlah proyek riset yang bagus.

Baca Juga :   Menguji Independensi Ahok

Poin saya, pelajari dan eksplorasi apa saja yang memungkinkan Anda bisa mewujudkan rencana studi Anda, di kampus mana pun. Saya sering menerima email yang menanyakan bagaimana cara melanjutkan studi di Amerika. Jawabannya dapat ditemukan di setiap website kampus dan justru pertanyaan seperti itu memperlihatkan bahwa Anda belum mengeksplorasi apa pun. Jangan tunjukkan Anda kurang inisiatif mengeksplorasi.

Buat Terobosan, Jangan Tanggung
Inisiatif saja memang tidak cukup. Perlu kreativitas. Hanya dengan kreativitas, apa pun yang kita lakukan dan jalani bermakna lebih. Tidak jalan di tempat, apalagi mundur ke belakang.

“Kreativitas” merupakan kata sakti untuk melahirkan karya-karya terobosan (groundbreaking works). Anda perlu berpikir menembus batas-batas yang selama ini mengkerangkeng pola pikir dan tawarkan alternatif. Dunia ini bukan hanya makin global, tapi juga kian kompetitif. Kalau tidak mampu membuat terobosan, kita akan ketinggalan. Di segala bidang. Lebih-lebih, bidang keilmuan yang sangat dinamis.

Jangan hanya berpikir mengikuti jejak pendahulu. Lampaui pencapaian mereka! Dulu, kita sudah bangga kalau berhasil menyelesaikan studi di kampus-kampus bergengsi di Amerika. Kini, saatnya Anda bahkan juga mengajari orang-orang bule itu. Tak ada yang tidak mungkin. Semua bermula dari mimpi besar. Mumpung mimpi masih gratis, jangan tanggung-tanggung!

Anda semua, para pembaca, punya modal melebihi yang saya miliki. Baik modal finansial maupun intelektual. Ayo jelajahi dunia, tembus kampus-kampus terbaik. Tapi, jangan lupa pesan Bang Haji: “Perjuangan dan Doa.”


Written by Mun'im Sirry

Mun'im Sirry

Assistant Professor di Fakultas Teologi Universitas Notre Dame, USA. Tiga karyanya: "Polemik Kitab Suci: Tafsir Reformis Atas Kritik Al-Quran Terhadap Agama Lain" (Gramedia, 2013), "Kontroversi Islam Awal: Antara Mazhab Tradisionalis dan Revisionis" (Mizan, 2015), dan "Scriptural Polemics: The Qur’an and Other Religions" (Oxford University Press, 2014).

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR