Banner Uhamka
Rabu, September 30, 2020
Banner Uhamka

Kembali, Kembali, Kembali

Natal dan Teologi Cinta

Dulu saat masih remaja, saya (dan mungkin sebagian besar kita) dijejali dengan doktrin kebencian terhadap agama lain, terutama Kristen. Kalau melintasi gereja dan melihat...

Perjuangan Muhammadiyah untuk Keadilan Siyono

Ketua PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas (kedua kiri), Ketua tim dokter forensik dr Gatot Suharto SpF (kiri) serta dua Komisioner Komnas HAM Siane Indriani (kedua...

Merica Membawa Kura-Kura Berjanggut Berjalan Sampai 921 Halaman

Dari sekian banyak kemungkinan, saya memilih mengandaikan Kura-Kura Berjanggut karya Azhari Aiyub yang mencapai 921 halaman sebagai rangkaian kereta. Dan lokomotif yang menarik gerbong-gerbong...

Titik Balik Nasionalisme

Cetak biru (blue-print) nasionalisme adalah pemersatu bangsa. Nasionalisme bukan sekadar alat, melainkan nafas pergerakan untuk kemerdekaan. Nasionalisme lahir sebagai perekat sosial untuk mendobrak sekat-sekat...
Mahfud Ikhwan
Penulis Novel "Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu"; Pengelola Blog Belakanggawang.

Di Santiago Bernabeu, akhir pekan lalu, Zinedine Zidane rupanya tidak hanya pulang ke rumah lama; ia mengembalikan perabotan dan seisi rumah seperti sebelum ia pergi. Navas kembali ke gawangnya, Courtois cadangan; Marcelo masuk, Reguilon out; Isco dan Bale tampil, Vinicius Jr. dan Vasques menepi. Hanya ada satu nama tinggalan Solari yang turun di tim Real Madrid-nya Zidane ketika melawan Celta, yaitu Odriozola. Jelas sekali, itu karena Carvajal cedera.

Apakah dengan demikian Zidane pulang ke Bernabeu untuk mengembalikan Madrid ke “zaman normal”? Sepertinya tidak begitu. Dan seharusnya tidak begitu. Dikabarkan bahwa Zidane mau kembali dengan syarat: ia diberi cukup uang belanja untuk musim panas mendatang—hal yang tampaknya tak diberikan di awal musim lalu, yang memicu kepergiannya.

Setengah miliar euro katannya telah disiapkan. Mbappe dan Neymar dari PSG, Hazard dari Chelsea, Eriksen dari Spurs, Icardi dari Inter, hingga belakangan menyusul nama Mane dari Liverpool dan (lagi-lagi) De Gea dari MU, dikabarkan jadi bidikan; sementara bek Porto Eder Militao sudah diijon dengan 50 juta Euro Maret ini untuk pindah dari Do Dragao ke Bernabeu musim depan. Tampak akan sangat kalap dan terlalu mahal untuk terwujud semuanya, tapi bisa dikatakan, akan ada perombakan di musim depan.

Ada yang bercanda bahwa menampilkan kembali Isco dan Gareth Bale adalah upaya mencuci sofa dan meja yang lama tak terpakai agar bisa dijual kembali dengan harga bagus. (Ini mengingat dua pemain high profile tersebut memang tersingkir di sepanjang musim ini, mulai dari masa Lopetegui hingga Solari.) Jika itu tujuan Zidane, ia jelas sangat berhasil. Isco dan Bale mencetak masing-masing satu gol untuk menandai kembalinya Zidane dengan kemenangan: Madrid 2 – Celta de Vigo 0. Dan kemarin, di Bernabeu, keduanya keluar lapangan dengan iringan tepuk tangan—bandingkan dengan siulan yang diterima Bale di nyaris sepanjang musim ini dari fan Madrid sendiri.

Meski demikian, yang paling terlihat, kembalinya Zidane juga mengembalikan Bernabeu ke apa yang selama ini dikenal orang: salah satu stadion termegah di dunia, dengan tribun yang berjubal penonton. Penonton di Bernabeu mencemooh timnya sendiri itu sudah biasa, namun baru di musim inilah tempat yang paling banyak mengarak trofi Liga Champions ini mengalami penurunan penonton sangat drastis. Pada awal musim, Bernabeu hanya diisi oleh tak lebih dari 48 ribu penonton, dari kapasitas 81.000; yang membuatnya menjadi rekor terburuk kedua terakhir setelah musim 2009. Akhir pekan lalu, Bernebeu tampak pepat lagi oleh penonton. Baner-baner sambutan bergambar wajah Zidane membentang dan berkibar. Dan mereka kembali berada di belakang timnya.

Di luar tak ada apa-apa lagi yang bisa ditunggu oleh para Madridista di sisa musim ini, asap sepertinya bisa dipadamkan dengan segera oleh kedatangan Zidane.

***

Di Benito Villamarin, lima gol indah tercipta dalam pertandingan yang berkesudahan 1-4 untuk tim tamu Barcelona. Tendangan bebas Messi; umpan tumit Suarez yang dituntaskan Messi; giringan bola Suarez dari daerah pertahanan sendiri, lalu menjatuhkan empat bek lawan yang menghadangnya, kemudian kiper, dan dituntaskannya sendiri; gol pengecil kedudukan bagi Real Betis dari Loren Moron; lalu gol itu.

Ya, gol itu, gol kelima di pertandingan itu, tercipta di lima menit menjelang pertandingan berakhir, membuat keempat gol sebelumnya seperti tak pernah ada.

