Selasa, Oktober 27, 2020

Kembalikan Intelektual Minangkabau dalam Keindonesiaan

Persamaan Hak Politik Itu Bukan Soal “Non-Muslim”

Dalam demokrasi persamaan hak antar warga negara diakui. Dalam konstitusi kita: UUD 45 Pasal 27 ayat (1) disebutkan: Segala warga negara bersamaan kedudukannya di...

Menanti Negara Kurdi di Timur Tengah

Selahattin Demirtas, salah satu pemimpin Partai Rakyat Demokratik pro-Kurdi, menyapa pendukungnya saat aksi protes terhadap operasi keamanan di wilayah tenggara yang didominasi suku Kurdi,...

Predator Seksual Mancanegara Mengancam Anak-Anak Kita

Predator seksual dari mancanegara kini mengancam keselamatan anak-anak Indonesia. Seperti diberitakan media, sebagian pelanggan atau pengguna jasa layanan seksual anak laki-laki di bawah umur...

Apakah Anda Konspirator Sejati?

Anda punya pilihan untuk mempercayai atau tidak mempercayai sesuatu. Namun pada dasarnya manusia cenderung lebih mudah mempercayai sesuatu yang positif dan sesuai harapan. Contohnya, ketika...
Avatar
Dedi Mahardi
Penulis, Inspirator dan motivator

Sudah menjadi hukum alam, bahwa biasanya daerah atau bangsa yang tidak kaya dengan sumber daya alam akan kaya dengan sumber daya manusia. Bahkan yang lebih ektsrim contohnya adalah bangsa Yahudi yang dulunya terusir dari kota Madinah karena melanggar perjanjian dengan Rasulullah.

Begitu juga dengan Korea yang tidak begitu subur serta tidak banyak sumber daya alam, sehingga mereka menjadi sangat kreatif dalam mengembangkan teknologi digital. Dalam bidang teknologi tertentu, Korea malah bisa mengalahkan teknologi buatan Jepang, padalah Jepang pernah menjajah korea selama 35 tahun yaitu dari tahun 1910 sampai dengan 1945.

Nah, bicara intelektual Minangkabau yang tidak kaya sumber daya alam ada dua pilar yang membuat intelektual Minangkabau tersebut sejak zaman dahulu kalanya begitu kuat dan menonjol, yaitu:

  1. Pilar Agama, karena agama mengajarkan dan menganjurkan umatnya untuk berilmu. (Ibadah tanpa ilmu bisa sesat atau sia-sia). Tuntulah ilmu sampai ke negeri China dan ayat pertama yang diturunkan adalah Iqra’ yang artinya bacalah. Makanya mayoritas intelektual atau teknokrat asal Minangkabau kuat juga ilmu agamanya serta keimanannya.
  2. Pilar Budaya, budaya Minangkabau sangat menghargai intelektual sehingga dalam setiap moment adat cerdik pandai (cadiak pandai) selalu mendapat tempat terhormat dalam adat setara dengan pemuka agama atau ulama dan pemuka adat. Hal ini yang dikenal sebagai tigo tungku sajarangan atau tiga tungku sepemasakkan.

Karena adat bersanda syarak syarak bersandi khitabullah, maka jadilah 3 Pilar dalam jiwa intelektual Minang, yaitu Pilar Agama, Budaya dan Intelektual.

Hal inilah yang membuat selama ini ditengah bangsa ini intelektual Minang dikenal sebagai central figure dimanapun dia berada, karena disamping memiliki kemampuan intelektual yang menonjol juga memiliki ilmu agama yang memadai serta sikap dan adab yang baik.

Tiga pilar potensi intelektual masyarakat Minang tersebut ditambah lagi dengan lebih bisa beradaptasi dengan masyarakat dari daerah lainnya dibandingkan masyarakat dari suku lainnya. Sehingga jarang sekali terjadi masalah antar masyarakat Minangkabau dengan masyarakat asli ditempat mereka merantau atau berdomosili.

