in , ,

Ketika Ridwan Kamil dan Ganjar Berkicau

 

Walikota Bandung, Ridwan Kamil. ANTARA FOTO/ Yudhi Mahatma
Wali Kota Bandung Ridwan Kamil. ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma

Nama Ridwan Kamil hari-hari ini kembali santer, terutama terkait isu kemungkinan dia akan berlaga di Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta. Sebagai pemimpin daerah, Kang Emil, begitu Ridwan Kamil akrab disapa, memang cukup populer. Sebab, dia tergolong pemimpin yang doyan berkicau. Dunia Twitter Indonesia pun sempat heboh dengan kicauan Wali Kota Bandung itu belum lama ini.

Beberapa hari lalu, misalnya, Kang Emil alias RK ngetwit seperti ini: “Sy menyesalkan, Wakil walikota Bdg ditolak studi banding ol pemko Surabaya. Insya Allah dg visi NKRI kami di Bdg akn terima siapapun ut studi.”

Dalam beberapa kesempatan, Pemerintah Kota Surabaya sudah menjelaskan bahwa mereka tidak pernah menolak rombongan Pemerintah Kota Bandung. Sebab, semua ini hanya kesalahpahaman. Kang Emil membalas dengan melampirkan kronologis versi Pemkot Bandung sebagai berikut:

“Terlampir kronologis. Tdk mngkin dtg tanpa konfirmasi. logika sederhana. Smg tdk terjadi lg. Sby-Bdg itu bersaudara pic.twitter.com/kkt2FdFl3V.”

Kedua pemkot tersebut menyajikan kronologis yang berbeda. Dalam dunia politik, hal seperti ini tidak ubahnya seperti psywar yang dibingkai untuk kepentingan tertentu. Yang menarik, pencitraan yang dilakukan oleh Kang Emil bisa dilihat sebagai upaya untuk meningkatkan popularitasnya.

Dalam perspektif budaya kontemporer, masyarakat Indonesia dikenal mellow, sehingga mudah “jatuh cinta” dengan siapa pun yang terkesan dizalimi. Contoh yang paling terkenal adalah Susilo Bambang Yudhoyono, yang popularitasnya meningkat drastis setelah disudutkan oleh Taufik Kiemas (alm) pada 2004.

Upaya penyudutan yang dilakukan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) justru menjadi “hadiah” bagi Yudhoyono, karena justru meningkatkan popularitasnya. Menurut sejumlah analis politik, semasa menjabat 2004-2014, Presiden Yudhoyono bahkan menggunakan “air mata politik” untuk meningkatkan popularitasnya.

Baca Juga :   Muhammadiyah dan Komitmen Membangun Peradaban

Kini, masih harus dilihat, apakah Kang Emil atau politisi lain akan bertindak sejauh itu demi pencitraannya atau tidak. Mencermati banyaknya persamaan pola antara Kang Emil dan Yudhoyono, tidak heran kalau sebagian pengamat berpendapat gaya pencitraan mereka serupa. Bukan tidak mungkin Kang Emil dipengaruhi oleh Yudhoyono, yang sudah sangat sukses menggunakan gaya pencitraan mellow seperti itu.

Kang Emil adalah media darling, baik di media massa maupun media sosial. Kicauannya cenderung pencitraan. Di media massa, sangat sulit mencari pemberitaan yang menyudutkan atau menjelek-jelekkan Kang Emil. Bisa juga hal ini dilihat sebagai suksesnya tim hubungan masyarakat Kang Emil dalam membingkai berita.

Bisa disimpulkan, Kang Emil berhasil mencitrakan dirinya sebagai mr. nice guy. Sampai sekarang, akun RK di @ridwankamil sudah memiliki 1.290.340 followers, dengan 39.189 twit. RK atau Kang Emil bergabung ke Twitter pada Oktober 2009.

Yang juga menarik, RK mengadakan survei kecil-kecilan di Facebook, dengan menanyakan netizen ‘Apakah sebaiknya saya maju sebagai calon Gubernur DKI?’ Mayoritas komentar yang masuk ternyata menolak. RK akan mengumumkan keputusannya hari ini. Di akun Twitter @ridwankamil, RK mengumumkan bahwa:

“Untuk kebaikan yg lebih besar, hari ini saya memutuskan untuk TIDAK ikut pemilihan Gubernur Jakarta 2017. Hatur nuhun.”

Pada akun Facebook, RK menjelaskan bahwa alasan utama untuk tidak mengikuti Pilkada DKI 2017 adalah ketidaksetujuan mayoritas konstituennya di Bandung.

Hanya saja, perlu diingat bahwa keputusan di Facebook dan Twitter tidak mengikat secara hukum. Tanda tangan di atas materai, jika tidak dilegalisir oleh notaris, bahkan masih bisa dipertanyakan keabsahannya secara hukum. Apalagi pengumuman hanya di media sosial.

Dunia politik sangatlah dinamis, sehingga jika tidak ada keputusan hukum sama sekali, segala hal bisa berubah dalam hitungan detik. Namun, kebesaran hati Kang Emil untuk berniat tidak mengikuti Pilkada DKI Jakarta 2017 perlu diapresiasi. Niat Kang Emil untuk membenahi masalah banjir dan kemacetan di Bandung di sisa jabatannya perlu didukung dengan sepenuh hati.

Baca Juga :   Memangkas Masa Jabatan Pimpinan DPD
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo bersepeda di Jalan Slamet Riyadi saat Car Free Day Solo, Jawa Tengah. ANTARA FOTO/ Maulana Surya
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bersepeda di Jalan Slamet Riyadi saat Car Free Day Solo, Jawa Tengah. ANTARA FOTO/ Maulana Surya

Selain RK, ada Ganjar Pranowo (GP), Gubernur Jawa Tengah, dengan gaya twit pendek-pendek dan to the point. Sampai sekarang, akun twitter GP, @ganjarpranowo, memiliki 561.655 followers, dengan 4.7764 twit. GP bergabung ke Twitter pada Januari 2010.

GP adalah media massa darling, namun bukan media sosial darling. Sebab tidak pencitraan. GP cenderung ceplas ceplos, kurang ramah. Meski demikian, gaya GP sangat mirip dengan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Justru hal ini menjadi bagian dari pencitraan GP juga, karena tetap saja pengikutnya banyak.

Konstituen GP adalah mereka yang butuh aksi nyata di lapangan, bukan retorika yang mellow. Karenanya, berkomunikasi GP dengan mereka tidak mungkin dengan metode yang sama dengan di Bandung atau tempat lain.

Jika membandingkan RK dan GP, mana yg lebih disukai? Sebenarnya tidak ada gaya pencitraan yang terbaik, karena semua tergantung dari sentimen para konstituen masing-masing politisi. Baik RK dan GP tentu sudah melakukan survei yang sangat ekstensif kepada konstituen mereka. Dengan demikian, gaya komunikasi yang nyaman kepada pemilih merekalah yang disajikan.

Pengajar di STAI Al-Hikmah, Jakarta. Meraih PhD bidang bioinformatika dari Universitas Leipzig, Jerman.

Leave a Reply

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR