Jumat, Januari 22, 2021

Kearifan dalam Politik

Argentina yang Salah yang Kita Bayangkan

Orang bilang, proyek timnas Argentina bersama Jorge Sampaoli telah gagal bahkan sebelum dimulai. Pertama, karena Sampaoli muncul di waktu yang salah. Krisis sepakbola Argentina...

Natal dan Teologi Cinta

Dulu saat masih remaja, saya (dan mungkin sebagian besar kita) dijejali dengan doktrin kebencian terhadap agama lain, terutama Kristen. Kalau melintasi gereja dan melihat...

Tentang Para Juara dan Beberapa Catatan Atasnya

Segala puji bagi Manchester City atas musim terbaik di sepanjang sejarah mereka. Ini treble pertama City, demikian media akan menghitung. Bukan. “Empat gelar!” tegas...

Pokemon Go dan Untung-Rugi Game Berbasis GPS

Perkembangan teknologi, informasi, dan komunikasi (ICT) yang sangat pesat akhirnya meningkatkan mobilitas umat manusia pada tingkat yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya, terutama dengan penemuan...

Di tengah suhu politik yang kian menghangat, kearifan berpolitik menjadi keniscayaan agar suasana hati tetap adem walau cuacanya panas. Bahkan peristiwa pembakaran bendera Hizbut Tahrir Indonesia yang terjadi pada saat hari santri, 22 Oktober 2018, yang telah menjadi political heater, harus kita sikapi dengan kearifan tingkat tinggi.

Politik bendera adalah fenomena yang tidak bisa dihindari, terlebih pada saat berada di medan kompetisi, apa pun bentuk kompetisi itu. Di arena kompetisi olah raga antar negara misalnya, bendera harus ada, untuk menjadi penanda kemenangan. Peraih medali emas, posisinya bendera negara asalnya harus dipasang lebih tinggi dari peraih medali perak dan perunggu. Bendera menjadi identitas yang sangat penting.

Di arena kompetisi politik, hadirnya bendera partai menjadi keniscayaan. Tapi, kapan dan dimana bendera itu harus dikibarkan, harus sesuai dengan aturan main. Contoh, jangan coba-coba mengibarkan bendera partai X di tengah-tengah lautan kampanye partai Z. Mematuhi aturan main adalah bagian penting dari kearifan berpolitik.

Tanpa bermaksud melakukan stereotyping, biasanya anak muda memiliki semangat perlawanan yang menggelora dalam menyikapi sesuatu yang di luar kemauan dirinya. Semangat inilah saya kira, yang terekspresi dalam kasus pembakaran bendera HTI di hari santri. Di luar kontroversi soal apakah bendera HTI yang dibakar, kita harus memahami kondisi psikologis anak-anak muda yang melakukan itu. Bagaimana memahami situasi dengan mempertimbangkan kondisi psikologis adalah bagian dari kearifan dalam berpolitik.

Kearifan dalam berpolitik, adalah sikap yang proporsional, dengan mempertimbangkan berbagai faktor. Mungkin, pada batas-batas tertentu, kearifan sering dianggap sebagai cermin ketidaktegasan, padahal antara keduanya bukanlah konsep yang bisa dipertentangkan. Antara kearifan dan ketegasan bukan sikap yang saling menafikan, tapi bisa menjadi kombinasi yang sangat konstruktif.

Kearifan membutuhkan ketegasan. Ketegasan yang bagaimana? Yang diekspresikan secara proporsional. Dalam hal penegakan hukum misalnya, ketegasan diperlukan untuk tetap menjaga agar hukum tidak menjadi barang permainan. Ketegasan dalam penegakan hukum dibutuhkan untuk menjamin pelaksanaan prinsip keadilan. Dalam mengelola negara, menjamin tegaknya keadilan hukum adalah keniscayaan yang juga menjadi bagian dari kearifan dalam berpolitik.

