Sabtu, Desember 5, 2020

Kemerdekaan, Pendidikan, dan Kemanusiaan

Kerendahan Hati

Ketika seorang guru mengembangkan kuasanya yang besar, itu menjadi seperti samudera: aliran dan sungai mengalir ke dalamnya. Semakin berkuasa sang guru, semakin besar kebutuhan akan...

Dokter bukan Robot

Kemajuan sains dan teknologi, tak bisa dibantah, telah banyak membantu proses diagnosis dan penyembuhan penyakit. Banyak peralatan kedokteran modern berjasa mendongkrak peningkatan kualitas layanan...

Hanya Political Will yang Bisa Selamatkan Petani Tembakau

Alkisah, seorang wali bernama Ki Ageng Makukuhan diutus Sunan Kudus membuka lahan pertanian dan menyebarkan Islam di lereng Gunung Sindoro-Sumbing, Temanggung, Jawa Tengah. Salah...

Presiden Macron Melawan “Separatisme Islamis” Bukan Melawan Islam

Pernyataan Presiden Jokowi baru-baru ini terhadap komentar dan pidato Presiden Macron merupakan ungkapan kecaman dan kebebasan berpendapat seorang kepala negara dalam hubungan antarnegara. Mungkin...
Avatar
Dea Tunggaesti
Pendiri Tungga Ramli & Partners, ibu dari dua anak. Ia meraih doktor Ilmu Hukum dari Universitas Padjadjaran.

Ya, tahun ini kita tak merdeka untuk memperingati kemerdekaan.

Sirna sudah keriuhan perlombaan di tanah lapang pada peringatan kemerdekaan RI. Semua warga diminta berdiam diri di rumah. Virus corona, yang belum juga bisa ditundukkan, masih berkeliaran mencari korban.

Tapi, persis di sana kita sejatinya punya waktu lebih luang untuk merenungkan kembali makna kemerdekaan dikaitkan dengan konteks kekinian.

Para founding fathers dulu bergerak karena menolak bangsa ini berada dalam otoritas asing yang bernama rezim kolonial. Selapis anak bangsa yang beruntung memperoleh pencerahan dari bangku pendidikan lalu mulai berhimpun, berdiskusi, dan mengimajinasikan sebuah bangsa yang merdeka.

Kata sejarawan, pendidikan adalah dinamit bagi sistem kolonial. Berkat anak-anak yang mencicipi sekolah, kolonialisme mulai digugat dan akhirnya hendak diakhiri. Buku-buku mengajari mereka bahwa manusia itu setara, tidak boleh ada yang lebih berkuasa dan menindas karena alasan etnis atau ras.

Pada tahun ini, kita risau karena bangsa ini berada dalam kekuasaan “otoritas asing” yang juga tak kita kehendaki, yaitu pandemi akibat Covid-19. Perbedaannya, ini bukan melulu masalah Indonesia, melainkan problem global.

Untuk mengakhirinya, ikhtiar penting telah dilakukan: membuat vaksin. Tapi, ikhtiar ini perlu berbulan-bulan. Kabarnya paling cepat awal 2021 vaksin baru bisa diakses.

Dalam masa penantian itu, hidup kita semua dibekap bahaya karena virus yang masih merajalela. Kita lalu harus selalu memakai masker saat di luar rumah, menjaga jarak, juga rutin mencuci tangan.

Tapi bahaya besar lain juga menyungkup: perekonomian yang meredup. Banyak perusahaan merumahkan karyawan. Daya beli melemah.

Pada masa seperti ini, sebagai anak bangsa, inilah saat tepat untuk mengerjakan hal yang barangkali selama ini lebih banyak ada di benak: solidaritas kemanusiaan. Dengan kemampuan masing-masing, ini saat untuk membantu sesama. Ya, kemampuan jelas berbeda-beda. Tapi jangan membuat kita terhalang untuk ikut menolong.

Saya berikan sebuah contoh. Jika di rumah ada telepon genggam yang tidak terpakai padahal masih bisa digunakan, ini saatnya untuk menyampaikan kepada para siswa yang membutuhkan. Sekarang ada sekitar 52 juta siswa yang harus belajar dari rumah. Mereka idealnya membutuhkan komputer atau laptop; tapi dalam kondisi darurat, sebuah telepon genggam bisa lumayan membantu. Namun banyak di antara anak-anak kita yang bahkan tak punya telepon genggam.

