OUR NETWORK

Kembalikan Intelektual Minangkabau dalam Keindonesiaan

“Pemikiran tersebut ibarat layangan yang jika dimainkan bisa sangat tinggi dan jauh, tetapi jika tidak dimainkan akan diam membeku”
foto: Wonderful Minangkabau

Sudah menjadi hukum alam, bahwa biasanya daerah atau bangsa yang tidak kaya dengan sumber daya alam akan kaya dengan sumber daya manusia. Bahkan yang lebih ektsrim contohnya adalah bangsa Yahudi yang dulunya terusir dari kota Madinah karena melanggar perjanjian dengan Rasulullah.

Begitu juga dengan Korea yang tidak begitu subur serta tidak banyak sumber daya alam, sehingga mereka menjadi sangat kreatif dalam mengembangkan teknologi digital. Dalam bidang teknologi tertentu, Korea malah bisa mengalahkan teknologi buatan Jepang, padalah Jepang pernah menjajah korea selama 35 tahun yaitu dari tahun 1910 sampai dengan 1945.

Nah, bicara intelektual Minangkabau yang tidak kaya sumber daya alam ada dua pilar yang membuat intelektual Minangkabau tersebut sejak zaman dahulu kalanya begitu kuat dan menonjol, yaitu:

  1. Pilar Agama, karena agama mengajarkan dan menganjurkan umatnya untuk berilmu. (Ibadah tanpa ilmu bisa sesat atau sia-sia). Tuntulah ilmu sampai ke negeri China dan ayat pertama yang diturunkan adalah Iqra’ yang artinya bacalah. Makanya mayoritas intelektual atau teknokrat asal Minangkabau kuat juga ilmu agamanya serta keimanannya.
  2. Pilar Budaya, budaya Minangkabau sangat menghargai intelektual sehingga dalam setiap moment adat cerdik pandai (cadiak pandai) selalu mendapat tempat terhormat dalam adat setara dengan pemuka agama atau ulama dan pemuka adat. Hal ini yang dikenal sebagai tigo tungku sajarangan atau tiga tungku sepemasakkan.

Karena adat bersanda syarak syarak bersandi khitabullah, maka jadilah 3 Pilar dalam jiwa intelektual Minang, yaitu Pilar Agama, Budaya dan Intelektual.

Hal inilah yang membuat selama ini ditengah bangsa ini intelektual Minang dikenal sebagai central figure dimanapun dia berada, karena disamping memiliki kemampuan intelektual yang menonjol juga memiliki ilmu agama yang memadai serta sikap dan adab yang baik.

Tiga pilar potensi intelektual masyarakat Minang tersebut ditambah lagi dengan lebih bisa beradaptasi dengan masyarakat dari daerah lainnya dibandingkan masyarakat dari suku lainnya. Sehingga jarang sekali terjadi masalah antar masyarakat Minangkabau dengan masyarakat asli ditempat mereka merantau atau berdomosili.

Kemampuan atau kelebihan dalam hal beradaptasi tersebut ditambah lagi dengan kemampuan yang menonjol dalam hal berdiplomasi, sehingga beberapa tokoh diplomat mengatakan belajarlah berdiplomasi dengan masyarakat Minangkabau. Kemampuan lebih berdiplomasi tersebut tumbuh dan berkembang dari adat dan budaya yang sangat halus dan mulai.

Dengan 4 kemampuan atau kelebihan yang menonjol tersebut, ditambah dengan kebiasaan hidup merantau telah membuat tokoh-tokoh intelektual Minangkabau selalu berpikir global atau kosmopolitan. Untuk memiliki ke-empat kelebihan dasar tersebut tentunya membutuhkan pengetahuan dan kecerdasan.

Oleh karena itu masyakarat Minangkabau sejak zaman dahulu sudah sangat mengagungkan dan mengutamakan pendidikan. Bagi masyarakat Minangkabau lebih baik miskin harta dari pada miskin ilmu.

Bagi mereka yang kebetulan memiliki banyak harta maka kelebihan harta tersebut akan dimanfaatkan untuk dapat membiayai pendidikan keluarganya yang lebih baik. Sebaliknya bagi yang tidak memiliki banyak harta, akan berjuang bagaimana caranya bisa mendapatkan pendidikan terbaik sehingga mereka bisa menonjol atau unggul dalam bidang pendidikan.

Penulis masih ingat beberapa saudara yang ketika berkumpul bersama saudara mengatakan “Kami tidak punya sertifikat tanah atau harta untuk kami wariskan kepada anak cucu kami, tetapi bertekad akan mewariskan sertifikat pendidikan terbaik untuk anak cucu kami”.

Menonjolnya intelektual masyarakat Minangkabau sejak dahulu tercermin dari sejarah perjuangan para tokoh-tokoh Minangkabau menuntut ilmu jauh-jauh dan susah payah sampai ke benua Eropa.

Setelah menuntut ilmu biasanya para tokoh ini mengawali kiprahnya dengan menjadi guru sambil terus ikut berjuang mengusir penjajah sekaligus memerdekakan bangsa ini. Budaya membangun intelektual, membangun iman dan pengetahuan agama serta kepercayaan diri, ditanamkan sejak anak-anak muda Minang berangkat remaja. Mereka sebagian besar tidur di masjid atau surau, di surau itulah mereka belajar mengaji Alquran, belajar dan diskusi tentang pelajaran sekolah serta belajar silat untuk bela diri dan membangun kepercayaan diri.

