OUR NETWORK

Kartini-Kartini Muhammadiyah

kartini-muhammadiyahMenyambut Hari Kartini, PP Nasyiatul Aisyiyah menggelar refleksi bertema “Sudut Pandang Emansipasi” (20/4/2015) di Jl. KHA Dahlan, Yogyakarta. DOK. SANGPENCERAH.COM

Pada saat diminta membahas tentang Kartini Muhammadiyah, langsung terlintas di benak saya sosok Ibu Muslimah, guru perempuan Sekolah Dasar Muhammadiyah Gantong, Belitung Timur, yang digambarkan berdedikasi tinggi dalam novel Laskar Pelangi (2005) yang kemudian diangkat ke layar lebar oleh Miles Film dan Mizan Production (2008) dengan rekor penonton terbanyak hingga saat ini.


Sebagai salah satu organisasi Islam tertua di negeri ini, tentu Muhammadiyah menyimpan banyak tokoh perempuan yang berperan luar biasa di lingkungannya masing-masing, meski mungkin tidak sepopuler Ibu Muslimah yang melejit namanya karena memiliki murid penulis hebat seperti Andrea Hirata.

Selain pahlawan nasional, Nyai Walidah Dahlan yang merupakan istri dari pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, dari rahim organisasi Islam modernis ini juga lahir perempuan-perempuan hebat yang mumpuni di bidangnya, seperti Prof Dr Siti Chamamah Soeratno. Di luar kiprahnya sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Aisyiyah dua periode (2000-2005 dan 2005-2010), perempuan kelahiran Yogyakarta, 24 Januari 1941, ini merupakan guru besar Universitas Gadjah Mada yang relatif langka, yakni bidang kritik sastra dan ahli filologi.

Sebelum meraih gelar doktor UGM, Chamamah menempuh pendidikan master di Ecole des Hautes Etudes en Science Sociales, Paris, Perancis, yang penelitiannya di bawah bimbingan salah satu ahli sejarah terkemuka, Prof Dr Denys Lombard.

Tokoh perempuan Muhammadiyah yang juga tergolong langka adalah Prof Siti Baroroh Baried yang lahir di Yogyakarta, 23 Mei 1923. Seperti Chamah, Baroroh adalah ahli filologi. Ia meraih guru besar dalam usia yang sangat belia dan menjadi perempuan pertama yang meraih gelar puncak akademik itu di UGM (1964). Kelangkaan Baroroh juga pernah tercatat sebagai satu-satunya perempuan yang pada zamannya duduk dalam jajaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Kartini sebagai Simbol

Dalam terminologi kekinian, Kartini tak lagi sekadar nama pahlawan perempuan yang lahir di Jepara, 21 April 1879, dan wafat 17 September 1904. Kartini juga tak sekadar simbol perjuangan untuk menyamakan derajat (emansipasi) perempuan di hadapan laki-laki. Kartini sudah menjadi trade mark, menjadi simbol bagi setiap perempuan yang mampu melejitkan prestasi, di semua bidang, tak hanya di wilayah domestik (kerumahtanggaan).

Jika Kartini mewakili kepeloporan perjuangan perempuan secara individual, secara kolektif perjuangan perempuan diwakili Aisyiyah, perkumpulan perempuan-perempuan Muhammadiyah. Di dalam organisasi inilah berkumpul “Kartini-Kartini Muhammadiyah”

Aisyiayah merupakan organisasi pergerakan perempuan pertama di tanah air, lahir sejak 19 Mei 1917 dengan para pelopor Siti Bariyah, Siti Dawimah, Siti Busyro, Siti Dawingah, Siti Badilah Zuber, dan Siti Dalalah, di samping tokoh utamanya, Nyai Walidah Dahlan.

Aisyiyah terutama bergerak dalam bidang pemberantasan kebodohan yang membuat kaum perempuan belum mampu berjalan sejajar dengan kaum laki-laki, dengan cara menggerakkan pemberantasan buta huruf (Latin dan Arab) bagi para gadis dan ibu rumah tangga. Tujuannya untuk meningkatkan pengetahuan perempuan dan partisipasi mereka di ruang publik.


Ada beberapa kepeloporan Aisyiyah yang perlu dicatat. Pertama, menjadi perintis pendidikan usia dini dan pendidikan kaum perempuan. Pada 1919, Aisyiyah mendirikan Frobel School yang merupakan Taman Kanak-Kanak (TK) pertama di Nusantara (sebelum lahir Indonesia). Hingga saat ini, Aisyiyah memiliki 5.865 TK yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kedua, di arena kebangsaan Aisyiyah ikut memprakarsai berdirinya organisasi perempuan tahun 1928 yang beranggotakan dari seluruh elemen perempuan, dengan latar belakang agama, pendidikan, dan profesi yang beragam. Di kemudian hari, organisasi ini bermetamorfosis menjadi Kowani (Kongres Wanita Indonesia).

Ketiga, selain bergerak dalam bidang pendidikan, Aisyiyah juga menjadi pelopor pendirian balai pengobatan dan rumah sakit khusus untuk ibu dan anak (BKIA/RSKIA). Saat ini Aisyiyah memiliki 10 RSKIA, 29 Klinik Bersalin, 232 BKIA, dan 35 Balai Pengobatan yang diperuntukkan untuk semua kalangan.

Dalam usia nyaris satu abad, gerakan Aisyiyah sudah menyebar bukan saja di dalam negeri tapi juga di manca negara. Saat ini, Aisyiah dipimpin Siti Noordjannah Djohantini (sejak 2010). Sebelum memimpin Aisyiyah, Noordjannah dikenal sebagai aktivis yang ikut mendirikan Yayasan Annisa Swasti (Yasanti), yakni lembaga swadaya masyarakat (LSM) perempuan pertama di Indonesia yang bergerak dalam bidang pemberdayaan, khususnya dalam memberikan pelayanan pendidikan dan latihan bagi buruh perempuan.

Selain itu, Noordjanannah juga pernah menjadi anggota Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) periode 2003-2008 yang mewakili unsur tokoh masyarakat bersama Rozy Munir dan Pendeta Saut Hamonangan Sirait.

Pada periode kedua (2015-2020) sebagai Ketua Umum Aisyiyah, nama Noordjannah menjadi sangat populer karena dianggap memiliki keunikan mengulang kepemimpinan Nyai Walidah Dahlan yang mendampingi suaminya KH Ahmad Dahlan. Seperti kita tahu, Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada periode yang sama (2015-2020) adalah suami dari Noordjannah Djohantini.

Abd. Rohim Ghazali
Sekretaris Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik PP Muhammadiyah

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…