Kita baca di berita, seorang ayah di Garut, Jawa Barat, nekad mencuri telepon genggam untuk anaknya yang harus belajar dari rumah. Hati siapa yang tak teriris mendengar kabar menyedihkan ini?! Tapi tak cukup stop di sana, kita mesti bergerak.

Silakan googling atau tanya kiri-kanan, sudah ada beberapa inisiatif untuk mengumpulkan telepon genggam bekas. Sampaikan telepon genggam Anda ke sana. Selalu ada jalan untuk berbuat kebaikan. Insya Allah bantuan tersebut akan sangat bermanfaat.

Saya sendiri telah menggalang aksi pengumpulan dana di kitabisa.com. Uangnya akan dibelikan telepon genggam untuk keperluan belajar anak-anak kita yang kurang beruntung. Alhamdulillah, donasi terus mengalir. Ini semua membuktikan bahwa kepedulian pada sesama masih besar.

Pendidikan, saya percaya, berperan besar dalam mengubah nasib sebuah kaum atau bangsa dalam setiap fase. Lihat saja para founding fathers. Pendidikan yang membelokkan jalan pikiran mereka dan lalu merumuskan kessimpulan bahwa kemerdekaan harus diperjuangkan.

Pada hari-hari ini, pendidikan anak-anak kita terancam – karena belajar dalam situasi tidak ideal. Saatnya mengulurkan tangan, semampu kita. Jangan sampai kita kehilangan satu generasi karena abai membantu mereka.

Momentum peringatan kemerdekaan tahun ini selayaknya membimbing kita kembali untuk menekuni jalan kemanusiaan. Seperti para founding fathers tekadkan dulu: kemerdekaan adalah jalan, bukan tujuan. Tujuannya sendiri adalah, seperti tercantum dalam Mukadimah UUD 1945: “…melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial…”

Pandemi selayaknya merekatkan kembali solidaritas kemanusiaan kita. Seperti tersurat dalam sejumlah meme dan itu benar belaka: “We are not all in the same boat, but we are all in the same storm.”

Avatar
Dea Tunggaesti
Pendiri Tungga Ramli & Partners, ibu dari dua anak. Ia meraih doktor Ilmu Hukum dari Universitas Padjadjaran.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Nasib Petani Sawit Kalau Premium Dihapus

What? Chaos macam apa lagi ini? Itu pikiran saya saat beberapa bulan lalu terdengar kabar dari radio bahwa ada rencana pemerintah untuk menghapus bahan bakar...

Islam Kosmopolitan

Diskursus tentang keislaman tidak akan pernah berhenti untuk dikaji dan habis untuk digali. Kendati demikian, bukan berarti tidak ada titik terang. Justru, keterkaitan Islam...

Kerusakan Lingkungan Kita yang Mencemaskan

Menurut data dari BPS, pada tahun 2018 jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mencapai 146.858.759 unit, jumlah tersebut meliputi mobil pribadi, mobil barang, bis dan...

Pilkada yang Demokratis

Tidak terasa pergelaran pemilihan kepada daerah yang akan dilaksankan pada 9 Desember mendatang sebentar lagi akan dijalankan. Pilkada serentak dilaksanakan di 270 daerah di...

DPRD DKI; Kembalilah Menjadi Wakil Rakyat!

Saya terhenyak ketika mendapat informasi perihal naiknya pendapatan langsung dan tidak langsung anggota DPRD DKI Jakarta tahun anggaran 2021. Berdasarkan dokumen Rencana Kerja Tahunan...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Yesus, Tuhan Kaum Muslim Juga? [Refleksi Natal dari Seorang Mukmin]

Setiap menjelang perayaan Natal, fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang boleh tidaknya kaum Muslim mengucapkan selamat Natal menjadi perbincangan. Baru-baru ini MUI kembali menambah...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Format Baru Kepemimpinan di Era Disrupsi

Baru-baru ini bangsa Indonesia diisukan dengan adanya penambahan masa jabatan kepemimpinan presiden hingga tiga periode, ataupun ada yang mengusulkan pemilihan presiden dilakukan secara demokratis...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.