Kamis, Januari 28, 2021

Kekerasan Seksual, Seutuh-utuhnya Teror

Para Anti Hero

Narasi kepahlawanan telanjur dikuasai negara. Warga tentu bisa menyusun daftar pahlawannya sendiri, namun dengan aparatus di genggamannya negara sanggup menguasai konstelasi makna kepahlawanan. Negara mendesakkan...

Indonesia Darurat Gorengan

  Kalau makanan dianggap sebagai representasi kelas, gorengan adalah berandal yang mengobrak-abrik semua konsepsi jadi-jadian itu. Dari rapat kantor sampai tongkrongan di ujung gang, gorengan...

“Kiri” Tak Harus Komunis

Menjadi kiri tidak harus membawa memori kekerasan dan perang di masa lalu. Pertanyaannya bukan mengapa orang membenci komunis, tapi apa yang bisa kita lakukan...

Pendidikan Agama Islam yang Pluralistis: Basis Nilai dan Arah Pembaharuan

Indonesia adalah negara yang majemuk dengan keragaman budaya, suku, dan agama. Keragaman merupakan kekayaan dan modal sosial, politik, dan spiritual yang apabila dikelola dengan...
Avatar
Geger Riyanto
Esais, sosiolog. Mahasiswa Ph.D. bidang Etnologi, Universitas Heidelberg, Jerman

mei-98
Foto: Diah A.R

Pemerkosaan adalah kejahatan seksual. Satu hal ini—dan kekejiannya—tak perlu lagi dipertanyakan. Namun, apakah ia selalu dilakukan oleh orang-orang yang tak sadarkan diri? Yang dikuasai semata oleh hawa nafsunya?

Kita bisa meragukannya. Pemerkosaan, pasalnya, pada banyak kejadian, sulit dibedakan dengan teror. Dan teror, jelas, tak dilakukan oleh insan-insan yang lumpuh kapasitas berpikirnya. Sang insan sekurangnya memerlukan akal sehat untuk tahu tindakannya menuai hasil—ketakutan merebak, khalayak panik—dan kepentingannya terkerek oleh situasi ini.

Kita mempunyai pelbagai kasus yang dapat membantu kita menandaskan pandangan ini. Namun, rasanya tak banyak kasus yang lebih padan untuk mendapat perhatian kita saat ini dibandingkan serangan seksual kepada kelompok minoritas yang pernah terjadi pada bulan ini, delapan belas tahun silam.

Pada Mei 1998, kerusuhan merambahi berbagai sudut Jakarta. Fakta ini tak perlu mendapat penjelasan panjang-lebar lagi. Jejak hari-hari mencekam itu, saya yakin, masih berbekas mendalam pada ingatan kita. Dan di tengah-tengah kekusutan tersebut, kita seharusnya masih ingat pula, kekerasan seksual dikabarkan melanda etnis Tionghoa.

Ini bukan sekadar kabar—saya kira penegasan ini perlu. Banyak upaya menampik bahwa ia benar-benar pernah terjadi. Namun temuan Tim Gabungan Pencari Fakta mencatat, 85 kekerasan seksual terjadi pada waktu itu. Lima puluh dua dari antaranya—jumlah yang tak sedikit—adalah pemerkosaan yang dilakukan beramai-ramai. Gang rape.

Tentu, menunjuk bahwa ada satu-dua pihak yang mengorkestrasinya merupakan sesuatu yang gegabah. Tetapi, terlampau naif pula untuk mengatakan kejahatan yang secara serempak, di tempat yang terpisah terbidik hanya kepada satu komunitas etnis merupakan lentingan frustasi masyarakat kepada komunitas ini belaka.

Dan, pertanyaannya, mengapa pemerkosaan? Mengapa pemerkosaan massal, tepatnya?

Wanita, mengutip laporan Amnesty International ihwal pemerkosaan dalam konflik etnis, galib dianggap ibu dan perawat komunitas. Dalam berbagai ketegangan di mana kepentingan pihak-pihak yang terseret adalah menyulut superioritas kelompoknya, meruntuhkan moral kelompok lain, serta mengekalkan kebencian di antara keduanya, menodai wanita yang dijaga kelompok lain adalah strategi yang, mengenaskannya, dapat menunaikan semua kepentingan tersebut.

Pemerkosaan, dalam situasi demikian, jelas tak dilakukan sekadar untuk kepuasan sang pelaku sendiri. Selayaknya terorisme, ia disajikan sebagai sebuah tontonan: sebuah pentas untuk menunjukkan siapa musuh, menorehkan perasaan puas mengangkangi mereka, sekaligus membenamkan ketakutan pada diri mereka.

Dan, saya tak bisa menghindari pikiran buruk, untuk alasan inilah mengapa kekejaman kepada wanita dari komunitas minoritas merebak pada hari-hari tergelap menjelang mundurnya Suharto. Ia terlalu nampak seperti sebuah pentas yang memang diatur untuk ditonton—untuk mempertunjukkan kemurkaan rakyat tidaklah tertuju kepada rezim korup yang sedang didemonstrasi para mahasiswa, melainkan warga Tionghoa.

Syukurnya, seperti film buruk yang gagal menayangkan adegan-adegan secara realistis, ia tak berhasil meyakinkan siapa-siapa. Pertunjukan ini tak digugu khalayak.

Pandangan saya, sangat mungkin, keliru. Dan tentu saja, saya berharap pula demikian. Namun, teror kekerasan seksual mirisnya bukanlah hal yang sekali-dua kali terjadi di Indonesia, dan pada kesempatan lain aparatus negara tak lagi malu-malu memperlihatkan keterlibatannya.

