Rabu, Januari 27, 2021

Ketika Ibu Kandung Memutilasi Sang Buah Hati

Tentang Orang-orangan yang Gila Duit dan Gila Kuasa

Entah kapan persisnya saya membaca The Corporation: Pathological Pursuit of Profit and Power karya Joel Bakan. Yang saya ingat jelas adalah bahwa buku yang...

Kisah Penyintas Perkosaan dan Trauma yang Mengekor Pascakejadian

Dari semua jenis tindakan kriminal, yang membawa kepelikan paling besar bagi seseorang adalah kekerasan seksual. Tindakan tersebut bisa mendatangkan beban berlapis bagi si penyintas:...

Menanti Invasi Kaum Perempuan

Beberapa pekan lalu saya mendapatkan pertanyaan dari seorang sahabat saya soal kepemimpinan perempuan; adakah bedanya dengan kepemimpinan lelaki. Saya menyatakan ada, dan ada cukup...

Ramadhan dan 2 Tahun Khilafah ISIS

Pada 1 Ramadhan 1435 Hijriah (29 Juni 2014) kelompok militan Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) mendeklarasikan “negara” Khilafah. Ini berarti datangnya Ramadhan...
Avatar
Bagong Suyanto
Guru Besar di Departmen Sosiologi FISIP Universitas Airlangga, Surabaya.

mutilasi
Ilustrasi

Kisah orangtua yang tega membunuh atau memperkosa anak kandungnya sendiri sebetulnya bukan hal yang baru. Tetapi, kasus pembunuhan disertai mutilasi sadis yang menggegerkan warga Gang Jaya, Cengkareng Barat, Jakarta Barat, benar-benar membuat hati kita tertohok. Mutmainah alias Iin (28 tahun) tega membunuh dan memutilasi anak kandungnya sendiri yang masih berusia 1 tahun.

Anak pertama Mutmainah, yang semestinya juga menjadi korban, beruntung berhasil kabur dan selamat dari aksi sadis ibu kandungnya. Anak kedua pelaku bernasib naas. Bocah lelaki belia yang seharusnya memperoleh kasih-sayang dan tanpa dosa itu, ternyata harus meninggal dunia yang fana ini karena aksi di luar nalar ibunya sendiri.

Tidak hanya membunuh korban, entah karena kerasukan setan dari mana, ibu muda itu memotong-motong tubuh buah hatinya tanpa ada tujuan yang jelas. Benarkah ibu kandung korban mengalami gangguan jiwa hingga tega berbuat sadis membunuh anaknya sendiri?

Apa yang menjadi faktor penyebab pasti seorang ibu seperti Mutmainah tega membunuh dan memutilasi anak kandungnya sendiri, tentu masih harus dikaji secara lebih mendalam. Sejengkel apa pun dan semarah apa pun orangtua kepada anaknya, biasanya yang mereka lakukan adalah membentak, memarahi anaknya, atau maksimal memukul korban dengan ancaman agar tidak lagi mengulangi tindakannya yang dinilai keliru.

Dalam kasus di Cengkareng di atas, tindakan pembunuhan dan mutilasi yang dilakukan pelaku boleh dikata adalah tindakan agresif yang kelewat batas. Namun demikian, untuk memastikan apakah tindakan pelaku sekadar ekspresi dari kejengkelan yang sudah di ubun-ubun dari seorang ibu kepada anaknya, ataukah karena sebab yang lain, tentu harus dikaji benar latar belakang kehidupan sehari-hari pelaku selama ini.

Dari kacamata psikologis, untuk menjawab kenapa seorang ibu tega memutilasi anak kandungnya sendiri, paling-tidak ada tiga kemungkinan faktor penyebab yang mempengaruhi.

Pertama, karena sang ibu sedang mengalami depresi. Yang dimaksud depresi di sini adalah perasaan dysphoric yang mengendap lama, yang kemungkinan berhubungan dengan adanya perasaan merasa tidak berharga, keinginan bunuh diri, sulit konsentrasi, mengalami psikosomatis, dan lain-lain, yang kemudian memicu pelaku melakukan aksi yang di luar nalar akal sehat. Seseorang yang tengah mengalami masalah dalam keluarganya, misalnya, tidak mustahil akan mengalami depresi berkepanjangan.

Kedua, karena sang ibu skizofrenia. Berbeda dengan depresi yang acapkali menyebabkan pelaku membunuh dirinya sendiri, seorang penderita skizofrenia cenderung akan bersikap aktif dan tak sadar apa yang dilakukannya. Dalam kehidupan sehari-hari, pengidap skizofrenia seringkali tidak menyadari kaitan antara satu episode dengan episode dalam kehidupannya, karena tidak saling terhubung. Seseorang yang sifatnya pendiam maupun introvert acapkali lebih mudah terjerumus menjadi penderita skizofrenia.

