Selasa, Maret 2, 2021

Ketika Al-Qur’an Lebih Membela Non-Muslim

Di Mana Budaya Malu Pemimpin Kita

(Ilustrasi) Ketua BPK Harry Azhar Azis (kanan) menunjukkan surat pemanggilan klarifikasi pajak atas Surat Pemberitahuan (SPT) Pajak penghasilan 2015 di Kantor Pusat Ditjen Pajak,...

Manuver Ombudsman di Ujung Periode Jabatan

Kita membaca begitu ramai pembahasan publik terkait rangkap jabatan di dalam lingkungan BUMN. Banyak pendapat yang mengecam tindakan rangkap jabatan di dalam lingkungan BUMN....

Ulama-Ulama Homoseksual

Judul kolom ini diinspirasikan oleh buku al-‘Ulama al-‘Uzzab (Ulama-ulama Jomblo) karya Abdul Fattah Abu Ghuddah. Saya akan memulai dengan menyebut beberapa contoh "ulama homo",...

Bersama Memi’rajkan Diri [Renungan Isra’Mi’raj]

Fakta bahwa banyak orang begitu mudah percaya pada berita hoaks, tanpa proses verifikasi, membersitkan hipotesis bahwa telah terjadi penurunan fungsi kognitif yang cenderung masif....
Mohamad Guntur Romli
Penulis dan aktivis. Sehari-hari sebagai Kurator di Komunitas Salihara.

al-quranZaid bin As-Samin, seorang Yahudi di Madinah, sedang gundah gulana. Ia tak pernah mengira dituduh sebagai pencuri. Terbayang, hukum potong tangan akan segera dijatuhkan. Apalagi penuduhnya orang-orang Islam dari golongan Anshar: mereka yang menolong dan memenangkan Nabi Muhammad SAW.

Sementara ia yang beragama Yahudi, termasuk “kelompok minoritas” di Madinah saat itu. Secara kekuatan politik dan sosial, Zaid tidak memiliki “backing” yang kuat, dibanding para penuduhnya. Apalagi bukti barang curian: baju perang juga ditemukan di rumahnya. Ia merasa takkan bisa terbebas dari jeratan tuduhan.

Zaid tak habis pikir dengan tuduhan itu, padahal ia hanya dititipkan baju perang oleh Thu’mah bin Ubairiq, jirannya, dari Bani Dhafar bin Al-Hartis. Menurut penuturan Thu’mah, baju perang itu milik pamannya dan ia hanya menitip. Tapi kini, Thu’manah malah ikut menuduhnya sebagai pencuri baju perang itu. Zaid tidak punya saksi yang bisa menguatkan bantahannya atas tuduhan itu

Si empu baju perang, Qatadah bin An-Nu’man, melaporkan kasus ini kepada Nabi Muhammad agar pelaku pencurian dijatuhkan hukuman. Tapi ia juga melaporkan Thu’mah karena menemukan jejak-jejak baju perang awalnya di rumah Thu’mah. Namun, kemudian Thu’mah malah menuduh orang Yahudi, Zaid, sebagai pencurinya dan barang bukti ditemukan di rumah Zaid.

Thu’manah dan Zaid pun dipanggil Nabi Muhammad atas dasar laporan pencurian tadi. Mengetahui kabar itu, saudara, kerabat, dan kabilah Thu’mah yakni Bani Dhafar bin Al-Harits ikut datang menemani dan membela Thu’mah. Mereka memamerkan dukungan, solidaritas, dan kekuatan kabilah mereka pada Nabi Muhammad. Apalagi sebagai status golongan Anshar, kaum Arab Muslim yang telah memberikan suaka politik dan membantu perjuangan Islam.

Mereka menuntut pada Nabi Muhammad, “Bebaskan Thu’mah dari tuduhan!”

Mereka pun melemparkan kesalahan pada Zaid, “Yahudi itu pencurinya, hukum dia!”

