Banner Uhamka
Sabtu, September 19, 2020
Banner Uhamka

Kebocoran Data Telkomsel, Ini Permainan Siapa?

Senjakala Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus

Belakangan ini hingga sekarang, kampus-kampus ternama di negeri ini sedang mengadakan rangkaian penerimaan mahasiswa baru. Rangkaian penerimaan ini biasanya berjenjang mulai dari tingkat Universitas,...

Benarkah Sukarno Anti Pengusaha Tionghoa?

“Kenapa pengusaha China saya batasi, karena saya tidak ingin kalian jadi babu di rumah sendiri. Ini tanah air kita yang kita perjuangkan dengan darah....

Mengapa Agenda Reforma Agraria Jokowi Gagal

Sisa usia pemerintahan duet Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla tinggal menghitung hari. Sayangnya, hingga di ujung akhir jabatan pelaksanaan reforma agraria...

Ketika Barat Menunjuk Islam sebagai Terorisme

Istilah terorisme sudah begitu banyak digunakan oleh media-media massa besar, menjadi tajuk utama dengan ukuran tulisan yang besar dan mentereng. Peledakan di tempat-tempat umum...
Avatar
Kajitow Elkayeni
Novelis, esais

Kasus Denny Siregar memancing banyak oknum bermain. Ormas anarkis jelas nyari panggung paling depan. Teriak paling kencang. Mengancam paling ganas. Kemudian muncul akun Twitter @Opposite6891 yang membocorkan data Telkomsel Denny ke publik.

Eldiablo alias Digembok sudah menyingkap tabir oknum tersebut, orang sama yang pernah membongkar perkawinan Dirut telkomsel dengan gundik tanpa seizin istrinya. Posisi terakhir penyebar data pribadi Denny itu ternyata ada di luar negeri, Yordania.

Kebocoran data ini memunculkan dua asumsi, pertama keamanan Telkomsel dipertanyakan. Data jutaan penggunanya rawan diperjual-belikan di pasar gelap. Kasus ini pernah menimpa Tokopedia. Jika asumsi ini benar, berarti Telkomsel itu perusahaan abal-abal. Patut ditutup karena membahayakan.

Tetapi menurut mereka yang paham IT, upaya untuk menjebol Telkomsel itu sangat sulit. Kalau bisa, orangnya langsung kaya. Paling mungkin adalah asumsi kedua, ada orang dalam yang bermain.

Ini asumsi paling logis. Karena jika data di atas bocor, kasusnya mirip Tokopedia tadi. Nama yang beredar banyak. Tapi ini kan tidak begitu. Kasus kebocoran ini hanya menimpa Denny seorang. Itu artinya, ada oknum di dalam perusahaan Telkomsel yang memang kadrun.

Nah untuk mengusut hal ini adalah kewenangan polisi. Untuk itu saya menyarankan, kasus ini agar ditelusuri lebih dalam. Lakukan investigasi menyeluruh. Kalau perlu seret Kominfo. Ini juga bagian dari tanggung jawab mereka.

Jika asumsi di atas itu benar, maka Telkomsel menghadapi masalah serius. Provider ini layak ditinggalkan.

Karena Telkomsel adalah anak perusahaan Telkom yang menguasai 65% saham, sisanya dimiliki Singapura, otomatis ini ada hubungannya juga dengan BUMN. Pemerintah harus ikut memonitor kasus ini. Jangan sampai nanti Jokowi lagi yang disalahkan. Padahal ini salah perusahaan, lebih gawat lagi ini mungkin salah oknum yang bekerja di sana.

Oknum ini pasti bukan orang sembarangan. Tidak mungkin tukang sapu Telkomsel, atau seorang tukang bikin kopi di kantor mereka. Jelas dia punya wewenang sangat besar untuk membocorkan rahasia penggunanya.

Saya ingin membuat ilustrasi begini. Kalau oknum itu hanya seorang kadrun yang punya kebencian mendalam terhadap Denny Siregar, masih bisa dimaklumi. Artinya ini kasus personal. Tapi kalau oknum ini adalah sel teroris yang bersembunyi di Telkomsel, ini sangat berbahaya. Hari ini Denny Siregar jadi korban, besok korbannya bisa siapa saja yang menghalangi jalannya.

Jangan sampai Telkomsel menyembunyikan bibit-bibit teroris di perusahaan. Kenapa bisa muncul ilustrasi demikian? Karena Denny dan kawan-kawannya itu pihak yang paling getol memerangi terorisme. Postingan-postingan medsosnya rata-rata menyoroti tindak prilaku kekerasan atas nama agama.

