Jumat, Januari 22, 2021

Kartini dan Pembebasan Nurani

Guru yang Inspiratif dan Humoris, Mengenang Pak Bahtiar Effendy

"Kamu PPP, ya?" Sergah Pak Bahtiar memotong perkenalan saya. Seperti biasa dalam pertemuan pertama kuliah, dosen meminta mahasiswa memperkenalkan diri. Sewaktu studi di S3 UIN...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Merica Membawa Kura-Kura Berjanggut Berjalan Sampai 921 Halaman

Dari sekian banyak kemungkinan, saya memilih mengandaikan Kura-Kura Berjanggut karya Azhari Aiyub yang mencapai 921 halaman sebagai rangkaian kereta. Dan lokomotif yang menarik gerbong-gerbong...

Yang Aneh dan Yang Lumrah

Adalah lumrah Liverpool memimpin klasemen di pembuka musim. Yang tidak lazim, mereka melewati tiga pertandingan pertama musim ini tanpa kebobolan. Ini aneh untuk tim...
Avatar
Nurbani Yusuf
Aktivis Persyarikatan Muhammadiyah di Ranting Gunungsari Kota Batu

Hanya secarik kertas bersurat—tapi membebaskan—itulah dahsyatnya sebuah tulisan. Mengembara di alam pikiran menjadi ide yang menggerakkan.

Benarkah nasib pemikir selalu tak baik? Muhammad saw diusir dari Mekkah ke Yastrib. Socrates dipaksa minum racun. Al Hallaj disalib dan dibakar. Siti Djenar di pancung, Kartini dipingit, Kyai Dahlan diusir dan langgarnya dirubuhkan. Tapi siapa bisa pancung pikiran, ide, atau gagasan?

“Apa yang kau dapati saat kau belajar huruf-huruf Belanda” tanya Ngasirah pada putri tercintanya. “Kebebasan”, jawab Kartini lugas. Kemudian Ngasirah melanjutkan pertanyaannya: “Apa yang tidak kau dapati dari huruf-huruf Belanda itu?” Kartini terdiam lama, hingga Ngasirah menjawab sendiri pertanyaannya, “Bakti”.

Ternyata kebebasan tak bisa disandingkan dengan kebaktian. Kebebasan menagih ego, bakti menjamin kebersamaan. Kebebasan adalah soal intelegensia, bakti adalah hati nurani. Kebebasan adalah soal kepuasan materi–sedang bakti adalah tentang spiritualitas.

Dua sisi berlawanan yang mustahil berjalan seiring. Akal sehat menawarkan kebebasan, akal, materi ego dan kebanggaan sedang bakti adalah soal kebatinan, nurani, spiritualitas dan kerendahan hati.

Kartini adalah tokoh pembebas pada zamannya. Orang yang selalu gelisah dengan kemapanan dan aturan baku yang mengikat. Kartini adalah simbol “kejenuhan dan kebosanan” pada kondisi di mana masyarakat terjebak pada aturan dan norma yang mereka buat sendiri. Mereka menjadi menderita dan jumud karena ulah mereka sendiri.

Jadi—Kartini bukan hanya soal baju kebaya dan konde besar, juga bukan berjalan jongkok di depan para bangsawan. Atau sekedar upacara setiap tanggal 21 April di kantor-kantor penguasa.

Kartini adalah soal gerakan pengembaraan pemikiran dan intelektual yang melahirkan Kebebasan dan Bakti sekaligus. Keberhasilan gerakan emansipasi perempuan adalah jika berhasil menyandingkan keduanya ( kebebasan dan bakti) dalam satu pribadi perempuan Indonesia.

Kartini… itulah substansi dari–minad dhulumaati ila nuur–dari kegelapan menuju cahaya terang”.

Avatar
Nurbani Yusuf
Aktivis Persyarikatan Muhammadiyah di Ranting Gunungsari Kota Batu
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Apa Itu Teo Demokrasi dan Nasionalisme?

Apa itu Konsep Teo Demokrasi? Teo demokrasi terdiri dari gabungan kata yaitu teologi yang berarti agama dan demokrasi yang terdiri dari kata demos berarti rakyat dan...

Menilik Superioritas Ras dalam Film Imperium

Film Imperium yang ditulis dan disutradarai oleh Daniel Ragussis adalah sebuah film thriller yang menampilkan usaha seorang karakter utama yang mencoba untuk “masuk” ke...

ARTIKEL TERPOPULER

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.