Jumat, Maret 5, 2021

Kearifan dalam Politik

Penyiapan Program Internasional Universitas

Urgensi Program Internasional Globalisasi yang terus meningkat dalam berbagai aspek kehidupan. Revolusi Industri 4.0 dengan ‘big data’, ‘artificial intelligence’ dan seterusnya. Interdependensi ekonomi dan tenagakerja...

Meikarta dan Metropolitan yang Sakit

Lippo Group membuat gebrakan dengan mulai memasarkan Meikarta, sebuah komplek kota baru raksasa di pinggiran Jakarta. Luas lahannya sekitar 500 hektar. Kota baru ini berisi...

Narasi Curang dan People Power Adalah Kekhawatiran Prabowo-Sandiaga Kalah

Semakin mendekati 17 April 2019, Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga semakin gencar mengungkap narasi kecurangan di Pemilu nanti. Mulai dari tuduhan Komisi Pemilihan Umum...

Anang Eko Priyono

Mengenal AE Priyono adalah sebuah kehormatan besar. AE turut mengisi pengetahuan formatif saya di Jogja pada 1998-2004. Dialah yang mengenalkan Kuntowijoyo secara luas, melalui...

Di tengah suhu politik yang kian menghangat, kearifan berpolitik menjadi keniscayaan agar suasana hati tetap adem walau cuacanya panas. Bahkan peristiwa pembakaran bendera Hizbut Tahrir Indonesia yang terjadi pada saat hari santri, 22 Oktober 2018, yang telah menjadi political heater, harus kita sikapi dengan kearifan tingkat tinggi.

Politik bendera adalah fenomena yang tidak bisa dihindari, terlebih pada saat berada di medan kompetisi, apa pun bentuk kompetisi itu. Di arena kompetisi olah raga antar negara misalnya, bendera harus ada, untuk menjadi penanda kemenangan. Peraih medali emas, posisinya bendera negara asalnya harus dipasang lebih tinggi dari peraih medali perak dan perunggu. Bendera menjadi identitas yang sangat penting.

Di arena kompetisi politik, hadirnya bendera partai menjadi keniscayaan. Tapi, kapan dan dimana bendera itu harus dikibarkan, harus sesuai dengan aturan main. Contoh, jangan coba-coba mengibarkan bendera partai X di tengah-tengah lautan kampanye partai Z. Mematuhi aturan main adalah bagian penting dari kearifan berpolitik.

Tanpa bermaksud melakukan stereotyping, biasanya anak muda memiliki semangat perlawanan yang menggelora dalam menyikapi sesuatu yang di luar kemauan dirinya. Semangat inilah saya kira, yang terekspresi dalam kasus pembakaran bendera HTI di hari santri. Di luar kontroversi soal apakah bendera HTI yang dibakar, kita harus memahami kondisi psikologis anak-anak muda yang melakukan itu. Bagaimana memahami situasi dengan mempertimbangkan kondisi psikologis adalah bagian dari kearifan dalam berpolitik.

Kearifan dalam berpolitik, adalah sikap yang proporsional, dengan mempertimbangkan berbagai faktor. Mungkin, pada batas-batas tertentu, kearifan sering dianggap sebagai cermin ketidaktegasan, padahal antara keduanya bukanlah konsep yang bisa dipertentangkan. Antara kearifan dan ketegasan bukan sikap yang saling menafikan, tapi bisa menjadi kombinasi yang sangat konstruktif.

Kearifan membutuhkan ketegasan. Ketegasan yang bagaimana? Yang diekspresikan secara proporsional. Dalam hal penegakan hukum misalnya, ketegasan diperlukan untuk tetap menjaga agar hukum tidak menjadi barang permainan. Ketegasan dalam penegakan hukum dibutuhkan untuk menjamin pelaksanaan prinsip keadilan. Dalam mengelola negara, menjamin tegaknya keadilan hukum adalah keniscayaan yang juga menjadi bagian dari kearifan dalam berpolitik.

Pada saat memasuki jadwal kampanye politik, kearifan dalam berpolitik memiliki urgensitas yang tinggi. Karena kampanye, biasanya, selain menonjolkan keunggulan pihak yang didukung, juga kerap disertai upaya menjatuhkan citra pihak yang menjadi lawan.

Bagaimana menonjolkan pihak yang didukung, mungkin tak banyak mengundang kontroversi, kecuali tuduhan hoaks –pada saat aspek yang diunggulkan dianggap tidak sesuai fakta. Pada saat terjadi kontroversi seperti ini, sikap paling arif adalah menyerahkannya pada opini publik. Terserah bagaimana publik menilai apakah keunggulan yang dimaksud faktual atau fiktif.

Yang sudah pasti mengundang kontroversi adalah pada saat melakukan serangan terhadap lawan. Setiap serangan, sudah pasti akan menuai serangan balik, karena, dalam kompetisi, ada prinsip bahwa pertahanan terbaik adalah dengan cara menyerang balik.

Cara paling buruk (tak hanya kontroversial) adalah saat ada upaya mengidentikkan kompetisi politik dengan medan perang. Pemilihan presiden, misalnya, diumpamakan seperti medan Perang Badar atau bahkan Perang Uhud. Inilah seburuk-buruk perumpamaan. Mengumpamakan kompetisi politik ibarat perang hanya akan memperkeruh suasana. Sama sekali tidak mencerminkan kearifan dalam berpolitik.

Kearifan dalam berpolitik harus terus menerus kita pupuk agar kompetisi politik berjalan elegan, sesuai dengan prinsip kejujuran dan keadilan (jurdil). Bagaimana caranya? Pertama, dengan mentaati aturan main. Dalam kompetisi politik ada aturan main yang harus ditaati oleh semua pihak. Melanggar aturan main, baik secara terang-terangan maupun tersamar (dengan cara mengakali), merupakan bentuk kecurangan yang tidak bisa ditoleransi.

Kedua, dengan tetap menjadikan lawan politik sebagai teman baik di luar arena politik. Berpolitik adalah satu hal, berkawan adalah hal yang lain. Di arena politik bisa saling kritik, atau bahkan saling serang dengan kata-kata yang tajam. Tapi di luar arena politik, perkawanan dan silaturrahmi tetap dijaga.

Dalam hal pertemanan ini, para pendiri bangsa kita memberi contoh yang sangat baik. Muhammad Natsir adalah Ketua Partai Masyumi yang gigih memperjuangkan asas-asas Islam. Di arena politik ia bertentangan keras dengan D.N. Aidit yang menjabat Ketua Central Committee PKI. Tapi di luar arena politik, keduanya bisa minum kopi bersama di kantin Gedung Parlemen.

Dan, ketiga, yang paling penting, kearifan dalam berpolitik juga bisa kita pupuk dengan menjaga sikap dan tutur kata yang sopan. Arogansi, cacian, makian, dan nada-nada yang merendahkan lawan, apalagi dengan penyebutan nama binatang, seyogianya dihindari, karena jika sudah masuk ke dalam hati, akan sulit menghapus atau memaafkannya. Arena politik bisa berubah menjadi arena caci maki dan balas dendam.

Memupuk kearifan dalam berpolitik, menjadi tugas kita semua, wa bil khusus para aktivis politik yang tengah berkompetisi meraih kursi kekuasaan baik untuk dirinya maupun untuk orang lain (sebagai tim sukses atau relawan).

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.