Senin, Januari 25, 2021

Ketika Taman dan Sungai Memikat Hati Warga

Jokowi, Ramadan, dan Harga Pangan

Tahun ini merupakan Ramadan kedua Presiden Joko Widodo memimpin negeri ini. Tidak ingin terjebak rutinitas kenaikan harga, tahun ini Presiden Jokowi ingin harga kebutuhan...

Yang Muda yang Radikal

Acara Halaqoh Bahaya Narkoba, Terorisme, dan Radikalisme yang digelar oleh Nahdlatul Ulama (NU) di Genteng, Banyuwangi, Jawa timur, Senin (11/1). ANTARA FOTO/ Budi Candra...

Militerisme dan Nasionalisme Baris-berbaris Pendidikan Kita

Ada fakta gawat yang sedang kita hadapi. Pertama, dalam studi Endang Turmudi (2016), peneliti senior LIPI, 21 persen siswa menyatakan Pancasila sudah tak relevan....

Elite Politik dan Kisah Buruk Muka Cermin Dibelah

Kehidupan politik Indonesia di tahun 2016 baru saja berjalan. Imbauan untuk tidak gaduh di tahun ini justeru dibuka dengan beberapa pernyataan dari Kementerian Pendayaagunaan...
Avatar
Sudiarto
Peneliti di InTrans (Institute for Transformation Studies)

taman-rusak
Taman yang rusak di depan Balai Kota DKI Jakarta. Foto Merdeka.com

Usai salat Jumat di Masjid Istiqlal, Jakarta, pekan lalu, belasan ribu massa umat Islam yang didominasi Front Pembela Islam (FPI) berpawai di jalan-jalan ibukota. Demonstran meluruk sejumlah instansi pemerintahan, dari Balai Kota DKI hingga Mabes Polri. Orator aksi sampai meneriakkan seruan pembunuhan terhadap Ahok, Sang Gubernur DKI. Satu penggal cerita kemudian menjadi viral di media sosial, ketika sejumlah tanaman di taman depan Balai Kota rusak terinjak-injak oleh massa demonstran.

Sejumlah pihak memang mengapresiasi para demonstran yang bertindak tertib, tidak melakukan tindakan apa pun yang memancing reaksi aparat keamanan. Lebih-lebih selama ini citra FPI sering diidentikkan dengan aksi-aksi vandalisme yang menimbulkan sentimen negatif di mata publik.

Tapi citra positif yang coba dibangun tersebut seolah runtuh seketika, hanya gara-gara tindakan segelintir peserta aksi yang merusak taman. Pembenaran dan saling tuding sempat mencuat tentang siapa tertuduh perusak taman tersebut.

Mereka yang mendukung aksi demonstrasi itu berusaha mengecilkan dampak kerusakan taman. Menurut mereka, hampir setiap kehadiran massa dalam jumlah besar pasti berpotensi merusak sejumlah fasilitas umum. Misalnya, pesta rakyat pada saat pelantikan Jokowi-Ahok sebagai Gubernur DKI pada 2012 lalu ataupun malam perayaan Tahun Baru yang menghasilkan berton-ton sampah.

Sayangnya, nasi telah menjadi bubur. Taman kota telanjur rusak. Kerusakan itu mungkin kecil saja, ibaratnya nila setitik rusak susu sebelanga. Tapi soal taman rusak tidak bisa lagi dianggap hanya setitik nila. Di tengah kerinduan warga kota akan ruang-ruang publik yang lebih baik, aksi merusak seperti itu memberikan pukulan balik yang serius.

Kita tentu masih ingat, ketika publik ibukota sangat mengapresiasi kebijakan Dinas Kebersihan DKI dalam menyulap sungai-sungai yang semula dipenuhi sampah menjadi bersih. Foto-foto sungai bersih Jakarta mengundang decak kagum, sesuatu yang tidak pernah dibayangkan pernah hadir di kota yang serba semrawut ini.

taman-sungai-ahok
Salah satu waduk dan taman kota di Jakarta Pusat.

Taman dan sungai kini memasuki dimensi politik, terutama diawali oleh Tri Rismaharini di Surabaya. Risma yang berlatar belakang birokrat di Dinas Kebersihan dan Pertamanan berhasil memenangkan pertarungan politik sebagai wali kota bermodalkan kebijakan memperbaiki taman-taman kota.

Lebih dekat lagi dengan Jakarta, Ridwan Kamil yang berlatarbelakang akademisi di bidang arsitektur berhasil memikat hati warga kota Bandung dengan membuat taman-taman tematik. Anak-anak muda dari latar belakang kelas menengah yang hobi ber-selfie menemukan tempat untuk berkumpul dan memviralkannya.

Jika Ahok di Jakarta berhasil membersihkan sungai-sungai, di sebuah kota kecil di Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah sukses dengan “hanya” membangun waduk. Pemikiran Nurdin sederhana saja, Kabupaten Bantaeng sebagai daerah pertanian menghadapi dua masalah menahun: banjir dan kekeringan.

Dua permasalahan tersebut diselesaikan dengan satu kebijakan, membuat waduk untuk menampung air saat musim hujan dan menyalurkannya saat musim kemarau.

Kembali ke Jakarta, Ahok bersikeras menggusur lokalisasi Kalijodo demi mengembalikan ruang terbuka hijau (RTH) yang masih belum mencapai target. Undang-undang tentang tata ruang mengamanatkan ketersediaan RTH minimal 30 persen, di antaranya 20 persen berupa RTH publik yang menjadi tanggung jawab pemerintah kota.

Meskipun akurasi data masih diragukan, berpegang pada data dari Dinas Pertamanan dan Permakaman DKI, luas RTH di Jakarta baru mencapai 9,98 persen pada 2015 lalu. Artinya, pemerintah masih harus bekerja keras untuk mencapai target ideal di tengah belantara hutan beton ibukota.

Taman kota adalah salah satu elemen dari RTH. Tidak heran, rusaknya taman akibat ulah segelintir massa demonstran yang ingin menggusur Ahok dari pentas Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI mendapat respons negatif dari publik. Di satu sisi, kelompok-kelompok Islam sangat mempersoalkan ucapan Ahok yang dinilai menistakan agama Islam. Di sisi lain, bukankah gambaran surga sebagai impian tertinggi setiap pemeluk Islam dideskripsikan dalam al-Qur’an laksana taman yang mengalir di bawahnya sungai-sungai?

Ketika taman itu rusak, sesungguhnya kita sedang merusak imaji tentang surga.

Avatar
Sudiarto
Peneliti di InTrans (Institute for Transformation Studies)
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Warna, Nada, dan Keberagaman Bangsa

Rifa Rosydiana Ratal SMAN 24 Jakarta Pemenang Lomba Menulis Esai “Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita”. Sahabat Khatulistiwa. Desember 2020 Berbagai kontras yang dimiliki warna dan berbagai...

Kebiri Kimia Amputasi HAM

Pada 7 Desember 2020 lalu, Presiden Jokowi menandatangani Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi...

Sastra dan Jalan Lain Filsafat

Persinggungan eksistensial manusia dengan beragam realitas peradaban tidak mengherankan melahirkan berbagai pertanyaan fundamental – filosofis. Mempertanyakan, membandingkan, dan memperdebatkan beragam produk peradaban, salah satunya...

Ujian Konsistensi Penanganan Konsistensi Sengketa Hasil Pilkada

Jelang sengketa hasil pemilihan kepala daerah di Mahkamah Konstitusi kerap timbul bahasan atau persoalan klasik yang selalu terjadi. Sebagai lembaga peradilan penyelesai sengketa politik,...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.