Selasa, Januari 26, 2021

Kemerdekaan, Pendidikan, dan Kemanusiaan

Kamisan, Jokowi, dan Janji Manis Penegakan Hak Asasi Manusia

Aksi Kamisan telah melewati 540 minggu. Itu sama dengan satu dekade lewat. Itulah durasi Aksi protes ini berlangsung. Di seberang Istana Negara, gedung bekas...

Jokowi dan Korupsi Irman Gusman

Jumat sore (16 September), penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi melakukan operasi tangkap tangan di rumah dinas Ketua Dewan Perwakilan Daerah RI Irman Gusman (IG). Dalam...

Jokowi dan Nasib Hutan Tropis Sumatera

Dua pendaki menuruni lereng puncak Gunung Kerinci di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat, Jambi, Jumat (25/12). ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan Warisan alam dunia yang terancam. Pemerintah...

Penolakan PK Ibu Nuril: Teror bagi Para Korban Pelecehan Lain

Ketika berbicara soal pelecehan seksual, dunia mendadak terlihat abu-abu. Sejenak tebersit di benak saya, benarkah di Indonesia upaya penyelesaian masalah semacam ini ibarat melempar...
Avatar
Dea Tunggaesti
Pendiri Tungga Ramli & Partners, ibu dari dua anak. Ia meraih doktor Ilmu Hukum dari Universitas Padjadjaran.

Ya, tahun ini kita tak merdeka untuk memperingati kemerdekaan.

Sirna sudah keriuhan perlombaan di tanah lapang pada peringatan kemerdekaan RI. Semua warga diminta berdiam diri di rumah. Virus corona, yang belum juga bisa ditundukkan, masih berkeliaran mencari korban.

Tapi, persis di sana kita sejatinya punya waktu lebih luang untuk merenungkan kembali makna kemerdekaan dikaitkan dengan konteks kekinian.

Para founding fathers dulu bergerak karena menolak bangsa ini berada dalam otoritas asing yang bernama rezim kolonial. Selapis anak bangsa yang beruntung memperoleh pencerahan dari bangku pendidikan lalu mulai berhimpun, berdiskusi, dan mengimajinasikan sebuah bangsa yang merdeka.

Kata sejarawan, pendidikan adalah dinamit bagi sistem kolonial. Berkat anak-anak yang mencicipi sekolah, kolonialisme mulai digugat dan akhirnya hendak diakhiri. Buku-buku mengajari mereka bahwa manusia itu setara, tidak boleh ada yang lebih berkuasa dan menindas karena alasan etnis atau ras.

Pada tahun ini, kita risau karena bangsa ini berada dalam kekuasaan “otoritas asing” yang juga tak kita kehendaki, yaitu pandemi akibat Covid-19. Perbedaannya, ini bukan melulu masalah Indonesia, melainkan problem global.

Untuk mengakhirinya, ikhtiar penting telah dilakukan: membuat vaksin. Tapi, ikhtiar ini perlu berbulan-bulan. Kabarnya paling cepat awal 2021 vaksin baru bisa diakses.

Dalam masa penantian itu, hidup kita semua dibekap bahaya karena virus yang masih merajalela. Kita lalu harus selalu memakai masker saat di luar rumah, menjaga jarak, juga rutin mencuci tangan.

Tapi bahaya besar lain juga menyungkup: perekonomian yang meredup. Banyak perusahaan merumahkan karyawan. Daya beli melemah.

Pada masa seperti ini, sebagai anak bangsa, inilah saat tepat untuk mengerjakan hal yang barangkali selama ini lebih banyak ada di benak: solidaritas kemanusiaan. Dengan kemampuan masing-masing, ini saat untuk membantu sesama. Ya, kemampuan jelas berbeda-beda. Tapi jangan membuat kita terhalang untuk ikut menolong.