Ambil saja apa yang dialami para wanita korban kekerasan 1965. Kesaksian mereka yang ditahan karena dianggap terlibat Gerwani mengungkap mereka tak hanya disiksa melainkan, lebih buruk lagi, dilecehkan, diperkosa, dianiaya. Siksaan yang mereka alami, untuk menyebut sekadar beberapa di antaranya, adalah perkosaan massal, dijadikan budak seks, dimutilasi organ genitalnya.

Penistaan memilukan pun melanda mereka yang terbunuh dalam penumpasan PKI di daerah-daerah. Pada sebuah kuburan massal di Purwodadi, terdapat rangka seorang perempuan. Tulang panggul dan kemaluannya retak. Ia diperkosa menggunakan benda keras, ungkap Saskia Wieringa dalam Pengadilan Rakyat Internasional di Den Haag 2015 lalu.

Pertanyaan saya untuk semua ini sederhana. Mengapa para perempuan yang tergulung karut-marut politik tak hanya mengalami kekerasan fisik sebagaimana lelaki? Mengapa mereka harus mengalami pula penistaan-penistaan seksual yang mengerikan?

Mungkin, karena dengan demikian, satu kelompok merasa dapat menyakiti dan menghancurkan martabat kelompok musuh yang seharusnya melindungi sang wanita. Dan, bagi mereka, kepiluan kolektif musuhnya mendatangkan kepuasan ganjil tersendiri—secercah perasaan menang yang tak salah untuk dikatakan masokistis.

Dan kini, apakah ketidakmasuk-akalan tersebut sudah menjadi masa lampau? Menyedihkannya, tidak. Memang, dalam kondisi yang jauh dari konflik terbuka, kekerasan seksual tidak akan menjadi senjata politik etnis atau sektarian sebagaimana preseden yang sudah-sudah. Tragedi Eno dan Yuyun adalah kasus yang berbeda. Namun, satu hal perlu kita waspadai. Kita punya kecenderungan menyelewengkan kemudaratan mereka menjadi teror yang ditujukan kepada wanita sebagai satu kelompok.

Tanggapan-tanggapan yang berseliweran terhadap kasus perkosaan tersebut, misalnya. Sikap yang cukup lazim mengemuka adalah menyalahkan korban. Wanita, pasalnya, dianggap bertanggung jawab menjaga diri agar tak menggoda lelaki. Satu tanggapan bahkan terang-terangan mengancam perempuan agar berbusana dan berperilaku lebih pantas karena, bila tidak, masih banyak cangkul yang siap melesak ke dalam genital mereka.

Perlakuan tersebut dan secara khusus yang terakhir, saya kira, bukan hanya tak patut. Ia juga dapat disebut teror dan menjadikan mereka yang menyebarkan pesan itu tak lebih baik dari pelaku pemerkosaan sendiri yang, apabila kita periksa motif awalnya, nampak ingin mendudukkan paksa perempuan pada tempat yang mereka kira seharusnya. Di bawah dan seturut dengan hasrat lelaki.

Pemerkosaan, karenanya, saya kira tak bisa dikatakan kejahatan yang didorong semata-mata oleh, katakanlah, keinginan daging. Ia pasalnya adalah kejahatan dengan motif ideologis—menistakan korban dan kelompoknya dalam imajinasi sang pelaku serta masyarakat yang lebih luas. Ia lebih jahat dari yang lumrah kita kira karena dilakukan dengan keinsafan, tujuan, dan pesan untuk disampaikan kepada masyarakat.

Ia adalah teror. Dalam pengertian yang seutuh-utuhnya.

Kolom Terkait

Perkosaan dan ”Kebangkitan Nasional” Bangsa Patriarkis

Sanksi Tambahan bagi Pemerkosa

Avatar
Geger Riyanto
Esais, sosiolog. Mahasiswa Ph.D. bidang Etnologi, Universitas Heidelberg, Jerman
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ayat-Ayat Ekosistem dan Dakwah Politik Lingkungan

Postingan saya tentang ayat-ayat ekosistem di status akun Facebook perlu saya jelaskan. Walaupun sebagian besar pemberi komen di status tersebut bersuara mendukung, satu atau...

Mencermati Dampak Kebijakan Kendaraan Listrik di AS

Amerika Serikat (AS) baru saja menjalani transisi pemerintahan dari Presiden Donald Trump dari partai Republik kepada Joseph (Joe) Biden yang didukung partai Demokrat. Saat...

Mengapa Pancasila?

Oleh: Alif  Raya Zulkarnaen SMAN 70 Jakarta Pemenang Lomba Menulis Esai “Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita”. Sahabat Khatulistiwa. Desember 2020 Rumusan-Rumusan Staatsidee 29 Mei-1 Juni 1945 “Ketuhanan yang Maha...

Kritik Jamaluddin al-Afghani Atas Khilafah Islamiyah

Sejak abad ke-9 M hingga memasuki abad ke-14 M menjadi masa keemasan Islam dalam panggung peradaban dan ilmu pengetahuan. Ternyata uforia ilmu pengetahuan terhenti...

Roman Abramovich, Alexei Navalny, dan Premier League

Industri olahraga, khususnya sepakbola, telah mengalami perkembangan pesat. Mulai dari segi teknis maupun non-teknis. Mulai dari aktor dalam lapangan hingga pemain-pemain di belakang layar....

ARTIKEL TERPOPULER

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Ada Apa Di Balik Pembangunan Jalan Tol Kita?

Dua catatan tentang jalan tol ini saya tulis lebaran tahun sebelumnya, saat terjadi tragedi di pintu keluar tol Brebes Timur (Brebes Exit/Brexit) yang menewaskan...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.