Ketiga, karena sang ibu mengalami gangguan kejiwaan kronis, mengalami halusinasi, seperti merasa mendengar bisikan dan lain hal yang kemudian mendorong mereka untuk melakukan tindakan di luar nalar. Seseorang yang memiliki persoalan pribadi yang tak kunjung terpecahkan, tetapi hanya memendam sendiri persoalan yang dihadapi, cepat atau lambat akan mengalami gangguan jiwa yang dapat memicu tindakan lain yang tidak masuk akal.

Berbeda dengan tindakan agresif instrumental yang didorong oleh kepentingan dan tujuan tertentu, faktor psikologis yang mempengaruhi pelaku dalam peristiwa mutilasi di Cengkareng tampaknya adalah rangsangan afektif, tindakan impulsif sesaat yang berkombinasi dengan gangguan kejiwaan kronis yang lama terpendam.

Dari sudut mana pun kita menganalisis kasus pembunuhan dan mutilasi bocah balita yang dilakukan ibu kandungnya sendiri ini, jelas ini adalah peristiwa luar biasa yang terjadi tanpa bisa dipahami nalar normal masyarakat.

Berbeda dengan kasus child abuse yang menimpa anak-anak yang memang tidak dikehendaki kelahirannya, dalam kasus Mutmainah ada tanda tanya besar yang belum terjawab. Apakah perilaku ibu muda ini sejak lama memang terasa janggal, ataukah perilaku sadis yang dilakukan sama sekali tidak terduga itu muncul karena dorongan hal-hal yang irasional? Apakah Mutmainah merupakan sosok yang memang tertutup, ataukah sebelumnya sama sekali tidak ada tanda-tanda yang mengindikasikan kemungkinan pelaku mengalami gangguan kejiwaan?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, tentu yang dibutuhkan adalah investigasi dan pemeriksaan para ahli psikologi. Tetapi, satu pelajaran penting yang bisa diambil hikmahnya dari peristiwa Cengkareng ini adalah bagaimana masyarakat mau belajar dan bersikap lebih peka terhadap indikasi-indikasi dari kejadian sosial yang berpotensi dapat mencelakakan anak-anak.

Selama ini, berbagai kasus pembunuhan dan tindak kekerasan kepada anak biasanya baru menarik perhatian publik tatkala peristiwa yang terjadi sudah masuk wilayah kriminal dan anak yang menjadi korban sudah jatuh celaka. Sikap masyarakat seperti ini tentu membuat upaya melindungi anak-anak dari risiko menjadi korban perlakukan buruk orangtua atau pelaku lain menjadi terlambat: korban keburu tewas atau paling-tidak mengalami luka traumatik yang mendalam.

Peristiwa pembunuhan dan mutilasi anak kandung yang terjadi di Cengkareng bagaimanapun adalah sebuah pelajaran sekaligus tempat untuk berkaca. Kelak di kemudian hari jangan sampai peristiwa yang sama kembali terulang, dan kita hanya bisa prihatin, atau mengutuk kelakuan pelaku, tanpa ada pengaruhnya terhadap keselamatan anak-anak yang ada di sekitar kita.

Avatar
Bagong Suyanto
Guru Besar di Departmen Sosiologi FISIP Universitas Airlangga, Surabaya.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Roman Abramovich, Alexei Navalny, dan Premier League

Industri olahraga, khususnya sepakbola, telah mengalami perkembangan pesat. Mulai dari segi teknis maupun non-teknis. Mulai dari aktor dalam lapangan hingga pemain-pemain di belakang layar....

Perempuan dan Politik

Politik selalu identik dengan dunia laki-laki, dengan dunia kotor, tidak pantas untuk perempuan masuk kedalam ranah tersebut. Politik selalu identik dengan sesuatu yang aneh...

Karakteristik Milenial di Era Disrupsi

Dewasa ini, pemakaian istilah Disrupsi masih terdengar asing oleh kaum muda atau generasi milenial sekarang. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan disrupsi?. Jika kita...

Hak Cipta dan Perlindungan Kekayaan Intelektual

Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI) merupakan terjemahan dari Intellectual Property Right (IPR), sebagaimana diatur dalam undang-undang No. 7 Tahun 1994 tentang pengesahan Agreement Establishing...

Pengalaman Mantan Pasien Wisma Atlet

Ibu Mawar ingin memberi cerita pengalamannya yang dialami ia dan keluarga dalam menghadapi karena mengidap Covid 19 yang sempat dirawat di Wisma Atlet serta...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.