OUR NETWORK

Kartini dan Pembebasan Nurani

Siti Djenar di pancung, Kartini dipingit, Kyai Dahlan diusir dan langgarnya dirubuhkan. Tapi siapa bisa pancung pikiran, ide, atau gagasan?
kartini kartini-geotimes

Hanya secarik kertas bersurat—tapi membebaskan—itulah dahsyatnya sebuah tulisan. Mengembara di alam pikiran menjadi ide yang menggerakkan.

Benarkah nasib pemikir selalu tak baik? Muhammad saw diusir dari Mekkah ke Yastrib. Socrates dipaksa minum racun. Al Hallaj disalib dan dibakar. Siti Djenar di pancung, Kartini dipingit, Kyai Dahlan diusir dan langgarnya dirubuhkan. Tapi siapa bisa pancung pikiran, ide, atau gagasan?

“Apa yang kau dapati saat kau belajar huruf-huruf Belanda” tanya Ngasirah pada putri tercintanya. “Kebebasan”, jawab Kartini lugas. Kemudian Ngasirah melanjutkan pertanyaannya: “Apa yang tidak kau dapati dari huruf-huruf Belanda itu?” Kartini terdiam lama, hingga Ngasirah menjawab sendiri pertanyaannya, “Bakti”.

Ternyata kebebasan tak bisa disandingkan dengan kebaktian. Kebebasan menagih ego, bakti menjamin kebersamaan. Kebebasan adalah soal intelegensia, bakti adalah hati nurani. Kebebasan adalah soal kepuasan materi–sedang bakti adalah tentang spiritualitas.

Dua sisi berlawanan yang mustahil berjalan seiring. Akal sehat menawarkan kebebasan, akal, materi ego dan kebanggaan sedang bakti adalah soal kebatinan, nurani, spiritualitas dan kerendahan hati.

Kartini adalah tokoh pembebas pada zamannya. Orang yang selalu gelisah dengan kemapanan dan aturan baku yang mengikat. Kartini adalah simbol “kejenuhan dan kebosanan” pada kondisi di mana masyarakat terjebak pada aturan dan norma yang mereka buat sendiri. Mereka menjadi menderita dan jumud karena ulah mereka sendiri.

Jadi—Kartini bukan hanya soal baju kebaya dan konde besar, juga bukan berjalan jongkok di depan para bangsawan. Atau sekedar upacara setiap tanggal 21 April di kantor-kantor penguasa.

Kartini adalah soal gerakan pengembaraan pemikiran dan intelektual yang melahirkan Kebebasan dan Bakti sekaligus. Keberhasilan gerakan emansipasi perempuan adalah jika berhasil menyandingkan keduanya ( kebebasan dan bakti) dalam satu pribadi perempuan Indonesia.

Kartini… itulah substansi dari–minad dhulumaati ila nuur–dari kegelapan menuju cahaya terang”.

Nurbani Yusuf
Aktivis Persyarikatan Muhammadiyah di Ranting Gunungsari Kota Batu

TINGGALKAN KOMENTAR

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.