Minggu, April 11, 2021

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Ada Apa dengan Fatwa Ulama?

Seorang aktivis media sosial, Hery Latief, memposting meme berbunyi: "Numpang tanya: Sejak kapan Undang-undang diganti sama fatwa; Ulama diganti sama MUI; Polisi diganti sama...

Transformasi BUMN

Dengan terbitnya UU No. 2 tahun 2020 dan Inpres No.6 tahun 2020, telah memberikan gambaran pada kita bahwa pemerintah sedang mengerjakan dua prioritas penting....

Mengapa Kita Perlu Memperkuat Literasi Keagamaan Kita

Meskipun Amerika adalah negeri yang paling majemuk agamanya di dunia, banyak masyarakatnya yang tidak tahu dasar-dasar tentang agama (religious illiteracy), seperti yang ditulis Dr....

Setan-setan Semenjana

Milan kalah lagi. Kali ini dari Juventus. Tentu saja tak ada yang terlalu mengejutkan; memang kapan kita terakhir mendengar Milan mengalahkan Juve? (Kalau tidak tahu,...
Giring Ganesha
Giring Ganeshahttps://giring.id
Ketua Umum DPP PSI, Bakal Calon Presiden RI 2024-2029

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan banjir kiriman sebagai penyebab banjir di Jakarta.

Kritik itu kemudian menjadi kontroversi bagi sebagian orang karena menganggap saya kurang pantas, bahkan naif dan kerdil, sebagaimana yang disampaikan oleh senior saya, Sigit Purnomo atau yang lebih dikenal sebagai Pasha Ungu.

 

Untuk itu, melalui tulisan ini saya ingin merespons beberapa hal terkait kritik saya tersebut.

Pertama, yang sampaikan kepada Mas Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta adalah kritik, bukan ujaran kebencian, apalagi dendam. Saya tidak menyerang Mas Anies secara personal, namun memberikan kritik secara subtantif berkaitan dengan upayanya sebagai orang nomor satu di DKI Jakarta dalam program penanganan banjir.

Saya, sebagaimana juga penduduk Jakarta lainnya, memiliki hak dan kewajiban untuk menyampaikan kritik kepada pejabat publik yang telah disumpah dan bertanggung jawab untuk melayani warga yang dipimpinnya dengan sebaik-baiknya. Hak untuk menyampaikan kritik ini dijamin oleh konstitusi tanpa perlu terlebih dahulu memiliki pengalaman sebagai pejabat publik.

Kedua, sebagai Plt Ketua Umum DPP PSI, saya memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikan aspirasi warga Jakarta. Mereka menyampaikan aspirasi kepada kami karena terdampak dan merasa dirugikan atas musibah banjir yang melanda Jakarta saat itu. Korban pertama banjir adalah rakyat, terutama rakyat kecil. Mereka yang kehilangan pekerjaan dan kesusahan karena pandemi, kini harus menanggung beban baru karena rumahnya terendam, tempat kerja mereka tidak bisa dipakai mencari nafkah karena banjir.

Dalam pemahaman saya, bukankah menghimpun aspirasi, mengartikulasi gagasan dan kepentingan masyarakat untuk mempengaruhi kebijakan publik adalah fungsi esensial dari partai politik? Justru, sebagai Plt Ketua Umum PSI, saya merasa sangat naif dan kerdil bila abai terhadap aspirasi yang datang dari konstituen kami.

Ketiga, kritik saya kepada Mas Anies selaku Gubernur DKI Jakarta berbasis data. Pada banjir kemarin, data BMKG menunjukkan status pintu air di Bogor dan Depok normal. Artinya melempar kesalahan pada banjir kiriman adalah sebuah kekeliruan.

Kemudian, mengganti program normalisasi menjadi naturalisasi tapi terbukti tidak berjalan, hanya menjadi wacana di atas kertas. Mas Anies sudah menyia-nyiakan tiga tahun sebagai gubernur dengan bekerja jauh dari optimal. Di luar itu, Jakarta adalah simbol nasional, simbol Indonesia. Merepresentasikan negeri kita. Banjir berulang di ibukota adalah aib nasional.

Kritik saya juga lahir dari perbincangan intensif dengan anggota Fraksi PSI di DPRD DKI Jakarta. Mereka melihat persoalan dari dekat: terjun langsung ke lapangan dan bertemu para stakeholders, termasuk warga Jakarta.

Kritik adalah fondasi penting bagi demokrasi. Tentu, saya dan teman-teman di PSI tidak akan memaksa orang lain untuk memiliki pandangan seperti kami. Perbedaan pandangan justru adalah dinamika yang dapat mendewasakan dan memperkuat demokrasi Indonesia. Kita dapat bersama menjaga demokrasi ini tetap hidup dan berjalan secara sehat di Indonesia melalui pengawasan dan penyampaian kritik yang konstruktif bagi penyelenggaraan pemerintahan, baik pusat dan daerah. Bukan dengan caci-maki atau menyerang seseorang secara personal.

Terakhir, dalam keyakinan politik saya, kritik adalah cara untuk memperbaiki arah kebijakan publik. Agar kita tidak terjatuh berulangkali pada tragedi yang sama, agar banjir tidak menjadi hal rutin di ibukota. Agar kita tidak menganggap banjir sebagai takdir. Kritik adalah cara kita belajar agar kelak tidak lagi salah memilih pemimpin.

Sumber giring.id

Giring Ganesha
Giring Ganeshahttps://giring.id
Ketua Umum DPP PSI, Bakal Calon Presiden RI 2024-2029
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Stop Propaganda Anti Syiah, Bersatulah Sunni dan Syiah

Apabila kita search dengan kata kunci Syiah, entah itu di youtube, google, instagram, dan lain sebagainya. Kita pasti akan menemui berbagai gambar atau video...

Kudeta Militer Myanmar, Asumsi Media Tentang Posisi Indonesia

Pada awal tahun 2021 dunia internasional dikejutkan dengan peristiwa yang terjadi di salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yakni Myanmar. Negara yang dulunya...

ARTIKEL TERPOPULER

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Remaja dan Zona Nyaman

Remaja pada umumnya selain terlihat fisiknya yang berubah, tetapi juga mengubah perlahan tentang pola pikirnya. Pola pikir ini berhubungan dengan sebuah tahanan sesorang remaja...

Presiden Joe Biden: Gesture pada Islam dan Dunia Muslim

Joe Biden telah empat bulan lalu dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat ke 46 pada 20 Januari 2021. Joe Biden bersama pasangan wakil presiden Kamala...

Stop Propaganda Anti Syiah, Bersatulah Sunni dan Syiah

Apabila kita search dengan kata kunci Syiah, entah itu di youtube, google, instagram, dan lain sebagainya. Kita pasti akan menemui berbagai gambar atau video...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.