OUR NETWORK

Kapan Islam sebagai Agama Muncul?

islamPandangan konvensional menyebutkan bahwa Islam sudah muncul sebagai agama dalam pengertian identitas konfesi sejak zaman Nabi Muhammad. Pandangan ini didasarkan pada sumber-sumber Muslim yang ditulis cukup belakangan. Ketika sumber-sumber tradisional itu dipersoalkan, maka konstruksi kemunculan Islam pun mulai menggelinjang.

Seperti umum diketahui, proses kelahiran agama-agama di dunia terjadi secara perlahan, butuh ratusan dan bahkan ribuan tahun. Agama Yahudi bisa dilacak cikal-bakalnya dari Nabi Musa, bahkan hingga ke Nabi Ibrahim. Tapi, agama Yahudi yang kita kenal sekarang mengkristal belakangan yang bukan hanya mengakui Taurat-nya Musa (Taurat tertulis) melainkan juga aturan yang dikembangkan oleh para Rabbi (Taurat lisan), seperti dituangkan dalam Talmud Yerusyalmi (Yerusalem) dan Bavli (Babilonia).

Demikian juga dengan agama Kristen yang lahir setelah Yesus (Isa). Ajaran inti Kristen diformulasikan ratusan tahun setelah Sang Pembawa tiada. Konsili Nicea (325) dan Kalsidon (451) menjadi rujukan teologi Kristen.

Apakah Islam merupakan pengecualian? Sepertinya juga tidak. Argumen yang hendak dikembangkan dalam tulisan ini: Islam sebagai agama teologis memang sudah ada sejak zaman Nabi, tapi sebagai agama historis Islam baru muncul puluhan tahun setelah Muhammad wafat.

Agama Teologis versus Agama Historis

Agama teologis ialah keyakinan konfesional tentang keterlibatan Tuhan dalam proses keselamatan umat manusia. Sejarah keterlibatan Tuhan itu tidak harus merujuk pada apa yang sesungguhnya terjadi, tetapi lebih pada apa yang diyakini sebagai kehendak atau rencana Tuhan.

Agama teologis dapat direkonstruksi dari sumber-sumber non-historis, seperti hadis. Maka, dalam korpus hadis, kita temukan rincian ajaran Islam yang sedemikian detail sebagai tuntunan hidup kaum beriman. Jika al-Qur’an tidak menyediakan aturan hidup beragama baik yang bersifat vertikal (hubungan manusia dengan Tuhan) maupun horizontal (hubungan antar-manusia) secara rinci, hadislah yang memberikan tuntunan detail tentang bagaimana menjadi Muslim serta apa artinya sebagai Muslim.

Jangankan menyangkut aspek ritual yang menuntut keseragaman, hal-hal kecil seperti bagaimana masuk kamar mandi (melangkah dengan kaki kiri atau kanan) saja diatur dalam hadis. Bahkan, doa sebelum berhubungan intim suami-istri juga ditemukan dalam hadis. Dan, semua itu diatribusikan kepada Baginda Rasulullah SAW.

Dalam konteks itu, kita dapat merunut agama teologis sudah ada sejak zaman Nabi. Ketika perdebatan teologi dan hukum mulai berkembang dalam tradisi Islam, yang sebagiannya dipicu oleh faktor politik, masing-masing pihak berupaya menjustifikasinya dengan merujuk pada hadis Nabi.

Untuk meredam banyaknya kebohongan terhadap Nabi, maka dimunculkan hadis melawan kebohongan: “Barangsiapa yang secara sengaja berbohong terhadapku, bersiap-siaplah tempat duduknya dari apa neraka.” Menarik dicatat, inilah hadis yang paling banyak diriwayatkan. Disebutkan, puluhan bahkan ratusan Sahabat meriwayatkan hadis tersebut, yang menunjukkan begitu gentingnya situasi pemalsuan hadis.

Di sisi lain, agama historis ialah data (kehidupan) keagamaan yang dapat diverifikasi secara historis. Berbeda dengan sejarah keselamatan (salvation history), agama historis merefleksikan apa yang sebenarnya terjadi.

Secara historis, Islam sebagai agama seperti kita saksikan saat ini mengkristal belakangan setelah Nabi wafat. Para sejarawan kritis boleh berbeda pandangan tentang kapan dan bagaimana Islam historis terjadi. Namun demikian, mereka sepakat bahwa reifikasi Islam berlangsung secara gradual dan lebih lambat daripada yang digambarkan dalam sumber-sumber Muslim.