Karena gol itu, nama Messi dinyanyikan oleh pendukung tuan rumah. Di akhir pertandingan, mereka merundukkan badan dengan tangan merentang: menyembah. Messi meninggalkan stadion—bukan Camp Nou yang sepanjang karirnya menjadi kandangnya, tapi ini kadang Real Betis Balompie—dengan melambai; seperti mengucap terima kasih. Tapi, dirinyalah yang lebih berhak menerima ucapan terima kasih: mereka telah diberi kesempatan untuk melihat Messi mencetak hattrick kembali. Ini yang ke-51 kali.

Tapi tepuk tangan dan gerakan memuja itu bukan untuk jumlah gol yang dicetak, melainkan caranya. Dan, lagi-lagi, semua obrolan dan bahasan akhirnya diambil sepenuhnya oleh gol terakhir yang tercipta di pertandingan itu.

Bahkan sesama pemain tak bisa menyembunyikan kekaguman atas apa yang dilakukan Messi di akhir pekan lalu. Di televisi terlihat, ketika Messi mencetak gol ketiganya, sebuah lob menyilang dari pojok kanan kotak penalti Real Betis yang jatuh persis di pojok kiri atas gawang yang dijaga Pau Lopez, empat pemain dengan seragam yang berbeda memegang kepalanya. Mereka sulit percaya dengan apa yang terjadi di depan mata mereka.

Clement Lenglet dan Sergi Roberto, dua bek Barcelona, hanya bisa terpukau dengan apa yang barusan dilakukan kapten mereka. Sementara, dalam kaos hijau-putih Betis, Marc Bartra dan Aissa Mandi untuk sesaat lupa dengan kerjanya sebagai pemain bertahan lawan, dan beralih jadi penonton yang kena pukau.

“Tak banyak yang bisa kamu lakukan untuk melawan Messi,” kata Loren Moron, pencetak satu-satunya gol untuk Real Betis—meskipun, pada November tahun lalu, Moron menjadi bagian dari tim yang memberi kekalahan Barcelona satu-satunya di kandang pada musim ini.

Dan, betul, tak banyak yang bisa dilakukan untuk Betis, juga semua tim di La Liga terhadap Messi dan Barcelona musim ini. Mereka kini hanya menunggu kapan Barcelona dimahkotai gelar—kedua secara beruntun, atau keempat dalam lima musim terakhir. Dengan kekalahan Atletico Madrid dari Athletic Bilbao, itu mungkin tak akan lama lagi.

***

Di Craven Cottage, setelah mengalahkan tuan rumah Fulham, tim kedua terbawah di Liga, Liverpool kembali ke puncak klasemen Liga Inggris. Kembalinya Liverpool ditandai oleh gol ke-11 Sadio Mane dalam sebelas pertandingan terakhir bersama Liverpool. Ini membuat Mane mencetak jumlah gol yang sama dengan tandemnya, Mo Salah. Dan, segera saja namanya dikaitkan—dengan sangat kuat—dengan transfer ke Madrid di akhir musim. Salah, yang gagal lagi dalam adegan satu-lawan-satu dengan kiper lawan, justru sedang ada di fase seret gol. Ia kini tak lagi mencetak gol dalam tujuh pertandingan terakhir.

Virgil Van Dijk melakukan blunder yang jarang dilakukannya, yang membuat Ryan Babel, rekan setim Van Dijk di timnas Belanda dan juga bekas pemain Liverpool, mencetak gol mudah ke gawang Alisson. Dan, sangat mungkin bisa mengancam harapan gelar Liverpool. Beruntung menjelang pertandingan berakhir, Liverpool dapat penalti dan Milner melakukan pekerjaannya dengan sempurna.

Man City yang mesti menunggu jeda internasional untuk merebut kembali klasemen Liga, kembali dari ketinggalan dua gol melawan Swansea di perempat final Piala FA yang berlangsung menegangkan.

Dan, untuk penonton di Stadion Liberty, tentu saja mengecewakan. Tuan rumah Swansea yang tampaknya sudah habis harapannya untuk bisa balik segera ke Liga Premiere bukan hanya menyia-nyiakan keunggulan hingga menjelang pertandingan berakhir, tapi juga karena mereka kebobolan dua gol dari Kun Aguero yang seharusnya tak terjadi: sebuah penalti yang semestinya tak diberikan, dan sebuah gol offside.

Pep Guardiola bisa saja bilang, “Saya tak suka menang karena keputusan wasit yang salah.” Tapi, mereka tentu saja senang dengan kelolosan mereka ke semifinal. Kekalahan MU di kandang Wolves beberapa jam kemudian, membuat City menjadi satu-satunya tim dari enam besar Liga yang ada di semifinal Piala FA. Gelar kedua musim ini setelah Piala Liga sudah membayang—meskipun enam musim lalu, saat merakhir mereka maju ke final, mereka punya trauma dengan Wigan, tim yang saat itu sudah pasti terdegradasi.

Setan Merah, yang menerima kekalahan keduanya secara beruntun (sebelumnya dari Arsenal di Liga) akhirnya kembali turun ke bumi, setelah sebelumnya terbang tinggi menyusul kemenangan sensasional di Liga Champions atas PSG di Paris. Dan itu membuat orang mulai membahas “prestasi” Ole Solksjaer dalam takaran yang lebih proporsional.

Mahfud Ikhwan
Penulis Novel "Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu"; Pengelola Blog Belakanggawang.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

Optimasi Peran Wakil Rakyat di Tengah Pandemi

Mengutip pendapat Cicero dalam Phoebe E. Arde-Acquah (2015), terdapat sebuah adagium hukum yang menyatakan bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Secara konstitusional, adagium hukum...

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.