Saya berikan sebuah contoh. Jika di rumah ada telepon genggam yang tidak terpakai padahal masih bisa digunakan, ini saatnya untuk menyampaikan kepada para siswa yang membutuhkan. Sekarang ada sekitar 52 juta siswa yang harus belajar dari rumah. Mereka idealnya membutuhkan komputer atau laptop; tapi dalam kondisi darurat, sebuah telepon genggam bisa lumayan membantu. Namun banyak di antara anak-anak kita yang bahkan tak punya telepon genggam.

Kita baca di berita, seorang ayah di Garut, Jawa Barat, nekad mencuri telepon genggam untuk anaknya yang harus belajar dari rumah. Hati siapa yang tak teriris mendengar kabar menyedihkan ini?! Tapi tak cukup stop di sana, kita mesti bergerak.

Silakan googling atau tanya kiri-kanan, sudah ada beberapa inisiatif untuk mengumpulkan telepon genggam bekas. Sampaikan telepon genggam Anda ke sana. Selalu ada jalan untuk berbuat kebaikan. Insya Allah bantuan tersebut akan sangat bermanfaat.

Saya sendiri telah menggalang aksi pengumpulan dana di kitabisa.com. Uangnya akan dibelikan telepon genggam untuk keperluan belajar anak-anak kita yang kurang beruntung. Alhamdulillah, donasi terus mengalir. Ini semua membuktikan bahwa kepedulian pada sesama masih besar.

Pendidikan, saya percaya, berperan besar dalam mengubah nasib sebuah kaum atau bangsa dalam setiap fase. Lihat saja para founding fathers. Pendidikan yang membelokkan jalan pikiran mereka dan lalu merumuskan kessimpulan bahwa kemerdekaan harus diperjuangkan.

Pada hari-hari ini, pendidikan anak-anak kita terancam – karena belajar dalam situasi tidak ideal. Saatnya mengulurkan tangan, semampu kita. Jangan sampai kita kehilangan satu generasi karena abai membantu mereka.

Momentum peringatan kemerdekaan tahun ini selayaknya membimbing kita kembali untuk menekuni jalan kemanusiaan. Seperti para founding fathers tekadkan dulu: kemerdekaan adalah jalan, bukan tujuan. Tujuannya sendiri adalah, seperti tercantum dalam Mukadimah UUD 1945: “…melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial…”

Pandemi selayaknya merekatkan kembali solidaritas kemanusiaan kita. Seperti tersurat dalam sejumlah meme dan itu benar belaka: “We are not all in the same boat, but we are all in the same storm.”

Avatar
Dea Tunggaesti
Pendiri Tungga Ramli & Partners, ibu dari dua anak. Ia meraih doktor Ilmu Hukum dari Universitas Padjadjaran.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengalaman Mantan Pasien Wisma Atlet

Ibu Mawar ingin memberi cerita pengalamannya yang dialami ia dan keluarga dalam menghadapi karena mengidap Covid 19 yang sempat dirawat di Wisma Atlet serta...

95% Keluarga Muda Terancam Menjadi Gelandangan Masa Depan

Pernikahan menjadi salah satu momen yang istimewa bagi siapa saja. Namun siapa sangka, pernikahan yang tidak dilakukan dengan pertimbangan dan perencanaan matang, justru akan...

Utang, Literasi, dan Investasi

Belakangan ini, belantara media sosial diriuhkan oleh suatu kasus yang menarik perhatian publik. Yakni investasi saham dengan menggunakan uang hasil ngutang ke sejumlah kreditur. Alih-alih...

Warna, Nada, dan Keberagaman Bangsa

Rifa Rosydiana Ratal SMAN 24 Jakarta Pemenang Lomba Menulis Esai “Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita”. Sahabat Khatulistiwa. Desember 2020 Berbagai kontras yang dimiliki warna dan berbagai...

Kebiri Kimia Amputasi HAM

Pada 7 Desember 2020 lalu, Presiden Jokowi menandatangani Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.