Zaid bin As-Samin yang hadir sendirian, semakin ketakutan, tak ada pembelanya. Ia orang Yahudi yang hidup di tengah-tengah komunitas Muslim Madinah. Ia tak punya saksi yang menguatkan bantahannya: bahwa ia hanya dititipkan baju perang yang ternyata barang curian itu. Zaid hanya bisa pasrah, meski terus membantah.

“Ya Rasulullah, Zaid itu orang Yahudi, dia mengingkari Allah dan mengingkari ajaran-ajaranmu,” tegas kerabat dari Kabilah Thu’mah.

Kalau dalam bahasa sekarang, “Ya Rasul, Zaid itu orang kafir, orang Yahudi, Zionis, Amerika, Aseng, Asing bla … bla … bla… hukum saja dia, masa kamu mau belain orang kafir dan tidak membela orang Islam!”

Hampir saja Nabi Muhammad condong pada tuntutan kabilah Thu’mah, membebaskan Thu’mah dari tuduhan dan menjatuhkan semua kesalahan pada Zaid bin As-Samin, orang Yahudi itu.

Namun Allah Maha Mengetahui. Allah Maha Mendengar. Turunlah ayat-ayat al-Qur’an untuk membela orang Yahudi, Zaid bin As-Samin, dan menyalahkan Thu’mah, serta mengingatkan Nabi Muhammad untuk tetap menjaga kebenaran dan keadilan tanpa perasaan takut dan sikap takluk hanya karena gerombolan-gerombolan yang ingin memencongkan kebenaran dan keadilan itu.

Seluruh penulis kitab tafsir al-Qur’an sepakat menceritakan sebab turunnya (asbab nuzul) ayat 105-112 dalam Surat An-Nisaa’ terkait dengan kisah Zaid bin As-Samin, orang Yahudi dan Thu’mah bin Ubairiq, orang Islam yang terlibat kasus pencurian dengan tuduhan itu.
Dalam kitab Tafsir Imam As-Suyuthi, Ad-Durru al-Mantsur fit Tafsir bil Ma’tsur, mengutipkan riwayat-riwayat yang terkait kisah di atas.

Ayat 105-107 Surat An-Nisaa’ adalah teguran Allah kepada Nabi Muhammad, agar tetap menegakkan kebenaran dan keadilan secara konsisten dengan tidak menjadi pembela orang yang khianat serta memohon ampun kepada Allah.

Ayat 108 membongkar “konspirasi” Thu’mah dengan bunyi, “Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bisa bersembunyi dari Allah, karena Allah bersama mereka…”
Dan ayat 112 menegaskan perbuatan Thu’mah, “Barang siapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkan kepada orang yang tidak berdosa, maka sesungguhnya ia telah berbuat kebohongan dan dosa yang nyata.”

Inilah ayat-ayat al-Qur’an yang diturunkan secara khusus untuk membela seorang Yahudi yang dituduh bersalah dengan mencuri dan mengecam orang Muslim, pencuri sebenarnya sekaligus penuduh yang melempar kesalahannya pada orang lain.

Dari kisah turunnya ayat-ayat tadi kita diajak untuk menegakkan keadilan dan kebenaran secara konsisten tanpa memandang suku dan agama apa pun. Meskipun pelaku adalah orang yang kuat dari sisi latar belakang suku dan agamanya, kalau dia berasalah, tidak layak dibela, dan keadilan tak bisa dibengkokkan gara-gara berhadapan dengan kekuatan politik dia.

Dan korban yang tidak bersalah, meskipun berasal dari komunitas yang kecil dan lemah, namun karena ia benar, maka tidak bisa dizalimi dan ditimpakan kesalahan padanya sebagai “kambing hitam”.

Semoga kita termasuk golongan yang mampu menegakkan kebenaran dan keadilan secara konsisten.

Terkait

Ahok dan Kepemimpinan Non-Muslim

Mohamad Guntur Romli
Penulis dan aktivis. Sehari-hari sebagai Kurator di Komunitas Salihara.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.