Telkomsel awalnya mengelak. Pihak Telkomsel konon berlagak budeg dan jual mahal. Merasa tidak berdosa. Mereka bahkan berpura-pura menyorongkan akun Twitter yang telah menyebarkan data Denny. Sedangkan oknum berpangkat yang ada di dalam perusahaan dibiarkan bebas melenggang. Kan asyu.

Dalam press release-nya, perusahaan yang diduga menjadi sarang kadrun ini hanya bersikap normatif. Memamerkan ISO 27001 yang diperolehnya. Denny Abidin, Vice President Corporate Communications Telkomsel ngomong seperti orang kentut. Sudah jelas keamanan data Denny Siregar disebarluaskan oleh oknum mereka, masih saja ngeles tanpa merasa malu sedikitpun.

Telkomsel ini memang perusahaan yang dikenal suka mencekik pelanggan. Harga datanya paling mahal dibanding provider lain. Kualitasnya pun buruk. Itulah yang membuat hacker jengkel dan meretas situs mereka tempo hari. Provider kapitalis tulen ini juga senang membuat paket data yang tak ada gunanya. Tujuannya hanya demi menguras uang masyarakat. Soalnya data yang tidak dipakai bakal hangus.

Padahal pada perusahaan ini ada embel-embel milik negara. Banyak orang yang salah tentang hal ini. Sejatinya Telkomsel itu swasta murni. Tidak ada urusannya dengan negara. Ini perusahaan yang mengejar untung sebesar-besarnya. Oleh sebab itu, mereka bisa memasang harga seenaknya dan mendapat karpet merah dari Pemerintah.

Banyak orang memakai Telkomsel karena ilusi perusahaan ini milik negara tadi. Konon perusahaan induknya yaitu Telkom, juga tak banyak menghasilkan. Hanya jadi sarang penyamun. Oleh sebab itu anak perusahaannya diperas untuk menyetorkan upeti pada negara. 70% setoran dividen Telkom berasal dari Telkomsel. Maka masuk akal jika kemudian Telkomsel main harga gila-gilaan.

Kasus kebocoran data yang dialami oleh Denny Siregar ini mestinya membuka mata banyak orang. Sudah waktunya untuk melirik provider lain yang lebih manusiawi. Mungkin persoalannya terkait jaringan. Mengingat Telkomsel itu dianak-emaskan oleh negara sejak lama.

Oleh sebab itu Singapura tak mau melepas sahamnya. Karena Telkomsel ini jadi tambang emas bagi mereka. Padahal ini hanya perusahaan swasta. Ketidak-adilan inilah yang membuatnya kemudian besar kepala.

Kasus kebocoran data Denny Siregar ini harus masuk ke ranah hukum. Seret oknum berpangkatnya. Kalau perlu sampai Dirutnya, Setyanto Hantoro. Jangan mau disodori kambing hitam. Biar menjadi pelajaran bagi perusahaan kurang ajar itu di masa depan. Mentang-mentang perusahaan swasta yang dianak-emaskan, trus bisa berbuat seenaknya.

Hari ini Denny Siregar dan keluarganya diteror. Dia terpaksa berpindah ke tempat yang aman demi keselamatannya. Nyawanya terancam setiap saat. Bukan tidak mungkin saat ini dia sedang ditarget. Dan pihak yang paling bertanggung jawab, yakni Telkomsel, malah lempar batu sembunyi tangan. Memalukan.

Kajitow Elkayeni

Avatar
Kajitow Elkayeni
Novelis, esais
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Madilog Sekali Lagi

Gerakan modernisasi dan perkembangan teknologi terjadi begitu cepatnya saat ini, memunculkan berbagai dampak, baik positif maupun yang negatif, mulai dari dampak yang terlihat maupun...

Harmonisasi Agama, Negara dan Dakwah (I)

Agama (Islam) mengakui eksistensi ‘kabilah’, kaum, suku dan bangsa untuk saling mengenal dan bekerjasama demi kemanusiaan dan peradaban (surah al-Hujurat 9:13). Islam menekankan pentingnya semangat/cinta...

Solusi Bersama untuk PJJ

Gebrakan dari Mas Manteri Nadiem Makarim di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam memerdekan pendidikan di Indonesia patut diacungkan jempol. Berbagai konsep pendidikan seperti...

Kita Lengah Karena Syariatisasi Ternyata Masih Berjalan

Kebijakan Bupati Gowa yang akan memecat ASN (Aparatus Sipil Negara) yang bekerja di lingkungannya yang buta aksara al-Qur’an membuat kita sadar jika syariatisasi di...

Sepak Bola, Cara Gus Dur Menyederhanakan Politik

Tahun 1998 adalah masa pertama penulis mulai gemar menonton sepak bola. Kala itu, bersamaan dengan momentum Piala Dunia (World Cup) di Prancis. Ketika opening...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.