Pada saat memasuki jadwal kampanye politik, kearifan dalam berpolitik memiliki urgensitas yang tinggi. Karena kampanye, biasanya, selain menonjolkan keunggulan pihak yang didukung, juga kerap disertai upaya menjatuhkan citra pihak yang menjadi lawan.

Bagaimana menonjolkan pihak yang didukung, mungkin tak banyak mengundang kontroversi, kecuali tuduhan hoaks –pada saat aspek yang diunggulkan dianggap tidak sesuai fakta. Pada saat terjadi kontroversi seperti ini, sikap paling arif adalah menyerahkannya pada opini publik. Terserah bagaimana publik menilai apakah keunggulan yang dimaksud faktual atau fiktif.

Yang sudah pasti mengundang kontroversi adalah pada saat melakukan serangan terhadap lawan. Setiap serangan, sudah pasti akan menuai serangan balik, karena, dalam kompetisi, ada prinsip bahwa pertahanan terbaik adalah dengan cara menyerang balik.

Cara paling buruk (tak hanya kontroversial) adalah saat ada upaya mengidentikkan kompetisi politik dengan medan perang. Pemilihan presiden, misalnya, diumpamakan seperti medan Perang Badar atau bahkan Perang Uhud. Inilah seburuk-buruk perumpamaan. Mengumpamakan kompetisi politik ibarat perang hanya akan memperkeruh suasana. Sama sekali tidak mencerminkan kearifan dalam berpolitik.

Kearifan dalam berpolitik harus terus menerus kita pupuk agar kompetisi politik berjalan elegan, sesuai dengan prinsip kejujuran dan keadilan (jurdil). Bagaimana caranya? Pertama, dengan mentaati aturan main. Dalam kompetisi politik ada aturan main yang harus ditaati oleh semua pihak. Melanggar aturan main, baik secara terang-terangan maupun tersamar (dengan cara mengakali), merupakan bentuk kecurangan yang tidak bisa ditoleransi.

Kedua, dengan tetap menjadikan lawan politik sebagai teman baik di luar arena politik. Berpolitik adalah satu hal, berkawan adalah hal yang lain. Di arena politik bisa saling kritik, atau bahkan saling serang dengan kata-kata yang tajam. Tapi di luar arena politik, perkawanan dan silaturrahmi tetap dijaga.

Dalam hal pertemanan ini, para pendiri bangsa kita memberi contoh yang sangat baik. Muhammad Natsir adalah Ketua Partai Masyumi yang gigih memperjuangkan asas-asas Islam. Di arena politik ia bertentangan keras dengan D.N. Aidit yang menjabat Ketua Central Committee PKI. Tapi di luar arena politik, keduanya bisa minum kopi bersama di kantin Gedung Parlemen.

Dan, ketiga, yang paling penting, kearifan dalam berpolitik juga bisa kita pupuk dengan menjaga sikap dan tutur kata yang sopan. Arogansi, cacian, makian, dan nada-nada yang merendahkan lawan, apalagi dengan penyebutan nama binatang, seyogianya dihindari, karena jika sudah masuk ke dalam hati, akan sulit menghapus atau memaafkannya. Arena politik bisa berubah menjadi arena caci maki dan balas dendam.

Memupuk kearifan dalam berpolitik, menjadi tugas kita semua, wa bil khusus para aktivis politik yang tengah berkompetisi meraih kursi kekuasaan baik untuk dirinya maupun untuk orang lain (sebagai tim sukses atau relawan).

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Apa Itu Teo Demokrasi dan Nasionalisme?

Apa itu Konsep Teo Demokrasi? Teo demokrasi terdiri dari gabungan kata yaitu teologi yang berarti agama dan demokrasi yang terdiri dari kata demos berarti rakyat dan...

Menilik Superioritas Ras dalam Film Imperium

Film Imperium yang ditulis dan disutradarai oleh Daniel Ragussis adalah sebuah film thriller yang menampilkan usaha seorang karakter utama yang mencoba untuk “masuk” ke...

ARTIKEL TERPOPULER

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.