Rabu, Maret 3, 2021

Kenapa Belajar Filsafat di SMA Penting?

PKI dan Narasi Sejarah Indonesia

Bagaimanakah kita menyikapi narasi PKI dalam sejarah Indonesia? Sejarah resmi mencatat PKI adalah organisasi politik yang telah menorehkan “tinta hitam” dalam lembaran sejarah nasional,...

Kakek dan Otong No Vaksin?

Para "kritikus'' Jokowi meleleh! Kritiknya loyo. Tak relevan lagi. Kenapa? Tantangan para oposan dijawab lugas presiden. "Vaksin gratis untuk seluruh rakyat," kata Presiden Joko Widodo, Rabu...

Islam Otentik ala Gus Dur dan Dawam Rahardjo

Nahdlatul Ulama dan Muhammadyah adalah organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam yang paling mewarnai sejarah bangsa kita. Pendirian NU dan Muhammadyah merupakan pergulatan suatu komunitas lokal,...

In Memoriam Dadang Hawari

Dunia psikiatri Islam menangis. Salah seorang "pendekar dan suhu"-nya Prof. Dr. Dadang Hawari, psikiater terkemuka di Indonesia meniggal, Kamis (4/12/2020) di Jakarta. Dadang Hawari, tak...
Andar Nubowo
Andar Nubowo
Sekjen Public Virtue Institute (PVI) Jakarta, Mahasiswa S3 Filsafat dan Epistemologi Ecole Normale Superieure (ENS) Lyon Perancis

Sastrawan, filolog, filsuf, dan sejarawan dari Perancis, Ernest Renan pernah mengajukan kritik kepada Syeikh Muhammad Jamaluddin Al-Afghani. Saat debat di Universitas Sorbonne pada 1883 Ernest Renan mengatakan, semenjak filsafat dan filosofnya dibenc serta dipersekusi, dunia Islam tenggelam dalam buritan peradaban. Afghani menerima kritik itu, sembari menyatakan juga bahwa dunia Kristen Barat pun pernah mengalami kegelapan akibat persekusi Gereja. Dalam balasannya, Renan yakin, Islam dan peradabannya akan gemilang jika tradisi berpikir ilmiah dan bebas di kalangan Muslim disemarakkan kembali. Afghani pun sependapat.

Seratus tahun kemudian, dunia Islam yang diimpikan oleh Afghani melalui gelora Pan-Islamisme, baru, berhasil lepas dari kolonialisme-imperialisme militer. Namun, secara substantif, penyelenggaraan kehidupan politik, sosial, ekonomi, budaya, dan ilmu pengetahuan tetaplah tak berubah: terjebak pada ambivalensi masa lalu dan masa kini. Agama-agama sekular yang tumbuh dari elan vital dan habitus Barat menyeruak berpuak-puak. Sedangkan, ideologi dan utopia agama Abad Pertengahan makin memperkuat tumbuhnya irasionalitas dan konservatisme.

Dunia Islam pun jatuh dalam paradoks hebat. Ia menekuri takdir peradaban “kaum pecundang”, terjebak romantisme. Ia mensakralkan dokumen, korpus, dan narasi yang kesahihan historisnya masih diperdebatkan. Sakralisasi pada manuskrip dan imajinasi lama itu, tampaknya, warisan dari persekusi dan kebencian pada filsafat.

Islam hadir ke Indonesia, sayangnya, saat obor ilmu pengetahuan dan filsafat itu telah padam. Yang tersisa adalah residu konflik teologi-politik dan mistisisme. Di sisi lain, Eropa tobat mempersekusi para cerdik pandai, dan mulai mengapresiasi obor pengetahuan dan filsafat, termasuk berguru dan meneruskan tradisi filsafat Islam.

Pelajaran Filsafat di Perancis

Napoleon Bonaparte, paham betul bahwa kebebasan berpikir dan berpikir ilmiah bisa diraih melalui pendidikan dan pembelajaran Filsafat sejak dini. Inilah kunci keberjayaan Andalusia Islam selama ratusan tahun. Karena itulah, setidaknya, sejak Revolusi Perancis 1789 dan masa Premier Empire , yakni masa Bonaparte memerintah Perancis 1804-1814, filsafat merupakan mata pelajaran wajib di pendidikan menengah atas dan universitas.

Di Perancis, pelajaran Filsafat diajarkan di kelas satu ( secondaire ) dan kelas dua (première) SMA dengan mata pelajaran lain seperti Sains, Matematika, dan Ekonomi. Filsafat berfungsi menjelaskan perkembangan disiplin tersebut secara lintas disiplin. Ia diujikan di kelas terminale (kelas tiga) SMA dalam Ujian Nasional SMA ( baccalauréat ).

Jika dibandingkan dengan negara Eropa lain, di Perancis, pelajaran filsafat di SMA adalah sesuatu yang unik. Meskipun menjadi mata pelajaran di SMA, filsafat tidak dijadikan bahan ujian akhir di Italia, Spanyol dan Portugal. Di negara-negara ini, kecuali Portugal yang hampir mirip dengan Perancis, pelajaran filsafat diajarkan dalam konteks pelajaran Sejarah Pemikiran, Sejarah Filsafat, atau Pendidikan Kewarganegaraan.

Sedangkan di Jerman, Swiss, Swedia, dan Polandia, filsafat hanya diajarkan sebagai mata pelajaran pilihan di mana peserta didik yang telah berusia 14 tahun wajib memilih antara Filsafat atau Agama. Di Inggris dan Amerika Serikat serta negara Anglo-saxon lainnya, filsafat tidak diajarkan di sekolah menengah atas.

Di Timur Tengah dan Afrika Utara, pelajaran filsafat juga tidak diajarkan di sekolah menengah atas, kecuali di negara bekas jajahan Perancis seperti Aljazair dan Maroko. Di kedua negara Arabo-francophone tersebut, pelajaran filsafat telah diajarkan di sekolah menengah atas dalam bahasa Arab sejak tahun 1960.

Di Indonesia, filsafat masih menjadi disiplin yang belum diminati, apalagi dikaji secara sistematis dalam satuan pendidikan menengah. Filsafat baru diajarkan secara khusus di fakultas filsafat atau jurusan ilmu sosial humaniora terkait di perguruan tinggi negeri maupun agama. Hal ini, salah satunya, disebabkan oleh anggapan bahwa kontribusi filsafat bagi kemajuan peradaban dan kemajuan suatu bangsa masih minim, bahkan sebaliknya.

Belajar Mandiri dan Berpikir Kritis

Pendidikan dan pengajaran Filsafat di SMA ditujukan untuk mengasah kemampuan siswa dalam menyampaikan pendapat secara bebas. Prinsip ini diwarisi dari semangat Pencerahan yang ditandai dengan kebebasan pendapat ( liberté d’expression ). Pelajaran ini tidak dimaksudkan untuk mendidik siswa menguasai pernak pernik sejarah, deretan daftar para filosof dan pemikirannya secara historis dan ensiklopedis. Tetapi, Filsafat memberikan cara yang tepat dan terarah kepada siswa didik untuk memiliki kemampuan mengeskpresikan pendapatnya secara bebas dan kritis, memiliki kematangan diri dan kemandirian serta tanggung jawab intelektual.

Pendidikan dan pengajaran Filsafat di SMA memiliki tujuan untuk, pertama, membentuk kemampuan diri siswa dalam menyampaikan pendapat secara bebas dan menjadi warga negara yang tercerahkan dan manusia merdeka; kedua, tidak menjadikan siswa mempunyai pengetahuan ensiklopedis tentang filsafat dan menjadi pakar filsafat; ketiga, memberikan pendidikan dasar kepada siswa untuk memiliki kemampuan menalar dan refleksi yang matang; keempat, mendorong siswa dapat menyampaikan pendapat dan gagasannya secara bebas.

Untuk itu, mata pelajaran Filsafat diajarkan untuk mengenal bagaimana proses pemikiran filsafat dan karya-karya para filosof itu lahir dan terbentuk, bagaimana masalah-masalah filosofis dapat dipecahkan oleh para filosof. Dalam hal ini, Filsafat mengajak guru dan murid sama-sama belajar metodologi berpikir dan menyampaikan pendapat secara bebas, bukan mempelajari pemikiran filsafat secara ensiklopedis dan menguasai sejarah dan tahapan perkembangan setiap pemikiran filsafat dan para filosof seperti di mata kuliah Filsafat di perguruan tinggi negeri.

Filsafat diajarkan melalui serangkaian program yang telah ditentukan oleh Kementerian Pendidikan Nasional dan Pemuda Perancis. Siswa belajar Filsafat melalui tiga perspektif filsafat (manusia dan budaya, moral dan politik, dan ilmu pengetahuan), kemudian siswa diwajibkan untuk mempelajari daftar gagasan atau pemikiran filsafat, daftar karya-karya filosof, dan juga kata kunci filsafat. Guru bebas memilih dan menentukan subyek atau tema pemikiran apa yang diajarkan kepada siswa, selama tetap merujuk pada daftar pemikiran dan karya yang telah ditetapkan. Karena itu, guru Filsafat memiliki kebebasan pedagogis dalam memilih metode dan materi pembelajarannya, disesuaikan dengan perkembangan kemampuan siswa.

Guru Filsafat memiliki tugas dan tanggung jawab dalam mengawal proses dan perkembangan siswa dalam belajar dan tercapainya tujuan pendidikan Filsafat. Karena itu, guru dituntut untuk aktif mendampingi siswa, memberi tugas mereka, mengevaluasi dan memberikan catatan atau koreksi dan penilaian yang membuat siswa termotivasi untuk mengembangkan kemampuan refleksi personal dan mengutarakan pendapat dan pemikirannya. Dengan demikian, guru mempersiapkan siswa untuk mengikuti ujian akhir dan mempersiapkan mental mereka untuk memasuki jenjang pendidikan tinggi.

Akhirnya, menimbang fungsi Filsafat itu penting untuk membekali siswa didik cara berpikir konseptual, kritis dan mendalam terhadap fenomena alam dan sekitarnya, perlukah pelajaran filsafat a la Indonesia diajarkan di sekolah publik dan swasta, madrasah, pesantren, dan sekolah Islam ? Sekali lagi, pelajaran Filsafat ini dimaksudkan untuk membekali siswa didik metode berpikir kritis dan rasional dalam mencapai kematangan intelektual dan kemandirian diri. Tentu saja, materi pelajarannya dapat disesuaikan dengan sejarah filsafat dan pemikiran yang berkembang secara khas di Indonesia.

Harapan mulianya, dengan filsafat, generasi muda Indonesia dapat menghadapi dan memecahkan persoalan yang dihadapinya dengan sangkil dan mangkus. Lebih dari itu, mereka tak akan mudah dikotakkan dalam sekat-sekat dehumanisasi sosial dan politik, misalnya ujaran “cebong dan kampret” atau sebutan tak manusiawi lainnya. Ia juga diyakini dapat membebaskan mereka dari jebakan kabar palsu yang menjual irasionalitas dan baju besi konservatisme dalam berpolitik dan beragama.

Wallahu a’lam – Allah Mahatahu

Ecole Normale Supérieure, Lyon Perancis, 26 Desember 2020

Andar Nubowo
Andar Nubowo
Sekjen Public Virtue Institute (PVI) Jakarta, Mahasiswa S3 Filsafat dan Epistemologi Ecole Normale Superieure (ENS) Lyon Perancis
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

Beragama di Era Google, Mencermati Kontradiksi dan Ironi

Review Buku Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama, dari Kebenaran Mutlak Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama, 2021 Fenomena, gejala, dan ekspresi...

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

ARTIKEL TERPOPULER

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.