Syekh Al Mufti Al Minangkabawi atau syeks Ahmad Khatib Al-Minangkawai yang lahir pada tahun 1860 dan meninggal dunia di kota Makkah pada tahun 1926 adalah ulama besar yang pernah lahir di negeri ini.

Beliau kelahiran daerah Minangkabau atau tepatnya Koto Tuo, Ampek angkek Bukit Tinggi, pernah dipercaya menjadi imam besar Masjidil Haram sampai kemudian beliau meninggal di sana. Beberapa orang tokoh besar pendiri organisasi Islam negeri ini pernah belajar atau menuntut ilmu dari beliau, seperti Kiyai Haji Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah dan Kiyai Haji Hasyim Asyhari pendiri Nahdatul Ulama atau NU.  Selanjutnya sejarah mencatat bahwa daerah Minangkabau adalah gudangnya tokoh-tokoh pendidik agama Islam dan pendidik ilmu pengetahuan.

Dari cerita beberapa orang tokoh Minangkabau dan dari beberapa diskusi tentang Minangkabau, sejarah pendidikan di Minangkabau ternyata sudah dimulai sebelum agama Budha dan agama Islam masuk ke Minangkabau. Tentu saja bukan melalui lembaga pendidikan resmi akan tetapi melalui lembaga adat Minangkabau, karena adat harus diturunkan dan diwarisakan agar tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan.

Metode pendidikan waktu itu disampaikan secara lisan dan dicontohkan lewat keteladanan dari generasi ke generasi, sehingga dibutuhkan kesungguhan dari yang memberikan pendidikan maupun yang akan menerima pendidikan. Untuk lebih mudah menguasai pengetahuan dan pelaksanaan adat yang begitu luas dan rumit itu, implementasi dan contoh serta konsisten dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari. Prosa dan sastra ikut menjadi bagian dari media pendidikan masyarakat, sehingga dari daerah Minangkabau banyak lahir tokoh-tokoh sastra yang terkenal di negeri ini.

Marwah pendidikan dari Minangkabau berlanjut dengan banyaknya guru-guru dari daerah ini yang mengajar di Malaysia, ketika Malaysia meminta bantuan Indonesia untuk membantu kekurangan guru di negara mereka. Bukan itu saja tetapi Universitas Andalas atau disingkat Unand adalah salah satu perguruan tinggi negeri tertua di luar Pulau Jawa yang dibuka secara resmi pada tanggal 23 Desember 1955 oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta.

Artinya Unand adalah universitas yang pertama berdiri di pulau Sumatera dan yang pertama diluar pulau Jawa. Begitu juga dengan perguruan Sumatera Thawalib di kota Padang Panjang yang merupakan sekolah islam modern pertama di Indonesia, sehingga menjadi tempat favorit menuntut ilmu agama Islam oleh generasi muda dari banyak daerah.

Semuanya ini tentu tidak cukup hanya sekedar menjadi kenangan indah masa lalu seperti indahnya fatamorgana dari jauh dan menghilang ketika didekati. Apalagi bumi Minangkabau yang minus sumber daya mineral termasuk minyak bumi dan tidak banyak areal subur untuk dijadikan lahan perkebunan atau pertanian.

Bagaimana mengembalikan intelektual Minangkabau dalam ke Indonesiaan?

Tentunya dengan membangun kembali ke-dua pilar yaitu pilar agama dan pilar budaya secara utuh dan murni. Bukan agama dan budaya yang hanya sekedar topeng ata pemanis. Dan peluang menjadikan daerah Minangkabau sebagai pusat pendidikan dan pusat kesehatan tentunya harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Jika dibandingan dengan beberapa daerah propinsi tentangga, daerah Minangkabau termasuk daerah yang masih banyak tempat alami dan belum banyak tercemar oleh limbah industri. Peluang menjadikan daerah Minangkabau sebagai daerah pendidikan tentunya harus didukung juga oleh sumber daya manusia atau sdmnya, agar marwah edukatif Minangkabau kembali. Dan agar masyarakat Minangkabau tidak hanya jadi penonton didaerahnya sendiri, sehingga bisa menimbulkan dampak kurang baik nantinya.

Masalah pelanggaran hukum seperti tingginya kasus pelecehan seksual, kasus LGBT lesbian gay biseksual transgender, kasus radikalisme terorisme dan berbagai macam pelanggaran hukum lain tentu harus lebih dulu dieleminir. Karena lingkungan edukatif dan lingkungan perawatan medis butuh suasana yang tenang dan jauh dari kriminalitas. Selanjutnya membangun insfrastruktur dan aplikasi teknologi yang lebih baik sehingga dapat mendukung program pendidikan di wilayah sumatera barat atau dalam lingkungan komunitas masyarakat Sumatera Barat.

 

.

Dedi Mahardi
Penulis, Inspirator dan motivator

TINGGALKAN KOMENTAR

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.