Hal ini tidak berarti tidak ada upanya di kalangan sejarawan Muslim awal untuk merekonstruksi Islam historis. Kitab-kitab sirah nabawiyah (biografi Nabi) dimaksudkan untuk menelusuri sejarah hidup Sang pembawa agama. Upaya tersebut mendapat reaksi keras dari kalangan ahli hadis (muhadditsun). Ahmad bin Hanbal, misalnya, dikenal menolak dengan keras karya-karya sirah sebagai tidak berdasar.

Islam Ekumenis

Sebelum menjadi agama sebagaimana kita lihat sekarang, Islam bersifat ekumenis dalam pengertian melampaui sekat-sekat keagamaan. Ekumenisme itu dimungkinkan terjadi karena Islam sendiri belum menjadi “agama”.

Proses perkembangan sebuah agama mengikuti kaidah sejarah yang dapat diamati dan diteliti. Sosiolog Ernst Troeltch dan Max Weber, misalnya, mengamati tahapan-tahapan perkembangan suatu agama dari watak awalnya sebagai sebuah kultus menjadi sekte dan kemudian berlanjut menjadi identitas konfesional yang membedakan satu agama dari agama lain.

Yang menjadi pengamatan mereka bukan hanya bagaimana sekte-sekte itu muncul dari tradisi yang lebih besar, tapi juga bagaimana sekte-sekte itu kemudian berkembang menjadi kelompok distingtif atau bahkan “agama” sendiri. Peran pemimpin kharismatik dianggap sama pentingnya dengan faktor-faktor lain, seperti ekonomi, politik, dan sosial terkait dengan pertumbuhan dan perkembangan kelompok-kelompok keagamaan.

Orang bisa berbeda pendapat seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk proses perubahan dari satu fase ke fase berikutnya. Namun demikian, semua kalangan bersepakat bahwa menganggap sebuah agama lahir secara utuh langsung dari langit merupakan pemikiran yang naif.

Kemunculan dan perkembangan Islam juga perlu dilihat dari perspektif yang sama. Kendati merefleksikan agama teologis karena ditulis ketika Islam sudah menjadi agama yang distingtif, sumber-sumber Muslim sebenarnya juga masih memuat riwayat-riwayat Islam awal yang ekumenis. Misalnya, sejarawan Mesir al-Maqrizi mengutip satu riwayat dari saksi mata: “Saya melihat Amr bin Ash [seorang Sahabat] masuk ke dalam gereja dan dia salat di dalamnya. Ia tidak membalikkan diri dari kiblat mereka [orang-orang Kristiani], kecuali hanya sedikit (dakhala al-kanisah fa-salla fiha wa-lam yansarif ‘an qiblatihim illa qalilan).”

Itu berarti bahwa, walaupun sumber-sumber Muslim menyebutkan adanya perubahan arah kiblat sejak zaman Nabi dari Yerusalem menuju Ka’bah di Mekkah, Sahabat Amr bin Ash masih salat dengan menghadap ke Yerusalem. Sebagai ajaran ekumenis, ritual Islam masih bersifat begitu cair.

Bahkan, ketika membangun masjidnya, ia memerintahkan: “Jadikan arah kiblatnya ke timur, dan kalian akan menghadap ke al-Haram (syarriqu al-qiblata tusibu al-haram).” Yazid bin Habib, sumber yang dikutip Maqrizi, menambahkan bahwa arah kiblat masjid Amr bin Ash memang menghadap ke timur dan Amr sendiri melakukan salat Jum’at hampir sepenuhnya menghadap ke arah timur (yusalli nahiyat al-syarqi illa al-syai’ al-yasir).

Gambaran di atas tentu saja berseberangan dengan pandangan umum tentang Islam yang dianggapnya sudah lengkap dan komplit sejak zaman Nabi. Riwayat-riwayat semacam itu tidak banyak ditemukan dalam kitab-kitab Muslim karena dibenamkan. Padahal, sangat dimungkinkan riwayat-riwayat yang kini dianggap “nyeleneh” itu justru yang otentik atau, paling tidak, muncul lebih awal.

Itulah konsekuensi yang harus diterima bila Islam historis dibenamkan oleh Islam teologis.

Mun'im Sirry
Assistant Professor di Fakultas Teologi Universitas Notre Dame, USA, Owner KEPITING++. Beberapa karyanya: "Islam Revisionis: Kontestasi Agama Zaman Radikal" (Suka Press, 2018), "Polemik Kitab Suci: Tafsir Reformis atas Kritik Al-Quran terhadap Agama Lain" (Gramedia, 2013), "Kontroversi Islam Awal: Antara Mazhab Tradisionalis dan Revisionis" (Mizan, 2015), dan "Scriptural Polemics: The Qur’an and Other Religions" (Oxford University Press, 2014).

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…