Kemampuan atau kelebihan dalam hal beradaptasi tersebut ditambah lagi dengan kemampuan yang menonjol dalam hal berdiplomasi, sehingga beberapa tokoh diplomat mengatakan belajarlah berdiplomasi dengan masyarakat Minangkabau. Kemampuan lebih berdiplomasi tersebut tumbuh dan berkembang dari adat dan budaya yang sangat halus dan mulai.

Dengan 4 kemampuan atau kelebihan yang menonjol tersebut, ditambah dengan kebiasaan hidup merantau telah membuat tokoh-tokoh intelektual Minangkabau selalu berpikir global atau kosmopolitan. Untuk memiliki ke-empat kelebihan dasar tersebut tentunya membutuhkan pengetahuan dan kecerdasan.

Oleh karena itu masyakarat Minangkabau sejak zaman dahulu sudah sangat mengagungkan dan mengutamakan pendidikan. Bagi masyarakat Minangkabau lebih baik miskin harta dari pada miskin ilmu.

Bagi mereka yang kebetulan memiliki banyak harta maka kelebihan harta tersebut akan dimanfaatkan untuk dapat membiayai pendidikan keluarganya yang lebih baik. Sebaliknya bagi yang tidak memiliki banyak harta, akan berjuang bagaimana caranya bisa mendapatkan pendidikan terbaik sehingga mereka bisa menonjol atau unggul dalam bidang pendidikan.

Penulis masih ingat beberapa saudara yang ketika berkumpul bersama saudara mengatakan “Kami tidak punya sertifikat tanah atau harta untuk kami wariskan kepada anak cucu kami, tetapi bertekad akan mewariskan sertifikat pendidikan terbaik untuk anak cucu kami”.

Menonjolnya intelektual masyarakat Minangkabau sejak dahulu tercermin dari sejarah perjuangan para tokoh-tokoh Minangkabau menuntut ilmu jauh-jauh dan susah payah sampai ke benua Eropa.

Setelah menuntut ilmu biasanya para tokoh ini mengawali kiprahnya dengan menjadi guru sambil terus ikut berjuang mengusir penjajah sekaligus memerdekakan bangsa ini. Budaya membangun intelektual, membangun iman dan pengetahuan agama serta kepercayaan diri, ditanamkan sejak anak-anak muda Minang berangkat remaja. Mereka sebagian besar tidur di masjid atau surau, di surau itulah mereka belajar mengaji Alquran, belajar dan diskusi tentang pelajaran sekolah serta belajar silat untuk bela diri dan membangun kepercayaan diri.

Syekh Al Mufti Al Minangkabawi atau syeks Ahmad Khatib Al-Minangkawai yang lahir pada tahun 1860 dan meninggal dunia di kota Makkah pada tahun 1926 adalah ulama besar yang pernah lahir di negeri ini.

Beliau kelahiran daerah Minangkabau atau tepatnya Koto Tuo, Ampek angkek Bukit Tinggi, pernah dipercaya menjadi imam besar Masjidil Haram sampai kemudian beliau meninggal di sana. Beberapa orang tokoh besar pendiri organisasi Islam negeri ini pernah belajar atau menuntut ilmu dari beliau, seperti Kiyai Haji Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah dan Kiyai Haji Hasyim Asyhari pendiri Nahdatul Ulama atau NU.  Selanjutnya sejarah mencatat bahwa daerah Minangkabau adalah gudangnya tokoh-tokoh pendidik agama Islam dan pendidik ilmu pengetahuan.

Dari cerita beberapa orang tokoh Minangkabau dan dari beberapa diskusi tentang Minangkabau, sejarah pendidikan di Minangkabau ternyata sudah dimulai sebelum agama Budha dan agama Islam masuk ke Minangkabau. Tentu saja bukan melalui lembaga pendidikan resmi akan tetapi melalui lembaga adat Minangkabau, karena adat harus diturunkan dan diwarisakan agar tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan.

Metode pendidikan waktu itu disampaikan secara lisan dan dicontohkan lewat keteladanan dari generasi ke generasi, sehingga dibutuhkan kesungguhan dari yang memberikan pendidikan maupun yang akan menerima pendidikan. Untuk lebih mudah menguasai pengetahuan dan pelaksanaan adat yang begitu luas dan rumit itu, implementasi dan contoh serta konsisten dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari. Prosa dan sastra ikut menjadi bagian dari media pendidikan masyarakat, sehingga dari daerah Minangkabau banyak lahir tokoh-tokoh sastra yang terkenal di negeri ini.

