in ,

Ketika Ibu Kandung Memutilasi Sang Buah Hati


mutilasi
Ilustrasi

Kisah orangtua yang tega membunuh atau memperkosa anak kandungnya sendiri sebetulnya bukan hal yang baru. Tetapi, kasus pembunuhan disertai mutilasi sadis yang menggegerkan warga Gang Jaya, Cengkareng Barat, Jakarta Barat, benar-benar membuat hati kita tertohok. Mutmainah alias Iin (28 tahun) tega membunuh dan memutilasi anak kandungnya sendiri yang masih berusia 1 tahun.

Anak pertama Mutmainah, yang semestinya juga menjadi korban, beruntung berhasil kabur dan selamat dari aksi sadis ibu kandungnya. Anak kedua pelaku bernasib naas. Bocah lelaki belia yang seharusnya memperoleh kasih-sayang dan tanpa dosa itu, ternyata harus meninggal dunia yang fana ini karena aksi di luar nalar ibunya sendiri.

Tidak hanya membunuh korban, entah karena kerasukan setan dari mana, ibu muda itu memotong-motong tubuh buah hatinya tanpa ada tujuan yang jelas. Benarkah ibu kandung korban mengalami gangguan jiwa hingga tega berbuat sadis membunuh anaknya sendiri?

Apa yang menjadi faktor penyebab pasti seorang ibu seperti Mutmainah tega membunuh dan memutilasi anak kandungnya sendiri, tentu masih harus dikaji secara lebih mendalam. Sejengkel apa pun dan semarah apa pun orangtua kepada anaknya, biasanya yang mereka lakukan adalah membentak, memarahi anaknya, atau maksimal memukul korban dengan ancaman agar tidak lagi mengulangi tindakannya yang dinilai keliru.

Dalam kasus di Cengkareng di atas, tindakan pembunuhan dan mutilasi yang dilakukan pelaku boleh dikata adalah tindakan agresif yang kelewat batas. Namun demikian, untuk memastikan apakah tindakan pelaku sekadar ekspresi dari kejengkelan yang sudah di ubun-ubun dari seorang ibu kepada anaknya, ataukah karena sebab yang lain, tentu harus dikaji benar latar belakang kehidupan sehari-hari pelaku selama ini.

Baca Juga :   Muramnya Satu Tahun Presiden Sipil

Dari kacamata psikologis, untuk menjawab kenapa seorang ibu tega memutilasi anak kandungnya sendiri, paling-tidak ada tiga kemungkinan faktor penyebab yang mempengaruhi.

Pertama, karena sang ibu sedang mengalami depresi. Yang dimaksud depresi di sini adalah perasaan dysphoric yang mengendap lama, yang kemungkinan berhubungan dengan adanya perasaan merasa tidak berharga, keinginan bunuh diri, sulit konsentrasi, mengalami psikosomatis, dan lain-lain, yang kemudian memicu pelaku melakukan aksi yang di luar nalar akal sehat. Seseorang yang tengah mengalami masalah dalam keluarganya, misalnya, tidak mustahil akan mengalami depresi berkepanjangan.

Kedua, karena sang ibu skizofrenia. Berbeda dengan depresi yang acapkali menyebabkan pelaku membunuh dirinya sendiri, seorang penderita skizofrenia cenderung akan bersikap aktif dan tak sadar apa yang dilakukannya. Dalam kehidupan sehari-hari, pengidap skizofrenia seringkali tidak menyadari kaitan antara satu episode dengan episode dalam kehidupannya, karena tidak saling terhubung. Seseorang yang sifatnya pendiam maupun introvert acapkali lebih mudah terjerumus menjadi penderita skizofrenia.

Ketiga, karena sang ibu mengalami gangguan kejiwaan kronis, mengalami halusinasi, seperti merasa mendengar bisikan dan lain hal yang kemudian mendorong mereka untuk melakukan tindakan di luar nalar. Seseorang yang memiliki persoalan pribadi yang tak kunjung terpecahkan, tetapi hanya memendam sendiri persoalan yang dihadapi, cepat atau lambat akan mengalami gangguan jiwa yang dapat memicu tindakan lain yang tidak masuk akal.

Baca Juga :   “Kembar Siam” Politik Bisnis

Berbeda dengan tindakan agresif instrumental yang didorong oleh kepentingan dan tujuan tertentu, faktor psikologis yang mempengaruhi pelaku dalam peristiwa mutilasi di Cengkareng tampaknya adalah rangsangan afektif, tindakan impulsif sesaat yang berkombinasi dengan gangguan kejiwaan kronis yang lama terpendam.

Dari sudut mana pun kita menganalisis kasus pembunuhan dan mutilasi bocah balita yang dilakukan ibu kandungnya sendiri ini, jelas ini adalah peristiwa luar biasa yang terjadi tanpa bisa dipahami nalar normal masyarakat.

Berbeda dengan kasus child abuse yang menimpa anak-anak yang memang tidak dikehendaki kelahirannya, dalam kasus Mutmainah ada tanda tanya besar yang belum terjawab. Apakah perilaku ibu muda ini sejak lama memang terasa janggal, ataukah perilaku sadis yang dilakukan sama sekali tidak terduga itu muncul karena dorongan hal-hal yang irasional? Apakah Mutmainah merupakan sosok yang memang tertutup, ataukah sebelumnya sama sekali tidak ada tanda-tanda yang mengindikasikan kemungkinan pelaku mengalami gangguan kejiwaan?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, tentu yang dibutuhkan adalah investigasi dan pemeriksaan para ahli psikologi. Tetapi, satu pelajaran penting yang bisa diambil hikmahnya dari peristiwa Cengkareng ini adalah bagaimana masyarakat mau belajar dan bersikap lebih peka terhadap indikasi-indikasi dari kejadian sosial yang berpotensi dapat mencelakakan anak-anak.

Selama ini, berbagai kasus pembunuhan dan tindak kekerasan kepada anak biasanya baru menarik perhatian publik tatkala peristiwa yang terjadi sudah masuk wilayah kriminal dan anak yang menjadi korban sudah jatuh celaka. Sikap masyarakat seperti ini tentu membuat upaya melindungi anak-anak dari risiko menjadi korban perlakukan buruk orangtua atau pelaku lain menjadi terlambat: korban keburu tewas atau paling-tidak mengalami luka traumatik yang mendalam.

Baca Juga :   Pendulum Intoleransi dan Keadilan Sosial

Peristiwa pembunuhan dan mutilasi anak kandung yang terjadi di Cengkareng bagaimanapun adalah sebuah pelajaran sekaligus tempat untuk berkaca. Kelak di kemudian hari jangan sampai peristiwa yang sama kembali terulang, dan kita hanya bisa prihatin, atau mengutuk kelakuan pelaku, tanpa ada pengaruhnya terhadap keselamatan anak-anak yang ada di sekitar kita.


Written by Bagong Suyanto

Bagong Suyanto

Guru Besar dan Dosen Kemiskinan di Departmen Sosiologi FISIP Universitas Airlangga

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR