OUR NETWORK

Kenapa Selalu Menyalahkan Perempuan?

Aktivis yang tergabung dalam Serikat Perempuan Indonesia (Srikandi) berunjuk rasa di bawah Jembatan Layang Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (28/9). Mereka mengecam segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan meminta pemerintah untuk memberi perlindungan dan keamanan bagi kaum perempuan dalam berkreasi dan bekerja. ANTARA FOTO/Yusran Uccang/aww/15.
Aktivis yang tergabung dalam Serikat Perempuan Indonesia (Srikandi) berunjuk rasa di bawah Jembatan Layang Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (28/9/2014). Mereka mengecam segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan meminta pemerintah untuk memberi perlindungan dan keamanan bagi kaum perempuan dalam berkreasi dan bekerja. ANTARA FOTO/Yusran Uccang.

Keberpihakan, bagi saya, adalah perkara bagaimana hati nurani dan akal sehat bersetia. Anda boleh pintar setinggi langit dan cerdas luar biasa. Tapi jika Anda berdusta dan berkhianat pada hati nurani, maka segala ilmu yang Anda miliki boleh jadi tak lebih baik dari seonggok tinja di kakus. Toh tinja punya manfaat, tapi tidak hati yang dengki.

Saya percaya bahwa dalam perkara keimanan, posisi perempuan dan lelaki setara. Tak ada yang membuat lelaki lebih istimewa daripada perempuan, dan tidak ada yang membuat satu dan lainnya dominan dalam perkara keimanan. Namun tugas dan kewajiban punya perannya sendiri. Bagi saya, ini hanya perihal kesepakatan diri dan kedewasaan bersikap. Apakah dengan mengabdi pada suami membuat perempuan lebih rendah derajatnya? Atau karena lelaki menjadi kepala keluarga membuat ia jadi lebih mulia di mata Allah? Saya kira tidak.

Masing-masing dari kita dinilai dari keimanan dan kebaikannya terhadap sesama manusia.

Agak mengganggu ketika belakangan saya melihat fenomena komikal yang merendahkan posisi perempuan. Perihal jilboobs, pemakai jilbab yang menunjukan kemolekan dadanya. Ada yang luput dipahami khalayak dari fenomena komikal ini. Posisi perempuan yang direndahkan karena ia memakai penutup (hijab) namun masih menunjukan keindahan tubuhnya. Di sini, lelaki menempatkan perempuan perempuan tadi sebagai objek lelucon yang merendahkan.

Para lelaki (yang muslim) tersebut tentu saja tidak memahami bahwa perintah perempuan untuk menutup aurat dengan hijab sepaket dengan perintah lelaki untuk menundukkan pandangan. Bahwa perintah-perintah perempuan untuk menjaga diri dengan penutup, jauh lebih sedikit daripada riwayat lelaki yang diperintahkan menahan diri. Jika para lelaki yang merendahkan tadi punya otak untuk berpikir, ia akan sadar bahwa dalam Islam lelakilah yang semestinya menghormati dan menjaga, ketimbang perempuan menutup dan mencegah.

Jilboobs adalah kengerian fasisme dari lelaki yang gagal memahami keberadaan perempuan. Mereka berpikir perempuan boleh direndahkan, dihina, dan dilecehkan karena bagian tubuhnya menonjol. Bahwa perempuan-perempuan ini dapat diinjak harkat dan haknya karena ia sedang belajar menutup tubuhnya, namun tidak sempurna karena ia sedang berproses perihal iman yang sebaik-baiknya. Bukan tidak mungkin pelecehan dan penghinaan tadi malah meredupkan semangat perempuan tadi untuk konsisten beragama.

Beberapa lelaki yang kurang waras memang mudah merespons kegenitan dengan pelecehan, alih-alih menahan diri dan bersikap santun.

Dalam buku The Idea of Women in Fundamentalist Islam, Lamia Rustum Shehadeh, doktor lulusan Harvard dan dosen Universitas Beirut, menelaah perihal relasi tafsir teks ayat kitab suci dan praktik patriarkhis. Ia menembak banyak nama-nama besar seperti Imam Khomeini, Sayid Qutb, dan Maududi yang dianggapnya standar ganda. Perempuan kerap dianggap sebagai angkatan kerja murah, tenaga domestik gratis, dan pasukan tambahan yang berani mati. Namun kritik tersebut lebih menyoroti hak-hak politik dan bernegara ketimbang hak hak lahiriah perempuan.

Namun, di sisi lain, Syaikh Muhammad Abduh menulis, “Kalaulah kewajiban perempuan mempelajari hukum-hukum agama kelihatannya amat terbatas, maka sesungguhnya kewajiban mereka untuk mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan rumah tangga, pendidikan anak, dan sebagainya, yang merupakan persoalan-persoalan duniawi (dan yang berbeda sesuai dengan perbedaan waktu, tempat, dan kondisi), jauh lebih banyak daripada soal-soal keagamaan.”

Dalam fenomena jilboobs, saya kira banyak lelaki (juga media) tidak adil menempatkan posisi perempuan. Alih-alih melindungi atau merangkul, banyak dari kita yang mengecam dan melaknat pemakainya. Padahal mereka, mungkin dalam hal ini, tidak berniat melakukan hal tersebut. Di media sosial banyak lelaki yang menyebarkan foto-foto seronok tersebut, seolah ini adalah kewajaran dan lelucon belaka. Padahal ada hal serius di sini, perihal penerobosan privasi dan kedaulatan diri.

Orang-orang ini menyebarkan foto-foto tersebut tanpa zjin, menyertakan caption yang tidak senonoh lantas bercanda bahwa ini adalah sesuatu yang wajar. Saya paham bahwa di Internet, ketika sebuah foto beredar, ia tak akan pernah hilang. Namun jika konteks menjaga pandangan dan menjaga diri diposisikan kepada tiap laki-laki, maka sepatutnya mereka tidak menyebar, merendahkan atau bahkan menghinakan keberadaan para perempuan itu.

Muhammad Al-Ghazali, salah seorang ulama besar Islam kontemporer berkebangsaan Mesir, menulis, “Kalau kita mengembalikan pandangan ke masa sebelum seribu tahun, maka kita akan menemukan perempuan menikmati keistimewaan dalam bidang materi dan sosial yang tidak dikenal oleh perempuan-perempuan di lima benua. Keadaan mereka ketika itu lebih baik dibandingkan dengan keadaan perempuan-perempuan Barat dewasa ini, asal saja kebebasan dalam berpakaian serta pergaulan tidak dijadikan bahan perbandingan.”

Dalam kitab klasiknya Hak Hak Perempuan dalam Islam, Murtadha Mutahhari menuliskan perihal sikap terbaik manusia terhadap sesamanya. Menurutnya, Islam menentang konservatisme yang beku maupun kenaifan yang jahil. Bahaya yang mengancam Islam datang dari kedua kelompok tersebut. Orang-orang yang terobsesi dengan kemurnian berusaha menegakkan aturan dengan kekerasan, sementara orang-orang yang naif dengan kemajuan menolak hukum Allah dengan dalih perkembangan zaman.

Lebih lanjut Murtada Mutahhari mengutip fragmen Al-Baqarah ayat 187: “Hunna libaasun lakum, wa antum libaasun lahunna” (Mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka). Menurutnya, Islam menempatkan perempuan sebagai rekan setara yang kehormatannya mesti dijaga. Karena masing masing dari lelaki dan perempuan merupakan pakaian bagi yang lainnya. Ide semacam ini mungkin akan susah dipahami apabila salah satunya mengalami superior sindrom.

Tentu, bagi pecundang misoginis yang besar dalam paradigma patriarkis dungu, menyalahkan perempuan karena memakai penutup yang tak sesuai kaidah agama lebih mudah, ketimbang menundukkan pandangan dan menegur baik-baik. Ini perkara mental, kita tak bisa memaksa semua orang untuk menggunakan otak mereka. Kadang mereka lebih suka memandang, menikmati, dan merendahkan keberadaan perempuan, ketimbang belajar menjaga diri dan selangkangan. Lagi pula, kalaupun terjadi pelecehan seksual, salah si perempuan. Siapa suruh pakai pakaian seksi?

Kolom Terkait:

Korban Perkosaan: Diam dalam Dendam

Arman Dhani
Editor, Vinyl Junkie, penggila sepatu, dan pengepul buku.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

REKOMENDASI

KARTUN HARI INI

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…