Marwah pendidikan dari Minangkabau berlanjut dengan banyaknya guru-guru dari daerah ini yang mengajar di Malaysia, ketika Malaysia meminta bantuan Indonesia untuk membantu kekurangan guru di negara mereka. Bukan itu saja tetapi Universitas Andalas atau disingkat Unand adalah salah satu perguruan tinggi negeri tertua di luar Pulau Jawa yang dibuka secara resmi pada tanggal 23 Desember 1955 oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta.

Artinya Unand adalah universitas yang pertama berdiri di pulau Sumatera dan yang pertama diluar pulau Jawa. Begitu juga dengan perguruan Sumatera Thawalib di kota Padang Panjang yang merupakan sekolah islam modern pertama di Indonesia, sehingga menjadi tempat favorit menuntut ilmu agama Islam oleh generasi muda dari banyak daerah.

Semuanya ini tentu tidak cukup hanya sekedar menjadi kenangan indah masa lalu seperti indahnya fatamorgana dari jauh dan menghilang ketika didekati. Apalagi bumi Minangkabau yang minus sumber daya mineral termasuk minyak bumi dan tidak banyak areal subur untuk dijadikan lahan perkebunan atau pertanian.

Bagaimana mengembalikan intelektual Minangkabau dalam ke Indonesiaan?

Tentunya dengan membangun kembali ke-dua pilar yaitu pilar agama dan pilar budaya secara utuh dan murni. Bukan agama dan budaya yang hanya sekedar topeng ata pemanis. Dan peluang menjadikan daerah Minangkabau sebagai pusat pendidikan dan pusat kesehatan tentunya harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Jika dibandingan dengan beberapa daerah propinsi tentangga, daerah Minangkabau termasuk daerah yang masih banyak tempat alami dan belum banyak tercemar oleh limbah industri. Peluang menjadikan daerah Minangkabau sebagai daerah pendidikan tentunya harus didukung juga oleh sumber daya manusia atau sdmnya, agar marwah edukatif Minangkabau kembali. Dan agar masyarakat Minangkabau tidak hanya jadi penonton didaerahnya sendiri, sehingga bisa menimbulkan dampak kurang baik nantinya.

Masalah pelanggaran hukum seperti tingginya kasus pelecehan seksual, kasus LGBT lesbian gay biseksual transgender, kasus radikalisme terorisme dan berbagai macam pelanggaran hukum lain tentu harus lebih dulu dieleminir. Karena lingkungan edukatif dan lingkungan perawatan medis butuh suasana yang tenang dan jauh dari kriminalitas. Selanjutnya membangun insfrastruktur dan aplikasi teknologi yang lebih baik sehingga dapat mendukung program pendidikan di wilayah sumatera barat atau dalam lingkungan komunitas masyarakat Sumatera Barat.

 

.

 

Avatar
Dedi Mahardi
Penulis, Inspirator dan motivator
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Politik dan Monopoli Media Sosial

Saat ini, kita hidup di era cyberspace (dunia maya). Era yang pertama kali diperkenalkan oleh William Gibson dalam buku Neuromancer itu, dimaknai sebagai suatu...

Candu Media Sosial, Kajian Filosofis dan Psikologis

Bermain ria di “alam medsos” terkadang meng-asyikkan. Tapi akhirnya menganggap dunia nyata jadi tak menarik untuk bersosialisasi dan mengemban hidup secara hakiki. Untuk melihat...

Membendung Hegemoni China di Asia Tenggara

Lima hari sudah Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi berkunjung ke empat negara di Asia Tenggara (15-18 Oktober 2020). Dalam kunjungan ke Kamboja,...

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

ARTIKEL TERPOPULER

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

“Islam Kaffah” yang Bagaimana?

Sebuah buletin baru “Buletin Dakwah Kaffah” terbit pada 18 Dzulqa’dah 1438 H/11 Agustus 2017. Judul “Islam Kaffah” mengingatkan kita kembali slogan Hizbut Tahrir Indonesia...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.